Laman

Jumat, 23 September 2016

tt1 B 4a KEWAJIBAN BELAJAR “ SPESIFIK” Pengembaraan untuk Menuntut Ilmu (Qs. Al-Ankabut ayat 19-20)

KEWAJIBAN BELAJAR “ SPESIFIK” Pengembaraan untuk Menuntut Ilmu
 (Qs. Al-Ankabut ayat 19-20)
Faridatul Ulya (2021115113)
Kelas B



JURUSAN TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016







KATA PENGANTAR



Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah saya yang berjudul “Pengembaraan menuntut ilmu”. Tak lupa sholawat dan salam marilah kita limpah curahkan kepada guru besar kita yakni Nabi Muhammad SAW, tanpa adanya beliau mungkinkah kita terbebas dari zaman kebodohan. Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi. Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada:
Dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan kepada kami, orangtua kami yang selalu memberikan doa dan dukungan dalam menuntut ilmu. Rekan rekan mahasiswa dan seluruh pihak yang bersedia memberikan partisipasi dalam penyusunan makalah ini.
Manusia pasti memiliki kekuragan seperti halnya dalam pembuatan makalah ini pun kami banyak sekali kekurangan. Untuk itu, kami selalu mengharap kritik dan saran dari pembaca guna kemajuan bersama.
Akhir kata dari penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


                                                                                                         








                                                                                                              Pekalongan, 27 September 2016.
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Banyak manusia didunia ini yang mengingkari Allah dan mengingkari semua ciptaannya. Padahal manusia setiap hari telah melihat panorama semesta dan fenomena-fenomena yang selalu ada dan pernah hilang dari pandangannya. Namun keseriusannya telah hilang karena sudah biasa melihatnya dan juga karena sering terulang.
Al-Qura’an telah mengembalikan perhatian mereka kepada keagungan dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang sangat mengagumkan itu. Yaitu melalui dalil-dalil, serta bukti wujud yang dapat dilihat dan dirasakan oleh perasaan.
Oleh karena itu penting bagi kita untuk mempelajari tafsir surat Al-Ankabut:19-20. Pada ayat 19, manusia disuruh merenungkan segala yang terjadi dialam semesta ini, mulai dari oermulaan penciptaan sampai penciptaan tersebut terulang-ulang. Al-Qur’an menjadikan alam semesta sebagai media pemaparan ayat-ayat keimanan dan petunjuknya. Sedangkan ayat 20, mengajak manusia untuk berjalan dibumi dan memperhatikanciptan Allah dan tanda-tanda kekuasaan dalam ciptaannya, baik dalam benda mati maupun makhluk hidup. Sehingga mereka memahami zat yang telah menciptakan semua itu akan dengan mudah mengulang ciptaannya tanpa kesulitan.
Melalui makalah ini saya akan membahas lebih lanjut tentang penciptaan makhluk dialam semesta ini dari surat Al-Ankabut ayat 19-20.















BAB II
PEMBAHASAN

A.    QS. Al-Ankabut ayat 19-20

Artinya:
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.

Penjelasan dari Ayat 19:

Mereka lengah sehingga tidak memperhatikan atau memikirkan bagaimanaAllah SWT memulai penciptaan segala sesuatu pertama kali dan tanpa contoh sebelumnya. Setelah Allah mencipta dan yang diciptakan itu binasa, dia mengulanginya kembali dengan diciptakannya kemalisesuatu yang lain dan serupa dengan apa yang telah binasa. Atau Allah SWT menciptakan manusia, dan setelah kematiannya dia mengembalikan manusia yang telah mati itu hidup kembali untuk mempertanggungjawabkan segala amalnya. Sesungguhnya penciptaan dan pengulangannya itu yang hanya dapat dilakukan oleh Allah adalah mudah bagi-Nya.[1]




Artinya:
“Katakanlah, berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu”.

