Laman

new post

zzz

Selasa, 13 September 2016

SBM G 2 PEMBELAJAR, GIZAG DAN USWAH

PEMBELAJAR, GIZAG DAN USWAH
Khoirul Hidayat
Tantri Ega Dewanti
Hidayah Inayati
Nofi Agustin
Kelas G

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kami panjatkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para umatnya.
Makalah ini membahas tentang pembelajar gizag dan uswah salah satu Strategi dalam belajar mengajar yang baik dan makalah ini guna memenuhi tugas Strategi Belajar Mengajar.
Oleh sebab itu pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan Terima kasih yang sebesar-besarnya khususnya kepada Bapak Ghufron, selaku dosen pembimbing, saya menyadari bahwa dalam penulisan dan pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan untuk dapat menyempurnakannya di masa yang akan datang. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan teman-teman maupun pihak lain yang berkepentingan.


Pekalongan,  08 September 2016


Penulis
                                                                       



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah

Hakikat guru dalam menghadapi bentuk peluang dan tantangan pendidikan masa kini, hakikat guru tidak hanya menjadi seorang diri,akan tetapi menyatu dalam semua keragaman. Dalam dunia pendidikan guru seringkali dikatakan sebagai ujung tombak kemajuan peradaban suatu bangsa yang dinamis.Pendidikan didalamnya terdapat subjek yang dituju seperti subjek yang memberi dan menerima.Subjek yang memberi disebut pendidik sedangkan subjek yang menerima disebut peserta didik (pembelajar). Guru yang baik disamping melakukan transfer of knowledge (Pengajaran) juga melakukan transfer of value (pendidikan) yang dapat mengubah pola pikir masyarakat.Dan juga seorang pendidik memiki Gizag (kewibawaan) dan uswah (keteladanan) bagi peserta didik atau pembelajar.
Oleh sebab itu, perlu adanya pemahaman tentang peran guru sebagai tauladan dan menjaga kewibiwaannya. harapannyadengan mempelajari makalah ini kita dapat menjadi lebih paham.Makalah ini ringkas dan praktis agar dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca. Meskipun penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.Namun demikian penulis berharap risalah ini dapat bermanfaat.Kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan pada makalah ini.






BAB II
PEMBAHASAN

I.    TEORI
A.      Pembelajar
1.       Definisi Pembelajar
Pembelajar adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan.[1] Segala proses yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar, perubahan sebagai suatu proses hasil belajar dapat berbagai bentuk seperti kecakapan,kebiasaan,sikap dan lainnya meliputi dirinya,pengetahuan dan perbuatannya.[2]Menjadikan kegiatan belajar (proses mengubah tingkah laku menuju kondisi yang lebih baik) sebagai bagian dari kehidupan dan kebutuhan hidupnya. Manusia pembelajar belajar dari banyak hal, misalnya dari pengalaman keberhasilan atau kegagalan orang lain, pengalaman diri sendiri yang bersifat sukses atau yang bersifat gagal dari buku-buku, jurnal, majalah, koran, hasil-hasil penelitian, hasil observasi, hingga yang bersifat spontan.

2.       Ciri- ciri utama Pembelajar
Ada beberapa ciri utama yang mutlak ada untuk menjadi manusia pembelajar antara lain sebagai berikut :
1.   Rasa ingin tahu. Ini merupakan awal seseorang menjadi manusia berpengetahuan. Manusia yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi adalah pembelajar sejati.
2.   Optimisme. Inilah modal dasar bagi seseorang untuk tidak mudah menyerah dengan aneka situasi. Adakalanya ketika orang pesimis tiba- tiba orang menghentikan usaha atau perjuangannya ketika sesungguhnya keberhasilan itu sudah amat dekat untuk dicapai.
3.   Keikhlasan. Orang orang yang ikhlas nyaris tidak mengenal lelah. Dia selal bergairah dalam setiap keadaan. Banyak siasat, srategi atau akal baru yang dihasilkannya ketika ia berpikir dan memutuskan untuk berbuat.
4.   Konsistensi. Begitu banyak orang yang bekerja dalam format “keras kerak, yang tersiram air sedikit saja menjadi lembek”, “tergoda dengan hal baru lalu meninggalkan keputusan yang telah dibuat dan telah dicoba dijalankan”, dan sebagainya. Disinilah pentingnya sikap konsistensi.
5.   Pandangan  visioner.  Pandangan jauh kedepan, melebihi batas-batas pemikiran orang kebanyakan. Mereka yang termasuk kelompok ini jarang sekali tergoda untuk melakukan apa saja untuk hasil yang instan, mengejar target jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.[3]

Menurut Sutari Imam Bernadib, pembelajar sangat tergantung dan membutuhkan bantuan dari orang lain yang memiliki kewibawaan dan kedewasaan.

B.      Gizag
1.       Definisi Gizag
Gizag atau kewibawaan adalah sikap atau pembawaan yang dapat mempengaruhi dan menguasai orang lain atau memimpin yang penuh kemampuan dan daya tarik[4]
Menurut Abu Ahmadi, kewibawaan adalah suatu daya yang memengaruhi yang terdapat pada seseorang sehingga orang lain yang berhadapan dengan dia secara sadar dan sukarela menjadi tunduk dan patuh kepadanya, jadi sesorang yang memiliki kewibawaan akan dipatuhi secara sadar, dengan tidak terpaksa, dengan tidak merasa/ diharuskan dari luar, dengan penuh kesadaran, keinsyafan, tunduk, patuh, dan menuruti semua yang dikehendaki oleh pemilik kewibawaan itu.
Kewibawaan juga disebut gezag, berasal berasal dari kata zeggen yang berarti berkata. Siapa yang perkataanya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti dia mempuyai kewibawaan. Kewibawaan tersebut ada pada orang dewasa, terutama pada orang tua. Kewibawaan yang ada pada orangtua adalah natural dan orisinil, hal ini disebabkan  orang tua langsung diperintahkan oleh Allah untuk mendidik anak-anaknya.
Adapun kewibawaan orang tua sebagai pendidik memiliki sifat sebagai berikut.
a)  Kewibawaan Pendidikan
Ini berarti bahwa kewibawaan orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anak agar mereka dapat hidup mandiri dan sehat jasmani serta ruhaninya.Perbawa pendidikan ini berakhir jika anak sudah dewasa.
b)  Kewibawaan Keluarga
Orang tua merupakan kepala suatu keluarga. Tiap-tiap anggota keluarga harus patuh terhadap peraturan-peraturan di keluarga yang sesuai denagn norma-norma di masyarakat dan norma agama. Kewibawaan keluarga ini bertujuan pemeliharaan dan keselamatan keluarga.
Berbeda dengan orang tua, kewibawaan guru berasal dari jabatannya sebagai seorang guru. Kewibawaan guru memiliki dua sifat, yaitu :
a)Kewibawaan Pendidikan
Guru sebagai pendidik telah diserahi sebagian dari tugas orangtua untuk mendidik anak-anaknya. Kewibawaan yang dimiliki oleh guru terbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan kepadanya.
b)Kewibawaan Memerintah
Dengan jabatannya sebagai seorang pendidik, guru mempunyai kekeuasaan untuk memimpin anak-anak dalam proses pendidikan[5]

2.       Macam-macam Gizag (Kewibawaan)
Ditinjau dari mana daya yang mempengaruhi yang ada pada seseorang ini ditimbulkan maka kewibawaan dapat dibedakan menjadi berikut.
a.      Kewibawaan lahir
Kewibawaan lahir merupakan kewibawaan yang timbul karena kesan-kesan lahir seseorang.Misalnya, benruk tubuh yang tinggi besar, pakaian yang lengkap dan rapi, tulisan yang bagus, suara lenting, dan lain-lain.
b.     Kewibawaan batin
Kewibawaan batin ini ditimbulkan oleh :
a)       Adanya kelebihan batin adalah Seorang guru yang menguasai bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya bia berlaku adil dan objektif dan bijaksana. Sikap-sikap tersebut dapat menimbulkan kewibawaan pada dirinya.
b)       Adanya ketaatan kepada norma adalah Kewibawaan ini timbul karena tingkah laku seorang guru selalu mematuhi norma-norma yang berlaku.

C.  Uswah
1.   Definisi Uswah
 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, bahwa keteladanan dasar katanya ”teladan” yaitu: ”(perbuatan atau barang dsb,) yang patut ditiru dan dicontoh. Dalam bahasa Arab keteladanan diungkapkan dengan kata ”uswah” dan ”qudwah”.
Pengertian yang diberikan oleh Al-Asfahani, bahwa ”al-uswah” berarti suatu keadaan ketika seorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan, kejahatan, atau kemurtadan.
Keteladanan yang dikembangkan  di sekolah adalah keteladanan secara total, tidak hanya dalam hal yang bersifat normatif saja seperti ketekunan dalam beribadah, kerapian, kedisiplinan, kesopanan, kepedulian, kasih sayang, tetapi juga hal-hal yang melekat pada tugas pokok atau tugas utamanya.
Membangun keteladanan tidak ubahnya seperti membangun kultur (budaya), watak dan kepribadian. Pada awalnya terasa sulit dan perlu perjuangan atau lebih tepatnya disebut jihad. Tetapi, setelah terbentuk dan dirasakan manfaatnya, justru menjadi sebuah kebutuhan.[6]Guru yang dapat diteladani hakikatnya adalah guru anak didiknya sepanjang hayat mereka bahkan lebih dari itu, yaitu sepanjang masa karena keteladanannya mereka teruskan kepada generasi sesudah mereka dan seterusnya.
Keteladanan adalah kunci keberhasilan, termasuk keberhasilan seorang guru dalam mendidik anak didiknya.Syair Arab mengatakan,“Qawul ul-hal afshah min lisani ‘l-maqal (keteladanan lebih fasihdaripada perkatann)”. Dengan keteladanan guru, siswa akan menghormatinya, memperhatikan pelajarannya. Inilah implementasi etika religius dalam proses pembelajaran yang sungguh mampu menggerakkan pikiran, emosi dan nurani siswa meraih keberhasilan. Implementasi etika religius itu harus dimulai dari yang paling atas, yaitu kepala sekolah.[7]

2.   Landasan teori metode uswah
Sebagai pendidikan yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, metode keteladanan tentunya didasarkan kepada kedua sumber tersebut. Dalam Al-Qur’an “keteladanan” diistilahkan dengan kata “uswah”, kata ini diantaranya terdapat dalam Al-Qur’an (Q.S. al-ahzab [33]: 21).
Artinya: “Dan sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan (bertemu dengan) Allah dan hari kemudian dan yang mengingat Allah sebanyak-banyaknya”. (Q.S al-ahzab [33]: 21).
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad SAW ke permukaan bumi ini adalah sebagai contoh atau tauladan yang baik bagi umatnya.Beliau selalu terlebih dahulu mempraktekkan semua ajaran yang disampaikan Allah sebelum menyampaikannya kepada umat, sehingga tidak ada celah bagi orang-orang yang tidak senang untuk membantah dan menuduh bahwa Rasulullah hanya pandai berbicara dan tidak pandai mengamalkan.
Oleh karena itu Rasulullah merupakan tauladan terbesar buat umat manusia di dalam sejarah manusia. Beliau adalah seorang pendidik, seorang yang memberi petunjuk kepada manusia dengan tingkah lakunya sendiri terlebih dulu sebelum dengan kata-kata yang baik[8]
3.   Urgensi Uswah dalam Pelaksanaan Pendidikan
Metode keteladanan sebagai suatu metode digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dengan membwa contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun mental dan memiliki akhlak yang baik dan benar.Keteladanan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pendidikan ibadah, akhlak, kesenian dll.
Sebagai seorang guru, seharusnya tidak cukup hanya memberikan prinsip saja, karena yang lebih penting bagi siswa adalah figur yang memberikan keteladanan dalam menerapkan prinsip tersebut. Sehingga sebanyak apapun prinsip yang diberikan tanpa disertai contoh tauladan, ia hanya akan menjadi kumpulan resep yang tidak bermakna.
Sungguh tercela seorang guru yang mengajarkan suatu kebaikan kepada siswanya sedangkan ia sendiri tidak menerapkannya sehari-hari.[9]






II. APLIKASI
Dalam proses belajar mengajar seorang pendidik harus sedapat mungkin memahami hakikat peserta didiknya yang merupakan subjek yang otonom, memiliki motivasi, hasrat, ambisi, cita-cita dan sebagainya. Diharapkan seorang pendidik itu harus menjalankan perannya yaitu sebagai pembelajar dengan sebaik mungkin, dalam menjalankan perannya tersebut seorang pendidik itu juga harus memiliki kewibawaan yang baik pula,  sehinggaia akan dipatuhi secara sadar oleh peserta didiknya dengan tidak terpaksa,dan menuruti semua yang dikehendaki oleh pendidik tersebut.
Selain itu seorang pendidik juga dijadikan suri teladan bagi peserta didiknya. Karena pada dasarnya fitrah manusia adalah meneladani. Fitrah tersebut berupa hasrat yang mendorong anak untuk meniru perilaku orang lain yang dilihatnya tatkala ia dalam masa pertumbuhan dan perkembangan dalam dirinya.
Beberapa unsur yang menyebabkan anak meneladani orang lain, yaitu:
Pertama, pada setiap anak ada dorongan dalam dirinya berupa keinginan halus yang tidak dirasakannya untuk meneladani orang yang dikagumi, baik dalam pembicaraan, cara gerak dan sebagian besar adat tingkah laku, yang semuanya itu tanpa disengaja. Peniruan ini tidak hanya terarah pada tingkah laku yang baik saja akan tetapi kepada yang lainnya.
Kedua, pada usia tertentu anak mempunyai kesiapan untuk meniru perilaku orang yang dijadikan idola dalam hidupnya.
Ketiga, dalam melakukan peniruan pada diri anak ada suatu tujuan yang bersifat naluriah. Setiap peniruan mempunyai tujuan yang kadang diketahui anak dan kadang tidak.
BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
           
Pembelajar adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. Di mana ia sangat memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah optimal kemampuannya.
Gizag adalah sikap atau pembawaan yang dapat mempengaruhi dan menguasai orang lain atau memimpin yang penuh kemampuan dan daya tarik.
Uswah dalam bahasa indonesia adalah keteladanan yang berarti perilaku baik yang dapat ditiru oleh orang lain (anak didik). Keteladan memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan karena secara psikologi anak didik banyak meniru sosok figurnya termasuk di antaranya adalah para pendidik.










DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam.Jakarta: Ciputat Pers.
Barizi, Ahmad. 2013. Menjadi Guru Unggul. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Danim, Sudarman. 2007. Menjadi Komunitas Pembelajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Quthb, Muhammad. 1993. Sistem Pendidkan Islam. Bandung : PT. Al-Ma’arif.
Wiyani, Novan Ardy & Barnawi. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz media.
Rohman, Arif. 2009. Memahami Pendidikan & Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Mediatama.
Soehardi. 2010. Kamus Populer Kepolisian. Semarang: Koperasi Wira Raharja.
Mustakim,Zaenal.2015.Strategi dan Metode Pembelajaran..Pekalongan:STAIN Pekalongan.




Nama: Khairul Hidayat
Nim: 2021114036
Alamat: Ds. Subah Kec. Subah Kab. Batang
Ttl: Batang, 19 Mei 1996

Nama : Tantri Ega Dewanti
Nim : 2021114044
Alamat : Ds Langensari kec.Kesesi kab.Pekalongan
Ttl :  Bekasi, 15 Agustus 1996
 










Nama: Hidayah Inayati
Nim: 2021114046
Ttl: 14 April 1996
Alamat: Ds. Pedagung Kec. Bantarbolang Kab. Pemalang
 




                                    




Nama: Nofi Agustin
Nim: 20211403
Ttl: Pemalang, 10 Agustus 1996
Alamat: JL. Bandeng RT 02/RW 04 No. 169, Sugihwaras Pemalang.
                                   




[1] Arif Rohman,Memahami Pendidikan & Ilmu Pendidikan.(Jakarta:Mediatama,2009),hlm. 105.
[2] Zaenal Mustakim,Strategi dan Metode Pembelajaran.(Pekalongan:STAIN Pekalongan ,2015),hlm.48.
[3] Sudarman Danim, Menjadi Komunitas Pembelajar, cet ke-2 (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), hlm. 6-7.
[4]Soehardi, kamus populer kepolisian  (Semarang: Koperasi Wira Raharja, 2010), hlm. 93.

[5] Novan Ardy Wiyani & Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz media, 2012), hlm. 115-118.
[6]Ahmad Barizi, Menjadi Guru Unggul, Cet. ke-2, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2013), hlm.66.
[7]Ibid., hlm. 68.
[8] Muhammad Quthb, Sistem Pendidkan Islam, (Bandung : PT. Al-Ma’arif, 1993), hlm.329.
[9] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 116-117.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar