Laman

Jumat, 20 Februari 2015

F-2-07: NAILI NIKMAH



Masjid Sebagai Pusat Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan
Mata kuliah: Hadits Tarbawi II
Oleh:
Naili Nikmah
NIM: 2021113153
                                   
Kelas :  F PAI

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGAN
2015


Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah tuhan seluruh alam yang menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berakal. Salawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.
Tak ada kata yang lebih mulia kecuali ungkapan rasa syukur kehadirat Allah swt. Atas segala kekuatan yang telah di limpahkan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah Hadits Tarbawi II yang berjudul “masjid sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan”
Secara garis besar isi makalah ini adah tentang fungsi masjid sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan sejak zaman nabi sampai sekarang.
Penulis berharap hasil makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Sebagai manusia mungkin penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik penulis harapkan dari pembaca untuk penyempurnaan dikemudian hari.

Pekalongan, 19 Februari 2015


Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Lembaga merupakan tempat berlangsungnya pelaksanaan pendidikan. Keberadaaan lembaga pendidikan sangat penting, karena dengan keberadaan lembaga akan dapat memaksimalkan proses pembelajaran. Lembaga juga berfumgsi sebagai tempat yang nyaman bagi para penuntut ilmu pengetahuan dan para pendidik. Pada masa rasulullah paling tidak ada empat macam lembaga pendidikan yaitu rumah sahabat, kuttab, mesjid dan suffat.
Sebagai umat islam, kita semua yakin bahwa masjid merupakan rumah allah serta tempat beriadat yang paling mulia, dan merupakan satu syiar yang melambangkan wujudnya masyarakat islam dan perpaduan ummat. Sehingga, kita sebagai umat islam harus menghayati fungsi dan peranan masjid salah satunya yaitu masjid sebagai pusat ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, dalam makalah ini penulis akan membahas tentang masjid sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan.










BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Secara akar katanya masjid berasal dari bahasa arab  sajada-yasjudu  yang artinya sujud. Dalam konteks yang lebih luas sujud merupakan sebuah ekspresi dari kepatuhan dan ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Istilah sujud ini kemudian memiliki konteks yang lebih khusus sebagai salah satu gerakan dalam salat. Dalam salat sujud dipahami sebagai meletakkan dahi, kedua tangan, lutut dan kaki ke permukaan bumi. Hal inilah yang melahirkan istilah masjid yang berarti tempat sujud atau dalam konteks yang lebih luas sebagi tempat salat. Masjid juga disebut sebagai baitullah atau rumah Allah untuk menunjukkan kesucian dan peranan bangunan ini sebagai tempat ibadah.[1]
Namun, pada zaman Rasulullah masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagi pusat pendidikan islam dilingkungan masyarakat. Hal ini sejalan dengan penjelasan Dr. Asma Hasan Fahmi bahwa masjid dapat dianggap sebagai lembaga ilmu pengetahuan yang tertua dalam islam. Dalam masjid inilah dimulai mengajarkan al-Quran dan dasar-dasar agama islam pada masa Rasulullah saw. Disamping tugasnya yang utama sebagai tempat untuk menunaikan salat dan ibadah. [2]
Masjid sebagai tempat pendidikan biasanya pendidikan yang diberikan adalah pendidikan agama seperti pelajaran al-quran, salat dan akhlak. Biasanya penddikan ini diberikan oleh mudin, lebai, ataupun kiai. Evaluasi biasanya diberikan secara lisan dan klasik.

B.     Teori pendukung
Mencari ilmu merupakan bagian integral dari doktrin dan tradisi islam. Dalam doktrin islam disebutkan tentang kewajiban mencari ilmu bagi setiap muslim. Disini masjid merupakan institusi penting dalam proses institualisasi pendidikan islam. J. Pedersen dan george makdisi dalam ecyclopedia of islam menyebutkan bahwa masjid yang didalamnya dilaksanakan majelis dengan pembelajaran al-quran sebagai materi utama merupakan pusat  pembelajaran yang muncul paling awal.[3]
Ketika Rasulullah di kota mekkah lembaga pendidikan dipusatkan kepada rumah sahabat dan kuttab, setelah Rasulullah dan para sahabat hijrah agenda pertama yang dilakaukan nabi adalah membnagun masjid. Masjid pertama yang didirikan adalah masjid Quba. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya masjid dalam kehidupan kaum muslimin, yakni bahwa masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah ritual saja, tetapi juga sebagai pusat segala aktivitas masyarakat islam, baik dalam bidang keagamaan maupun keduniaan. Dengan demikian pusat pendidikan yang awalnya berpusat di Dar Al Arqam dan rumah nabi dipindahkan ke masjid.
Muhammad Munir Musi mengatakan bahwa fungsi masjid pada era awal bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat ibadah, aakan tetapi masjid juga berfungsi sebagai pusat berbagai kegiatan kaum mulimin, seperti kegiatan politik, sosial, kebudayaan, peradaban dan keagamaan. Masjid juga memiliki fungsi sebagai tempat salat, papan informasi yang berkaitan dengan kemaslahan umum. Setelah Rasulullah saw di madinah beliau mendirikan masjid nabawi berfungsi sebagai islamic center. Seluruh aktivitas muslimin dipusatkan ditempat ini, mulai dari tempat pertemuan, markas besar tentara, pusat pendidikan, pelatihan juru dakwah hingga baitul mal.
Selanjutnya, menurut Imam Al-Yusi sebagai dikutip oleh maliki, bahwa pengajaran dalam bentuk tadris, asal mulanya adalah apa yang dilakukan oleh nabi saw pada majlis-majlisnya bersama para sahabat didalam menjelaskan hukum-hukum, hikmah-hikmah, menafsirkan quran dan sebagainya. Dalam majlis-majlis itu mereka berkumpul disamping beliau. Ini adalah tradisi halaqat (membentuk lingkaran) ilmu yang senantiasa diterapkan para ulama kini. Selanjutnya, materi pelajaran yang diajarkan dimasjid adalah masalah-masalah keagamaan, peringatan kepada manusia tentang hari akhir dan ilmu-ilmu agama lainnya.
Dilanjut oleh Muhammad Amahzun, ia menjelaskan bahwa aktivitas yang paling menonjol dan erat kaitannya dengan masjid adalah pengajaran. Sebab, salah satu fungsi dari masjid adalah tempat kaum muslimin menuntut ilmu dan memperdalam agama mereka.[4]
Pada masa Rasulullah masjid dijadikan sebagai Islamic Center tempat membina hubungan manusia dengan Allah swt dan hubungan manusia dengan manusia.[5]
Jadi, berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa masjid merupakan pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan pada masa Rasulullah. Di dalam masjid umat belajar kepada Rasulullah beliau langsung sebagai pendidik utama. Para sahabat mempelajari berbagai bidang ilmu agama kepada Rasulullah SAW.
C.   Materi Hadits
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ قَال سَمِعْتُ أَبِي بُرَيْدَةَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُنَا إِذْ جَاءَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ فَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمِنْبَرِ فَحَمَلَهُمَا وَوَضَعَهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ صَدَقَ اللَّهُ { إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ } فَنَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ حَدِيثِي وَرَفَعْتُهُمَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ               
Terjemahan :
Telah menceritakan kepada kami [Al Husain bin Huraits] telah menceritakan kepada kami [Ali bin Husain bin Waqid] telah menceritakan kepadaku [ayahku] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Burdah] dia berkata; Aku mendengar ayahku [Buraidah] berkata; "Ketika Rasulullah shallAllahu 'alaihi wasallam sedang berkhutbah, lalu datanglah Hasan dan Husain yang memakai baju merah. Keduanya berjalan lalu terjatuh, kemudian Rasulullah shallAllahu 'alaihi wasallam turun dari mimbar dan menggendong keduanya kemudian beliau bersabda: "Maha benar Allah atas firman-Nya: "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan." (QS Al-Anfaal (8): 28). Aku melihat kedua anak ini terjatuh dalam kedua bajunya, maka aku tidak sabar hingga aku memotong pembicaraanku lalu aku menggendong keduanya." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan gharib, kami hanya mengetahui (riwayat ini) dari hadits Al Husain bin Waqid."[6]
D.    Refleksi Hadits dalam Kehidupan
Dapat kita rasakan sekarang ini fungsi masjid telah bergeser dari zaman nabi yang tadinya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan sekarang masjid hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, seperti salat dan mengaji.
Sekarang, masjid dianggap sebagai tempat yang suci, dalam tanggapan muslim masjid itu adalah tempat ibadah, tempat soal akhirat saja. Soal-soal dunia bukanlah dimasjid tempatnya. Karena soal-soal kebudayaan disingkirkan dari masjid, putuslah hubungan antara ibadah dan kebudayaan, akhirat dan dunia. Maka akhirat tidak dapat lagi mengendalikan kebudayaan.[7]
Akan tetapi, agar fungsi dari masjid lebih efektif, masjid dapat menyediakan  fasilitas-fasilitas terjadinya proses belajar mengajar. Fasilitas yang diperlukan adalah:
1.      Perpustakaan, yang menyediakan berbagai buku bacaan dengan berbagai disiplin keilmuan;
2.      Ruang diskusi, yang digunakan untuk berdiskusi sebelum dan sesudah shalat berjamaah.Program inilah yang dikenal dengan istilah “i'tikaf ilmiah”. Langkah-langkah praktis yang ditempuh dalam operasionalisasinya adalah memberikan perencanaan terlebih dahulu dengan menampilkan beberapa pokok persoalan yang akan dibahas. Setelah berkumpul para audiens (makmum), diskusi dapat dimulai pada ruang yang telah tersedia. Kira-kira sepuluh sampai lima belas menit sebelum shalat berjamaah, diskusi dihentikan dan kemudian beralih pada “i'tikaf profetik” (dzikir). Sebaliknya, jika diskusi ini dilakukan seusai shalat berjamaah, i'tikaf profetik didahulukan dan kemudian diganti dengan i'tikaf ilmiah. Agar tak terlalu menjemukan diskusi ini dilakukan dua atau tiga minggu sekali;
3.      Ruang kuliah, baik digunakan untuk training (tadrib) remaja masjid, atau juga untuk madrasah diniyah Omar Amin Hoesin memberi istilah ruang kuliah tersebut dengan sekolah masjid. Kurikulum yang disampaikan khusus mengenai materi-materi keagamaan untuk membantu pendidikan formal, yang proporsi materi keagamaannya lebih minim dibandingkan dengan proporsi materi umum;[8]
Dengan disediakan fasilitas-fasilitas terebut diharapkan fungsi masjid kembali seperti pada zaman Rasulullah yaitu sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan.
E.     Aspek Tarbawi
Fungsi edukatif  masjid pada awal pembinaan Islam, masjid merupakan lembaga pendidikan Islam. Yakni tempat manusia dididik agar memegang teguh keimanan, cinta kepada ilmu pengetahuan, mempunyai kesadaran sosial yang tinggidan mampu melaksanakan hak dan kewajiban dalam negara Islam. Masjid dibangun guna merialisasikan ketaatan kepada Allah, mengamalkan syariat Islam dan menegakkan keadilan.
Pendek kata, masjid itu sebagai pusat kerohanian, sosial, budaya dan politik, sehingga masjid disebut sebagai baitullah atau rumah Allah artinya untuk memasuki masjid itu tidak dibutuhkan izin. Apakah untuk beribadah atau belajar atau untuk maksud-maksud baik lainnya. Masjid merupakan tempat terbaik untuk kegiatan pendidikan. Sebab akan terlihat hidupnya sunnah-sunnah Islam, menghilangnya bid’ah-bid’ah, dan menghilangnya stratafikasi rasa dan status ekonomi dalam pendidikan.[9]








BAB III
PENUTUP
Dari penjelasan sebelumnya dapat kita simpulkan bahwa fungsi awal atau fungsi masjid pada zaman Rasulullah masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagi pusat pendidikan islam dilingkungan masyarakat. Masjid dapat dianggap sebagai lembaga ilmu pengetahuan yang tertua dalam islam. Dalam masjid inilah dimulai mengajarkan al-Quran dan dasar-dasar agama islam pada masalah Rasulullah saw. Disamping tugasnya yang utama sebagai tempat untuk menunaikan salat dan ibadah.
Agar fungsi masjid menjadi pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan maka perlu disediakan fasilitas penunjang pendidikan di masjid, seperti perpustakaan, tempat diskusi dan tempat kuliah. Dengan disediakan fasilitas-fasilitas terebut diharapkan fungsi masjid kembali seperti pada zaman Rasulullah yaitu sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan.










Daftar Pustaka
N. Handrayant,Aisyah.2010.Masjid Sebagai Pusat Pengembangan  Masyarakat Integrasi Konsep HabluminAllah,  Habluminannas Dan Habluminal’alam.Malang:Uin Maliki Press.
Mas’ud,Abdurrahman, dkk.2012.Paradigma Pendidikan Islam.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Subkhan, Arief.2012. Lembaga Pendidikan Islam Abad Ke-20.Jakarta:Kencana Prenada Grup.
Samsul Nizar Dan Zaenal Efendi Hasibuan.2011. Hadits Tarbawi.Jakarta:Kalam Mulia.
Supardi.2001. Konsep Manajemen Masjid.Yogyakarta:UII Press Yogyakarta.
Zuhri, Mohammad .1992.Terjemahan Sunan At-Tirmidzi Jilid V.Semarang:As Syifa’.
Gazalba,Sidi.1989. Masjid Pusat Ibadat Dan Kebudayaan Islam.Jakarta:Pustaka Al-Husna.









Biodata Penulis
Nama   : Naili Nikmah
Nim     : 2021113153
Hobi    : menonton film dan bersepeda
Motto  : “Selalu Berusaha dan Berdoa adalah Kunci Kesuksesan”
 










                                                                                







[1] Aisyah N. Handrayant, Masjid Sebagai Pusat Pengembangan  Masyarakat Integrasi Konsep HabluminAllah,  Habluminannas Dan Habluminal’alam,(Malang:Uin Maliki Press,2010) hlm. 18-19
[2] Abdurrahman Mas’ud,dkk, Paradigma Pendidikan Islam,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2001) hlm. 51-52
[3] Arief Subkhan, Lembaga Pendidikan Islam Abad Ke-20,(Jakarta:Kencana Prenada Grup,2012), hlm. 37
[4] Samsul Nizar Dan Zaenal Efendi Hasibuan, Hadits Tarbawi, (Jakarta:Kalam Mulia,2011), hlm. 29-32
[5] Supardi, Konsep Manajemen Masjid,(Yogyakarta:UII Press Yogyakarta,2001) hlm. 128
[6] Mohammad Zuhri, Terjemahan Sunan At-Tirmidzi Jilid V(Semarang:As Syifa’, 1992), hlm 714
[7] Sidi Gazalba,Masjid Pusat Ibadat Dan Kebudayaan Islam,(Jakarta:Pustaka Al-Husna, 1989), hlm. 322
[8] Http://Rizkiagustriana. Blogspot.Com/2010/06/ Masjid-Sebagai- Lembaga-Pendidikan-Islam.Html Diakses Tanggal 16 Januari
[9] Ibid.,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar