Laman

Jumat, 31 Oktober 2014

SPI - H - 9 : IMPERIALISME BARAT TERHADAP DUNIA ISLAM



IMPERIALISME BARAT TERHADAP DUNIA ISLAM

Disusun guna memenuhi tugas kelompok
Mata Kuliah                : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu        : Ghufron Dimyati
 
Disusun oleh:

Irma                             (2021112246)
Ulfa Hemi Restiana       (2021112259)
Masruroh                     (2021113004)

Kelas   : PAI H

Kelompok: 9


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2014



BAB I
PENDAHULUAN

Berhasilnya bangsa mongol mengakhiri kekuasaan Islam di Baghdad, dalam hal ini tidak hanya berakhir masa kepemimpinan para khalifah akan tetapi juga mulai mundurnya politik dan peradaban Umat Islam.
Jatuhnya Baghdad ke tangan mongol ini juga menyebabkan kerajaan-kerajaan terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Diantara kerajaan-kerajaan kecil yang terpecah itu sering mengalami adanya perselisihan sehingga semakin melemahnya sistem politik dan peradaban umat Islam. Sehingga hal itu dimanfaatkan oleh orang Barat untuk menguasai wilayah kekuasaan orang Islam.
Namun, kemajuan pada masa itu lebih kepada aspek material, dan lemah pada bidang pemikiran, sains, seni dan filsafat. Hal ini dapat dilihat dari perekonomian, kekuatan militer dan wilayah teritorial negara yang kuat pada masa itu, namun kemajuan tersebut tidak mendorong terjadinya kemajuan pada bidang pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Ketidakseimbangan inilah yang akhirnya menyebabkan ketidak mampunya menandingi kekuatan Eropa modern yang didukung oleh sains dan teknologi.
Kebangkitan bangsa Barat bermuara pada semangat keilmuan yang begitu tinggi, yang telah membawa bangsa Barat menuju penemuan-penemuan baru dan penjelajahan samudra, serta revolusi industri hingga berujung pada imperialisme terhadap wilayah-wilayah Islam pada khususnya.









BAB II
PEMBAHASAN
IMPERIALISME BARAT TERHADAP DUNIA ISLAM

A.    Kemajuan Dunia Barat Dalam Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi
Kemajuan yang telah dicapai bangsa-bangsa Barat pada periode ini sebenarnya memiliki kolerasi yang erat dengan perkembangan peradaban islam, baik ketika Islam mencapai puncak kemajuannya di Eropa ataupun kemajuan yang dicapai dunia islam di Baghdad. Bangsa Barat banyak berutang budi kepada para ilmuwan muslim yang telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Spanyol (Andalusia) merupakan tempat paling utama bagi bangsa Barat dalam menyerap peradaban islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antar bangsa. Bengsa Barat menyaksikan relits bahwa ketika Andalusia berada dibawah kekuasaan umat islam, negeri ini telah terlalu jauh meninggalkan negara-negara tetangganya di Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping perkembangan dan kemajuan bangunan fisik.[1]
Dalam hal ini pemikiran Ibnu Rusyd atau Averros (1120-1198 M) sangat berpengaruh di dunia Eropa. Pemikiran ini berhasil melepaskan belenggu pemikiran taklid, danmengkgritik semua bentuk pemikiran yang rasional. Di antara ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Islam yang banyakdipelajari oleh ilmuwan Barat adalah ilmu kedokteran, ilmu sejarah, sosiologi dan di samping ilmu tersebut, terdapat terdapat ilmu-ilmu lain yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa Barat. Di antaranya ilmu kimia, ilmu hitung , ilmu tambahanng (mineralogi), meteorologi, dan sebagainya.
Di awal periode modern, kondisi dunia Islam secara politis berada di bawah penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad ke-20 M dunia Islam mulai bangkit melepaskan negerinya dari imperelialis Barat.
Pada abad 20 M merupakan periode kebangkitan kembali ismlam, setelah kemunduran pada periode pertengahan. Periode ini mulai muncul pemikiran modernisasi Islam. Gerakan modernisasi muncul karena 2 hal berikut. Pertama, timbulnya kesadaran di kalangan ulama bahwa banyak ajaran “asing” yang masuk dan diterima sebagai ajaran Islam. Ajaran tersebut sepeti bad’ah, khufarat, dan takhayul. Kedua, Barat mendominasi dunia di bidang politik dan peradaban. Persentuhan dengan Barat nmenyadarkan tokoh-tokoh islam akan ketinggalan mereka.[2]

B.     Kebangkitan Eropa
Bangsa-bangasa Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat pada awal kebangkitannya. Di hadapan mereka masih terdapat kekuatan-kekuatan angkata perang Islam yang sulut dikalahkan, terutama Kerjaan Usmani yang berpusat di Turki. Tidak ada jalan lain mereka harus menembus jalan yang sebelumnya hanya dipandang sebagai dididing yang membatasi gerak mereka.
Setelah chistoper Colombus menemukan Benua Amerika (1492 M) dan Vasco da Gamamenemukan jalan ke timur melaui Cape Town (1498M), benua Amerika dan kepulauan Hindia segera jatuh ke bawah kekuasaan Eropa. Dua penenmuan tersebut sungguh tak terikrarkan nilainya, eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan karena tidak lagi tergantung kepada jalur lama yang diakui umat islam.[3]

C.    Imperialisme Barat Terhadap Dunia Islam
Kelemahan dan kemunduran dunia Islam dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa Barat untuk bangkit dan bergerak menuju ke arah negara-negara Islam serta menguasai dan menjajahnya.  Pada saat yang sama, dunia Islam sedang terus dilanda kemunduran dan kelemahan dalam dalam berbagai bidang, sehingga negara-negara Islam tidak mampu bersaing dengan bangsa Barat yang didukung oleh kekuatan politik militer yang tangguh.
Setelah bangsa-bangsa Barat menguasai ekonomi dan politik negara-negara Islam, terdapat negara Barat yang menjajah dunia Islam yang melakukan penyebaran agama kristen melalui missionaries atau zending.   Penjajahan bangsa Barat yang dipelopori oleh Bangsa Spanyol dan Portugis mempunyai tujuan yang hampir sama, disamping mencari daerah penanaman modal asingnya, juga berusaha menyebarkan agama kristen di wilayah jajahannya. Walaupun usahanya tidak segencar yang dilakukan oleh Spanyol dan Portugis yang bersemboyan Gold, glory, dan gospel.
Oleh karena itu, kedua bangsa Barat itu terus gencar melakukan penjajahan terhadap negara-negara Islam dan berusaha menguasainya, sehingga dengan mudah mereka dapat menyebarkan agama Kristen. Kondisi seperti didukung oleh semangat balas dendam bangsa Barat terhadap Islam (reqonquesta).
Dengan demikian, motivasi bangsa Barat dalam menjajah negara-negara Islam selain memotivasi ekonomi dan politik , juga terdapat motivasi agama. Gerak langkah umat Islam diawasi sedemikian rupa sehingga umat Islam tidak dapat mengembangkan peradabanya atau paling tidak mempertahankan peradaban yang sudah ada. Hampir semua sistem Barat diterapkan di dunia Islam, termasuk peradabannya. Masyarakat Islam diubah budayanya agar berperilaku seperti orang Barat. Hingga pada akhirnya negara-negara Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa, hanya beberapa negara  yang tidak dijajah  seperti, kerajaan Turki Usmani dan Arab. Kekejaman mereka dalam bidang ekonomi terlihat dari upaya mereka untuk melakukan monopoli perdagangan, yakni dengan merebut bandar-bandar pelabuhan besar yang sebelumnya menjadi daerah perdagangan umat Islam dari Arab, Persia, India dan Cina. Seperti kedatangan Portugis, Belanda, Inggris dan Spanyol dari abad ke-15 M, sampai abad ke-19 M di kawasan perdagangan internasional Malaka, Gujarat, dan lainya. Mereka mengurus kekayaan pribumi dengan cara-cara paksaan, bahkan dengan kekerasan senjata dalam merebut wilayah Bandar tersebut.
Dalam bidang kemasyarakatan, penjajah sengaja menciptakan jurang pemisah antara kaum bangsrakatan, penjajah sengaja menciptakan jurang pemisah antara kaum bangsawan dengan rakyat kecil. Kaum bangsawan dibujuk agar mau menuruti kehendak penjajah dengan mendapatkan posisi jabatan tertentu dan keuntungan dari penjajah. Sedangkan rakyat kecil selalu diawasi agar tidak memberontak. Mereka harus patuh dan tunduk terhadap penguasa. Kebijaksanaan politik pecah belah yang dilakukan pemerintah imperialisme, bertujuan agar tidak terjadi persatuan dan kesatuan di kalangan rakyat. Sebab jika hal tersebut terjadi, dikhawatirkan akan menimbulkan kekuatan yang akan mengancam keberadaan kaum penjajah. Disamping itu penjajah juga menghina terhadap umat Islam bahwa umat Islam itu ad  alah orang-orang yang terbelakang dan bodoh. Selain itu penjajah juga menyebarkan budaya yang merusak bangsa dan agama.
Pada awal abad ke-17, India yang pada saat itu di bawah kekuasaan Mongol Islam, berada pada posisi kemajuan dan kemakmuran. Hal itu mengundang Eropa yang sedang mengalami kemajuan untuk berdagang ke sana. Pada awal abad ke-17 M, Inggris dan di India Belanda mulai menginjakkan kaki di India. Pada tahun 1611 M, Inggris mendapat izin menanam modal dan pada tahun 1617 M Belanda mendapatkan izin yang sama.
Di kawasan Asia Tenggara, beberapa wilayah negeri Islam baru mulai berkembang, yakni merupakan Asia yang kaya akan rempah-rempah dan terkenal pada masa itu. Malaka, ditaklukan portugis pada tahun 1511 M. Sejak itu, peperangan antara Portugis dengan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia  seringkali berkobar. Para pedagang Portugis terutama berupaya menguasai Maluku  yang sangat kaya akan rempah-rempah. Pada tahun 1521 M, Spanyol datang ke Maluku dengan tujuan dagang. Spanyol berhasil menguasai Filipina, termasuk didalamnya beberapa kerajaan Islam, seperti Kesultanan Maguindanao, Bunyan dan Sulu.
Pada akhir abad ke-16, Belanda, Inggris, Denmark, dan Perancis yaang datang ke Asia Tenggara. Akan tetapi, Denmark dan Perancis tidak berhasil menjajah negeri di Asia Tenggara dan hanya datang untuk berdagang.. Pada tahun 1595 M Belanda datang dan segera memonopoli perdagangan di kepulauan Nusantara.
Kedatangan Belanda mendapat perlawana dari penduduk setempat. oleh karena itu, seringkali terjadi peperangan antara Belanda dengan penduduk, meskipun pada akhirnya dimenagkan oleh Belanda. Setelah Inggris datang ke Asia Tenggara, menjadi kekuatan yang dominan menyaingi Belanda. Kekuasaan politik di India oleh negara-negara Eropa berlanjut sampai abad ke-20 M. Wilayah Asia Tenggara yang merupakan negara-negara Islam, tanpa terkecuali jatuh dalam kekuasaan bangsa-bangsa Eropa.

D.    Kemunduran Kerajaan Usmani Dan Ekspansi Barat Ke Negeri-Negeri Islam
Dikarenakan  kemajuan-kemajuan bangsa Eropa terutama dalam teknologi militer dan industri perang, membuat Kerajaan Ustmani menjadi kecil dihadapan Eropa. Akan tetapi, nama besar Turki Ustmani masih membuat Eropa Barat segan untuk menyerang atau mengalahkan wilayah-wilayah yang berada dibawah kekuasaan Islam ini, termasuk daerah-daerah yang berada di Eropa Timur. Namun kekalahan besar  kerajaan Ustmani dalam menghadapi serangan Eropa di Wina 1683 M membuka mata Barat bahwa Kerajaan Ustmani telah mundur jauh sekali. Sejak itulah kerajaan Ustmani berulang kali mendapat serangan-serangan dari Barat. Ia hanya terpelihara dari keruntuhan karena kedengkian diantara kerajaan-kerajaan Barat yang memperebutkan rampasan perang yang berasal dari Turki.
sejak kekalah dalam pertempuran dengan Wina itu, usaha-usaha pembaharuan mulai dilaksanakan dengan mengirim duta-duta ke negara-negara Eropa, terutama perancis, untuk mempelajari suasana kemajuan disana dari dekat.
Pada tahun 1720 M Celebi Mehmed diutus ke Paris untuk mengunjungi pabrik, benteng-benteng pertahanan dan institusi-institusi lainya untuk memberikan laporan tentang kemajuan teknik, organisasi angkatan perang modern dan kemajuan lembaga-lembaga lainnya. Dari laporan itu Sultan Ahmad 3(1703-1730 M), memulai pembaharuan dikerajaannya dengan mendatangkan ahli-ahli militer dari Eropa. Pada tahun 1717 M seorang perwira Perancis Derochefort, datang ke Istambul dalam rangka membentuk Kord At-Then dan melatih tentara Ustmani dalam ilmu kemiliteran modern.
Usaha pembaharuan  ini tidak terbatas dalam bidang militer. Dalam bidang-bidang lain pembaruan juga dilaksanakan seperti pembukaan pencetakan di Istambul tahun 1727 M, juga gerakan penerjemahan buku-buku Eropa kedalam bahasa Turki.
Akan tetapi walaupun demikian usaha-usaha pembaharuan itu bukan hanya gagal menahan kemunduran kerajaan Turki Ustmani yang terus mengalami kemerosotan, tetapi juga tidak membawa hasil yang diharapkan. Penyebab kegagalan itu terutama adalah kelemahan Raja-raja  Ustmani karena kewenangannya sudah jauh menurun. Disamping itu, keuangan negara juga terus mengalami kemerosotan. Faktor terpenting lainnya yang membawa kegagalan itu adalah, karena ulama dan tentara Yeneseri yang sejak abad ke-17 M menguasai suasana polotik dalam kerajaan Ustmani serta menolak usaha pembaharuan itu. Dengan demikian kerajaan ustmani terus mendekati jurang kehancurannya, sementara Barat yang menjadi ancaman baginya semakin besar dan bertambah maju.
Modernisasi di Turki Ustmani mengalami kemajuan setelah tentara Yenisri dibubarkan oleh Sultan Mahmud II (1807-1839 M) pada tahun 1826 M. Gerakan modernisasi di Turki justru mengancam kekuasaan para sultan yang absolut, karena para pejuang Turki melihat bahwa kelemahan Turki terletak pada ke absolutan Sultan itu. Merka ingin membatasi kekuasaan Sultan dengan membentuk Konstitusi, sehingga lahirlah gerakan Tanzimat, Ustmani muda, Turki muda, dan Partai persatuan dan Kemajuan (Ittihad Ve Terekki).
Ketika perang dunia 1 meletus, Turki bergabung dengan Jerman yangkemudian mengalami kekalahan. Partai persatuan dan kemajuan emeberontak kepada sultan dan dapat menghapuskan kekholifahan Ustmani, kemudian membentuk Turki modern pada tahun 1924 M. Dengan demikian, kesatuan politik dalam negeri kerajaan Ustmani sejak bergeloranya gerakan pembaharuan justru tidak stabil terutama karena para sultan tidak mampu mengakomodasi pemikirran yang berkembang dikalanngan pemimpin bangsanya. Disamping itu, peperangan melawan Barat di Eropa Timur terus berkecamuk, memakan dan menguras tenaga, berakhir dengan kekalahan dipihak Turki.
Demikianlah keadaan dunia islam pada abad ke-19 M, sementara eropa sudah jauh meninggalkannya. Eropa dipersenajatai dengan ilmu modern dan penemuan yang membuka rahasia alam. Satu demi satu negeri-negeri Islam yang sudah rapuh jatuh ke tangan Barat.  [4]











BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kemajuan yang dicapai bangsa-bangsa Barat memiliki korelasi yang sangat erat dengan perkembangan peradaban dunia Islam, baik ketika Islam mencapai puncak kemajuan di Eropa maupun kemajuan yang dicapai dunia Islam di Baghdad.
Orang Eropa dapat memperoleh kekayaan yang tak terhingga untuk menghidupkan negerinya. Maka tidal lama setelah itu Eropa mulai mengalami kebangkitan dan kemajuan.
Kelemahan dan kemunduran dunia Islam dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa barat untuk bangkit dan bergerak menuju kearah negara-negara Islam serta menguasai dan menjajahnya. Penjajahan Bangsa Barat yang dipelopori oleh bangsa Spanyol dan Portugis memiliki tujuan yang hampir sama, yaitu disamping mencari daerah penanaman modal asingnya mereka juga berusaha untuk menyebarkan agama Kristen di wilayah jajahanya dengan semboyan Gold, Glory dan Gospel. Langkah umat Islam dikuasai oleh bangsa Barat sehingga umat Islam tidak dapat mengembangkan peradabanya. Selain itu masyarakat juga umat Islam diubah budayanya agar berperilaku dan berperadaban barat.












DAFTAR PUSTAKA

Munir, Samsul Amin.  2010 Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: AMZAH.


[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 345.
[2] Ibid, hlm. 346-347.
[3] Ibid, hlm. 347-348.
[4] Ibid,hlm. 349-358.
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar