Laman

1111

Selasa, 26 Februari 2013

e3-4 dewi lisetya: media eksternal & internal


MAKALAH
MENYEBARKAN ILMU KE KALANGAN EKSTERNAL

Disusun guna memenuhi tugas: 
Mata Kuliah :  Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.S.I




Disusun Oleh :
DEWI LISETYAWATI
2021111139

Kelas E

JURUSAN TARBIYAH (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013


BAB I
PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman, di masa sekarang ini media publik sangat membantu dalam penyampaian ilmu atau informasi ke seluruh kalangan masyarakat secara luas. Media publik merupakan sarana yang efisien dan efektif serta mudah diterima oleh semua kalangan secara luas.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, baik dalam ekonomi, sosial, budaya maupun pendidikan. Oleh karena itu agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan iptek tersebut perlu adanya penyesuaian-penyesuaian, terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor pengajaran di sekolah. Salah satu faktor tersebut adalah media pembelajaran. Selain itu dengan semakin berkembangnya media publik khususnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat menjadi lebih mudah dalam mengakses informasi.
Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini akan dijelaskan salah satu hadits tentang memanfaatkan media publik untuk menyebarkan ilmu ke kalangan eksternal.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    MATERI HADITS
عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُمَا قَالَ: (لَمَّا نَزَلَتْ: وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ اْلاَقْرَبِيْنَ وَرَهْطَكَ مِنْهُمُْمُخْلَصِيْنَ خَرَجَ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى صَعِدَ الصَّفَا فَهَتَفَ يَاصَبَاحَاهْ فَقَالُوْا: مَنْ هَذَا؟ فَاجْتَمَعُوْ إِلَيْهِ فَقَالَ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخْبَرْ تُكُمْ أَنَّ خَيِلاً تَخْرُجُ مِنْ سَفْحِ هَذَا الْجَبَلِ َاكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ قَالُوا مَاجَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبً قَالَ فَإِنِّي نَذِيْرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيْدٍ قَالَ أَبُوْلَهَبٍ تَبَّالَكَ مَاجَمِعْتَنَا إِلاَّ لِهَذَا؟ ثُمَّ قَامَ فَنَزَلَتْ:(تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَتَبَّ), وَقَدْ تَبَّ. هَكَذَا قَرَأَهَا الأَعِمَشُ يَوْمَئِذٍ . (رواه البخارى فى الصحيح, كتاب تفسير القرآن الكريم, باب تباب خسران تتبيب تدمير)

B.     TERJEMAH
“Dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, “Ketika turun ‘Dan berilah peringatan keluargamu yang paling dekat, dan kelompokmu di antara mereka yang ikhlash’, Rasulullah SAW keluar hingga naik ke shafa, lalu berteriak, ‘ya shabahaah’. Mereka bersabda, ‘Siapa ini?’ Mereka pun berkumpul kepadanya. Beliau bersabda,’ Bagaimana pendapat kalian jika aku mengabarkan bahwa pasukan berkuda keluar dari balik bukit ini, apakah kalian membenarkanku?’ Mereka berkata, ‘Kami tidak pernah mencoba dusta kepadamu’. Beliau bersabda, Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dihadapan adzab yang pedih’. Abu Lahab berkata, Binasalah kamu, kamu tidak mengumpulkan kami kecuali untuk ini?’ Kemudian dia berdiri. Maka turunlah ayat, ‘Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa’, yakni sungguh binasa. Demikian dibaca oleh Al A’masy pada hari itu”.(HR. Bukhori)[1]

C.    MAKNA MUFRODAT
Turun                           :     نَزَلَتْ
Berilah peringatan       : اَنْذِرْ
       Kerabat-kerabatmu     : عَشِيْرَتَكَ
Yang terdekat             : اْلاَقْرَبِيْنَ
Golonganmu               : رَهْطَكَ
Naik                            : صَعِدَ
Berseru                        : فَهَتَفَ
Waspadalah                 : بَاصَبَاحَاهْ
Berkumpullah              : اِجْتَمَعُوْ
Balik                            : سَفْحِ
Gunung                       : جَبَلَ
Berdusta                      : كَذِبٌ
Yang pedih                 : شَدِيْدٌ
Binasalah                     : تَبَّتْ
                                   
D.    BIOGRAFI PERAWI
Biografi Sa’id bin Jubair
Nama lengkap Sa’id bin Jubair adalah Abu Abdillah (Abu Muhammad Sa’id) bin Jubair bin Hisyam al-Asadi al-Walibi al-Kufi.[2]
Sa’id bin Jubair al-Asadi al-Kufi, yang mempunyai nama julukan “Abu Abdillah”, adalah seorang ahli fiqh, pembaca al-Qur’an dan ahli ibadah. Sufyan ats-Tsauri lebih mendahulukannya dari pada Ibrahim an-Nakha’i. ia berkata: “Ambillah tafsir dari empat orang, yaitu dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, dan Adl-Dlahhak.
Ibnu Jubair pernah menulis untuk Abdul bin Utbah bin Mas’ud ketika Abdullah menjadi qadli di Kuffah. Sesudah itu ia menulis untuk Abi Burdah bin Abi Musa.[3]
Tidak lama kemudian beliau ditangkap oleh Khalid al-Qisra atas perintah Amir Irak Al-Hajjaj ats-Tsaqafi. Setelah dibawa menghadap al-Hajjaj maka beliau dibunuhnya. Sa’id merupakan sosok manusia yang mempunyai prinsip yang kukuh. Beliau sangat tegar dan selalu berpegang pada pendiriannya bagaikan sebuah gunung yang tinggi yang tidak mempedulikan ancaman dan tindakan kesewenang-wenangan Amir Irak al-Hajjaj yang telah merenggut nyawanya. Beliau dibunuh al-Hajjaj pada tahun 95 H dalam usia 49 tahun karena dipandang memihak kepada musuhnya.[4]
Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Abdullah bin az-Zubair, Anas bin Malik, Abu Sa’id al-Khudri. Dari mereka ini hadits-haditsnya musnad. Namun, ia tidak mendengar langsung dari Abu Hurairah, Abu Musa Al-Asy’ari, Ali, Sayyidah Aisyah. Jadi, semua riwayatnya yang bersumber dari mereka adalah Mursal. Mengenai hal ini, Yahya bin Sa’id berkata: “Hadits-hadits mursal Sa’id lebih aku sukai dari pada Hadits-hadits mursal Atha.”
Yang meriwayatkan hadits dari Sa’id bin Jubair antara lain: Al-A’masi, Manshur al-Mu’tamir, Ya’la bin Hakim ats-Tsaqafi, dan Simak bin Harb. Maimun bin Mahram berkata: “Sa’id bin Jubair meninggal dunia, sementara orang yang berada di muka bumi ini pasti membutuhkan ilmunya.[5]
Biografi Imam Bukhari
Nama lengkap Al Bukhari ialah Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughirah al-Kufi yang merupakan hamba sahaya Persi berasal dari Bukhara. Kakek-kakek beliau beragama Majusi. Kakeknya yang mula-mula memeluk Islam ialah Al-Mughirah, yang diislamkan oleh al-Yaman al-Ja’fi, Gubernur Bukhara.
Imam Bukhari dilahirkan pada tahun 194 H. Ayah beliau seorang ahli hadits, yang meninggal ketika Imam Bukhari masih kecil.[6] Ia seorang imam yang tak tercela hapalan haditsnya dan kecermatannya. Ia mulai menghapal hadits ketika umurnya belum mencapai 10 tahun. Ia mencatat dari seribu guru lebih, hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits yang tidak shahih. Dialah pengarang kitab besar Al-Jami’ash-Shahih yang merupakan kitab paling shahih sesudah al-Qur’qn al-Majid. Hadits yang ia dengar sendiri dari gurunya lebih dari 70.000 buah. Ia dengan tekun mengumpulkannya selama 16 tahun. Para hafiz mempunyai beberapa komentar terhadap sebagian haditsnya. Mereka telah melontarkan kritik atas 110 buah di antaranya. Dari 110 hadits itu, ditakhrijkan oleh Imam Muslim sebanyak 32 hadits dan oleh dia sendiri sebanyak 78 hadits. Ibnu hajar al-Asqalani berpendapat bahwa hadits-hadits yang di persoalkan ini tidak seluruhnya ber’illat tercela, melainkan kebanyakan jawabannya mengandung kemungkinan dan sedikit dari jawabannya menyimpang.
Al-Bukhari mempunyai banyak karangan, antara lain At-Tawarikh ats-Tsalatsah al-Kabir wal-Ausath wash-Shaghir (Tiga Tarikh: Besar, Sedang dan Kecil), kitab Al-Kuna, kitab Al-Wuhdan, kitab Al-Adab al-Mufrad dan kitab Adl-Dlu’afa.
Al-Bukhari meriwayatkan Hadits bersumber dari Adl-Dlahhak bin Mukhallad Abu Ashim An-Nabil, Makki bin Ibrahimal-Handlali, Ubaidullah bin Musa al-Abbasi, Abdullah Quddus bin al-Hajjaj, Muhammad bin Abdullah al-Anshari, dan lail-lain.
Sedangkan yang meriwayatkan darinya banyak sekali. Diantara yang terkenal adalah At-Tirmidzi, Muslim, an-Nasa’i, Ibrahim bin Ishaq al-Hurri, Muhammad bin Ahmad ad-Daulabi, dan orang terakhir yang meriwayatkan darinya ialah Manshur bin Muhammad al-Bazwadi.
Imam Bukhari wafat pada tahun 256 H di sebuah desa di Samarkand yang bernama Khartak dalam usia 62 tahun.[7]

  1. KETERANGAN HADITS
(surah tabbat yadaa abii lahab. Bismillahirrohmanirrohim). Pada selain riwayat Abu Dzar tidak mencantumkan basmalah. Abu Lahab adalah Ibnu Abdul Muthalib. Namanya adalah Abdul Uzza, dan ibunya adalah Khuza’iyah. Dia dipanggil Abu Lahab, karena mungkin anaknya bernama Lahab, atau mungkin roman pipinya yang sangat merah. Al Fakihi meriwayatkan dari jalur Abdullahbin Katsir, dia berkata, “dia dinamai Abu Lahab karena wajahnya putih bersih karena ketampanannya.” Ternyata hal itu bersesuaian dengan akhir urusannya, yaitu dia akan masuk api yang berkobar-kobar. Oleh karena itu, dalam al-Qur’an disebutkan panggilannya lebih masyhur selain bahwa nama aslinya menggunakan nama patung.
Hal ini tidak dapat dijadikan hujjah bagi mereka yang membolehkan memberi nama panggilan orang musyrik secara mutlak. Bahkan pembolehan ini terbatas jika tidak menunjukkan pengagungan atau sesuatu yang mengharuskannya. Al Waqidi berkata “Abu Lahab adalah manusia paling memusuhi Nabi Muhammad SAW. Hal itu dikarenakan Abu Thalib berkelahi dengan Abu Lahab. Namun, ternyata Abu Lahab lebih unggul dan dia menduduki dada Abu Thalib. Saat itu Nabi Muhammad SAW datang dan memegang pinggul Abu Lahab, lalu membantingnya ke tanah. Abu Lahab berkata padanya “Kami berdua adalah pamanmu.  Mengapa engkau melekukan hal ini kepadaku? Demi Allah, hatiku tidak akan mencintaimu selamanya.” Peristiwa ini berlangsung sebelum kenabian.
Ketika Abu Thalib meninggal, saudara-saudara Abu Lahab berkata kepadanya, “Sekiranya engkau mendukung putra pamanmu niscaya engkau adalah manusia paling berhak atas hal itu.” Abu lahab bertemu Nabi dan bertanya tentang leluhurnya, maka nabi menjawab mereka tidak menganut agama. Mendengar hal itu Abu Lahab marah dan terus menerus memusuhi beliau. Abu Lahab meninggal setelah peristiwa Badar. Dia tidak menghadiri Perang Badar, tetapi hanya mengirim pengganti. Ketika sampai kepadanya apa yang menimpa kaum Quraisy dia pun meninggal karena kalut.
وَتَبَّ: خَسِرَ، تَبَّابُ: خُسْرَانٌ (Tabba artinya merugi. Tabaab artinya kerugian). Dalam riwayat Ibnu Mardawih di sebutkan dari jalur lain dari Al A’masy, “Maka Allah menurunkan تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَتَبَّ (binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh binasa). Dia berkata, “yakni merugi dan binasa”.” Maksdnya, dia merugi serta apa yang diusahakannya, yaitu anaknya. Abu Ubaidah berkata tentang firman-Nya dalam surat Al-Mukmin ayat 37, وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ اِلاَّ فِيْ تَبَّابِ   (dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian), yakni kebinasaan.
            : تَدْمِيْرٌتَتْبِيْبٌ (Tatbiib artinya kehancuran). Abu Ubaidah berkata tentang Firman-Nya dalam surat Huud ayat 101,  غَيْرَ تَتْبِيْبٍوَمَا زَادُوْهُمْ (Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka), yakni kehancuran. [8]
            (Bab firman Allah, “Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) adzab yang keras”). Disebutkan hadits Ibnu Abbas tentang turunnya firman Allah , وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ اْلاَقْرَبِيْنَ (Dan berilah peringatan  kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat).[9]
            Dalam hadits ini di jelaskan bahwa Rasulullah SAW ketika  menyampaikan informasi kepada para sahabat adalah dengan metode dakwah atau ceramah. Yaitu Rasulullah SAW menaiki Bukit Shafa dan berteriak atau memberi peringatan kepada para sahabat agar tidak berada dalam kekufuran serta agar terhindar dari siksa api neraka atau adzab yang pedih.

  1. ASPEK TARBAWI
Berdasarkan hadits di atas, dalam menyampaikan informasi ke kalangan eksternal Rasulullah SAW menggunakan metode dakwah yaitu dengan memberikan pengajaran atau peringatan secara langsung kepada seluruh umat. Walaupun media atau metode pengajaran Rasulullah SAW masih sangat sederhana atau tradisional, tetapi media atau metode yang diterapkan oleh Rasulullah SAW dapat dijadikan petunjuk atau pedoman dalam sistem pembelajaran pada masa sekarang.
Dengan adanya media publik seperti di zaman sekarang ini seperti televisi, internet, radio, hp, dan lain-lain, penyebaran ilmu dapat dilakukan dengan lebih mudah sehingga ilmu atau materi yang disampaikan atau diajarkan lebih mudah di terima oleh masyarakat luas. Misalnya, seperti penyebaran ilmu agama melalui tayangan ceramah di televisi menjadikan seseorang lebih mudah dalam memperoleh ilmu.
Akan tetapi, walaupun media publik pada zaman sekarang ini sudah sangat canggih, kita tetap tidak boleh meninggalkan atau melupakan media atau metode yang di gunakan Rasulullah pada zaman dahulu. Karena media atau metode tersebut sudah memberikan inspirasi dalam mengembangkan media publik di zaman sekarang ini.
















BAB III
PENUTUP

          Dari pembahasan makalah di atas dapat di simpulkan bahwa dalam menyebarkan ilmu ke kalangan eksternal atau masyarakat luas, Rasulullah SAW menggunakan metode dakwah atau ceramah yaitu dengan menaiki Bukit Shafa dan berteriak untuk memberi peringatan kepada seluruh umat manusia.
            Berbeda dengan zaman Rasulullah SAW dahulu yang menggunakan metode dakwah dalam menyebarkan ilmu, di zaman sekarang ini metode atau media yang di gunakan lebih modern. Yaitu dengan adanya media elektronik seperti televisi, internet, redio, hp, dan lain-lain sehingga penyebaran ilmu dapat di lakukan dengan sangat mudah. Akan tetapi, walaupun media publik pada zaman sekarang ini sudah sangat canggih, kita tidak boleh meninggalkan atau melupakan media atau metode yang di gunakan Rasulullah dalam menyebarkan ilmu.

















DAFTAR PUSTAKA

Al-Azqalani, Ibnu Hajar dan Al Imam Al-Hafizh. 2008. Fathul Baari. Juz. 23. Jakarta: Pustaka Azzam.

Al-Azqalani, Ibnu Hajar dan Al Imam Al-Hafizh. 2008. Fathul Baari. Juz. 24. Jakarta: Pustaka Azzam.

Ash-Subhi, Shalih. 2009. Membahas Ilmu-ilmu Hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Fayyad, Mahmud Ali. 1998. Metodologi Penetapan Kesahihan Hadis. Bandung: CV Pustaka Setia.
























[1]Ibnu Hajar Al-Azqalani, Al Imam Al-Hafizh, Fathul Baari (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Juz. 24, hlm. 642-643.
[2]Mahmud Ali Fayyad, Metodologi Penetapan Kesahihan Hadis (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), hlm. 127.
[3]Subhi ash-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Hadis (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2009), hlm. 353.
[4] Mahmud Ali Fayyad, Loc. Cit.,
[5]Subhi ash-Shalih, Op. Cit., hlm. 353-354.
[6]Mahmud Ali Fayyad, Op. Cit., hlm. 146-147.
[7]Subhi ash-Shalih, Op. Cit., hlm. 365-366.
[8]Ibnu Hajar Al-Azqalani, Al Imam Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 643-644.
[9]Ibnu Hajar Al-Azqalani, Al Imam Al-Hafizh, Fathul Baari (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Juz. 23, hlm. 668.

34 komentar:

  1. Nurul Inayatissaniyyah
    2021 111 141

    apa hubungan antara maksud hadits tersebut dengan pembahasan mengenai pemanfaatan media publik untuk menyebarkan ilmu kekalangan eksternal? mohon jelaskan!
    pada zaman sekarang ini, media publik seperti internet sangat mudah diakses oleh siapa saja termasuk anak-anak. jika anak tersebut menonton video ataupun membaca artikel-artikel tentang agama lain, bisa jadi anak tersebut akan berperilaku menyimpang dari agamanya sendiri karena usia anak-anak cenderung mengikuti apa yang dia lihat. bagaimana menurut pemakalah mengatasi hal demikian?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hubungan antara maksud hadits dengan pemanfaatan media publik untuk menyebarkan ilmu ke kalangan eksternal adalah dalam hadits tersebut kan di jelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dalam memberi peringatan atau pengajaran dengan menaiki Bukit Shafa dan berteriak dan bersabda kepada seluruh umat. itu berarti pada zaman itu dalam menyebarkan ilmu ke publik Nabi tidak memandang dimana tempatnya dan tidak peduli bahwa itu orang muslim ataupun orang kafir. Dan Nabi memanfaatkan bukit Shafa sebagai tempat member peringatan kepada umat.
      Sedangkan cara agar anak tidak terpengaruh oleh dampak negative dari perkembangan media publik adalah dengan cara orang tua harus selalu mengawasi apa yang di perbuat oleh anaknya agar anaknya tersebut tidak terpengaruh terhadap hal-hal yang negatif. Dalam hal ini bukan berarti orang tua itu mengekang anaknya, tetapi memberikan kebebasan pada anak namun kebebasan itu terbatas.
      Begitu mb ina, semoga puas dengan jawabannya…

      Hapus
  2. Assalamu,alaikum
    dedew saya mau tanya, kan makalah ini judulnya menyebarkan ilmu kekalangan eksternal, berarti bukan yang sefaham dengan kita, begitu apa bukan... semisal NU dengan Muhammadiyah... kan eksternal (luar).. hehe... tolong beri penjelasannya lagi maksudnya apa...
    terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaikumsalam mb bibah...
      yang dimaksud menyebarkan ilmu ke kalangan eksternal itu adalah kita menyebarkan ilmu di luar lingkungan kita sendiri. misalnya dengan melalui media televisi seperti acara-acara dakwah atau pengajian. sehingga dengan tayangan tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas. dan masyarakat yang berada jauh dari kita dapat memahami apa yang disampaikan lewat tayangan tersebut.
      terima kasih..

      Hapus
  3. assalamu'alaikum,,
    diatas dijelaskan kalau kita tetap tidak boleh meninggalkan atau melupakan media atau metode yang di gunakan Rasulullah pada zaman dahulu. Karena media atau metode tersebut sudah memberikan inspirasi dalam mengembangkan media publik di zaman sekarang ini.
    yang ingin saya tanyakan,,
    contoh pengembangan media publik di zaman sekarang yang terinspirasi dari zaman Rasulullah apa??
    terimakasih,,
    wassalamu'alaikum,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi begini mb, zaman Rasulullah dahulu kan dalam memberi peringatan kepada umat menurut hadits ini dengan cara menaiki Bukit Shafa lalu berteriak serta bersabda kepada umat. jadi Rasulullah hanya menggunakan Bukit Shafa sebagai tempat untuk memberi peringatan atau pengajaran kepada umat yaitu dengan metode dakwah. sedangkan di zaman sekarang yang sudah modern ini dalam menyebarkan ilmu sudah dapat melalui media publik seperti siaran ceramah atau dakwah di televisi yang bisa di ketahui oleh masyarakat luas yang tempat tinggalnya jauh. dan itu merupakan pengembangan media publik yang terinspirasi oleh Rasulullah yaitu dengan metode dakwah. dimana dahulu ketika Rasulullah memberi peringatan hanya memanfaatkan bukit Shafa sedangkan di zaman sekarang ini sudah di kembangkan melalui media publik seperti televisi, radio, internet dan lain sebagainya.
      begitu mb...

      Hapus
  4. 2021 111 167

    bagaimanakah kita seharusnya bersikap dengan perkembangan media saat ini agar tidak menimbulkan dampak negatif????

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi kita itu harus pandai pandai menyaring informasi yang kita dapat yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. kita harus bisa atau mampu memilah dan memilih informasi yang terdapat di berbagai media yang berkembang pada saat ini dan hanya mengambil informasi yang baik saja. Intinya media publik ini di manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
      terima kasih

      Hapus
  5. Assalamu 'alaikum....
    mbak dew,
    menurut anda, partisipasi kita sebagai generasi bangsa untuk ikut dalam menyebarkan ilmu ke kalangan eksternal bagaimana caranya ?
    karena melihat kondisi yang ada para kader-kader bangsa belum terlihat kiprahnya dalam dunia pendidikan, kebanyakan dari mereka hanya memperbarui dan melengkapi, bukan menciptakan cara penyampaian ilmu yang baru, inovatif dan menyenangkan, sehubungan dengan hal itu, bagaimana sikap dan solusinya ?
    kemudian mengenai keterangan hadits diatas, saya kurang memahami, mohon dijelaskan dengan bahasa yang komunikatif,
    sekian.
    terima kasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. partisipasi kita sebagai generasi bangsa adalah kita yang memulai untuk menyebarkan ilmu di media publik misalnya dengan ikut berpartisipasi atau membantu dalam acara-acara keagamaan. kemudian kita mengajak teman,kerabat,tetangga dsb untuk mengikuti langkah kita. kita optimalkan media yang sudah ada untuk penyebaran ilmu Islam. dengan hal itu Insya Allah kita akan membantu dalam penyebaran ilmu ke kalangan di luar kita.
      sedangkan yang generasi muda kebanyakan dari mereka hanya memperbarui dan melengkapi yang sudah ada dan tidak menciptakan cara penyampaian ilmu yang baru menurut saya itu karena kurangnya rasa kesadaran dan mereka itu tidak mempunyai keinginan untuk menciptakan hal-hal baru untuk memajukan bangsa. menurut saya solusinya adalah generasi bangsa harus mempunyai kesadaran dan keinginan untuk menciptakan hal-hal baru. dan tidak hanya mengandalkan apa yang sudah ada.
      Hubungan antara hadits dengan keterangannya adalah dalam hadits kan di jelaskan bahwa pada saat Nabi memberi peringatan tentang adzab yang pedih, Abu Lahab tidak mempercayai hal itu. Sehingga turunlah ayat yang menyatakan “binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” sedangakan dalam keterangan hadits di jelaskan bahwa ketika itu Abu Lahab bertemu dengan Nabi dan bertanya tentang leluhurnya, maka Nabi menjawab bahwa mereka tidak menganut agama. Melihat hal itu Abu Lahab marah dan terus memusuhi Nabi. Sehingga turun ayat yang artinya “binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh binasa. Jadi hubungan antara hadits dengan keterangannya adalah bahwa intinya Abu Lahab itu tidak percaya dengan perkataan Nabi SAW. Sehingga turunlah ayat Al-Lahab.
      Begitu mb desi, semoga anda puas dengan jawabannya.
      Matur thankyu…

      Hapus
  6. assalamualaikum
    mbak
    apakah kelebihan dan kekurangan antara metode dakwah dizaman sekarang yang menggunakan media modern dibanding dengan media dizaman rosulullah saw, tolong jelaskan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya,
      metode dakwah di zaman sekarang mempunyai kelebihan dari segi keefektifan waktu nilai kepraktisan, dimana orang yang menerima ilmu lebih mudah menangkap materi karena sumber utama ilmu hanya dari orang yang menyampaikan ilmu.
      sedangkan kekurangannya adalah tingkat partisipasi dari orang yang menerima ilmu sangat rendah, orang yang menerima ilmu hanya sebatas mendengarkan dan menerima apa adanya hal-hal yang disampaikan oleh orang yang menyampaikan ilmu.
      terima kasih...

      Hapus
  7. bagaimana langkah-langkah atau cara aga kita dapat melaksanakan dalam menyebarkan ilmu ke kalangan eksternal ?? pelajaran dan hikmah apa yang kita ambil dari pembahasan hadis ini???

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya langkah-langkah agar kita dapat melaksanakan dalam menyebarkan ilmu ke kalangan eksternal adalah pertama yang kita lakukan adalah ikut berpartisipasi dalam menyebarkan ilmu ke masyarakat luas misalnya dengan membantu kegiatan atau acara-acara keagamaan seperti pengajian. dengan itu kita bisa membantu dalam penyebaran ilmu ke kalangan eksternal.
      sedangkan pelajaran yang bisa di ambil dari pembahasa hadits ini adalah dalam menyebarkan ilmu itu tidak memandang tempat di mana kita menyebarkan ilmu tersebut. sebagai mana dalam hadits ini di jelaskan bahwa ketika memberi peringatan kepada umat, Rasulullah SAW melakukannya dengan menaiki Bukit Shafa.
      terima kasih...

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Nurul Azizah
    2021 111 142
    Assalamu'alaikum ....
    jika penggunaan media cetak dan elektronik dalam penyebaran ilmu di kalangan eksternal itu di salah gunakan, semisal ilmu yang disampaikan tidak sesuai sedangkan dalam hal ini ada sebagian orang yang tidak tahu, bagaimana menurut pemakalah untuk meminimalisir hal ini? apakah ada dampak positif dan negatifnya???
    terima kasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya jika ilmu disampaikan tidak sesuai dengan syari'at itu merupakan perbuatan yang menyeleweng dan tidak di benarkan dalam Islam. seharusnya kita sebagai pengguna media cetak dan elektronik harus bisa membedakan antara ilmu yang memberi manfaat kepada kita (pendidikan) dan kita harus selektif dalam membedakan antara yang positif dan negatif. misalnya saja media elektronik (televisi), dalam tayangan televisi sering kali menayangkan hal-hal yang tidak memberi pendidikan bagi para penonton.sangat sedikit yang bermanfaat yang di tayangakan di televisi. jadi intinya kita itu harus selektif. terima kasih

      Hapus
  10. zahrul fitriyah
    2021 111 156

    dalam menyampaikan info kepada kalangan ekstern, apakah ada batasan-batasannya apa yang harus disampaikan dan apa yang tidak harus disampaikan? jika ada, bagaimana cara memilah-milah info tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya dalam menyebarkan ilmu ke kalangan ekstern itu tidak ada batasannya. asalkan ilmu yang di sampaikan memberi manfaat bagi yang menerima ilmu itu.

      Hapus
  11. panji hardiko 2021 111 352
    assalamualaikum wr wb
    apa hukumya jika tidak Mnyebarkan ilmu ke kalangan luar? mengapa demikian, berikan contohnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya,
      pada dasarnya menyebarkan ilmu itu adalah suatu kewajiban bagi seseorang yang mempunyai pengetahuan lebih. na lebih-lebih di kalangan luar, misalnya saja daerah pelosok yang pengetahuan agamanya masih sangat rendah, maka jika kita mampu memberikan pengajaran kepada mereka akan lebih bermanfaat dari pada yang di kalangan intern.

      Hapus
  12. inayah 2021111165
    dengan semakin pesatnya media elektronik semakin mudah pula cara penyebaran kajian ilmu pengetahuan baik ilmu agama maupun ilmu umum. bagaimana cara mengimbangi antara kedua ilmu tersebut agar diantara keduanya tidak ada mengalami (keanjlogan)???
    terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya cara agar dalam mempelajari ilmu agama dan ilmu umum itu seimbang dengan cara dalam mempelajari keduanya harus seimbang pula. tidak hanya memahami salah satunya saja tetapi keduanya harus seimbang. hal itu agar kita dapat memahami kedua ilmu tersebut.
      terima kasih

      Hapus
  13. tria novianti 2021 111 164
    bagaimana cara yang tepat islam dalam penyebaran ilmu ke kalangan umum sesuai perkembangan zaman sekarang yang semakin modern??

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak hanya dengan pengajaran langsung seperti ceramah tetapi juga bisa melalui media publik seperti radio, televisi, internet, dan lain sebainya. karena di zaman yang serba canggih ini penggunaan media publik dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan ilmu yang penyebaran ilmu tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas.
      terima kasih

      Hapus
  14. Haniammaria
    2021 111 279
    ass...
    Di intrnet sekarang banyak semacam dakwah-dakwah yang mengatas namakan islam. contohnya dalam fb jika kita menyukai semisal "dakwah rosulluah" pastinya kita akan menemukan bacaan-bacaan yang membahas tentang rosulluah itu sendiri dan bahkan tentang islam.trus bagaimanakah penilaian pemakalah tentang hal itu.??? sedangkan kita belum bisa memastikan bahwa itu benar atau salah... trimakasih... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya dalam menyikapi hal tersebut kita itu harus selektif dalam menerima dakwah-dakwah tersebut. jangan asal percaya begitu saja dengan materi pelajaran tentang agama yang kita dapat.
      terima kasih...

      Hapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  16. Nur Fitriyani 2021 111 143
    Dalam pembelajaran eksternal, apakah dengan media publik akan menjadikan hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran? mohon jelaskan terima kasih!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya dengan media publik dapat memaksimalkan proses pembelajaran, karena dengan media publik pengajaran agama bisa menjadi lebih luas karena tidak hanya di ketahui oleh kalangan sendiri tetapi juga bisa di ketahui oleh masyarakat luas yang letaknya jauh dari kita.
      terima kasih...

      Hapus
  17. Assalamu'alaikum
    Ika nur fitriana 2021 111 168
    Dalam hadits diatas dijelaskan tentang metode dakwah Raasulullah degan cara ceramah, sedangkan sekarang ini sudah banyak media yang lebih diminati oleh banyak orang dibandingkan dengan metode ceramah, karena yang sering terjadi metode ceramah itu membosankan, bahkan banyak orang yang tidak mendengarkan ceramah tapi malh ribut sendiri sedang metode tersebut adalah metode yang digunakan oleh Rasulullah. Nha bagaimana menurut pemakalak tntang hal tersebuta? adakah kiat-kiat yang bisa menjadikan metode ceramah itu menyenangkan bukan malah membosankan? terimakasih

    BalasHapus
  18. menurut saya setiap metode itu ada kelebihan dan kelemahannya masing-masing. begitu juga metode ceramah mempunyai kelemahan dan kelebihan.
    menurut saya agar metode ceramah menjadi menyenangkan mungkin dengan diselingi dengan sedikit candaan atau nyanyian sehingga pendengar tidak merasa bosan. dan dalam melakukan ceramah tidak hanya monoton.
    terima kasih

    BalasHapus
  19. assalamu'alaikum...
    saya nur atikah Nim 2021 111 133
    yang saya tanyakan apa dampak negatif dan dampak positif dari media eksternal?
    trimakasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaikumsalam...
      meneyrut saya dampak negatifnya adalah bagi orang awam yang belum terlalu mengetahui ilmu agama mereka bisa jadi salah pemahaman tentang apa yang disampaikan.
      sedangkan dampak positifnya, dengan penyebaran ilmu melalui media publik maka ilmu yang disampaikan bisa diketahui oleh masyarakat luas yang keberadaannya jauh dari kita.
      terima kasih...

      Hapus