Penjelasan dari ayat 20:

Berjalanlah dimuka bumi kemana saja kaki kamu mebawa kamu, lalu dengan segera walau baru beberapa langkah kamu melangkah, perhatikanlah bagaimana Allah SWT memulai penciptaan makhluk yang beraneka ragam. Seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Kemudian Allah SWT menciptakannya lagi di lain kali setelah penciptaan pertama waktu itu. Sesungguhnya Allah SWT mahakuasa atas segala sesuatu.[2]


B.     Tafsir

1.      Tafsir Ibnu Katsir

Allah SWT memberitahukan tentang Al-Khalil a.s bahwasannya dia menegaskan hari kiamat kepada kaumnya yang mengingkariya. Penegasannya itu melalui hasil penciptaan Allah yang dapat mereka lihat pada diri mereka sendiri setelah sebelumnya mereka bukan apa-apa. Zat yang memulai penciptaan dari tiada adalah berkuasa pula untuk mengembalikannya. Dan itu mudah bagi-Nya. Penegasan itu juga dilakukan dengan mengambil pelajaran dari penciptaan langit dan bumi, makhluk-makhluk yang ada pada keduanya, dan benda-benda yang ada diantara keduanya yang menunjukkankepada adanya pembuat sebagai pencipta yang mutlak, yang mengatakan kepada sesuatu “Jadilah”, maka ia pun menjadi. Karena itu Allah SWT berfirman, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan pada permulaan, kemudian dia mengulanginya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. Ayat ini seperti firman Allah SWT, “ Dialah yang memulai penciptaan kemudian mengulanginya dan pengulangan itu lebih mudah bagi-Nya.
Firman Allah SWT, “ Katakanlah, ‘Berjalanlah dimuka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan dari permulaan, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi”, pada hari kiamat. “Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu”. Konteks ayat ini seperti firma Allah SWT, “ Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat kami yang terdapat diufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Dia adalah hak”.[3]


2.      Tafsir Al Misbah

Kata yarau terambil dari kata ra’a yang dapat berarti melihat dengan mata kepala atau mata hati/memikirkan atau memperhatikan. Sementara ulama antara lain Thabathaba’i memahami kata tersebut dalam arti dengan mata hati/memikirkan bukan melihat dengan mata kepala. Tetapi ulama lain seperti Thahir Ibn Asyur memahaminya dalam kedua makna diatas. Kejadian manusia dan kematiannya atau munculnya tumbuhan dan lainnya, dapat terlihat sehari-hari dengan mata kepala manusia yang mau melihatnya. Demikian juga ia dapat dipikirkan dan direnungkan oleh siapapun, walau tidak melihat dengan mata kepala. Kedua pendapat diatas benar, hanya saja yang pertama benar jika obyek melihat adalah asal-usul kejadian alam, yang tentu saja tidak dapat dilihat kecuali melalui mata hati atau pikiran dengan melalui riset dan penelitian.  Sedangkan pendapat yang dikemukakakn oleh Ibn Asyur juga benar, jika obyek penglihatan adalah kelahiran dan tumbuhan yang memang dapat disaksikan dengan pandangan mata.
Kata  yubdi’u terambil dari kata  bada’a. Kata yang terdiri dari huruf   ba’, dal dan hamzah, berkisar maknanya pada memulai sesuatu. Orang yang terkemuka dinamai bad’u, karena namanya biasa disebut terlebih dahulu.
Allah yang memulai penciptaan dipahami dalam arti “Dia yang menciptakan segala sesuatu pertama kali dan tanpa contoh sebelumnya”. Ini mengandung arti bahwa Allah ada sebelum adanya sesuatu. Dia yang mencipta dari tiada, maka wujudlah segala sesuatu yang dikehendakin-Nya.
Banyak penjelasan dikemukakan melalui ayat-ayat guna membuktikan kekuasaan Allah dan keniscayaan hari kiamat. Kaum musyrikin belum juga menyambut baik penjelasan-penjelasan itu, karena itu ayat diatas memerintahkan Nabi Muhammad SAW bahwa: Katakanlah kepada mereka: “Kalau kamu belum juga memercayai keterangan-keterangan diatas antara lain yang disampaikan oleh leluhur kamu dan bapak para Nabi yakni Nabi Ibrahim, maka berjalanlah dimuka bumi kemana saja kaki kamu membawa kamu, lalu dengan segera walau baru beberapa langkah kamu melangkah. Perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan makhluk yang beraeka ragam-manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya-kemudian Allah menjadikannya dikali lain setelah penciptaan pertama kali itu. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu.
Kata an-nasy’ah terambil dari kata an-nasy’ yaitu kejadian. Patron yang digunakan ayat ini yang menunjukkan terjadinya sekali kejadian. Atas dasar itu sementara ulama memahaminya sebagai menunjuk kepada satu kejadian yang terjadi sekaligus tidak berulang-ulang atau bertahap, dalam hal ini adalah kejadian kebangkitan semua manusia diakhirat kelak.[4]


C.    APLIKASI QS. Al-Ankabut 19-20 DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Orang-orang yang mengingkari semua ciptaan Allah dan manusia disuruh merenungkan segala yang terjadi dialam semesta ini, mulai dari permulaan penciptaan sampai penciptaan tersebut terulang-ulang.
Pada ayat 20, menjelaskan bahwa mengajak manusia untuk berjalan dibumi dan memperhatikan ciptaan Allah dan tanda-tanda kekuasaannya dalam ciptaannya, baik dalam benda mati maupun makhluk hidup.
 Allah memperintahkan manusia supaya memperhatikan bagaimana Allah menciptakan makhluk dari permulaannya. Manusia melihat dibumi ini sesuatu yang menunjukkan proses penciptaan kehidupan yang pertama dan bagaimana permulaan penciptaan makhluk itu, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.


D.    ASPEK TARBAWI

1.      Melakukan perjalanan, dengannya seseorang akan menemukan banyak pelajaran berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam, maupun dari peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingnya.
2.      Melakukan pembelajaran, penelitian, dan percobaan (eksperimen) dengan menggunakan akalnya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal didunia ini, dan bahwa dibalik peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan dan kekuasaan yang maha besar.




      





BAB III
PENUTUP


E.     Kesimpulan
Kesimpulan dari surat Al-Ankabut ayat 19-20 antara lain:
1.        Pada ayat 19, manusia disuruh merenungkan segala yang terjadi alam semesta ini. Dalam ciptaan Allah tidak ada sesuatu yang sulit baginya.
2.        Pada ayat 20, mengajak manusia untuk berjalan dibumi Allah dan memperhatikan ciptaan Allah dan tanda-tanda kekuasaannya dalam ciptaannya. Sehingga mereka memahami zat yang telah menciptakan semua itu akan dengan mudah mengulang ciptaannya tanpa kesulitan.
Allah memulai kehidupan ini dan mengulangnya dengan kekuasaannya yang mutlak yang tak terikat dengan pola pandang manusia yang terbatas.





























DAFTAR PUSTAKA

Shihab, M. Quraish. 2012. Al-Lubab, Ciputat Tangerang: Lentera Hati
Nasib Ar-Rifa’i, Muhammad. 1999. Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Gema Insani Press
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al Misbah, Jakarta: Lentera Hati





Description: C:\Documents and Settings\UserXP\My Documents\IMG_20160924_211745.JPG 


[1] M. Quraish Shihab, Al-Lubab,(Ciputat Tangerang:Lentera Hati, 2012) hlm. 98-99
[2] M. Quraish Shihab, Al-Lubab,(Ciputat Tangerang: Lentera Hati, 2012) hlm. 99
[3] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i,Tafsir Ibnu Katsir,( Jakarta: Gema Insani Press, 1999) hlm.723
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, (Jakarta: Lentera Hati,2002),hlm. 464-467

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar