Laman

Kamis, 07 November 2013

FPI-N-8: manusia dan potensi pendidikannya



MANUSIA DAN POTENSI PENDIDIKANYA
MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah                :  Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu        :  M. Ghufron Dimyati, M.S.I


Oleh:

1.      Ahmad Rifqun Niam (2021211105)
2.      AhmadSukro               (2021211122)
3.      Dwi Iraningsih            (2021211186)

Kelas: N



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013



BAB I
PENDAHULUAN
Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan gambaran yang membicarakan Tentang manusia dan makna filosofis dari penciptaannya. Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dan sebaik-baik penciptaan dan dibekali akal dan pikiran, sehingga dibutuhkannya pendidikan agar akal dan pikiran mereka dapat digunakan pada hal yang baik, khususnya pendidikan islam. Akal dan fikiran menjadi bekal seseorang untuk berfilsafat.  Diciptakannya manusia didunia ini pasti ada maksud dan sesuatu yang perlu diketahui agar kehidupan dapat berjalan sesuai dengan kebaikan atau  mengikuti aturan-aturan yang ada.
Pemikiran tentang  hakikat manusia belum berakhir dan tidak akan pernah berakhir. Ternyata orang menyelidiki manusia dalam alam semesta merupakan  bagian yang amat penting karena dengan uraian ini dapat diketahui  dengan  jelas tentang potensi yang dimiliki manusia serta peranan  yang harus dilakukan.                     















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Manusia
Pemikiran tentang  hakikat manusia belum berakhir dan tidak akan pernah berakhir. Hakikat manusia berarti adanya berbicara mengenai apa manusia itu, ada empat aliran yang dikemukakan yaitu: Aliran serba zat, aliran serba ruh, aliran dualisme, aliran eksistensialisme.
1.      Aliran Serba Zat
Aliran serba zat ini mengatakan yang sungguh-sungguh ada, itu hanyalah zat materi, alam ini adalah zat atau materi dan manusia adalah unsur dari alam, maka dari itu manusia adalah zat atau materi. Manusia sebagai makhluk materi, maka pertumbuhannya berproses dari materi juga. [1]
Oleh karena itu manusia sebagai materi, maka keperluan-keperluannya juga bersifat materi, ia mendapatkan kebahagiaan, kesenangan dan sebagainya juga dari materi karena materi itu adanya di dunia ini, maka terbentuklah suatu sikap pandangan yang materialistis. Oleh karena materi itu adanya di dunia ini, maka pandangan materialistis itu identik dengan pandangan hidup yang bersifat duniawi, sedangkan hal-hal yang bersifat ukhrawi (akhirat) dianggap sebagai khayalan belaka.
2.      Aliran Serba Ruh
Aliran ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada didunia ini ialah ruh, juga hakekat manusia adalah ruh, adapun zat itu adalah manifestasi dari pada ruh di atas dunia ini. artinya. Dengan demikian aliran ini menganggap ruh itu ialah hakikat, sedangkan badan ialah penjelmaan atau bayangan.



3.      Aliran Dualisme
Aliran ini menganggap bahwa manusia itu pada hakikatnya terdiri dari dua subtansi, yaitu jasmani dan rohani. Kedua subtansi ini masing-masing merupakan unsur asal yang adanya tidak tergantung satu sama lain. Jadi badan tidak berasal dari ruh juga sebaliknya ruh tidak berasal dari badan. Hanya dalam perwujudannya, manusia itu serba dua, jasad dan ruh yang keduanya berintergrasi membentuk yang disebut manusia. Antara badan dan ruh terjalin hubungan yang bersifat kausal, sebab akibat. Artinya antara keduanya saling pengaruh mempengaruhi. Apa yang terjadi di satu pihak akan mempengaruhi di pihak lain. Sebagai contoh, orang cacat jasmaninya akan berpengaruh pada perkembangan jiwannya. Sebaliknya orang yang jiwanya cacat atau kacau akan berpengaruh pada fisiknya.
4.      Aliran Eksistensialisme
Aliran filsafat modern berpikir tentang hakikat manusia merupakan eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia. Jadi intinya hakikat manusia yaitu apa yang menguasai manusia secara menyeluruh. Di sini manusia dipandang tidak dari sudut serba zat atau serba ruh atau dualisme dari dua aliran itu, tetapi memandangnya dari segi eksistensi manusia itu sendiri, yaitu cara beradanya manusia itu sendiri didunia ini.
B.     Pandangan Filsafat Pendidikan Islam tentang Manusia
Dalam pandangan islam mengenai hakikat manusia, islam memandang bahwa hakikat manusia ialah manusia itu merupakan perkaitan antara badan dan ruh. Badan dan ruh masing-masing merupakan substansi yang berdiri sendiri yang tidak tergantung adanya oleh yang lain. Islam mengatakan secara tegas bahwa kedua substansi (substansi: unsur asal sesuatu yang ada) dua-duanya adalah substansi alam. Sedang alam adalah makhluk. Maka keduanya juga makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
Dalam Al Qur’an Allah berfirman, yang artinya:
         “Dan sesungguhnya kami ciptakan manusia dari sari pati tanah kemudian kami jadikan dari tanah itu air mani (terlatak) dalam tempat simpanan yang teguh (rahim) kemudian dari air mani itu kami ciptakan segumpal darah lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan dari segumpal daging itu kami ciptakan tulang-belulang. Kemudaian tulang-belulang itu kami tutup (baluti) dengan daging. Sesudah itu kami jadikan dia makhluk yang baru yakni manusia yang sempurna. Maka maha berkat (suci Allah) pencipta yang paling baik. (Q.S. Al Mukminun:12-14).
Jadi, manusia itu terdiri dari dua subtansi yaitu materi yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari Tuhan. Maka hakikat manusia adalah ruh itu, sedangkan jasad nya hanyalah alat yang dipergunakan oleh ruh untuk menjalani kehidupan material di alam yang material bersifat sekunder dan ruh adalah yang primer, karena ruh saja tanpa jasad yang material, tidak dapat dinamakan manusia.
Dalam diri manusia, pada hakikatnya terdapat sifat dan unsur-unsur ketuhanan karena dalam proses kejadiannya kepada manusia telah ditiupkan ruh dari Tuhan. Sifat dan unsur ketuhanan dalam diri manusia tersebut berupa potensi-potensi pembawaan yang dalam proses kehidupannya manusia merealisir dan menjabarkannya dalam tingkah laku dan perbuatan nyata. Dengan demikian hidup dan kehidupan manusia itu berkembang dan mengarah kepada kesempurnaan.[2]
C.    Berbagi Pandangan Tentang Proses Kependidikan
1.        Potensi Manusia Menurut Al Qur’an
              Mengenai potret potensi yang dimiliki oleh manusia Al Qur’an telah mensinyalir dengan dua kata kunci yang dapat di jadikan untuk memahami manusia secara komprehensif. Kedua kata kunci tersebut adalah al insan dan al basyar. kata al insan yang bentuk jamaknya adalah  al nas dari segi semantik atau ilmu tentang akar kata, dapat dilihat dari akar kata anasa yang mempunyai arti melihat, mengetahui dan meminta izin. Atas dasar kata ini mengandung petunjuk adanya kaitan subtansi antara manusia dengan kemampuan penalaran. Dengan penalaran yang dimiliki oleh manusia, ia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya, ia dapat pula mengetahui dari apa yang benar dan apa yang salah dan terdorong untuk meminta izin menggunakan sesuatu yang bukan miliknya.
       Adapun kata basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk, baik laki-laiki maupun perempuan, baik secara individual maupun kolektif. Kata basyar adalah bentuk jamak dari kata basyarah yang artinya permukaan kulit kepala, wajah dan tubuh. Semua kegiatan yang didasari dan dilakukan manusia (al insan) itu dasarnya adalah kegiatan yang didasari dan berkaitan dengan kapasitas akalnya dan aktualisasi dalam kehidupanya yang konkret yaitu perencanaan, tindakan dan akibat-akibatnya atau perolehan yang di timbulkan olah perbuatan tersebut.
       Pengertian basyar tak lain adalah manusia dalam kehidupanya sehari-hari yang berkaitan dengan aktifitas lahiriyahnya, yang di pengaruhi oleh dorongan kodrat alamiahnya, seperti makan, minum.
       Manusia adalah makhluk yang memiliki kelengkapan jasmani dan rohani. Dengan kelengkapan yang dimilikinya ia dapat melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan dukungan jasmani dan rohani tersebut. Selanjutnya, agar kedua subtansi tersebut dapat berfungsi dengan baik dan produktif, maka perlu di bina dan di kembangkan melalui pendidikan.[3]


2.        Hakikat Fitrah Manusia dan Relasinya dengan Proses       Kependidikan
   Fitrah menurut bahasa berarti ciptaan, sifat pembawaan manusia (yang ada sejak lahir). Fitrah secara istilah berarti suatu kekuatan atau kemampuan (potensi yang terpandam) yang menetap dalam diri manusia sejak awal kejadianya, untuk komitmen terhadap nilai-nilai keimanan kepada-Nya, cenderung kepada kebenaran (hanif) dan potensi itu merupakaan ciptaan Allah.
       Hakikat fitrah manusia adalah sebagian sifat-sifat ketuhanan yang harus di tumbuh kembangkan secara terpadu oleh manusia dan di aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam kehidupan individu maupun sosialnya, karena kemuliaan seseorang di sisi Allah lebih di tentukan oleh sejauh mana kualitas yang ada dalam diri manusia dikembangakan sesuai dengan sifat-sifat ketuhanan tersebut, bukan dilihat dari segi materi, fisik atau jasadnya.
    Potensi dasar fitrah manusia harus ditumbuh kembangkan optimal dan terpadu melaui proses pendidikan sepanjang hayat. Manusia diberi kebebasan untuk berikhtiar mengembangkan potensi-potensi dasar fitrah yang dimilikinya. Namun dalam pertumbuhan dan perkembanganya tidak bisa dilepaskan dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum tertentu yang menguasai alam, hukum-hukum yang menguasai benda-benda maupun manusia, yang tidak tunduk dan tidak tergantung pada kamauan manusia.
    Disamping itu, pertumbuhan dan perkembangan potensi dasar fitrah manusia yang dipengaruhi oleh faktor-faktor hereditas, lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosial kultural dan sejarah. Oleh karena itu maka minat, bakat dan kemampuan skill dan sikap manusia yang diwujudkan dalam kegiatan ikhtiarnya dan hasil yang dicapainya bermacam-macam.
    Selain itu, dari segi sosial psikologis manusia dalam proses pendidikan sebagai makhluk yang sedang bertumbuh dan berkembang dalam proses komunikasi antara individualitasnya dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya dan proses ini dapat membawanya ke arah pengembangan sosial dan kemampuan moralitasnya.
      Dalam proses tersebut terjadi suatu pertumbuhan atau perkembangan secara dealektis atau interaksional antara individu dan sosialitas serta lingkungan sekitarnya, sehingga terbentuklah proses biologis, psikologis dan sosiologis sekaligus dalam waktu bersamaan dalam rangka pengembangan terhadap kemampuan dasar atau bakat manusia.
    Proses kependidikan yang terjadi pada manusia menurut ajaran islam dipandang sebagai perkembangan alamiah pada diri manusia yang sudah ditetapkan oleh Allah berdasarkan sunnatullah.[4]












BAB III
KESIMPULAN
Hakikat manusia berarti adanya berbicara menganai apa manusia itu, ada empat aliran yang dikemukakan yaitu: Aliran serba zat, aliran serba ruh, aliran dualisme, aliran eksistensialisme.
Dalam pandangan islam mengenai hakikat manusia, islam memandang bahwa hakikat manusia ialah manusia itu merupakan perkaitan antara badan dan ruh. Badan dan ruh masing-masing merupakan substansi yang berdiri sendiri yang tidak tergantung adanya oleh yang lain. Islam mengatakan secara tegas bahwa kedua substansi (substansi: unsur asal sesuatu yang ada) dua-duanya adalah substansi alam. Sedang alam adalah makhluk. Maka keduanya juga makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
Potensi dasar fitrah manusia harus ditumbuh kembangkan optimal dan terpadu melaui proses pendidikan sepanjang hayat. Manusia diberi kebebasan untuk berikhtiar mengembangkan potensi-potensi dasar fatrah yang dimilikinya. Namun dalam pertumbuhan dan perkembanganya tidak bisa dilepaskan dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum tertentu yang menguasai alam, hukum-hukum yang menguasai benda-benda maupun manusia, yang tidak tunduk dan tidak tergantung pada kamauan manusia.
    






DAFTAR PUSTAKA
Gazalba, Sidi. Sistimatika Filsafat, , 1973. Jakarta: Bulan Bintang.                         
Khobir, Abdul.Filsafat Pendidikan Islam, .2007.Pekalongan: STAIN Pekalongan press,.
Nata , Abuddin .Filsafat Pendidikan Islam, cet IV . 2001. Jakarta: logos.
Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam,1991. Jakarta: Bumi Aksara.


[1] Sidi Gazalba, Sistimatika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang), 1973, hal.393
[2]  Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara), 1991, hlm72-79

[3] Abuddin Nata , Filsafat Pendidikan Islam, cet IV (.Jakarta:logos) , 2001, hlm28-35
[4] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam,.( Pekalongan: STAIN Pekalongan press,.2007). hlm.84-88

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar