Laman

Minggu, 22 Februari 2015

G-2-08: Indah Nur Baiti



MEMPERLUAS TEMA KAJIAN DI MASJID
 Mata Kuliah : Hadits Tarbawi II
Disusun Oleh :

Indah Nur Baiti         2021113270

Kelas G


JURUSAN TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan taufik, hidayah-Nya serta Inayah-Nya kepada kami semua, sehingga dalam kesempatan kali ini penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Hadits Tarbawi II dengan judul “Memperluas Tema Kajian di Masjid” tanpa ada suatu halangan apapun.
Adapun maksud dan tujuan dibuatnya makalah ini adalah agar mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan tentang gambaran fungsi masjid dalam mengembangkan peradaban dan kebudayaan Islam dan berbagai tema kajian di masjid.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini tidak akan terwujud tanpa ada bantuan dari beberapa pihak, maka dengan rendah hati penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Allah SWT. Dzat Yang Maha Kuasa
2.      Bapak Muhammad Ghufron Dimyati, M.Si, selaku dosen pengampu
3.      Serta teman-teman yang berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Sekian tak banyak yang penulis harapkan kecuali makalah ini dapat difahami oleh pembaca dan mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca dan penulis sendiri.



BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Menurut rekaman sejarah, ketika Islam baru lahir di kota Mekkah, keadaan masyarakat Arab masih banyak sekali yang buta huruf. Bilangan yang mampu menulis dan membaca masih terlalu sedikit yakni sekitar 17 orang. Melihat kondisi masyarakat Arab tersebut, Islam memberikan dorongan yang sangat urgen untuk mengadakan reformasi. Reformasi yang dimaksudkan adalah perubahan sistem Jahiliyah kepada masyarakat Islam yang beradab. Masyarakat Arab mempunyai peradaban dan kebudayaan yang sangat tinggi setelah mereka mengambil Islam sebagai way of life dalam sistem kehidupan mereka. Proses terjadinya reformasi yang menyebabkan kemajuan tersebut tidak pernah lepas dari usaha keras dan kuat, pantang menyerah dan selalu berorientasi ke depan. Salah satu usaha tersebut adalah berlangsungnya proses pendidikan yang sangat baik.
Sebenarnya, pada awalnya proses pendidikan Islam masa Islam klasik berlangsung secara informal. Maksudnya adalah proses pendidikan berlangsung di rumah-rumah. Rasulullah menjadikan rumah sahabat Arqam bin Abi al Arqam sebagai sebagai proses pembelajaran sekaligus tempat pertemuan dengan para sahabatnya. Di rumah inilah Rasulullah menyampaikan dan menanamkan dasar-dasar agama dan mengajarkan al Qur’an kepada mereka.
Setelah tidak lama Rasulullah berada di kota Madinah, maka yang pertama dibangun oleh beliau adalah masjid. Dan telah tercatat dalam sejarah, masjid pada kala itu tidak saja berfungsi sebagai tempat untuk beribadah semata. Tetapi lebih dari itu, ia memiliki banyak fungsi salah satunya sebagai tempat berlangsungnya pembelajaran dalam mentransmisi ilmu pengetahuan Islam.




BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian
Pengertian masjid secara bahasa (etimologis) adalah tempat beribadah. Akar kata dari masjid adalah sajada dimana sajada berarti sujud atau tunduk. Kata masjid sendiri berakar dari bahasa Arab. Sebelum itu masjid juga disebut “moseak:, “muskey”, “moscey”, dan “moskey”. Kata-kata tersebut diduga mengandung nada yang melecehkan. Contohnya pada kata mezquita yang berasal dari kata mosquito. Namun ternyata dalam perkembangan selanjutnya, kata mosque menjadi populer dan dipakai dalam bahasa Inggris secara luas.
Sedangkan pengertian masjid secara Istilah (terminologis) adalah tempat melakukan segala aktivitas berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah semata. Oleh karena itu, masjid dapat diartikan lebih jauh, bukan hanya tempat sholat dan bertayamum (berwudhu) namun juga sebagai tempat melaksanakan segala aktivitas kaum muslimin berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah SWT.,
Dari beberapa sudut pandang tersebut diatas maka dapat dirangkum bahwa masjid dibangun untuk memenuhi keperluan ibadah Islam, fungsi dan perannya ditentukan oleh lingkungan, tempat dan jamaah dimana masjid didirikan. Secara prinsip masjid adalah tempat membina umat. Untuk itu masjid harus dilengkapi dengan fasilitas sesuai dengan waktu dan tempat masjid dibangun. [1]
2.      Teori Pendukung
a.       Dakwah sebagai Komunikasi Islam
Dari sudut bahasa, kata dakwah berarti menyeru atau memanggil, memanggil, mengajak orang lain supaya mengikuti, bergabung, memahami untuk memiliki suatu tindakan dan tujuan yang sama yang diharapkan oleh penyerunya. Upaya penggabungan antara dakwah dan komunikasi dilakukan juga oleh para penulis Arab Muslim. Komunikasi massa dalam praktiknya dimulai sejak turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW., kemudian terus menyebar dan berkembang sampai sekarang. Pada waktu yang akan datang akan lebih maju dan berkembang lagi serta membuat dunia semakin kecil dan saling berhubungan.
Kata mauidzah hasanah dalam istilah dakwah berarti sinonim dari nasihat, dan nasihat memiliki format yang banyak. Diantaranya perkataan yang jelas, dengan lemah lembut, isyarat lembut atau halus yang dapat difahami. Kinayah, dan tauriyah, cerita, khotbah yang mengesankan, anekdot, mengingatkan akan nikmat dengan respon yang diharapkannya adalah syukur, reward, dan punishment.[2]
3.      Materi Hadis

 عَنْ جَابِر بن سَمُرة قَال : جَالَسْتُ النَّبِي صلى الله عليه وسلم أَكْثَرَ مِنْ  ِمائَة مَرَّة فِي الْمَسَجِدِ يَجْلِسُ أَصْحَابُهُ يَتَنَاشَدُوْنَ الشِّعْرَ وَ رُبَّمَا تَذَاكَرُوْا أَمْرَ الْجَاهِلِيَّة فَيَبْتَسِمُ النَّبِيُ صَلى الله عليه وسلم مَعَهُمْ   (وراه الترمذي فى الجامع, كتاب الأدب عن رسول الله, باب ما جاءفي إنشاد الشعر    
Terjemahan:
Dari Sahabat Jabir bin Samurah beliau berkata, “Suatu ketika aku duduk bersama Nabi Muhammad SAW di dalam masjid lebih dari seratus kali dan bersamanya dengan para sahabatnya mereka telah melantunkan sebuah syair–syair dan terkadang para sahabat selalu mengingat permasalahan–permasalahannya kaum jahiliyah kemudian Nabi tersenyum kecil bersama para sahabatnya. (Hadits diriwayatkan dari Imam Tirmidzi).[3]
3.      Refleksi Hadis dalam Kehidupan
Muhammad Munir Mursi, mengatakan, bahwa fungsi masjid pada era awal, bukan hanya sebagai tempat ibadah, akan tetapi masjid juga berfungsi sebagai pusat berbagai kegiatan kaum Muslimin, seperti kegiatan politik, sosial, kebudayaan, peradaban, keagamaan. Masjid juga memiliki fungsi sebagai tempat rumah ibadah melaksanakan salat, tempat papan informasi yang berkaitan dengan kemaslahatan umum, misalnya informasi jadwal persiapan perang. Setelah Rasulullah sampai di Madinah Rasulullah SAW., mendirikan Masjid Nabawi berfungsi sebagai Islamic Centre. Seluruh aktivititas kaum Muslimin dipusatkan di tempat ini, mulai dari tempat pertemuan para anggota parlemen, sekretariat negara, mahkamah agung. Markas besar tentara, pusat pendidikan dan pelatihan juru dakwah, hingga baitul mal. Masjid laksana kampus, setiap hari orang berduyun-duyun untuk melaksanakan berbagai kegiatan, ibadah dan belajar langsung kepada Nabi SAW.
Ketika duduk, beliau dikelilingi para sahabat dari segala sisi, dikitari dalam bentuk bundaran (halaqat) laksana bintang-bintang mengelilingi bulan sabit di malam purnama. Al-Bukari dalam Shahihnya, menulis bab duduk bersama secara halaqat (membentuk lingkaran) di masjid, maksudnya diperbolehkan duduk secara halaqat di masjid untuk memperlajari ilmu, membaca al-Qur’an, zikir, dan sebagainya. Walaupun duduk bersama membentuk lingkaran, harus memposisikan sebagian orang membelakangi kiblat. Berkumpulnya murid membentuk lingkaran terhadap guru yang mengajarinya adalah indikasi rasa suka, kesempurnaan rasa rindu, dan besarnya semangat terhadap apa yang disampaikan oleh guru, disamping indikasi konsentrasi dan keseriusan.
Imam al-Yusi, sebagai dikutip oleh al-Maliki, bahwa oengajaran dalam bentuk tadris, asal mulanya adalah apa yang dilakukan oleh Nabi SAW., pada majelis-majelisnya bersama para sahabat di dalam menjelaskan hukum-hukum, hikmah-hikmah, berbagai realitas kontekstual, menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, menuturkan fadhilah-fadhilah serta keistimewaan ayat al-Qur’an, dan sebagainya.
Selanjutnya, materi yang diajarkan di Masjid adalah masalah-masalah keagamaan, peringatan kepada manusia tentang hari akhir, dengan menggunakan pendekatan cerita, hikmah, dan nasehat. Terdapat juga materi tentang ilmu-ilmu agama berupa pelajaran al-Qur’an, tafsir dan hadis.[4]
Banyak sekali petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW.,tentang perlunya umat Islam menguasai ilmu pengetahuan. Kalau ditinjau dengan teliti awalnya pendidikan Islam termasuk sebagai kegiatan memakmurkan masjid dan ini sesuai dengan prinsip yang dianut oleh umat Islam bahwa ilmu itu datangnya dari Allah karena itu masjid lebih utama digunakan untuk mencari ilmu pengetahuan.[5]
Ajakan agar seluruh masjid-masjid yang ada di seluruh Indonesia ini hendaknya dapat dijadikan posko pelayanan sosial untuk mengantisipasi bulan-bulan mendatang bila keadaan ekonomi makin terpuruk, harga beras makin membumbung tinggi, sehingga berakibat kaum dhuafa mungkin mengalami kesulitan dalam soal pangan. Masjid-masjid ini kita jadikan tempat untuk memberikan bantuan kepada mereka yang punya kebutuhan yang sangat tinggi terhadap pangan. Maka jika disekitar kita ada masjid kegiatan menolong mereka itu hendaknya diorganisir dengan pengurus takmir. Apabila diantara kita ada yang surplus beras dan bahan pokok lainnya agar dibawa ke serambi masjid-masjid tersebut untuk digunakan membantu meringankan beban para kaum dhuafa.[6]

5.      Aspek Tarbawi
a.       Majid merupakan salah satu lembaga pendidikan, yaitu dapat digunakan sebagai tempat belajar dan mengajar atau mengaji. Masjid berfungsi untuk membina peradaban dan kebudayaan, serta tempat pengendalian urusan pemerintahan dan kenegaraan
b.      Masjid mempunyai fungsi keagamaan, yaitu sebagai tempat beribadah, seperti sholat, dzikir, do’a dan i’tikaf.
c.       Dari hadits diatas dapat diambil pelajaran bahwasannya seorang pendidik itu tidak boleh mencela atau menghina kepada peserta didik. Seorang pendidik seharusnya harus memperhatikan kepada peserta didik  dan tidak boleh membeda-bedakan antara satu dengan yang lain.
d.      Manusia diperitahkan untuk memelihara dan menjaga kebersihan masjid dari kotoran dan dari perkataan atau perbuatan sia-sia.
e.       Seperti yang dijelaskan dari hadits tersebut, begitu besarnya perhatian seorang muslim untuk selalu melaksanakan etika-etika agama Islam dalam setiap perkara. Sebagaimana seorang muslim harus beretika ketika didalam masjid.




BAB III
PENUTUP
1.      Simpulan
Dari uraian penjelasan hadits diatas maka secara ringkasnya adalah belajar di masjid memperlihatkan kepada kita keistimewaan-keistimewaan dan prinsip-prinsip yang penting dalam pendidikan Islam, yaitu sebuah perdamaian, demokrasi, kesederhanaan, kesempatan yang sama, bebas untuk mencapai tujuan, mempunyai hubungan dan keharmonisan diantara kepentingan hidup dunia dan akhirat.
Sehingga fungsi dan peran masjid bukan saja sebagai tempat ibadah, namun juga sebagai tempat memperbaiki urusan-urusan dunia dan akhirat umat manusia.
Sekian dari penulis, semoga apa yang telah disampaikan dalam makalah ini dapat difahami oleh pembaca dan tentunya dapat bermanfaat, menambah ilmu pengetahuan, serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.










DAFTAR PUSTAKA
N. Handryant, Aisyah. 2010. Masjid sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat.
Malang: UIN Maliki Press.
Taufik, M. Tata. 2012. Etika Komunikasi Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
Moh Zuhri, dkk., 1992. Terjemah Sunan At-Tirmidzi Juz IV. Semarang: CV Asy
Syifa’.
Samsul Nizar & Zainal Efendi Hasibuan, 2011. Hadis Tarbawi. Jakarta: Kalam
Mulia.
Supardi & Teuku Amiruddin, 2001. Konsep Manajemen Masjid. Yogyakarta: UII
Press.
Rais, M. Amien, 1998. Mengatasi Krisis dari Serambi Masjid. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.



BIODATA PENULIS
Nama lengkap penulis adalah Indah Nur Baiti, perempuan kelahiran Pekalongan 26 Januari 1995 ini merupakan alumni jurusan Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 2 Pekalongan. Sekarang, penulis sedang menempuh studinya di fakultas Tarbiyah prodi PAI STAIN Pekalongan. Saat ini memasuki semester 4, harapannya tidak muluk-muluk yaitu menyelesaikan studinya dengan tepat waktu, targetnya selesai dalam waktu 8 semester. Hobi penulis adalah traveling dan bermain musik. Motto hidup penulis, “Jangan pernah berhenti mencoba sebelum kamu dapatkan hasil yang nyata”.



[1] Aisyah N. Handryant, Masjid sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hlm.51-53.
[2] M. Tata Taufik, Etika Komunikasi Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), hlm.215.
[3] H. Moh Zuhri, dkk., Terjemah Sunan At-Tirmidzi Juz IV, (Semarang: CV Asy-Syifa’, 1992), hlm.446.

[4] Samsul Nizar & Zainal Efendi Hasibuan, Hadis Tarbawi, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), hlm.30-31.
[5] Supardi & Teuku Amiruddin, Konsep Manajemen Masjid, (Yogyakarta: UII Press, 2001), hlm 133.
[6] M. Amien Rais, Mengatasi Krisis dari Serambi Masjid, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm.88.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar