Laman

Senin, 30 September 2013

FPI-N-5: AKSIOLOGI FPI



AKSIOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah              : Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu      : Ghufron Dimyati, M. S. I.
Kelas                           : N




Disusun oleh:
Ainul Khusna                        (2021211110)
Fatkhiyatun Nikmah            (2021211177)
Kholisah                     (2021211182)
Anaa Sa’atul Janah  (2021211185)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013
 

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan dan kehidupan manusia merupakan dua hal identik yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Hubungan keduanya ibarat tubuh dengan jiwa manusia. Kehidupan manusia digerakkan oleh pendidikan menuju tujuan hidup yang didambakan.
Dengan pendidikan, manusia memperoleh wawasan pengetahuan dari mana asal usul kehidupan dan kejelasan orientasi kehidupannya. Tanpa pendidikan, bisa dipastikan manusia akan kehilangan ruh penggerak kehidupannya. Oleh karena itu pengetahuan kita mengenai filsafat pendidikan menjadi penting untuk dikaji dari berbagai dimensi,
Dalam makalah ini akan diuraikan tentang filsafat pendidikan dalam dimensi atau kajian aksiologi yang termasuk didalamnya studi tentang nilai-nilai dalam pendidikan. Semoga bermanfaat.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Aksiologi
Aksiologi merupakan dimensi yang menyangkut nilai-nilai yang berupa pertanyaan apakah yang baik atau bagus itu?. Dalam definisi lain, aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Untuk selanjutnya nilai-nilai tersebut ditanamkan dalam kepribadian anak.[1]
B.     Hakikat Makna Nilai
Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan melembaga secara obyektif di dalam masyarakat, mengenai hal-hal yang dianggap baik, benar dan hal-hal yang dianggap buruk atau salah. Dalam pandangan Young, nilai diartikan sebagai asumsi-asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang hal-hal yang benar dan hal-hal yang penting.[2]
Nilai bersifat ideal, abstrak dan tidak dapat disentuh oleh pancaindera, sedangkan yang dapat ditangkap hanya barang atau tingkah laku yang mengandung nilai tersebut. Nilai juga bukan fakta yang berbentuk kenyataan dan konkret. Oleh karena itu, masalah nilai bukan tentang benar atau salah, tetapi soal dikehendaki atau tidak, disenangi atau tidak sehingga bersifat subyektif.
Secara umum pengertian nilai tak terbatas. Segala sesuatu yang ada di alam ini adalah bernilai. Nilai adalah seluruh potensi kesadaran manusia. Variasi kesadaran manusia sesuai dengan individualitas dan keunikan pribadinya.
Dalam hal ini studi tentang nilai adalah aksiologi. Dapat diambil pengertian bahwa nilai adalah sesuatu yang berharga, yang diidamkan oleh setiap insan. Adapun nilai yang dimaksud sebagai berikut:
1.      Nilai jasmani adalah nilai yang terdiri atas nilai hidup, nilai nikmat dan nilai guna.
2.      Nilai rohani adalah nilai yang terdiri atas nilai intelek, nilai estetika, nilai etika dan nilai religi.
C.    Bentuk dan Tingkatan Nilai
Brubacher membedakan nilai antara lain:
1.      Nilai intrinsik adalah nilai yang dianggap baik, ada didalam dan dari dirinya sendiri (bersifat pribadi) dan terpusat pada kodrat manusia. Hal ini sesuai dengan tujuan akhir pendidikan islam yakni realisasi diri.
2.      Nilai instrumental adalah nilai yang dianggap baik karena bernilai untuk sesuatu yang lain. Nilai ini bersifat relatif dan subyektif tergantung pada akibat-akibat yang ditimbulkan dalam usaha untuk mencapai nilai-nilai yang lain.
3.      Pada umumnya masyarakat beranggapan bahwa hierarki nilai dalam kehidupan manusia identik dengan hierarki tingkat-tingkatkebenaran. Sebab kebenaran adalah nilai itu sendiri. Tingkat-tingkat kebenaran seperti indra, tingkat ilmiah, tingkat filosofis dan tingkat religius adalah paling wajar didalam kehidupan manusia. Kewajaran ittu tumbuh bersumber pada proses pertumbuhan kesadaran pribadi itu sendiri.
Tingkat religius merupakan tingkat integritas kepribadian yang mencapai tingkat budi (consciesia, insan kamil) juga materi dan kebaikan religius ini bersifat mutlak, universal dan suci.
Menurut Yinger, nilai bisa dilihat dengan tiga penampilan, yaitu:
1.      Nilai sebagai fakta watak, menunjukkan bahwa sejauhmana seseorang menjadikan nilai sebagai pegangan, pembimbingan, dan pengambilan keputusan.
2.      Nilai sebagai fakta kultural, menunjukkan bahwa nilai tersebut diterima dan dijadikan kriteria normatif dalam pengambilan keputusan oleh anggota mesyarakat.
3.      Nilai sebagai konteks struktural, bahwa nilai yang ada mampu memberikan dampaknya pada struktur sosial yang bersangkutan.

Dilihat dari segi orientasi sistem nilai, nilai dibedakan menjadi:
1.      Nilai etis (nilai baik buruk)
2.      Nilai pragmatis (berhasil gagalnya sesuatu)
3.      Nilai efek sensorik (menyenangkan atau menyedihkan)
4.      Nilai religius (dosa dan pahala, halal dan haram)
Namun pada dasarnya nilai-nilai tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:
1.      Nilai Formal, yaitu nilai yang tidak ada wujudnya, tetapi memiliki bentuk, lambang, serta simbol-simbol. Nilai ini ada dua macam:
a)      Nilai sendiri
b)      Nilai turunan
2.      Nilai Material, yakni nilai yang terwujud dalam kenyataan pengalaman rohani dan jasmani. Nilai ini terbagi dua yaitu:
a)      Nilai Rohani, terdiri dari nilai logika, estetika, etika dan religi
b)      Nilai Jasmani atau nilai Pancaindra terdiri atas: nilai hidup, nilai nikmat, dan nilai guna.

D.    Sumber Nilai Dalam Kehidupan Manusia
Sumber nilai dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1.      Nilai Ilahi
Nilai Ilahi adalah nilai yang dititahkan oleh Tuhan melalui para Rasul-Nya yang berbentuk takwa, iman, adil yang diabadikan dalamwahyu Ilahi.
Agama Islam diturunkan di dunia mengandung implikasiajaran tentang nilai-nilai dan moralitas yang sesuai dengan kemampuan tabi’I dalam menerima dan menjalankan syari’at islam yang ada didalamnya. (M. Arifin, 1996:151)
Nilai ilahi tidak mengalami perubahan, nilai ilahi yang fundamental mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat serta tidak cenderung untuk berubah mengikuti hawa nafsu manusia yang berubah-ubah sesuai dengan tuntutan perubahan sosial dan tuntutan individual. Nilai religi mempunyai dua segi yaitu:
a)      Segi normatif yang menitikberatkan pada pertimbangan baik buruk, benar salah, hak bathil, diridhoi dikutuk.
b)      Segi Operatif yang mengandung lima kategori yang menjadi prinsip standarisasi perilaku manusia, yaitu:
1)      Fardhu atau wajib
2)      Sunnah
3)      Mubah
4)      Makruh
5)      Haram
2.      Nilai Insani
Nilai Insani yang tumbuh atas kesepakatan manusia hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai ini bersifat dinamis, sedangkan keberlakuannya dan kebenarannya relatif nisbi yang dibatasi oleh masyarakat dan waktu.
Nilai insani kemudian melembaga menjadi tradisi-tradisi yang yang diwariskan turun-temurun dan mengikat anggota masyarakat.
Dalam pandangan islam tidak semua nilai yang telah melembaga dalam tatanan kehidupan masyarakat dapat diterima dan ditolak. Sikap Islam dalam menghadapi tatanan nilai yang ada dalam masyarakat dengan menggunakan lima macam klasifikasi, yaitu:
a)      Memelihara unsur-unsur nilai dan norma yang sudah mapan dan positif.
b)      Menghilangkan unsur-unsur nilai dan norma yang sudah mapan tetapi negatif.
c)      Menumbuhkan unsur-unsur nilai dan norma yang belum ada dan dianggap positif.
d)     Bersikap menerima, memelihara, memilih,mencerna, menggabung-gabungkan dalam satu sistemyang menyampaikan pada orang lain terhadap nilai pada umumnya.
e)      Menyelenggarakan penyucian nilai atau norma agar sesuai dan sejalan dengan nilai dan norma islam sendiri.

E.     Proses Sosialisasi Nilai dan Implikasinya dalam Dunia Pendidikan Islam
Secara umum tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kematangan dan integritas bahkan kesempurnaan (perfection). Proses sosialisasi nilai dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a)      Evolusi
Evolusi menuntut adanya keuletan dan kesabaran dengan rentang waktu yang panjang dan disampaikan secara berangsur-angsur.
b)      Revolusi
Revolusi menuntut adanya perombakan tata nilaiyang sudah usang dan dimodifikasi atau bahkan diganti dengan nilai-nilaiyang baru.
Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari nilai,dan nilai itu selanjutnya perlu diinstitusikan. Institusionalisasi nilai yang terbaik adalah melalui upaya pendidikan.
Fungsi pendidikan khususnya pendidikan islam adalah pewarisan dan pengembangan nilai-nilai agama islam serta memenuhi aspirasi masyarakat dan kebutuhan tenaga di semua tingkat dan pembangunan bagi terwujudnya keadilan, kesejahteraan,dan ketahanan.
Tugas pendidikan memadukan nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama secara selektif, inovatif, akomodatif guna mendinamisasikan perkembangan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan nilai fundamental yang menjadi tolak ukur bagi nilai-nilai baru.
Implikasi aksiologi dalam dunia pendidikan adalah menguji dan mengintegrasikan nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan membinakannya dalam kepribadian anak didik. Memang un­tuk menjelaskan apakah yang baik itu, benar, buruk dan jahat bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi, baik, benar, indah dan buruk, dalam arti mendalam dimaksudkan untuk membina kepribadian ideal anak, jelas merupakan tugas utama pendidikan.
Pendidikan harus memberikan pemahaman atau pengertian baik, benar, bagus, buruk dan sejenisnya kepada peserta didik secara komprehensif dalam arti dilihat dari segi etika, estetika dan nilai sosial. Dalam masyarakat, nilai-nilai itu terintegrasi dan saling berinteraksi. Nilai-nilai di dalam rumah tangga/keluarga, tetangga, kota, negara adalah nilai-nilai yang tak mungkin diabaikan dunia pendidikan bahkan sebalik­nya harus mendapat perhatian.

















BAB III
KESIMPULAN

Aksiologi atau nilai pada hakikatnya adalah konsepsi-konsepsi abstrak dalam diri manusia atau masyarakat, mengenai hal-hal yang dianggap baik, benar dan hal-hal yang dianggap buruk dan salah.
Pendidikan pada tahap selanjutnya merupakan proses transformasi nilai, yang cenderung bersifat positif dan penuh makna kebaikan. Nilai selalu terserap dalam lapangan pendidikan. Pendidikan akan dapat menguji dan mengintegrasikan semua nilai di dalam kehidupan manusia dan membimbingnya didalam kepribadian anak.




















DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2012, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Khobir, Abdul,  2007 Filsafat Pendidikan Islam, Pekalongan: STAIN Pekalongan Press
Salahudin, Anas. 2011. Filsafat Pendidikan, Bandung,Pustaka Setia
Latif, Abdul. 2007. Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung: Rafika Aditama
Prasetya, 2000, Filsafat Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia



[1] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 84
[2]  Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, (STAIN Pekalongan Press, 2007), hlm. 36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar