Laman

Selasa, 19 April 2016

TT H 8 D "Ta’awudz sebelum baca Qur’an"



Tafsir Tarbawi
ADAB MEMBACA AL-QURAN 
"Ta’awudz sebelum baca Qur’an"


Sefti nurul hidayati (2021114243)
Kelas : H
 
JURUSAN TARBIYAH PAI
       SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016



KATA  PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Adab Membaca Al Qur’an”. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, sahabatnya, keluarganya, serta segala umatnya hingga yaumil akhir.
Makalah ini disusun guna menambah wawasan pengetahuan mengenai Ayat-ayat al-quran, yang berguna bagi umat muslim. Makalah ini disajikan sebagai bahan materi dalam diskusi mata kuliah Tafsir Tarbawi II STAIN Pekalongan.
Penulis menyadari bahwa kemampuan dalam penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna. Penulis sudah berusaha dan mencoba mengembangkan dari beberapa referensi mengenai sumber ajaran islam yang saling berkaitan. Apabila dalam penulisan makalah ini ada kekurangan dan kesalahan baik dalam penulisan dan pembahasannya maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca.
Akhir kata, semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman. Amin yaa robbal ‘alamin.



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Al-quran adalah kamulah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril sebagai suatu mu’jizat yang paling agung.
Bahwasannya Allah yang maha agung serta mulia mempunyai para ahli dari golongan manusia. Dikatakan” Siapakah mereka ya Rasullullah? Rasulullah SAW bersabda :ah-lu al-quran , mereka adalah Ahlullah yang telah dikhususkan dan telah diistimewakanoleh Allah.
Allah SWT tidak akan menerima suatu amal perbuatan kecuali perbuatan itu yang dilakukan dengan ikhlas,tulus serta benar maksud ketulusan atau kemurniannya suatu perbuatan itu sendiri adalah sesuatu yang dituntut untut dilakukan semata pada Allah SWT, sedangkan kebnaran suatu perbuatan yakni sesuai dengan dasar-dasar tuntutan syar’i.
Oleh karena itu bagi pembaca Al-Quran hendaknya melakukan serta menyiapkan suatu yang berhubungan dengan adab-adab ketika membaca Al-Quran dengan baik dan benar , belajar ilmu tajwid kita harus belajar dan mengetahui adab (tata krama) ketika membaca Al-quran.

B.     INTI HADITS
QS. An-Nahl 16 : 98
#sŒÎ*sù |Nù&ts% tb#uäöà)ø9$# õÏètGó$$sù «!$$Î/ z`ÏB Ç`»sÜø¤±9$# ÉOŠÅ_§9$# ÇÒÑÈ  
98. Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.
Maksudnya : jika kamu hendak membaca al-quran, maka memohonlah kepada Allah agar melindungimu dari godaan setan yang terkutuk , supaya dia tidak mengacaukan bacaanmu,tidak pula menghalangi-halangimu dari memikirkan dan merenungkannya sebagaimana firman allah :

QS Ar-araf 7:201
žcÎ) šúïÏ%©!$# (#öqs)¨?$# #sŒÎ) öNåk¡¦tB ×#Í´¯»sÛ z`ÏiB Ç`»sÜø¤±9$# (#r㍞2xs? #sŒÎ*sù       Nèd tbrçŽÅÇö7B ÇËÉÊÈ  
201. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.( QS Ar-araf 7:201)[1]






















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Penjelasan tentang Qs An-nahl 16:98
Imam syafii mengatakan Allah berfirman
#sŒÎ*sù |Nù&ts% tb#uäöà)ø9$# õÏètGó$$sù «!$$Î/ z`ÏB Ç`»sÜø¤±9$# ÉOŠÅ_§9$# ÇÒÑÈ  
98. apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

Ar-rabi memberi tahu kami katanya imam syafi’i memberi tahu kami, dia bercerita, ibrahim bin muhammad bercerita kepada kami,dari saad bin ustman,dari salih bin abu shaleh berkata “ dia pernah mendengar abu Hurairah mengumami orang-orang dalam shalat wajib seraya mengucapkan dengan suara keras  

رَبَنَا إِنَّا نَعُودُ بِكَ مِنَ الشَيْطَا نِ الرَّجيِمِ
‘Wahai Rabb kami,kami berlindung kepada-Mu dari setan yang terkutuk
Kalimat tersebut juga dibacakan setelah ulumul Quran
Imam syafi’i mengatakan ibnu umar pern..a.h. .mengucapkan ta’awwudz didalam hati, seseorang boleh melakukan mana saja dari keduanya, dengan suara keras ataupun pelan , ada juga diantara mereka yang membaca ta’awwudz saat membaca iftitah , sebelum membaca ulumul quran. [2]





            Aku juga menyukai bila seseorang membaca “Audzubil.ahiminassyaitonirjim” apabila dia sudah membaca ayat tersebut maka ucapan apasaj yang diawali dengan bacaan ta’awwudz tersebut dibolehkan , dia boleh mengucapnya dipermulaan rakaat. Ada juga yang berpendapat jika dia mengucapkannya saat memulai rakaat sebelum membaca al-quran maka demikian itu bagus .
Aku tidak menyarankan kalimat itu dibaca dalam shalat tertentu, aku hanya menyarankan supaya dibaca permulaan rakaat. Kalau toh, seseorang tidak membacanya karena lupa, tidak tahu,atau karena sengaja, maka tidak harus mengulangi shalatnya atau melakukan sujud sahwi, akan tetapi,aku memakhruhkan seseorang yang meninggalkannya secara sengaja.
Apabila dia membacanya dirokaat pertama, maka aku suka bila dia membacanya dirakaat yang lain. Yang menghalangiku menyuruhku mengulang shalatnya adalah fakta yang pernah dilakukan oleh rasullullah.

Penjelasan tentang Qs Ar-araf 7:204
QS. Al A`raf 7 : 204
#sŒÎ)ur ˜Ìè% ãb#uäöà)ø9$# (#qãèÏJtGó$$sù ¼çms9 (#qçFÅÁRr&ur öNä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇËÉÍÈ  
204. dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat[591].

Maksudnya: jika dibacakan Al Quran kita diwajibkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam sembahyang maupun di luar sembahyang, terkecuali dalam shalat berjamaah ma'mum boleh membaca Al Faatihah sendiri waktu imam membaca ayat-ayat Al Quran. [3]




B.     Teori Pengembangan
Setelah allah Swt., menyebutkan keistimewaan-keistimewaan al-quran merupakan ayat-ayat yang terang bagi kaum mukminin petunjuk dan rahmat, maka dilanjutnya dengan menerangkan petunjuk-petunjuk yang menerangkan petunjuk-petunjuk yang menunjuk kearah jalan yang mengantarkan seseorang sehingga memperoleh tuntutan dari al-quran itu. Dan mendapatkan manfaat-manfaat besar yang terkandung didalamnya yaitu dengan cara mendengarkan bila Al-quran itu dibacakan.
Penafsiran kata-kata sulit
Bersifat lebih khusus daripada as-sam’u : qãèÏJtGó$$sù
Karena Al-istima (mendengarkan) dilakukan dengan niat dan sengaja, yakni dengan mengarahkan indera pendenngaran kepada pembicaraan untuk memahaminya sedangkan as-sam’u (mendenar) bisa terjadi tanpa sengaja Terdapat bermacam-macam riwayat mengenai tempat penerapan perintah mendengarkan  dan diam ketika dibacakan Al-quran ini.
Sebagian ulama berpendapat bahwa tempat pelaksanaan perintah ini dalaha  didalam shalat wajib. Ketika imam membaca Al-quran dengan keras, maka makmum wajib mendengarkan dengan baik dan diam dengan memperhatikan.
Tidak boleh membaca ketika imam sedang membaca dengan keras, tidak boleh melawan imam dengan bacaan Al-quran. [4]
Hal itu diriwayatkan oleh ahmad dan ashhababus-sunan dan tirmidzi berkata mengenai hadist ini “ ini adalah hadist hasan” disahkan oleh Abu Hatim ar-razi dari Hadist Abu Hurairah bahwa Rasullullah selesai shalat yang disan abeliau membaca dengan nyaring, lalu beliau bertanya “ tadi ada seseorang diantara kalian yang membaca Al-quran bersamaku?”seseorang menjawab “ Benar” wahai Rasullullah, beliau bersabda” mengapa saya dilawan membaca al-quran ? setelah mendengar hal itu , maka orang-orang pun berhenti membaca Al-quran bersama Rasullullah dalam shalat yang beliau membaca dengan nyaring padanya.
Sesungguhnya banyak orang yang mengalami kerugian yang tidak ada bandingannya karena berpaling dari Al-quran ini . sesungguhnya satu ayat kadang-kadang dapat menciptakan didalam jiwa ketika mendengarnya dengan baik dan memperhatikannya dengan tenang dan bermacam-macam keajaiban yang berupa kesan,pengaruh,respon,pengetahuan,ketenangan dan ketentraman.
Juga mendapat pengetahuan yang jauh dan cemerlang yang hanya didapat oleh orang yang merasakan dan memahaminya.
Menyendiri dengan Al-quran dengan penuh perenungan dan pemahaman, bukan sekedar membaca dan melagukannya akan menimbulkan pengetahuan yang jelas dan jauh jangkauannya dalam pikiran dan hati.
Perbuatan itu akan menimbulkan pengertian yang menentramkan dan lurus dan akan menimbulakn kehangatan, daya hidup,dan kemerdekaan pikiran, juga akan menimbulkan respon, kemauan, dan tekad yang kuat yang tidak dapat ditandangi oleh hasil penelitian ,pengetahuan atau pengaaman kita.
Sesungguhnya melihat hakikat-hakikat alam semesta dari celah-celahpelukisan Al-quran dan melihat hakikat dalam kehidupan , melihat kehidupan manusia dan tabiat beserta kebutuhan-kebutuhannya dari celah-celah ketetapan Al-quran, sungguh merupakan pemandangan yang membawanya kepada roh lain. Yang berbeda dengan semua pelukisan dan ketetapan yang dibuat oleh manusia.Semua ini lebih diharapkan dapat mendatangkan rahmat, baik didalam shalat maupun diluarnya. [5]
Tidak terdapat dalil yang mengkhususkan pengarahan umum al-quran ini dalam shalat saja . sebagaimana telah diriwayatkan oleh al-qurtbuti dari An-nahhas.
            Menurut beberapa Ahli al-quran menyebutkan mempelajari dan membaca Al-quran yaitu:
·         Dalam keadaan suci, maksudnya Disini yaitu tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan seperti berwudhu juga memahami makna dan kandungan Al-quran tidak mudah kecuali telah memiliki kesucian rohani dan Akhlak.
·         Tawakal kepada Allah Swt maksudnya disini Hendaknya memulai baca Al-quran dengan berlindung kepada Allah swt dari godaan setan yang terkutuk. Berlindung disini tidak boleh sebatas ucapan lisan,tetapi mesti keluar dari hati agar ketika seseorang membaca al-quran terlindung dari godaan setan, mendekat pada sifat-sifat Allah swt sehingga terangkat dari dirinya semua penghalang pikiran untuk memahami kalimat yang benar dan benar-benar bisa menangkap keindahan hakikat.
·         Membaca dengan tartil
Hendaknya membaca al-quran dengan tartil, tartil adalah membaca secara tertib disertai perenungan. Sebuah ayat mengatakan: dan bacalah Al-quran secara tartil, dan janganlah membaca al-quran dengan terburu-buru ataupun terlambat, bacalah dengan perlahan-lahan dan tenang. Apabila pembacaanmu sampai pada ayat yang menyebutkanapi neraka, hendaknya berhenti lalu renungkanlah, selanjutnya berlindunglah kepada Allah darinya.
·         Tadabur dan tafakur.
Dalam Hadist Rasulullah saw bersabda: Bacalah al-quran dengan fasih dan jelas, ambillah pembelajaran dari keterangan-keterangan yang menakjubkan padanya.[6]




C.     Aplikasi Hadist dalam kehidupan.
Hal yang tidak diperbolehkan ketika membaca alquran yaitu,dengan bahasa Ajam(selain bahasa arab) secara mutlak baik dia mampu bahasa arab atau tidak baik diwaktu shalat atau diluar shalat. Dan dimakruhkan untuk menjadikan al-quran itu sumber Rizki, dan dimakruhkan  untuk memotong bacaan untuk berbicara dengan orang lain. [7]
D.    Nilai tarbawi/pendidikan.
Ø  Kita harus mewaspadai dari godaan setan, meski kita disaat melakukan perbuatan baik seperti membaca al-quran
Ø  Kita harus meminta lindungan dari Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Ø  Kita dapat mengetahui adab(tatakrama) dalam membaca Al-Quran.
Ø  Kita dapat mengetahaui keutamaan antara menbaca dari Mushaf dan membaca dari hafalan.
Ø  Dan mengetahui cara-cara atau metode membaca Al-Quran denagn baik dan benar.



BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Beberapa adab ketika membaca Al-quran artinya : disunahkan untuk wudhu , membaca ditempat disuci,bersiwa,menghadap kiblat, dll
Perbedaan pendapat tentang mengeraskan suara ketika membaca Al-Quran, kemudian Imam Manawi berkata bahwa pengumpulan kedua hadist itu bahwasannya membaca dengan lirih itu lebih baik jika dikhawatirkan akan riya, mengganggu orang yang sedang shalat dan tidur. Adapun membaca dengan suara keras itu juga lebih baik pada waktu yang lainnya , karena membaca dengan keras itu banyak faidahnyaseperti : memperbanyak amal, menghilangkan rasa ngantuk, dan menambah semangat.
Membaca dari Mushaf itu lebih baik dari pada membaca dari hafalan,namun terdapat salah satu pendapat yang menyatakan bahwa menbaca dari hafalan itu lebih baik daripada membaca dari mushaf.
Perselisihan ulama tentang lebih utama makkah membaca sedikit dengan tartil ataupun membaca dengan cepat dan banyak tanpa tartil.
Hal-hal yang dilarang dang dilarang dan dimakruhkan ketika membaca al-quran seperti membaca dengan bahasa ajam,membaca al-quran sebagai sumber rizki.



[1] Imam jalaluddin Al-mahalli dan imam jalaluddin As-suyuti,terjemahan tafsir jalalin berikut Asbabul Nuzul jilid I,(Bandung:penerbitsinar baru algensindo,2008-2009)hal667-669.

[2] Mu’ammal Hamidy dkk,terjemahan tafsir ayat ahkam, (surabaya,PT Bina Ilmu 2003) hal:
[3] Ibid hlm:
[4] Hamka,Tafsir Al-azhar juz XIII-XIV(jakarta:pustaka panjimas,2004) hal:
[5] Imam ghazali Masyur dkk,Terjemahan tafsir (jakarta:Al-maira 2008)hal:
[6] Yusuf anas,bertuhan dalam pusaran zaman:100 pelajaran penting akhlak dan moralitas,(jakarta:penerbit citra 2013) hal:
[7] Syayid Kutub, fizilah Qur’an(jakarta:gumaimimper,2003) hal:



DAFTAR PUSTAKA

Al-mahalli, Imam jalaluddin dkk. 2009. Terjemahan tafsir jalalin berikut Asbabul Nuzul jilid I. Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo.
Hamidy, Mua’ammal dkk. 2003.Tterjemahan tafsir ayat ahkam. Surabaya: PT Bina Ilmu.
Hamka. 2004. Tafsir Al-azhar juz XIII-XV. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Masyur, Imam Ghazali dkk. 2008. Terjemahan tafsir. Jakarta: Al-maira.
Anas, Yusuf. 2013. Bertuhan dalam pusaran zaman:100 pelajaran penting akhlak dan moralitas. Jakarta: Penerbit Citra.

Kutub, Syayid. 2003.  Fizilah Qur’an. Jakarta: Gumaimimper.

TENTANG PENULIS

Nama                   : Sefti Nurul Hidayati
TTL            : Brebes, 29 September 1996
Alamat        : Ds. Karangmalang Kec. Ketanggungan Kab. Brebes


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar