Laman

Kamis, 05 Maret 2015

H-4-c : ULFA FAZA



Memanfaat Panca Indra untuk Mencari Ilmu
Mata Kuliah : Hadits Tarbawi II
 
Oleh:
    Ulfa Faza                (2021113176)
 KELAS: PAI H

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2014/2015


Kata Pengantar
Panca indera manusia merupakan anugrah yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia dan digunakan sebagai alat pembantu manusia dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Tanpa panca indera manusia akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, ada sebagian dari kita yang memiliki alat panca indera tetapi fungsi alat tersebut tidak maksimal. Walaupun demikian sebagian orang tersebut juga memiliki kelebihan disalah satu inderanya yang bisa membantu untuk kehidupan sehari-harinya.
Alat indera yang dimiliki manusia mempunyai peranan dan fungsi masing-masing, diantara fungsi tersebut adalah untuk melihat, mendengar, mengucapkan sesuatu, merasakan sesuatu dan mencium sesuatu. Tanpa kita sadari setiap waktu kita pasti memanfaatkan dan menggunakan panca indera kita, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi kita pasti tidak lepas dari yang namanya panca indera.
Setipa manusia pada dasarnya mempunyai panca indera yang sama, walaupun tidak semua manusia memiliki kemampuan yang sama dalam panca inderanya. Rasulullah SAW juga mengajarkan pada umatnya untuk bisa memanfaatkan dan menggunakan panca inderanya dengan baik, salah satunya menggunakan indera penglihatan dan pendengaran. Beliaupun ketika menerima wahyu yang pertama menggunakan indera pendengaran dan isi wahyu tersebut anjuran untuk membaca. Ketika kita membaca kita minimal menggunakan dua indera, yaitu indera penglihatan dan pengecap / mulut. Ketika kita bisa menggunakan indera kita untuk hal-hal yang baik pasti akan memberikan manfaat bagi kita.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna, karenanya kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapakan.
                                                                                                            Pekalongan, 7 Maret 2015


                                                                       
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia diberi anugrah berbagai kelebihan, baik kelebihan itu disadari oleh manusia itu sendiri atau tidak. Manusia di karuniai alat yang sangat luar biasa yang bisa digunakan oleh manusia untuk kehidupan sehari-hari. Alat tersebut di gunakan untuk membantu manusia agar lebih mudah menjalani kehidupannya. Alat itu memiliki beberapa kegunaan seperti yang gunanya untuk melihat, mendengar, merasakan sesuatu, menghirup, dan mengucapkan sesuatu.
Istilah yang sering kita dengar mengenai hal tersebut diatas adalah lima alat indera manusia atau panca indera manusia. Panca indera tersebut dimiliki oleh setiap manusia, meskipun ada beberapa yang memilikinya tetapi tidak bisa berfungsi secara optimal, tetapi di berikan  kelebihan oleh Allah SWT untuk mengoptimalkan kekuragan tersebut.
Panca indera yang manusia miliki akan sangat bermanfaat ketika digunakan untuk hal-hal yang baik, diantara hal baik tersebut adalah untuk mancari ilmu. Ketika kita bisa mengoptimalkan panca indera kita untuk mencari ilmu akan sangat membantu kita dalam memahami ilmu tersebut. Rasulullah SAW ketika menerima wahyu pun  menggunakan panca indera beliau, salah satunya dengan indera pendengaran beliau. Dimakalah ini kita akan membahas pemanfaatan panca indera untuk mencari ilmu semoga bisa memberikan penjelasan bagi kita tentang hal tersebut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian ilmu?
2.      Apa pengertian panca indera?
3.      Bagaimana pandamgan  al-Qur’an  tentang panca indera?
4.      Apa hadits yang berkaitan dengan panca indera?
5.      Bagaimana refleksi dalam kehidupan sehari-hari bekaitan dengan pemanfaatan indera untuk mencari ilmu?
6.      Bagaiman aspek tarbawi dari  pembahasan makalah?
BAB II
MEMANFAATKAN PANCA INDERA UNTUK MENCARI ILMU

A.    Pengertian
Untuk  memperoleh pengertian yang tepat tentang ilmu, setidak-tidaknya dapat ditinjau dari dua segi yaitu segi etimologi dan terminologi. Secara etimologis kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm (علم) yang padanannya dalam bahasa Inggris science, dalam bahasa jerman Wissenschaft dn dalam bahasa Belanda wetenchap.
Dalam konteks Indonesia, kata “ilmu”, seperti halnya  kata  science dalam bahasa Inggris, juga berasal dari kata asing, dari bahasa Arab. Ilmu berasal dari ‘ilm, kata jadian dari ‘alima, ya’lamu, menjadi ‘ilmun, ma’lumun, ‘alimun, dan seterusnya. Tiga kata yang terakhir ini menjadi kata Indonesia, ilmu, maklum, dan alim ulama. Dalam bahasa Arab, ‘alima, sebagai kata kerja, berarti tahu atau mengetahui. Ilmu, sebagaimana halnya scientia, berarti juga pengetahuan. 
Dari segi maknanya, pengerian ilmu sepanjang terbaca dalam pustaka menunujukan sekurang-kurangnya pada tiga hal, yakni pengetahuan, aktivitas, dan metode. Dalam hal yang pertama dan ini yang palig umum, ilmu senantiasa berarti pengetahuan (knowledge). Diantara para filosof dari berbagai aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah suatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan (a systematic body of knowledge). Seorang filosof yang meninjau ilmu, John G. Kemeny, juga memakai arti semua pengetahuan yang dihimpun dengan perantaraan metode ilmiah (all knowledge collected by means of the scientific method).[1]
Indera atau indria merupakan alat penghubung/kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan. Dalam ajaran Hindu indria ada sebelas macam dan disebut sebagai eka dasa indriya.
Lima macam indera berfungsi sebagai alat sensor dalam bahasa Sanskerta disebut panca budi indriya dan dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai panca indera yaitu: alat pembantu untuk melihat (mata), alat pembantu untuk mengecap (lidah), alat pembantu untuk membau (hidung), alat pembantu untuk mendengar (telinga), dan alat pembantu untuk merasakan (kulit/indera peraba).[2]
Indera sebagai sumber pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh manusia melalui kelima inderanya, yakni mata, hidung, perasaan (kulit), telinga dan lidah. Pengetahuan inderawi juga disebut pengetahuan empiris. Dalam sejarah epistemologi barat tokohnya adalah Roger Bacon, John Locke, David Hume dan sejumlah pengikutnya.[3]
Pengetahuan yang bersumber dari indra-indra lahiriah seperti hasil dari melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasa adalah suatu jenis pengenalan dan pemahaman yang bersifat lahiriah, permukaan, tidak mendalam. Berhubungan dengan alat dan sumber pengetahuan ini tidak terdapat perbedaan antara manusia dengan hewan, karena keduanya sama-sama dapat melihat, mencium, merasa, dan mendengar, bahkan pada sebagian bintang mempunyai indra yang sangat kuat dan tajam dibanding manusia.
Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam fisik. Pengetahuan indrawi bersifat parsial, disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. Masing-masing indra menangkap objek atau sesuatu yang berbeda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu, oleh karena itu, secara objektif, pengetahuan yang ditangkap satu indra saja, tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh . Namun pengetahuan indrawi menjadi sangat penting karena bertindak sebagai pintu gerbang pertama menuju pengetahuan yang lebih utuh.[4]
B.     Teori Pendukung
Seorang anak dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apapun. Tidak beberapa lama kemudian, indra si anak mulai berfungsi. Si anak pun mulai terpengaruh oleh stimulus-stimulus dari luar yang terjadi pada dirinya. Kejadian-kejadian itu akan menimbulkan beragam perasaan. Itulah yang menjadi dasar terbentuknya persepsi dan pengetahuan anak terhadap dunia luar. Al-Qur’an telah mengisyaratkan kenyataan tersebut pada banyak ayat. Sebagai contoh, diantaranya sebagai berikut:
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ  
78. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

ö@è% uqèd üÏ%©!$# ö/ä.r't±Sr& Ÿ@yèy_ur â/ä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur ( WxÎ=s% $¨B tbrãä3ô±n@ ÇËÌÈ  
23. Katakanlah: "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur.

¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B šcrãà6ô±n@ ÇÒÈ  
9. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.[5]

C.     Materi Hadist

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسّلَّمَ يَقُوْلُ : { نَضَّرَ اللهُ إِمْرَاَءً سَمِعَ مِنَّا شَيْأً فَبَلَغَهُ كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلِّغُ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ } قَالَ أَبُوْعِيْسَى هَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ وَقَدْ رَوَاهُ عَبْدِ اْلمَالِكُ بِنْ عُمَيْرِ عَبْدِ الرَّحْمنِ بِنْ عَبْدِ اللهِ . (رواه الترمذى فى الجامع, كتاب العلم عن رسول الله, باب ما جاء فى الحث على تبليغ السماع)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra dia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Semoga Allah memuliakan seseorang yang mendengar sesuatu dari kami,lalu dia menyampaikannya (kepada yang lain)sebagaimana yang dia dengar,maka kadang-kadang orang yang disampaikan ilmu lebih memahami dari pada orang yang mendengarnya.(HR.At-Tirmidzi)

Mufrodad:

Berseri/melezatkan/menikmatkan :     نَضَّر                 
Seseorang                                        :   إِمْرَاَء
Mendengar                                      :   سَمِعَ
Sesuatu                                            :   شَيْأ
Menyampaikan                                :   فَبَلَغَه
Lebih paham/ Paham                       :   أَوْعَى
Dari kita                                          :   مِنْ
Orang yang mendengar                   :   سَامِع

D.    Refleksi hadist dalam kehidupan
Indera manusia adalah alat dan sumber lain untuk mencapai sebuah pengetahuan. Indera memberikan pemahaman luas tentang alam semesta kepada manusia. Sumber ini memberikan pengetahuan awal dan paling dangkal kepada manusia tentang keberadaan. Jika setiap dari indra ini tidak berfungsi, maka pengetahuan khususnya terkait keberadaan akan hilang. Orang yang kehilangan indrawinya maka seakan-akan ia telah kehilangan ilmunya.
Jika seseorang tidak mempunyai mata dan buta sejak lahir, maka ia tidak akan memiliki ilmu pengetahuan dan pemahaman khusus terkait dengan penglihatan. Imam Shadiq as mengungkapkan bahwa lima indera manusia sebagai sumber pengetahuan, namun lima sumber ini tidak bisa sempurna dalam memberikan ilmu dan informasi kepada manusia kecuali dibarengi dengan petunjuk akal dan bergerak dalam cahaya petunjuk akal.[6]
Setiap orang normalnya memiliki lima / panca indera yang berfungsi dengan baik untuk menangkap rangsangan sehingga dapat memberikan respon sesuai dengan keinginan atau sesuai dengan insting kita. Orang yang cacat indra masih bisa hidup namun tidak akan bisa menikmati hidup layaknya manusia normal.
Indera Manusia ada lima sehingga disebut panca indera disertai arti definisi / pengertian,yaitu:
1.      Indera Penglihatan / Penglihat = Mata
Mata adalah indera yang digunakan untuk melihat lingkungan sekitarnya dalam bentuk gambar sehingga mampu dengan mengenali benda-benda yang ada di sekitarnya dengan cepat. Jumlah mata manusia ada dua buah yang bekerja saling menunjang satu sama lain. Orang yang tidak memiliki mata disebut buta sehingga butuh bantuan tongkat, anjing pemandu, dll untuk kemudahan dalam mengenali lingkungan sekitar dan juga untuk bergerak.
2.      Indera Penciuman / Pencium = Hidung
Hidung adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan sekitar atau sesuatu dari aroma yang dihasilkan. Kita mampu dengan mudah mengenali makanan yang sudah busuk dengan yang masih segar dengan mudah hanya dengan mencium aroma makanan tersebut. Di dalam hidung kita terdapat banyak sel kemoreseptor untuk mengenali bau.

3.      Indera Pengecap = Lidah
Lidah adalah alat indera yang berfungsi untuk merasakan rangsangan rasa dari benda-benda yang masuk ke dalam mulut kita. Lidah dapat merespon berbagai jenis dan macam rasa seperti rasa manis, rasa pahit, rasa asam dan rasa asin. Kita dapat menikmati makanan dan minuman karena adanya indra pengecap ini. Bagian lidah yang depan berguna untuk merasakan rasa asin, bagian yang sebelah samping untuk rasa asam, bagian tepi depan berfungsi untuk merasakan rasa manis dan bagian lidah yang belakang untuk rasa pahit.

4.      Indera Pendengaran / Pendengar = Telinga / Kuping
Telinga adalah alat indra yang memiliki fungsi untuk mendengar suara yang ada di sekitar kita sehingga kita dapat mengetahui / mengidentifikasi apa yang terjadi di sekitar kita tanpa harus melihatnya dengan mata kepala kita sendiri. Orang yang tidak bisa mendengar disebut tuli. Telinga kita terdiri atas tiga bagian yaitu bagian luar, bagian tengah dan bagian dalam.

5.       Indera Peraba = Kulit
Kulit adalah alat indera kita yang mampu menerima rangsangan temperatur suhu, sentuhan, rasa sakit, tekanan, tekstur, dan lain sebagainya. Pada kulit terdapat reseptor yang merupakan percabangan dendrit dari neuron sensorik yang banyak terdapat di sekitar ujung jari, ujung lidah, dahi, dll.[7]
Namun disini, al-Qur’an cukup mengemukakan pendengar dan penglihatan sebagai dua alat indera saja, karena pertama, signifikasi yang begitu penting dari kedua indera itu dalam proses tanggapan panca indera. Kedua, penyebutan keduannya cukup menjadi indikator tentang pentingnya panca indera yang lain dalam proses tanggapan panca indera.
Dalam kebanyakan ayat-ayat al-Qur’an, penglihatan disebutkan setelah pendengaran. Hal ini tampaknya dikarena beberapa pertimbangan. Pertama, pendengaran lebih penting ketimbang penglihatan dalam proses penginderaan, belajar, dan memperoleh ilmu pengetahuan. Apabila seseorang kehilangan penglihatannya, masih mungkin baginya untuk memelajari bahasa dan memperoleh ilmu pengetahuan. Tetapi apabila ia kehilangan pendengarannya, maka sulit sulit baginya untuk bisa mempelajari bahasa dan memperoleh ilmu pengetahuan.
Kedua, indera pendengaran langsung berfungsi setelah seorang anak lahir, dimana anak itu begitu lahir, langsung bisa mendengar suara. Sementara untuk melihat sesuatu dengan jelas, ia membutuhkan  waktu beberapa lama. Ketiga, fungsi indera pendengaran berlangsung terus menerus, tanpa terhenti, sementara indera penglihatan kadang-kadang terhenti fungsinya apabila seseorang memejamkan matanya atau apabila ia sedang tidur. Keempat, indera pendengaran bisa  mendengar baik apakah dalam keadaan terang maupun gelap. Sementara indera penglihatan hanya bisa dalam keadaan terang.
Pendengaran, dalam al-Qur’an disebutkan dalam bentuk mufrod, sedangkan penglihatan dalam kebanyakan ayat al-Qur’an disebutkan dalam bentuk jamak. Ini sendiri merupakan salah satu bukti kemu’jizatan komposisis al-Qur’an, di mana dalam hal ini indera pendengaran bisa menerima berbagai semua dari semua arah, sementara mata tidak bisa melihat kecuali apabila seseorang mengarahkan penglihatannya ke arah benda yang hendak dilihatnya.[8]
Alhasil, indera pendengaran merupakan instrumen (alat) yang paling pokok dan penting bagi setiap manusia untuk menyerap informasi yang berkaitan keberadaan alam semeta ini. Salah satu mu’jizat al-Qur’an adalah bahwa ia dibawa  dan disampaikan oleh seorang Nabi yang ummi (buta huruf), yang tak dapat membaca dan menulis, namun mampu mendengar.[9]
Akan tetapi, indera manusia mempunyai keterbatasan tersendiri, dan ia juga dapat keliru. Oleh karena itu, Alllah swt menganugerahkan perangkat yang lebih tingi, yaitu akal, yang dapat meluruskan kesalahan indera. Dengan rasio itu manusia dapat memahami segala yang dapat dipahaminya, seperti perhitungan matematis, pokok-pokok pemikiran, dan segala hal selain bentuk-bentuk parsial yang dapat diindra.[10]
E.     Aspek Tarbawi
Dari uraian di atas dapat di ambil beberapa aspek tarbawi sebagai berikut:
1.      Sebagai sumber ilmu pengetahuan, panca indera yang terdapat pada manusia mempunyai banyak kegunaan sebagai sarana mendukung dan melengkapi manusia untuk mencari ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum.
2.      Panca indera harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk hal – hal yang senantiasa diridhoi Allah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah.
3.      Bukti bahwa Islam tidak hanya menyuruh umatnya untuk mencari ilmu agama tetapi juga untuk mencari ilmu yang bersifat umum, serta bukti bahwa segala yang telah diberikan oleh Allah Swt. kepada manusia selalu ada manfaatnya

BAB III
PENUTUP
Simpulan
Baik secara etimologi, maupun terminologi, ilmu secara umum dapat juga diartikan sebagai pengetahuan. ). Seorang filosof yang meninjau ilmu, John G. Kemeny, juga memakai arti semua pengetahuan yang dihimpun dengan perantaraan metode ilmiah (all knowledge collected by means of the scientific method).
Indera atau indria merupakan alat penghubung/kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan. Indera sebagai sumber pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh manusia melalui kelima inderanya, yakni mata, hidung, perasaan (kulit), telinga dan lidah.
Di dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang indera, diantaranya dalam Q.S al-Nahl ayat 78, Q.S al-Mukminun ayat 78. Q.S al-Mulk ayat 23, Q.S al-Sajdah ayat 9, dan lain sebagainya.
Setiap orang normalnya memiliki lima / panca indera yang berfungsi dengan baik untuk menangkap rangsangan sehingga dapat memberikan respon sesuai dengan keinginan atau sesuai dengan insting kita.
Namun disini, al-Qur’an cukup mengemukakan pendengar dan penglihatan sebagai dua alat indera saja, karena pertama, signifikasi yang begitu penting dari kedua indera itu dalam proses tanggapan panca indera. Kedua, penyebutan keduannya cukup menjadi indikator tentang pentingnya panca indera yang lain dalam proses tanggapan panca indera.







DAFTAR PUSTAKA

Durrah, Muhammad as-Sayyid Yusuf Ahmad, Pustaka Pengetahuan al-Qur’an, (Jakarta: PT. Rihal Publik)
Najati, Mohammad Utsman.1997.Terjemah Al-Qur’an wa Ilmu al-nafs, (Pustaka: Bandung)
Najati, Muhammad Utsman,  Psikologi dalam Al-Qur’an (Terapi Qur’ani dalam Penyembuhan Gangguan Jiwa), (Bandung: CV. Pustaka Setia)
Qardhawi, Yusuf, As-Sunah Msdaran lil Ma’rifati wal Hadharati, (Jakarta: Gema Insani Press)
Syafi’I,  Imam. 2000. Konsep ilmu pengetahuan dalam al-qur’an, ( Yogyakarta : UII Press)
 http://www.referensimakalah.com/2012/11/indera-sebagai-sumber-pengetahuan.html

















BIODATA PENULIS
Nama                                                  : Ulfa Faza
Tempat, Tanggal Lahir                    : Pekalongan, 21 Mei 1995
NIM                                                    : 2021113176
Alamat                                                : Jl.Otto Iskandardinata kel.Kali Baros
Riwayat Pendidikan Formal            :
·         SD Negeri Sokorejo
·         SMP Negeri 6 Pekalongan
·         MA NU Nurul Huda Semarang
Riwayat Pendidikan non Formal    :
·         TPQ Miftahul Huda Sokorejo
·         Madrasah Diniyah Sokorejo
Motto                                                   : Nothing is Impossible, because If You Think You Can! You Can!











[1] Imam Syafi’I, Konsep ilmu pengetahuan dalam al-qur’an, ( Yogyakarta : UII Press, 2000), hlm.25-27
[5] Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an (Terapi Qur’ani dalam Penyembuhan Gangguan Jiwa), (Bandung: CV. Pustaka Setia), hlm.198-199.
[8] Mohammad Utsman Najati, Terjemah Al-Qur’an wa Ilmu al-nafs, (Pustaka: Bandung, 1997), hlm.135-138.
[9] Muhammad as-Sayyid Yusuf Ahmad Durrah, Pustaka Pengetahuan al-Qur’an, (Jakarta: PT. Rihal Publik), hlm.6.
[10] Yusuf Qardhawi, As-Sunah Msdaran lil Ma’rifati wal Hadharati, (Jakarta: Gema Insani Press), hlm.147.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar