Laman

Minggu, 15 Maret 2015

E - 5 - a: ISTRIYANI



Akal, ilmu, dan amal
Mata Kuliah: hadist tarbawi II


Disusun Oleh:
ISTRIYANI  (2021112254)
KELAS: E


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2014/ 2015








Kata penganta

A.    Pendahuluan
Seseorang tidak akan memperoleh martabat (kedudukan) ilmu yang hakiki kecuali dengan mengamalkan ilmu zhahir(ilmu yang harus diketahui yaitu bab ibadah dan muammalah) dan ilmu batin. Karena ilmu tanpa amal sama dengan sarana tanpa tujuan, dan amal tanpa ilmu merupakan jinayah atau tindak kriminal. Apabila seseorang mengamalkan ilmu tersebut niscaya Allah akan memberikan ilmu yang belum ia ketahui.
Akan tetapi, akal meskipun mempunyai urgensi yang besar dalam menangkap pengetahuan, menghasilkan pengetahuan yang  baru, membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Akal juga tidak dapat terjaga dari kesalahan dalam memahami dan menghasilkan sesuatu, oleh karena itu akal membutuhkan teman yang dapat menuntunnya melewati jalan yang salah ini, teman inilah yang disebut ilmu. Karena ilmu adalah cahaya yang bisa menerangi jalan bagi pemiliknya.
Seseorang memperoleh ilmu dengan akalnya, akal akan menjadi baik atau tidak, sesuai ilmu yang ia peroleh dan dengan ilmu tersebut ia dapat beramal. Akal tanpa ilmu tidak akan berarti apa-apa karena tidak bisa memberikan manfaat baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Ibarat kita memiliki mobil, namun mobil tersebut tidak memiliki yang semestinya dimiliki mobil pada umumnya (seperti mesin, dll), maka mustahil kita bisa menggunakan mobil tersebut. Begitupun juga ilmu tanpa amal adalah suat kegilaan dan amal tanpa ilmu adalah suatu kesia-siaan.
Orang yang mencari ilmu namun tidak berusaha mengamalkannya seperti orang mencari uang namun ia tidak mampu membelanjakannya, lalu apa gunanya ia mencari uang. Ada dua kategori orang yang tidak mengamalkan ilmunya, yang pertama ilmu itu tidak memberikan manfaat kepada pemiliknya, sehingga mau tidak mau pemiliknya tidak bisa mengamalkannya. Penyebab ilmu tidak memberikan manfaat tersebut antara lain ketika mencari ilmu ia tidak ikhlas, tidak menghormati guru, menganggap sepele terhadap ilmu, mencari ilmu hanya untuk kesombongan semata dan lain sebagainya. Adapun yang kedua ia berilmu namun tidak mau mengamalkannya. Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu, perbuatan yang dibenci disisi Allah yang kelak akan di mintai pertanggungjawabannya, dengan mengamalkan ilmu berarti akan semakin bertambah ilmunya.

B.     Pembahasan
1)      Pengertian
a)      Ilmu
Ilmu menurut etimologi berasal dari bahasa arab ‘alima artinya mengetahui.  Sedangkan menurut istilah ilmu adalah suatu sifat yang dengan sifat tersebut sesuatu yang dituntut bisa terungkap dengan sempurna. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan sarana untuk mengungkapkan, mengatasi, menyelesaikan dan menjawab persoalan yang sedang dihadapi dalam hidup dan kehidupan manusia.[1]
b)      Akal
Kata akal berasal dari bahasa Arab yaitu al- Aqlu berarti pikiran atau intelek(daya) atau proses pikiran yang lebih tinggi berkenaan dengan ilmu pengetahuan. Dimana akal merupakan akal yang menampung akidah, syariah serta akhlak dan menjelaskannya.[2]
c)      Amal
Amal merupakan buah dari ilmu, jika ada orang yang mempunyai ilmu tapi tidak beramal maka seperti pohon yang tidak menghasilkan manfaat bagi penanamnya. Pertalian ilmu dengan amal tidak hanya dituntut dari para pelajar agama dan para ahli yang mendalami suatu ilmu, melainkan juga dituntut dari setiap orang, baik yang memiliki ilmu sedikit ataupun banyak. Namun, tentunya orang-orang yang berilmu memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam hal ini, karena mereka memiliki kemampuan yang lebih.[3]
2)      Teori pendukung
Akal sangat membutuhkan dalil syar’i sebagai penerang jalan, ibarat mata. Mata memang berpotensi melihat benda, namun tanpa cahaya mata tidak dapat melihat apa-apa, barulah dengan cahaya tersebut mata dapat berfungsi. Dan dengan menggunakan akal secara baik dan benar sesuai dengan petunjuk Allah SWT, kemudian akal tersebut akan menghasilkan ilmu dan akan berkembang.
Akal yang telah berproses menghasilkan ilmu. Dimana ilmu adalah salah satu cara untuk menolong manusia dalam perjalanannya menuju Allah SWT. Dengan ilmu seorang muslim dapat bertaqarrub kepada Allah. Dan kriteria ilmu yang berguna adalah ilmu yang dijadikan alat untuk pengetahuan tentang Allah SWT, keridhoan dan kedekatan kepada-Nya.
Dalam perkembangannya ilmu menjadi alat manusia untuk mewujudkan keinginannya, bahkan mengabdi pada kepentingannya. Mengenai amal ilmu yang telah didapat di aplikasikan kedalam perbuatan, jadi amal merupakan aplikasi ilmu didalam kehidupan dan setiap amal yang dikerjakan seseorang hendaknya bermanfaat bagi orang lain. Tetapi baik dan tidaknya suatu amal ditentukan oleh niat orang yang beramal. Amal mencakup amalan hati, amalan lisan dan juga anggota badan.[4]
3)      Materi hadist
a.    Hadist dan Terjemah
عَنْ عَائِشة قَالَتْ:﴿ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ بِأَيِّ شَئٍ يَتَفَاضَلُ النَّاسُ فِى الدُّنْيَا ؟ قَالَ: بِالْعَقْلِ, قَلَتْ فَفِى اْلأَخِرَةِ ؟ قَالَ: بِالْعَقْلِ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: اِنَّمَا يُجْزَوْنَ بِأَعْمَالِهِمْ ؟ قَالَ وَهَلْ عَمِلُوْا اِلاَّ بِقَدْرِمَا أَعْطَاهُمْ اللهُ مِنَ الْعَقْلِ فَبِقَدْرِمَا أُعْطُوْا مِنَ الْعَقْلِ كَانَتْ أَعْمَالُهُمْ وَبِقَدْرِمَا عَمِلُوْا يُجْزَوِنَ﴾
 )رَاوَهُ الحَارِث فِى الْمُسْنَدِ : 823)


Dari ‘Aisyah-ra- ia berkata : saya bertanya kepada Rasulullah, dengan apakah manusia bisa utama di dunia. Rasulullah berkata ; dengan akal. Aisyah bertanya lagi : kalau diakhirat?, Rasulullah menjawab ; dengan akal. Maka Aisyah bertanya lagi : (bukankah) manusia sesungguhnya manusia itu dibalas hanya karena amal-amalnya. Rasulullah menjawab : dan tidaklah manusia-manusia beramal kecuali dengan sekedar yang Allah SWT berikan yaitu akal. Maka dengan sekedar apa yang telah diberikan kepada mereka (akal) itulah amal-amal mereka. Dan atas sekedar apa yang mereka kerjakan , maka mereka mendapat balasan. (HR. Al-Harits)


b.   Mufrodat
Akal
عَقْلِ
Amalmu
عَمِلُوْا
Dibalas
يُجْزَوْنَ
Menjadi mulia
يَتَفَاضَلُ
kemampuan
بِقَدْر
Jugalah amal-amalnya
مَا أُعْطُوْا
Bagaimana dengan akhirat
فَفِى اْلأَخِرَةِ

c.       Biografi perawi
Aisyah binti Abu. Bakar Ash Shiddiq bin Abu Quhafah bin  Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay. Ibunda beliau bernama Ummu Rumman binti ‘Imaor bin ‘Amir bin Dahman bin Harist bin Ghanam bin Malik bin Kinanah. Aisyah binti Abu Bakr Ash- Shiddiq adalah ibu dari orang-orang mukmin. Beliau adalah perempuan yang paling ahli dalam bidang fiqh, dan merupakan istri nabi yang paling utama selain khadijah.[5]
Menurut riwayat yang masyhur, Nabi saw menikahi beliau di Makkah di waktu beliau berusia 6 tahun, sesudah sebulan Nabi SAW menikahi Saudah , yaitu 3 tahun sebelum hijrah. Pada bulan syawal sesudah 8 bulan Nabi SAW berhijrah ke Madinah ketika itu Aisyah berusia 9 tahun, baru Nabi saw berumah tangga dengan beliau. Ketika Nabi SAW wafat, beliau baru berusia 13 tahun.[6]
Beliau meriwayatkan hadits sekitar 2.210 hadits. Bukhari dan muslim menyepakati sejumlah 174 hadist. Al- Bukhari sendiri meriwayatkan 64 hadist dan muslim sendiri meriwayatkan sejumlah 63 hadist.[7]


d.      Keterangan hadits
Dari terjemah hadits tersebut diperoleh keterangan bahwa Rasulullah SAW. bersabda manusia yang paling mulia di dunia dan di akhirat adalah dengan akalnya. Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita menjumpai banyak orang sudah menggunakan akalnya untuk mencapai ilmu, namun setelah mereka memperolehnya sangat jarang dari mereka yang mau mengamalkannya. Akal merupakan daya atau kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT. kepada manusia sebagai alat berfikir dan alat untuk mempertimbangkan serta memikirkan baik buruknya sesuatu. Akal adalah potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia disamping nafsu. Sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal.[8]
Pada dasarnya manusia melakukan suatu amalan didasari dengan akal, kemudian dengan akal manusia mampu menyerap ilmu-ilmu pengetahuan dan dengan ilmu pengetahuan manusia mampu melakukan suatu amalan. Dengan adanya akal akan menyempurnakan ilmu dan amal, akan tetapi akal tidak bisa berdiri sendiri. Jadi antara akal, ilmu, dan amal saling berkaitan erat, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dan Allah akan membalas perbuatan manusia sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.[9]

4)      Refleksi hadist dalam kehidupan
Tujuan berpikir adalah mengumpulkan informasi serta menggunakannya sebaik mungkin. Karena cara pikiran bekerja untuk menciptakan konsepi pola yang tetap, kita tidak dapat menggunakan informasi baru secara lebih baik, kecuali jika kita mempunyai beberapa cara untuk membangun kembali pola-pola lama, dan menyesuaikannya dengan keadaan yang baru.[10]
Sebuah perintah yang dikejar setiap orang untuk membahagiakan dirinya pasti bodoh, karena tak seorangpun memerintahkan orang lain untuk melakukan apa yang niscaya selalu ingin dia lakukan. Seseorang pasti hanya memerintah atau lebih tepatnya, mencari suatu alat untuk kepentingannya, karena dia tidak dapat melakukan segala yang dia inginkan. Untuk membayangkan seorang penjahat yang merasa malu karena sadar telah melanggar hukum, mereka harus memisalkan dia memiliki kebaikan moral tertentu dalam watak pribadinya, sebagaimana mereka membayangkan seseorang yang berbahagia karena sadar telah memenuhi kewajiban-kewajibannya yang baik..[11]  

5)      Aspek tarbawi
a.       Merenungkan kekuasan Allah SWT .
b.      Berbuat kebaikan karena tiap perbuatan/ gerakan  kita diawasi Allah dan Malaikat.
c.       Mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an.
d.      Memanfaatkan akal yang telah Allah berikan untuk suatu hal yang baik dan sesuai syari’at.
e.       Menjalani risalah Nabi.
f.       Bertindak penuh perhitungan agar tidak terjadi kesalahan, serta berikhtiar sebelum bertawakal.












C.     Penutup
Manusia akan menjadi utama baik di dunia maupun di akhirat yaitu dengan akalnya, tentunya manusia yang mempunyai akal yang sehat. Dan dengan akal tersebut manusia akan beramal sehingga memperoleh balasan.
Seseorang memperoleh ilmu dengan akalnya, akal akan menjadi baik atau tidak, sesuai ilmu yang ia peroleh dan dengan ilmu tersebut ia dapat beramal. Akal tanpa ilmu tidak akan berarti apa-apa karena tidak bisa memberikan manfaat baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Ibarat kita memiliki mobil, namun mobil tersebut tidak memiliki yang semestinya dimiliki mobil pada umumnya (seperti mesin, dll) maka mustahil kita bisa menggunakan mobil tersebut. Begitupun juga ilmu tanpa amal adalah suatu kegilaan dan amal tanpa ilmu adalah suatu kesia-siaan.
Orang yang mencari ilmu namun tidak berusaha mengamalkannya seperti orang mencari uang namun ia tidak mampu membelanjakannya, lalu apa gunanya ia mencari uang. Ada dua kategori orang yang tidak mengamalkan ilmunya, yang pertama ilmu itu tidak memberikan manfaat kepada pemiliknya, sehingga mau tidak mau pemiliknya tidak bisa mengamalkannya. Penyebab ilmu tidak memberikan manfaat tersebut antara lain ketika mencari ilmu ia tidak ikhlas, tidak menghormati guru, menganggap sepele terhadap ilmu, mencari ilmu hanya untuk kesombongan semata dan lain sebagainya. Adapun yang kedua ia berilmu namun tidak mau mengamalkannya. Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu, perbuatan yang dibenci disisi Allah yang kelak akan di mintai pertanggungjawabannya, dengan mengamalkan ilmu berarti akan semakin bertambah ilmunya.










D.  Daftar pustaka
Ø  Juwairiyah. 2010. hadsit tarbawi.  (Yogyakarta: Teraz) hal. 139.
Ø  Ibnu mandzur. 1990. Lisan al-arab jilid 1. (baerut:  Dar sidar) hal. 459.
Ø  shalih al- ‘utsamain, Muhammad. 2011. syar arba ‘in annawawiyah. (Yogyakarta : Bintang Cemerlang)  hal. 19.
Ø  Al-asqolani, Ibnu hajar. 1995. taqrib ast-tahzib. (Beirut: Dar al- fikr). hal 869. 
Ø  Ash-Shiddieqy, Tim Hasbyi.  1980. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. (Jakarta: Bulan Bintang). hal. 286-287.
Ø  Ali Fayyad, Mahmud. 1998.  metodologi penetapan kesahihan hadits. (Bandung: Pustaka Setia) hal. 114.
Ø  Al-qardhawy, Yusuf. 1999. As Sunnah sebagai sumber iptek dan peradaban. (Jakarta: pustaka al-kautsar).  hal. 97.
Ø  Sinaga, Herman. 1991. Edward de bond berpikir lateral. (Erlangga). hal. 14.
Ø  Kant, Immanuel. 2005. kritik atas akal budi praktis. (Yogyakarta: pustaka pelajar). hal. 61-65.

















E. Tentang penulis
Description: C:\Documents and Settings\Administrator\My Documents\Downloads\1458471_375366359293788_1611289996160884694_n.jpg

Nama                                 : ISTRIYANI
Nim                                   : 2021112254
Tempat/ tanggal lahir        :Pekalongan/ 03 februari 1994
Alamat                              : Dk. Tegal pacing, DS. Bulak pelem. Rt 02/ Rw 01, Kec.  Sragi, Kab. Pekalongan.
Motto hidup                      : Jadilah orang gila,tapi bukan orang gila yang menampakkan yang tidak Semestinya tampak. Tampakkanlah yang unggul dari hidupmu, tampakkan kelebihanmu, dan tampakkan semangat hidupmu.





[1] Juwairiyah, hadsit tarbawi, (Yogyakarta: Teraz, 2010) hal. 139.
[2]  Ibnu mandzur, Lisan al-arab jilid 1 (baerut:  Dar sidar, 1990), hal. 459.
[4]Muhammad bin shalih al- ‘utsamain, syar arba ‘in annawawiyah, (Yogyakarta : Bintang Cemerlang, 2011), hal. 19.
[5]  Ibnu hajar al-asqolani, taqrib ast-tahzib, (Beirut: Dar al- fikr, 1995), hal 869. 
[6] Tim Hasbyi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), hal. 286-287.
[7]Mahmud ali Fayyad, metodologi penetapan kesahihan hadits, (bandung:. Pustaka Setia, 1998), hal.114.
[8]YuSuf al-qardhay,  As Sunnah sebagai sumber iptek dan peradaban, (Jakarta: pustaka al-kautsar, 1999), hal. 97.
[9]  Ibnu mandzur, opcit, hal. 459.
[10] Herman sinaga, edward de bond berpikir lateral, (Erlangga, 1991), hal. 14
[11] Immanuel kant, kritik atas akal budi prakti, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 005), hal. 61-65.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar