Laman

Minggu, 17 November 2013

SBM-F-11: variasi mengajar

VARIASI MENGAJAR

MAKALAH
       Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah                : Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu        : Ghufron Dimyati, M.Ag.

Oleh:
1.    Imam Dzikri               (2021 111 227)
2.    Nurul Hidayah           (2021 111 269)
3.    Soni Marta Haesi       (2021 111 356)

Kelas F





TARBIAH / PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013
 

BAB I
PENDAHULUAN

Pada umumnya, setiap orang tidak menginginkan kebosanan dalam hidupnaya. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Orang akan merasa jenuh dan tidak lagi bersemangat untuk melakukan sesuatu yang selalu  monoton tidak pernah berubah. Jika seseorang sudah kehilangan semangatnya, maka idak menutup kemungkinan orang tersebut akan gagal dalam berbagai hal.
Demikian juga dalam proses belajar mengajar yang tidak menggunakan variasi (monoton), maka akan membosankan, siswa tidak bersemangat dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai denagn maksimal. Dalam hal ini guru memerlukan adanya suatu variasi dalam mengajar, guru dituntut untuk memiliki keterampilan dalam variasi mengajar, baik dari gaya belajarnya, media, metode, dan bahan ajarnya maupun dalam interaksinya dengan siswa.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENGERTIAN VARISI MENGAJAR
 Kemampuan mengajar adalah kemampuan essensial yang harus dimiliki oleh guru, tidak lain karena tugas guru yang paling utama adalah mengajar. Yang dihadapi oleh guru adalah para siswa yang dinamis, baik sebagai akibat dari dinamika internal yang berasal dari diri siswa maupun sebagai akibat dari dinamika lingkungan yang sedikit banyak berpengaruh terhadap siswa. Oleh karena itu, kemampuan mengajar guru haruslah dinamis juga, sebagai akibat dari tuntutan-tuntutan dinamika siswa yang tak terelakkan.
Variasi dapat diartikan selang-seling atau bermacam-macam. Menurut User Usman, variasi adalah suatu kegiatan guru dalam kontek proses interaksi belajar mengajar yang ditujuakn untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar, murid senantiasa menunjukan ketekunan, antusiasime, serta penuh partisipasi.[1]

B.       TUJUAN VARIASI MENGAJAR
Penggunaan variasi terutama di tujukan terhadap perhatian siswa, motivasi, dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi dimaksud adalah :
1.        Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevasi Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar perhatian dari siswa terhadap materi pelajaran yang di berikan sangat dituntut. Sedikit pun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru, karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang di berikan guru.
Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Berbagai faktor memang mempengaruhinya. Misalnya faktor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi di luar kelas yang di rasakan siswa lebih menrik daripada materi pelajaran yang diberikan guru, siswa yang kurang menyenangi materi pelajaran yang di berikan guru.
Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar,karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang Guru jelaskan, akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tercapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatau pertemuan kelas. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan didalam diri siswa.Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.
Karena itu, Guru selalu memperhatikan variasi mengajarnya,apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.
2.        Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinya Motivasi
Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di dalam dirinya. Bahkan tanpa motivasi, seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Maka dari itu, Guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak didalam diri setiap siswa selama pelajaran berlangsung.[2]
Dalam proses belajar mengajar dikelas, tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. Untuk bahan tertentu boleh jadi jadi seorang siswa menyenanginya,tetapi untuk bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. Ini merupakan masalah bagi Guru dalam setiap kali mengadakan pertemuan. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan,bukanlah masalah bagi Guru. Karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi,yaitu motivasi instrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan Guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada di sekitarnya kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Disini peranan Guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat,motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.
3.        Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah
Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa dikelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang Guru. Sikap negatif ini tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada siswi. Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh Guru tersebut juga menjadi tidak disenangi. Acuh tak acuh selalu ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika Guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran di kelas.
Kurang senangnya seorang siswa terhadap Guru bisa jadi disebabkan gaya mengajar Guru yang kurang bervariasi. Gaya mengajar Guru tidak sejalan dengan gaya belajar siswa. Metode mengajar yang dipergunakan itu-itu saja. Misalnya hanya menggunakan metode ceramah untuk setiap kali melaksanakan tugas mengajar dikelas. Tidak pernah terlihat menggunakan metode lain. Misalnya metode diskusi, resitasi, Tanya jawab, problem solving atau cerita.
Ketika mengajar, guru selalu duduk dengan santainya di kursi, tak peduli bagaimana tingkah laku dan perbuatan anak didik, adalah jalan pengajaran yang cepat membosankan. Guru kurang dapat menguasai keadaan kelas. Kegaduhan biasanya sering terjadi pada sudut- sudut kelas. Akibatnya jalan pengajaran kurang menguntungkan bagi kedua belah pihak,yaitu guru dan siswa. Guru gagal menciptakan suasana belajar yang membangkitkan kreativitas dan kegairahan belajar siswa.
Guru yang bijaksana adalah guru yang yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa selalu ingin dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari disekolah tidak jarang dipertanyakan. siswa merasa rindu untuk selalu dekat disisi guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannnya yang sesuai dengan psikologis siswa. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa. Disela- sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif, jauh dari sikap permusuhan.
4.        Memberi Kemungkinan Pilihan dan Fasilitas Belajar Individual
Sebagai seseorang guru dituntut untuk mempunyai berbagai keterampilan yang mendukung tugasnya dalam mengajar.
Penguasaan metode mengajar yang di tuntut kepada guru tidak hanya satu atau dua metode, tetapi lebih banyak dari itu. Karena diakui, penguasaan metode mengajar dalam jumlah yang banyak lebih memungkinkan guru untuk melakukan pemilihn metode, mana yang akan dipakai dalam rangka menunjang tugasnya mengajar dikelas. Penguasaan terhadap bagaimana menggunakan media merupakan keterampilan lain yang juga diharuskan bagi seorang guru. Demikian juga penguasaan terhadap berbagai pendekatan dalam mengajar di kelas. Penguasaan dari ketiga keterampilan tersebut (metode, media dan pembelajaran) memudahkan bagi guru melakukan pengembangan variasi mengajar. Tetapi sebaliknya, maka sulitlah bagi guru mengembangkan variasi mengajar untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus ada disekolah. Fungsinya berguna sebagai alat Bantu pengajaran. Fungsinya sebagai alat peraga. Sebagai sumber belajar adalah sisi lain dari peranannya yang tidak pernah guru lupakan. Lengkap tidaknya fasilitas belajar mempengaruhi pemilihan yang harus dilakukan . sangat terbatasnya fasilitas belajar cenderung lebih sedikit alternative yang tersedia untuk melakukan pemilihan. Misalnya, kurangnya buku yang tesedia untuk suatu bidang studi menyebabkan metode mencatat lebih dominant dan sulit bagi guru untuk melakukan pendekatan individual. Kurangnya fasilitas untuk bidang studi IPA (biologi, kimia, atau fisika) menyebabkan kurangnya keampuhan metede demonstrasi atau metode eksperimen. Maka alternatif yang sangat terpaksa guru melakukuan adalah memilih metode ceramah dan meted tanya jawab atau metode ala kadarnya, ketimbang tidak ada kegiatan sama sekali.
5.        Mendorong Anak Didik untuk Belajar
Menyediakan lingkungan belajar adalah tugas guru. Kewajiban belajar adalah tugas anak didik. Kedua kegiatan ini menyatu dalam sebuah interaksi pengajaran yang disebut interaksi edukatif. Lingkungan pengajaran yang kondusif adalah lingkungan yang mampu mendorong anak didik untuk selalu belajar sehingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Belajar memerlukan motivasi sebagai pendorong bagi anak didik adalah motivasi instrinsif yang lahir dari kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan. Namun sayangnya jarang ditemukan bahwa semua anak didik mempunyai motivasi instrinsik yang sama. Artinya, setiap anak yang hadir didalam kelas selalu membawa motivasi yang berbeda. Perbedaan motivasi itu terlihat dari sikap dan perbuatan mereka ketika menerima materi pelajaran dari guru. Pada satu sisi ada anak didik yang senang menerima materi pelajaran tertentu,tetapi dilain pihak ada juga anak didik yang kurang senang menerima materi pelajaran tertentu. Gejalanya terlihat ada anak didik yang malas mencatat, malas memperhatikan penjelasan guru, dan sebagainya.
Gejala adanya anak didik yang kurang senang menerima pelajaran dari guru tidak harus terjadi, karena hal itu akan menghambat proses belajar mengajar. Disini lah diperlukan peranan guru, bagaimana upaya menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong anak didik untuk senang dan bergairah belajar. Untuk hal ini cara yang akurat yang mesti guru lakukan adalah mengembangkan variasi mengajar, baik dalam gaya mengajar, dalam penggunaan media dan bahan pengajaran, maupun dalam interaksi guru dengan anak didik. Ketiga komponen variasi mengajar sebagaimana disebutkan diatas tentu saja menyeret kegiatan belajar anak didik kedalam berbagai pengalaman yang menarik pada berbagai tingkat kognitif anak didik agar bergairah dalam belajar.

C.      PRINSIP-PRINSIP VARIASI MENGAJAR
Dalam proses belajar mengajar masalah kegiatan siswa adalah yang menjadi fokus perhatian. Apapun kegiatan yang guru lakukan tidak lain adalah untuk suatu upaya bagaimana lingkungan yang tercipta itu menyenangkan hati semua siswa dan dapat menggairahkan belajar siswa.
Prinsip-prinsip penggunaan variasi mengajar adalah sebagai berikut:
1.      Dalam penggunaan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan.
2.      menggunakan cariasi secara lancar dan berkesinambungan sehingga terbentuk proses belajar mengajar yang utuh dan tidak rusak, perhatian anak dan proses belajar tidak terganggu.
3.      Penggunaan komponen variasi harus benar-benar terstruktur dan direncanakan oleh guru, karena itu memerlukan penggunaan yang luwes, spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa.[3]


D.      MANFAAT VARIASI MENGAJAR
1.    Meningkatkan, menimbulkan dan memelihara perhatian siswa terhadap aspek-aspek belajar yang relevan.
2.    Memberi kesempatan  untuk meningkatkan dan berkembangnya bakat ingin tahu dan berfungsinya motivasi belajar.
3.    Memupuk dan memberikan sikap positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai gaya belajar yang lebih hidup.
4.    Memberi pelayanan yang baik kepada siswa secara individual dalam menerima pelajaran agar mudah dan senang belajar.
E.       ASPEK-ASPEK VARIASI MENGAJAR
1.        Variasi Gaya Mengajar
Variasi ini pada dasarnya meliputi variasi suara, variasi gerakan anggota badan, dan variasi perpindahan posisi guru dalam kelas. Bagi siswa variasi tersebut dilihat sebagai salah satu yang energik, antusias, bersemangat, dan semuanya memiliki relevansi dengan hasil belajar. Perilaku guru seperti itu dalam prose belajar mengajar akan menjadi dinamis dan mempertinggi komunikasi antara guru dan anak didik, menarik perhatian anak didik, menolong penerimaan bahan pelajaran, dan member stimulasi. Variasi dalam gaya mengajar ini adalah sebagai berikut.
a.    Variasi suara
Suara guru dapat bervariasi dalam interaksi, nada, volume, dan kecepatan. Gru dapat mendramatiasi suatu peristiwa, menunjukkan hal-hal yang dianggap penting, berbicara secara pelan dengan seorang anak didik, atau berbicara secara tajam dengan anak didik yang kurang perhatian, dan seterusnya.[4]
b.    Penekanan (focusing)
Untuk memfokuskan perhatian anak didik pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci, guru data menggunakan “penekanan secara verbal” misalnya, “perhatikan baik-baik. Nah ini yang penting. Ini adalah bagian yang sukar,dengarkan baik-baik!” Penekanan seperti itu biasanya dikombinasikan dengan gerakan anggota badan yng dpat menunjuk dengan jari atau member tanda pada papan tulis.
c.    Pemberian waktu
Untuk menarik perhatian anak didik, dapat dilakukan dengan mengubah yang bersuara menjadi sepi, dari suatu kegiatan menjadi tanpa kegiatan atau diam, dari akhir bagian pelajaran ke bagian berikutnya. Dalam keterampilan bertanya, pemberian waktu dapat diberikan setelah guru mengajukan beberapa pertanyaan, untuk mengubahnya menjadi pertannyaan yang lebih tinggi tingkatannya setelah keadaan memungkinkan. Bagi anak didik, pemberian waktu dipakai untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap.
d.   Kontak pandang
Bila guru berbicara atau berinteraksi dengan anak didik, sebaiknya mengarahkan pandangannya ke seluruh kelas, menatap setiap anak didik untuk dapat membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian.Guru dapat membntu anak didik dengan menggunakan matanya manyampaikan informasi, dan dengan pandangannya dapat menarik perhatian anak didik.
e.    Gerakan anggota badan (gesturing)
Variasi dalam mimik, gerakan kepala atau badan merupakan bagian yang penting dalam komunikasi. Tidak hanya untuk menarik perhatian saja, tetapi juga menolong dalam menyampaikan arti pembicaraan.[5]
f.     Pindah posisi guru
Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu dalam menarik perhatian anak didik, dapat meningkatkan kepribadian guru. Perpindahan posisi dapat di lakukan dari muka ke bagian belakang, dari sisi kiri ke sisi kanan, atau di antara anak didik dari belakang ke samping anak didik. Dapat juga dilakukan dengan posisi berdiri kemudian berubah menjadi posisi duduk. Yang penting dalam perubahan posisiialah harus ada tujuannya, dan tidak sekedar mondar mandir. Guru yang kaku adalah tidak menarik dan menjemukan, dan bila variasi dilakukan secara berlebihan adalah mengganggu.
2.        Variasi Media, Metode, dan Bahan Ajar
Setiap siswa mempunyai kemampuan indra yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih enak atau senang membaca, ada yang lebih suka mendengarkan dulu baru membaca, dan sebaliknya. Dengan variasi menggunaan media, kelemahan indra yang dimiliki tiap siswa misalnya, guru dapat memulai dengan berbiara terlebih dahulu kemudian menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh konkret. Dengan variasi seperti itu dapat memberi stimulasi terhadapa indra siswa.
3.      Variasi guru dengan murid
Roestiah mengatakan bahwa “interaksi yaitu proses dua arah yang mengandung tindakan atau perbuatan komunikator maupun komunikan“. Berarti interaksi dapat terjadi antara pihak jika pihak yang terlibat saling memberikan aksi dan reaksi.
Dalam pengertian sederhana, guru adalah orang yang memberikan pengetahuan kepada anak didik. Sementara anak didik adalah setiap orang yang menerima pengeruh dari seseorang atau sekelompok orang  yang menjalankan kegiatan pendidikan. Adapun pola-pola interaksi guru-murid menurut Usman, ada lima jenis:
a.    Pola guru - anak didik
b.    Pola guru - anak didik guru
c.    Pola guru – anak didik – anak didik
d.   Pola guru –anak didik, anak didik – guru, anak didik – anak didik
e.    Pola melingkar[6]



F.       VARIASI MENGAJAR PADA MODEL-MODEL BELAJAR
1.        Visual
Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggubaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi seperti buku, majalah, globe, peta, majalah dinding, film, film strip. televisi, radio, recorder, gambar grafik, model, demonstrasi, dan lain-lain. Penggunaan yang lebih luas dari alat-alat tersebut memiliki keuntungan:
a.    Membantu secara konkret konsep berpikir, dan mengurangi respon yang kurang bermanfaat.
b.    Memiliki secara potensial perhatian siswa pada tingkat yang tinggi.
c.    Dapat membuat hasil belajar yang riil yang akan mendorong kegiatan mandiri anak ddik.
d.   Mengembangkan cara berpikir dan berkesinambungan, seperti halnya dalam film.
e.    Mememberi pengalaman yang tidak mudah dicapai oleh alat lain
f.     Menambah frekuensi kerja, lebih dalam, dan variasi belajar.
2.        Auditorial
Pada umumnya dalam proses belajar mengajar di kelas suara guru adalah alat utama dalam komunikasi. Variasi dalam penggunaaan media dengan memerlukan sekali saling bergantian atau berkombinasi dengan media pandang dengan media taktil. Sudah barang tentu ada sejumlah media dengar yang dapat dipakai untuk itu diantaranya ialah pembicaraan siswa, rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman drama, wawancara, bahkan rekaman suara ikan lumba-lumba, yang semuanya itu dapat memiliki relevansi dengan pelajaran.
3.        Kinestetik
Komponen terakhir dari keterampilan variasi media dan bahan ajar adalah penggunaan media yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajaran. Dalam hal ini akan melibatkan siswa dalam kegiatan penyusunan atau pembuatan model, yang hasilnya dapat disebutkan sebagai media taktil.
BAB III
KESIMPULAN
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa variasi mengajar adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar-mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi.
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, dan variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa.
Adapun prinsip-prinsip dari penggunaan variasi mengajar sebagai berikut:
Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan, selain juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi. Semua itu untuk mencapai tujuan belajar.
Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan, sehingga momen proses belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian siswa dan proses tidak terganggu.














DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2009.  Strategi Belajar Mengajar Buku 2. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.


[1] Zainal Arifin, Strategi Belajar Mengajar Buku 2 (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hal, 48.
[2] Ibid, hal 48-50
[3] Ibid, hal. 53
[4] Ibid, hal. 70-71
[5] Ibid, 75-77.
[6] Ibid, hal 86-92.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar