Laman

Minggu, 24 April 2016

TT H 9 A "JANGAN SEKALI-KALI MENGEJEK ORANG"


Tafsir Tarbawi
ADAB PERGAULAN GLOBAL
"JANGAN SEKALI-KALI MENGEJEK ORANG"

 Dewi Astini
2021114034
Kelas H

JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Alhamdulillah, Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat serta karunia-Nya kepada kita. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Sehingga makalah yang berjudul “JANGAN SEKALI-KALI MENGEJEK ORANG” telah terselesaikan dengan baik meskipun banyak terdapat kekurangan. Pada kesempatan ini perkenankan penulis menyampaikan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah berjasa dalam penyelesaian makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik yaitu kepada Bapak Ghufron Dimyati,  M.S.I yang telah membimbing dalam penyusunan makalah ini dan juga kepada teman- teman STAIN Pekalongan mata kuliah Tafsir Tarbawi II terutama yang telah banyak membantu dalam pembuatan makalah ini.
 Apabila dalam penyusunan makalah masih terdapat banyak kekurangan, penulis mohon maaf dan meminta saran maupun  kritik yang membangun dari pembaca, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum Wr.Wb


Pekalongan, 20 Maret 2016

           
 Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada hakikatnya manusia itu sama dihadapan Tuhannya yang membedakan hanya amal perbuatan manusianya saja. Sehingga tidaklah baik jika sesama manusia saling menjelek-jelekan, mencela hingga menggolok-olok dalam pergaulannya sesama manusia terutama sangatlah buruk jika mengolok-ngolok yang dilakukan oleh umat muslim yang notabene adalah saudara sendiri antara umat muslim satu dengan umat muslim yang lainnya. Sehingga budi yang baik dan kesopanan yang beretika dalam pergaulan global sangatlah perlu agar terhindar dari sikap keras dan sombong yang menjadikan umat menjelek-jelekan lainnya dan merasa dirinya paling hebat diantara lainnya. Seperti yang ada pada Qs. Al-Hujurat 49:11.
B.     Inti Ayat
Di dalam surat Al Hujurat 49:11  ini diajarkan adab sopan santun hidup diantarasesama Muslim sehingga segala ayat yang menganjurkan bersikap lemah lembut antar sesama kita berlaku hormat, jangan menjelek-jelekan, mencela dan mengumpat, semuanya itu selalu dimulai dengan seruan “ Wahai orang-orang yang beriman” menjadi bukti yang harus direnungkan bahwasanya diantara iman dengan sopan santun dalam pergaulan hidup tidalah dapat dipisahkan.
C.    Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang  yang telah dibahas perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan pembahasan dalam kajian ini. Adapun rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana definisi dari Qs. Al-Hujurat 49:11 jangan sekali-kali mengejek orang ?
2.      Adakah hadits atau ayat pendukung dari Qs. Al-Hujurat 49:11 ?
3.      Bagaimana teori pengembangan dari Qs.Al-Hujurat 49:11 ?
4.      Bagaimana aplikasi dari Qs. Al-Hujurat 49:11 tersebut dalam kehidupan sehari-hari ?
5.      Apa saja nilai tarbawi yang terkandung dalam QS. Al-Hujurat 49:11

























BAB II
PEMBAHASAN


A.    Definisi Judul
Manusia sebagai mahluk sosial pastinya akan selalu bergaul dan berhubungan dengan manusia lainnya karena hakikat manusia yang tidak bisa hidup sendiri dan selalu bergantung satu-sama lain. Dalam pergaulannya manusia dihadapkan oleh pergaulan global yang semakin mendunia dan bebas yang menuntut agar manusia bisa hidup modern namun tidak lupa agar selalu memawas diri agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang negativ dan rusak.
            Dalam hubungan dan pergaulan sosial yang sampai pada pergaulan global manusia dihadapkan dengan karakter orang yang berbeda dan kemampuan maupun bakat yang dimiliki manusia juga beraneka ragam dan tentunya berbeda.
            Menyikapi perbedaan ini sebagai manusia haruslah bertoleransi terhadap sesama manusia pada umum nya dan sesama muslim khususnya. Seperti dalam QS. Al-Hujurat 49:11


Quran, Surah Al-Hujurat, Ayat 11

“Wahai orang-orang yang beriman!, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum lainnya (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain. Dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik)  sesudah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

“Wahai orang-orang yang beriman”, (Pangkal ayat 11). Ayat ini akan jadi peringatan dan nasehat sopan santun dalam pergaulan hidup kepada kaum yang beriman. Itu pula sebabnya maka di pangkal ayat orang-orang yang beriman juga yang diseru; “Janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain”. Mengolok-olok, menjelekan, menghina, merendahkan dan seumpamanya, janganlah semuanya itu terjadi dalam kalangan orang yang beriman; Boleh jadi mereka yang diolok-olokan itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan)” Inilah peringatan yang halus dan tepat sekali dariAllah Swt. Menjelek-jelekan, mengolok-olok, mengejek dan lain-lain tidaklah layak dilakukan kalau orang merasa dirinya orang yang beriman. Sebab orang yang beriman akan selalu menilik kekurangan yang ada pada dirinya. Maka dia akan tahu kekurangan yang ada pada dirinya itu. Hanya orang yang tidak beriman jualah yang lebih banyak melihat kekurangan orang lain dan tidak ingat akan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri. “ Dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olokkan kepada wanita yang lain; (yang memperolok-olokkan)”. Dari pada larangan ini nampaklah jelas bahwasanya orang-orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan  dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan yang ada pada dirinya sendiri.
            Maka dalam ayat ini bukan saja laki-laki yang dilarang memakai perangai yang buruk itu, bahkan perempuan pun demikian pula. Sebaliknya hendaklah kita memakai perangai tawadhu’, merendahkan diri, menginsafi kekurangannya. “ Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain”. Sebenarnya pada asalnya kita dilarang keras mencela orang lain, dan ditekankanlah dalam ayat ini dilarang mencela diri sendiri. Sebabnya ialah karena mencela orang lain itu sama saja kita mencela diri sendiri. Kalau kita sudah berani mencela orang lain pun sanggup membuka rahasia kita sendiri. Sebab itu maka mencela orang lain itu sama saja mencela diri sendiri.
            “Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk”. Asal-usul larangan ini adalah kebiasaan orang zaman jahiliyah memberikan gelar dua tiga kepada seseorang menurut perangainya. Maka dalam ayat ini datang anjuran lagi bagi kaum yang beriman, supaya janganlah menghimbau teman dengan gelaran-gelaran yang buruk. Sebaiknya ditukar dengan bahasa yang lebih baik yang dapat menyenangkan hatinya.
            Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. Dan peringatan Allah terakhir dalam surat ini bahwasanya haruslah bertaubat atas orang-orang yang telah berbuat demikian itu agar tidak menjadi orang-orang yang zalim.
            Dalam Qs. Al-Hujurat 49 : 11 memberikan peraturan, adab, dan sopan santun yang seharusnya dipakai oleh seorang Muslim di dalam hidup dan pergaulannya. Bukan saja berkasih sayang diantara sesama mereka dan disurat ini diaturlah bagaimana sopan santun, hidup yang teratur yang berkesopanan terhadap Rasul.
            Maka kesimpulan daripada Surat Al-Hujurat yang diartikan surat “bilik-bilik” ini adalah menunjukan budi dan kesopanan atau dalam bahasa yang halus pada sekarang ini adalah ETIKET dalam pergaulan seorang Muslim.[1]

B.     Hadits atau ayat pendukung
اَ لْكِبْرُ بَطْرُ الحقِ وَغَمْصُ النَّا سِ – رواه البخارى
            "Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia”. (Dirawikan oleh Bukhari).
Menjelek-jelekan, memperolok-olokkan, mengejek dan memandang rendah orang lain, tidak lain adalah karena merasa bahwa diri sendiri serba lengkap, serba tinggi dan serba cukup, padahal awaklah yang serba kekurangan. Segala manusia pun haruslah mengerti bahwa dalam dirinya sendiri terdapat segala macam kekurangan, kealpaan, dan kesalahan.

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
“Kecelakaanlah bagi setiap orang yang mengumpat dan mengejek.” (Al-Humazah ayat 1 )
            Humazah kita artikan mencedera, yaitu memukul orang dengan tangan. Lumazah kita artikan mencela, yaitu dengan mulut. Dan diartikan juga Humazah itu dengan sikap hidup yang tidak merasa senang, diam, gelisah berjalan kian kemari. Tidak lain menyebar fitnah membusuk-busukan orang lain. Maka dalam ayat ini dikatakan bahwa sikap demikian sama saja dengan mencelakakan diri sendiri, sebagaimana tersebut dalam ayat. Karena lama kelamaan tukang hasut dan hasung, fitnah dan menyebarkan berita busuk, mencela dan memaki itu tidaklah akan membuat senang hati orang yang menerimanya. Sebab itu Allah dengan keras melarang kita sebagai umat beriman agar tidak mengolok-olok dan menjelekan sesama.

C.    Teori Pengembangan
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٌ مِّن قَوۡمٍ))
Wahai orang-orang yang beriman!, janganlah sekumpulan orang, ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi Tamim sewaktu itu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin. Ammar Ibnu Yasir dan Suhaib Ar-rumi. AS-Sukhriyah[2]. Artinya merendahkan dan menghina) yakni sebagian diantara kalianعَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرا مِّنۡہُمۡ  karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari pada mereka yang mengolok-olokkan disisi Allah Swt وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرًا مِّنۡہُنَّ (dan jangan pula wanita-wanita) diantara kalian mengolok-olokkan (وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ )dan janganlah sebagian kamu mencela sebagian yang lain dengan ucapan atau isyarat secara tersembunyi. , dan (وَلَا تَنَابَزُوْابِٱلأَلۡقَاٰب  ) (jangan pula panggil memanggil dengan gelar yang buruk بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَـٰنِ‌(seburuk-buruk nama), yaitu memperolok-olokkan orang lain, mencela, dan memanggil nama panggilan itu biasanya diulang-ulang.  (yang tidak bertaubat) dari perbuatan tersebut ( وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ  ) mereka itulah orang-orang yang zalim.[3]
Allah menyebutkan bahwa tidak sepatutnya seorang mukmin mengolok-olok terhadap mukmin lainnya atau mengejeknya dengan celaan ataupun hinaan, dan tidak patut pula memberinya gelar yang mengejek dan menyakiti hati. Alangkah buruknya perbuatan seperti itu.
Dan barang siapa yang tidak bertaubat setelah ia melakukan perbuatan seperti itu maka berarti dia berbuat buruk terhadap dirinya sendiri dan melakukan dosa besar.
Diriwatkan bahwa ayat ini turun mengenai delegasi dari Tamim. Mereka mengejek orang-orang fakir dari para sahabat Nabi Saw. Seperti Ammar, Shuhaib, Bilal, Khabbab, Ibnu Furairah, Salman Al-Farisi dan Salim bekas budak Abu Huzaifah di hadapan orang-orang lain. Sebab mereka melihat orang-orang itu keadaannya compang-camping.
Dan ada pula yang meriwayatkan bahwa ayat ini turun mengenai Shafiyah bin Huyai bin Akhtab ra. Dia datang kepada Rasullullah saw. Lalu berkata,” Sesungguhnya kaum wanita itu berkata kepadaku, “Hai wanita Yahudi anak perempuan orang-orang Yahudi”. Maka Rasullullah Saw pun berkata kepadanya. “Tidaklah kamu katakan ayahku Harun, paman ku Musa dan suamiku Muhammad”.[4]

D.    Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari

Pada Hakikatnya manusia itu sama saja, sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan pada dirinya masing-masing tidakada manusia yang paling unggul dalam semua aspek karena Allah mencipatakan manusia sangat beraneka ragam dan tidak ada yang sama. Kita harus beradab sopan santun yang beretika untuk menjaga lisan kita terhadap sesama agar tidak menyakiti hati. Sehingga kita dalam kehidupan sehari-hari dapat mencontoh mereka yang lebih unggul dari kita untuk memotivasi pada diri kita sendiri agar sama seperti mereka yang lebih tinggi dan mampu bahkan kita bisa melebihinya. Dan jika kita melihat orang-orang yang dibawah kita maka kita kan bersyukur karena lebih baik dari pada mereka dan kita dengan rendah hati bisa membantu mereka agar mereka lebih baik lagi. Sehingga tidak ada yang saling menyakiti antar sesamanya.

E.     Aspek Tarbawi

1.      Dengan tidak mencela dan mengolok-olok sesama maka kita sebagai umat saling kasih mengasihi.
2.      Dengan kelebihan yang berbeda-beda antar manusia maka dapat dijadikan sebagai motivasi.
3.      Adab beretika yang baik menjaga perbuatan perkataan yang baik agar tidak menyakit hati sesama.
4.      Bertutur kata lembut dapat membahagiakan hati.
5.      Tidak mencari kesalahan dan keburukan orang lain.















BAB III
PENUTUP

Simpulan
Dari penjelasan dan isi dari Qs. Al-Hujurat49:11 dapat di ambil simpulan bahwa dalam berkehidupan kita harus memiliki Etika adab dan sopan santun dalam pergaulan antar sesama yang baik tidak saling mencaci, mengolok-olok, dan menjelekkan antar sesama manusia umum nya dan sesama Muslim khususnya yang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing yang beraneka ragam. Karena Allah sangat membenci umat yang mengolok-olok dan mencari kejelekan orang lain, itu merupakan perbuatan yang sangat buruk dan dibenci Allah Swt.




















DAFTAR PUSTAKA

Hamka, Tafsir l-Azhar Juzu’ ke- 26 ( Surabaya: Yayasan Latimojong,1980 )

Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-syuyuti , Tafsri Jallalain ( Sinar Baru Al Bensindo)

Ahmad Isawi Muhammad ,Tafsir Ibnu masud, ( Pustaka Azzam: 2009)

Musthofa Al-Maraghi, Tafsir al-Maragi ( Semarang: PT.Karya Toha Putra Semarang)



[1] Hamka, Tafsir l-Azhar Juzu’ ke- 26 ( Surabaya: Yayasan Latimojong,1980 ) hal 212
[2]Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-syuyuti , Tafsri Jallalain ( Sinar Baru Al Bensindo) hal 893-895
[3]Muhammad Ahmad Isawi ,Tafsir Ibnu masud, ( Pustaka Azzam: 2009), hal.928
[4]Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Tafsir al-Maragi ( Semarang: PT.Karya Toha Putra Semarang), hal. 221

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar