Laman

Kamis, 07 November 2013

SBM-B-9: pembelajaran berpusat pada guru - teacher center



MAKALAH
MODEL PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA GURU

Disusun untuk memenuhi tugas
  Mata Kuliah            : Strategi Belajar Mengajar
  Dosen Pengampu    : Ghufron Dimyati, M.S.I





Oleh:

Umi Habibah                         2022111056
Nailatul Mustaqimah            2022111064
Siliana                                     2022111068
 PBA B

SEKOAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013


BAB I
PENDAHULUAN
Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif didalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal.
Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif maka setiap guru harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara pengimplementasian model-model tersebut dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif memiliki keterkaiatan dengan tingkat pemahaman guru terhadap perkembangan dan kondisi siswa-siswa di kelas. Demikian juga pentingnya pemahaman guru terhadap sarana dan fasilitas sekolah yang tersedia, kondisi kelas dan beberapa faktor lain yang terkait dengan pembelajaran.
Mempertimbangkan pentingnya hal di atas maka pada bagian ini anda di ajak untuk membahas secara mendalam model-model pembelajaran.







BAB II
PEMBAHASAN
Model-model Pembelajaran Interaktif yang Berpusat Pada Guru
A.    Presentasi dan Penjelasan
Presentasi adalah model yang berpusat pada guru. Presentasi dan penjelasan memakan waktu yang cukup lama. Secara singkat hasil-hasil belajar model presentasi ini cukup jelas sehingga membantu siswa memperoleh, menyimpan informasi baru, memperluas konseptual dan mengembangkan kebiasaan mendengarkan dan memikirkan tentang informasi. Namun sebelum guru mempresentasikan dan menjelaskan kepada siswa, guru harus merencanakan terlebih dahulu dengan melakukan:
1)        Memilih tujuan dan isi presentasi. 
2)        Mendiagnosis pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.
3)        Memilih advance organizer yang tepat dan kuat. 
4)        Merencakan penggunaan waktu dan ruang.
Model presentasi ini terdiri dari empat fase utama, yaitu:
1.        Mengklarifikasikan tujuan pelajaran dan menyiapkan siswa untuk belajar.
2.        Presentasi sebuah advance organizer.
3.        Mempresentasikan info baru yang dimaksud.
4.        Memantau dan memeriksa pemahaman siswa serta memperluas dan memperkuat keterampilan berpikir mereka.[1]
B.     Pengajaran Langsung
1.      Pengertian Pengajaran Langsung
Pengajaran langsung adalah suatu model pembelajaran dimana kegiatannya terfokus pada aktivitas-aktivitas akademik. Sehingga dalam implementasi kegiatan pembelajaran guru melakukan kontrol yang ketat terhadap kemajuan belajar siswa, pendayagunaan waktu serta iklim kelas yang dikontrol secara ketat pula. Pemberian arahan dan kontrol secara ketat didalam pengembangan model pembelajaran langsung ini terutama sekali dilakukan ketika guru menjelaskan tentang tugas-tugas belajar, menjelaskan materi pelajaran. Tujuan utama model ini adalah untuk memaksimalkan penggunaan waktu belajar siswa. Sedangkan dampak pengajarannya adalah terciptanya ketuntasan muatan akademik dan keterampilan, meningkatnya motivasi belajar siswa serta kemampuan siswa. Sedangkan dampak pengiring meningkatnya percaya diri siswa.[2]
2.      Perencanaan Pengajaran Langsung
Sebelum melakukan pengajaran langsung, hendaknya guru merencanakan pengajaran langsung terlebih dahulu yaitu sebagai berikut:
a.       Menyiapkan tujuan
Ketika menyiapkan tujuan untuk pelajaran dengan model pengajaran langsung, format behavioral yang lebih spesifik merupakan pendekatan yang lebih disukai. Untuk analisis tugas melibatkan tindakan membagi keterampilan yang kompleks menjadi bagian-bagian komponennya sehingga dapat diajarkan secara langkah demi langkah.
b.      Melaksanakan Analisis Tugas
Analisis tugas adalah alat yang digunakan guru untuk mendefinisikan dengan persis sifat keterampilan tertentu atau keping pengetahuan yang di strukturisasikan dengan baik yang ingin mereka ajarkan. Analisis tugas membantu guru untuk menentukan dengan tepat apa yang perlu dilakukan siswa agar dapat melakukan keterampilan yang diinginkan. Hal itu dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah berikut:
1)      Mencari tahu apa yang dilakukan seseorang yang berpengetahuan luas ketika keterampilan yang dimaksud sedang dilakukan.
2)      Membagi keterampilan menjadi beberapa subketerampilan.
3)      Susun beberapa subketerampilan itu dengan urutan logis, yang menunjukkan subketerampilan mana yang mungkin menjadi prasayarat bagi yang lainnya.
4)      Rancang berbagai strategi untuk mengajarkan setiap subketerampilan dan tata cara mengombinasikannya.
c.       Merencanakan Waktu dan Ruang
Merancang dan mengolah waktu sangat penting bagi pelajaran dengan model pengajaran langsung. Guru harus memastikan bahwa waktunya cukup dengan kecerdasan dan kemampuan siswa, serta siswa termotivasi untuk tetap terlibat sepanjang pelajaran.
3.      Melaksanakan Pelajaran dengan Model Pengajaran Langsung
Langkah-langkah melaksanakan pelajaran dengan model pengajaran langsung antara lain:
a.       Memberikan tujuan dan establishing set
Terlepas dari model pengajaran yang sedang digunakan, guru yang baik memulai pelajaran yang sedang digunakan, guru yang baik memulai pelajarannya dengan menjelaskan tujuannya, establishing set dan mendapatkan perhatian siswa. Hal ini memberikan isyarat tentang apa yang akan terjadi. Selain itu, seharusnya siswa diberi tahu tentang keterkaitan antara pelajaran hari itu dan pelajaran sebelumnya.
b.      Melaksanakan demonstrasi
Untuk mendemonstrasikan sebuah konsep atau keterampilan tertentu secara efektif guru diharuskan untuk mencapai tingkat menguasai, atau memahami sepenuhnya, konsep yang dimaksud sebelum mendemonstrasikannya, dan berlatih melakukan sendiri seluruh aspek demonstrasi itu dengan seksama sebelum menyampaikannya di kelas.
c.       Menguasai dan memahami sepenuhnya
Untuk memastikan bahwa siswa akan mengobservasi perilaku yang benar dan bukan perilaku yang tidak benar, guru harus mengikuti dengan cermat apa yang dimasukkan dalam demonstrasinya. Hal yang penting disini adalah bila guru ingin siswa-siswanya melakukan sesuatu dengan benar, mereka harus memastikan bahwa hal itu didemonstrasikan dengan benar.
d.      Berlatih
Penting bagi guru untuk menyiapkan dan belatih sehingga sistem penomoran yang didemonstrasikan konsisten dengan apa yang akan ditemukan siswa di perpustakaan. Bila demonstrasi itu terdiri atas langkah-langkah seperti menghidupkan komputer, memasukkan informasi pengidentifikasi buku itu, menulis call numbernya kemudian menuju ke rak-rak buku yang sesuai, penting bahwa langkah-langkah ini dilatihkan sampai titik yang tidak ada langkah yang terlupa selama demonstrasi aktual. 
e.       Memberikan guided practice
Salah satu langkah kritis didalam model pengajaran langsung adalah bagaimana guru mendekati guided practice. Saat ini ada cukup banyak bukti penelitian yang dapat menuntun upaya-upaya pemberian kesempatan untuk praktik atau latihan. Guided practice(praktik terbimbing) meningkatkan retensi, membuat keterampilan lebih otomatis, dan meningkatkan transfer ke situasi-situasi baru.
f.       Memberikan praktik yang pendek dan bermakna
Di kebanyakan kasus, khususnya dalam kasus keterampilan, penting untuk memerintahkan siswa untuk melakukan keterampilan yang dikehendaki untuk jangka waktu pendek, dan bila keterampilan itu kompleks, menyederhanakan tugas pada tahap awal. Akan tetapi, tugas praktik yang pendek dan disederhanakan ini tidak boleh mendistorsi pola keterampilan secara keseluruhan.
g.      Memberikan praktik untuk meningkatkan Overlearning
Overlearning adalah sebuah keterampilan menghasilkan keotomatisan yang dibutuhkan untuk menggunakannya diberbagai kombinasi keterampilan dan dalam situasi-situasi baru. Hanya melalui Overlearning dan penguasaan totallah sebuah keterampilan dapat digunakan secara efektif dalam situasi-situasi baru.

h.      Memperhatikan tahap-tahap awal praktik
Tahap-tahap awal praktik sangat kritis, karena selama periode inilah tanpa pengetahuan  mereka, pelajar dapat menggunakan teknik-eknik yang tidak benar, yang kelak memaksa mereka untuk belajar meninggalkannya. Selama tahap-tahap awal praktik ini pulalah pelajar ingin mengukur kinerjanya, meskipun ini bertentangan dengan teknik ini.

i.        Memeriksa pemahaman dan memberikan umpan balik
Hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam pelajaran dengan model pengajaran langsung, karena tanpa pengetahuan tentang hasil-hasil, praktik menjadi tidak banyak artinya bagi siswa. Faktanya, tugas terpenting guru yang menggunakan model pengajaran langsung adalah memberikan umpan balik yang bermakna kepada siswa dan pengetahuan tentang hasil. Guru dapat memberikan umpan balik dengan banyak cara, misalnya secara verbal, dengan merekam, menguji, atau melalui komentar tertulis.[3]
4.      Pengajaran konsep
Kebanyakan para guru sepakat bahwa dalam penyampaian informasi kepada siswa tentang cara memikirkannya lebih penting lagi. Konsep dalam subyek apapun adalah pemikiran balok-balok bangunan dasar untuk berpikir terutama bagi individu untuk menghasilkan berbagai objek dan ide serta membuat aturan dan prinsip tentang konsep.
Dengan pengajaran konsep, guru dapat membantu siswa untuk memperoleh dan mengembangkan konsep-konsep dasar yang dibutuhkan untuk pembelajaran lebih lanjut dan pemikiran tingkat tinggi.
Pengajaran konsep tidak dirancang untuk mengajarkan informasi dalam jumlah besar kepada siswa. Tetapi dengan mempelajari dan menerapkan konsep-konsep kunci dalam subjek tertentu, siswa akan mampu mentransfer berbagai pembelajaran spesifik ke bidang-bidang yang lebih umum.
Pendekatan yang digunakan dalam pengajaran konsep adalah pendekatan Direct presentation (presenentasi langsung) dan pendekatan concept Attainment (pencapaian konsep).
Sebuah konsep pengajaran pada dasarnya terdiri dari empat fase, yaitu :
1.        Mempresentasi tujuan
2.        Memberikan masukan baik examples atau non-examples
3.        Menguji pencapaian konsep
4.        Menganalisis proses berpikir siswa
Concept Learning (belajar konsep) pada dasarnya adalah meletakkan berbagai macam masalah ke dalam golongan dan setelah itu mampu mengenali golongan itu. Sifat konsep yaitu :
a.         Konsep dapat ditempatkan kedalam kategori-kategori seperti objek atau ide lain kemudian diberi nama atau label
b.        Konsep dipelajaran melalui contoh-contoh dan bukan contoh, maka itu guru harus memberikan contoh dan bukan contoh yang jelas untuk konsep yang sedang yang sedang diajarkan kepada siswa guna memastikan pemahaman menyeluruh tentang konsep
c.         Konsep bisa diperngaruhi oleh konteks social
d.        Konsep memiliki definisi dan label
e.         Konep memiliki atribut-atribut kritis yang dapat digunakan untuk membedakan antara sebuah konsep yang satu dengan yang lainnya
f.         Konsep memiliki atribut yang non-kritis[4]

5.      Prinsip Dasar Pendidikan Kontekstual
1.    Prinsip Dasar Pendidikan Kontekstual
Menurut Johnson bahwa pendidikan kontekstual memiliki tiga prinsip dasar, yaitu: (1) belajar menghasilkan perubahan perilaku anak didik yang relatif permanen, artinya dosen dan guru sebagai perilaku perubahan (agent of change); (2) anak didik memiliki potensi, kemampun yang merupakan benih kodrati untuk ditubuhkembangka tanpa henti; (3) perubahan tau pencapian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami linear sejalan proses kehidupan.
2.    Strategi Pendidikan Kontekstual
Terdapat tujuh strategi yang dapat ditempuh dalam pendidikan kontkstual, yaitu: (1) pengajaran berbasis problem; (2) menggunakan konteks yang beragam; (3) mempertimbangkan kebhinekaan siswa; (4) memberdayakan siswa untuk belajar sendiri; (5) belajr melalui kolaborasi; (6) menggunakan penilaian otentik; (7) mengejar standar tinggi.
6.      Prinsip Ilmiah dalam CTL
Menurut Johnson terdapat tiga prinsip ilmiah dalamCTL, yaitu:
1.      Prinsip kesaling bergantungan, saling ketergantungan mewujudkan diri.
2.      Prinsip diferensial, menjadi nyata ketika CTL menyadarkan siswa bahwa keragaman adalah tanda kemantapan dan kekuatan.
3.      Prinsip pengorganisasian diri, terlihat ketika para siswa mencari dan menemukan kemampuan dan minat mereka sendiri yang berbeda-beda.[5]
Ø Merencanakan dan melaksanakan pengajaran konsep
Cara merencanakan pengajaran konsep:
a.    Memilih konsep
kurikulum adalah sumber utama untuk memilih konsep yang akan diajarkan. Konsep itu mungkin terdapat dalam textbook dan edisi yang digunakan guru seringkali menjadi pedoman dalam memilih konsep (kunci yang akan diajarkan).
Kerangka kerja kurikulum dan pedoman kurikulum local adalah sumber lain untuk memilih konsep yang akan diajarkan. Konsep akan ditentukan dalam ide-ide generalisasi pokok suatu unit pelajaran.
Guru juga perlu mengambil keputusan tentang mana perbendaharaan kata yang perlu diajarkan secara langsung sebagai konsep dan mana yang tidak. Dalam proses memilih konsep yang akan diajarkan, guru hrus mengingat suatu hal ini, yaitu membantu siswa memahami sebuah konsep lebih dari sekedar membuat mereka mampu memberikan definisi tentang perbendaharaan kata.
a.         Memutuskan pendekatan yang dipakai
b.        Mendefinisikan konsep
c.         Menganalisis konsep
d.        Memilih dan mengurutkan berbagai contoh dan bukan contoh
e.         Menggunakan gambar-gambar visual
Ø  Cara melaksanakan pengajaran konsep
a.         Mengklasifikasikan maksud dan establishing
b.        Memberikan masukan dan bukan contoh serta menguji pencapaian
Dalam hal ini guru menggunakan pendekatan concept attainment. Dimana siswa memiliki pemahaman tertentu tentang konsep atau seperangkatnya, kenudian siswa diminta untuk membuat keputusan, apakah itu contoh atau bukan contoh. Langkah-langkah dalam menggunakan pendekatan ini :
1.        Memberikan contoh-contoh kepada siswa, sebagaian mempresentasikan konsep yang dimaksud
2.        Memaksa siswa untuk menghipotesiskan tentang atribut konsep dan mencatat alasan spekulasinya, disini guru boleh mengajarkan beberapa pertanyaan tambahan untuk membentu memfokuskan siswa
3.        Bila siswa sudah tampak mengetahui konsepnya, siswa menamai konsep tersebut dan mendeskripsikan konsep yang mereka gunakan untuk mengidentifikasinya
4.        Guru mengevaluasi, apakah siswa sudah mencapai konsep itu dengan meminta mereka untuk mengidentifikasi contoh-contohnya.
c.         Menganalisa pikiran dan mengintegrasikan pembelajaran.[6]

BAB III
PENUTUP

Ø   Kesimpulan
Presentasi adalah model yang berpusat pada guru, Namun sebelum guru mempresentasikan dan menjelaskan kepada siswa, guru harus merencanakan terlebih dahulu dengan melakukan:
a.       Memilih tujuan dan isi presentasi. 
b.      Mendiagnosis pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.
c.       Memilih advance organizer yang tepat dan kuat. 
d.      Merencakan penggunaan waktu dan ruang.
Model-model pembelajaran interakti yang berpusat pada guru antara lain:
1.    Presentasi dan penjelasan
2.    Pengajaran langsung
3.    Pengajaran konsep













DAFTAR PUSTAKA

Arends, Richard I. Learning to Teach. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2008.
Mustakim, Zaenal. Strategi dan Metode Pembelajaran Buku. Pekalongan : STAIN Press. 2009.
Tanireja,Tukian dkk.Model-model pembelajaran inovatif. Bandung :Alfabeta. 2011.
Aunurrahman.Belajar dan Pembelajaran. Bandung:Alfabeta.2009



[1] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran Buku, (Pekalongan: STAIN Press, 2009), hlm 270-271
[2] Aunurrahman, belajar dan pembeajar,(Bandung:Alfabeta,2010),hlm 169
[3] Richard I. Arends, Learning toTeach, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008), hlm 300-308
[4] Zaenal Mustakim Op. Cit., hlm 274-276
[5] Tukian Tanireja dkk, model-model pembelajaran inovatif,( bandung:Alfabeta,2011) hlm 51-52
[6] Zaenal Mustaqim, op.cit.hlm 276-277

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar