Laman

Rabu, 12 Oktober 2016

tt1 C 6a “Fungsi Al-Qur’an” Qs. Ali-Imran, 3 :138

 TUJUAN PENDIDIKAN "KHUSUS"
“Fungsi Al-Qur’an” Qs. Ali-Imran, 3 :138

I’anatul Akhba  (2021115095)
KELAS C

FAKULTAS TARBIYAH (PAI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR
Alhamdulillah wa syukurillah bahwa berkat rahmat dan anugerahNya makalah yang berjudul Tujuan Pendidikan Khusus ini dapat terselesaikan sesuai dengan yang di tugaskan oleh bapak dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi.
Yang mana mata kuliah Tafsir Tarbawi ini disajikan untuk mahasiswa semester tiga, dan penulis menyusun makalah ini merupakan suatu kewajiban dan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun dosen yang bersangkutan. Sehubungan dengan ditugasinya penulis untuk menyusun makalah ini, tampaknya perluasan materi mengenai Fungsi Qs. Ali-Imran:138, masih kurang. Sehingga makalah ini di buat untuk membantu memberikan referensi lebih banyak lagi untuk bisa di kaji.
Perasaan syukur secara khusus ditujukan hanya kepada Allah swt. Yang telah memberikan kemampuan dan kekuatan berfikir dalam proses penyusunan makalah ini. Penulis sangat sadar bahwa hanya berkat hidayah, inayah, serta ridha-Nya, perjalanan makalah ini terasa ringan. adapun dalam pembuatan makalah ini banyak orang-orang yang terlibat di dalamnya yang membantu proses penyusunan makalah ini.
Tidak lupa ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu terselesaikannya tulisan ini, Bpk. Muhammad Hufron M.S.I selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi ini, berkat arahan beliau sehingga saya mampu merancang makalah ini, yang insyaALLAH sesuai yang di harapankan. Terimakasih pula yang tiada terhingga untuk Ibu Bapak ku tercinta yang keduanya tak lelah mendoakan dan  memberikan dorongan moral dan spiritual. Untuk Teman-temanku yang senantiasa mendukung ku. Tak lupa pula untuk lembaga IAIN ini yang sudah memberikan naungan untuk berkarya dan berkreativitas, juga memberikan sumber-sumber yang sangat membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penyusunan dalam makalah ini, penulis sajikan secara sederhana, dan insyaALLAH mudah di pahami. Dengan disajikan Nash dan arti Qs. Ali Imran : 138 sesuai dengan yang di tugaskan. Juga terdapat Nash lain yang bersangkutan. Sementara untuk penelusuran yang lebih rinci, pembaca dapat mengadakan kajian pada referensi-referensi yang telah disajikan dalam makalah ini.
Kemudian kritik pembaca terhadap kekurangan dalam penulisan  makalah ini, sangat diharapkan. Semua kritik penulis tampung sebagai bahan perbaikan pada penyusunan makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini menjadi amal baik bagi penulisnya, dan bermanfaat bagi para pembaca sekalian.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.
Pekalongan, 9 Oktober 2016
Penyusun,












DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
BAB I ..................................................................................................................1
PENDAHULUAN..............................................................................................1
A.    Latar belakang..........................................................................................1
B.    Judul Makalah..........................................................................................2
C.    Nash dan Arti Qs Ali Imran:138..............................................................2
D.    Arti Penting dikaji....................................................................................2
BAB II.................................................................................................................3
PEMBAHASAN................................................................................................3
A.    Pengertian dan Fungsi Al-Qur’an............................................................3
B.    Tafsir Qs. Ali-Imran:138..........................................................................4
1.     Tafsir Al-Maragi.................................................................................4
2.     Tafsir Al-Mishbah..............................................................................6
3.     Tafsir Al-Azhar..................................................................................7
4.     Tafsir Ibnu Katsir...............................................................................8
C.    Aplikasi dalam Kehidupan.......................................................................9
D.    Aspek Tarbawi..........................................................................................9
BAB III...............................................................................................................10
PENUTUP..........................................................................................................10
A.    Kesimpulan..............................................................................................10
B.    Daftar Pustaka.........................................................................................11
C.    Lampiran .................................................................................................12


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Adanya peristiwa peperangan yang terjadi pada zaman kenabian antara kaum muslimin dan musyrikin mengakibatkan kaum muslimin di timpa luka, terbunuh, dan mengalami kekalahan. Mereka mengalami penderitaan jiwa dan fisik. Disini, Al-Qur’an mengembalikan kaum muslimin kepada sunnah Allah atas alam semesta, mengembalikan mereka kepada prinsip-prinsip yang berlaku pada semua urusan.
Dewasa ini, manusia masih banyak yang salah bahkan tidak dapat memahami kutipan-kutipan peristiwa masa lalu zaman kenabian. Melainkan Al-Qur’an lah yang membawa penerangan sebagai petunjuknya terhadap kutipan peristiwa yang telah jauh berlalu tersebut. Akan tetapi, hanya segolongan manusia tertentu saja yang mendapatkan petunjuk di dalamnya, mendapatkan pelajaran padanya, mendapatkan manfaatnya, dan menggapai petunjuknya mereka itulah golongan “muttaqin” ‘orang-orang yang bertakwa’.
Kita meyakini bahwa Al-Qur’an benar-benar mengandung pengetahuan dan petunjuk yang akan mengarahkan kita kepada keselamatan dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Keyakinan tersebut tentu tidak akan ada hasilnya jika kita tidak mempelajari dan mengamalkan pengetahuan serta petunjuk yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itudi dalam makalah ini akan dibahas mengenai Fungsi Al-Qur’an sesuai yang terdapat dalam Qs. Ali Imran:138. Dengan demikian kita akan dapat mencapai sebagian dari tujuan mempelajari Al-Qur’an, yaitu mengetahui, mengakui, membenarkan, mengamalkan, dan berperilaku sesuai ajaran Al-Qur’an, serta mampu mengamalkan pengetahuan dan petunjuk mengenai kisah-kisah terdahulu.

B.    Judul Makalah
Sesuai dengan yang sudah di tugaskan oleh bapak dosen Muhammad Hufron, selaku pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi. Memberikan Judul “Tujuan Pendidikan Khusus,” adapun kajian yang di bahas dalam makalah mengenai “Fungsi Al-Qur’an,” sebagaimana tercantum dalam Qs. Ali Imran ayat 138.

C.    Nash dan terjamahan Qs. Ali Imran ayat 138
Artinya : “(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”
D.    Arti penting pengkajian
Begitu pentingnya Al-qur’an dalam kehidupan kita, sehingga dalam Qs. Ali Imran:138 menerangkan tentang fungsi Al-Qur’an bagi umat manusia. Hal ini menjadi sangat penting di kaji karena Al-Qur’an Ini adalah penerangan bagi manusia secara keseluruhan. Disebutkan nashnya dalam Al-Qur’an bahwa di dalam kitab ini terdapat kebenaran, petunjuk, cahaya, nasihat, dan pelajaran. Semua itu hanya untuk orang-orang yang beriman dan bertakwa. Iman dan takwa itulah yang melapangkan hati untuk menerima petunjuk, cahaya, nasihat, dan pelajaran. Dan yang menghiasi hati sehingga merasa indah untuk memilih petunjuk dan cahaya itu, serta memanfaatkan nasihat dan pelajarannya. Juga untuk bersabar dan tabah menanggung beban derita dalam menempuh jalannya. Setelah penjelasan ini, diarahkanlah kaum muslimim agar teguh, tenang, dan mantap hatinya.[1]

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Al-Qur’an Sebagai Kitab Petunjuk .
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan yang di sampaikan kepada kita secara mutawatir (resmi), serta mengandung ajaran-ajaran seperti akidah, akhlak, dan syari’at.[2]
Al-Qur’an adalah petunjuk Sang Pencipta bagi kemaslahatan hamba-Nya dan merupakan syariat langit yang diturunkan bagi penghuni bumi yang berlaku umum dan kekal yang menjamin semua kebutuhan manusia, baik masalah agama, keduniaan, akidah, akhlak, ibadah, maupun muamalah kenegaraan, hukum, ekonomi, politik, perdamaian, peperangan, perjanjian-perjanjian, dan hubungan antarnegara. Berkeneaan dengan semua itu, Al-Qur’an memberikan petunjuk secara benar dan bijaksana, tidak ada cacat, perbedaan, pertentangan, keraguan, dan benturan.
Dialah Al-Qur’an, sumber segala sumber yang tidak pilih kasih dan kitab yang paling benar.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan seandainya kebahagiaan yang sebenarnya hanyalah dapat diperoleh dari petunjuk Al-Qur’an dan melaksanakan segala sesuatu yang dibawa olehnya. Begitu pula penyakit jiwa dan penyakit-penyakit kemasyarakatan hanya dapat disembuhkan melalui petunjuk Al-Qur’an. Dengan petunjuknyalah, hati yang telah tersesat dapat memperoleh petunjuk. Dengan petunjuknyaah, mata yang telah mengalami kebutaan dapat melihat kembali. Begitu pula, dengan petunjuknyalah, akal yang telah mengalami kebodohan akan bersinar kembali, sebagaimana halnya juga dunia yang telah mengalami kegelapan pun akan memeperoleh cahaya kembali.[3]
Adapun Fungsi Al-Qur’an sesuai dengan kajian Qs. Ali Imran:138 ini, ialah membawa petunjuk. Yakni petunjuk yang diperlukan dan menjelaskan kebenaran dari kebatilan yang terdapat dalam hal-hal yang tidak menentu yang terjadi dalam kalangan umat manusia sebelum turunnya, terutama yang berkenaan dengan Allah, manusia, dan alam semesta.[4]
B.    Tafsir Qs. Ali Imran :138
1.     Tafsir Al-Maragi
Penuturan yang telah lalu tersebut merupakan penjelasan tentang keadaan umat manusia, sekaligus sebagai petuah dan nasehat bagi orang-orang yang bertakwa dari kalangan mereka. Petunjuk ini sifatnya umum bagi seluruh umat manusia dan merupakan hujjah atau bukti bagi orang mukmin atau kafir, orang yang bertakwa atau fasik.
Dalam hal ini juga merupakan bantahan terhadap perkataan kaum musyrikin dan munafik yang melancarkan tuduhan kepada Nabi saw. Mereka mengatakan bahwa jika Muhammad memang benar-benar seorang utusan, maka pasti mereka tidak akan bisa dikalahkan dalam perang uhud. Hal itu juga mengandung petunjuk dan penjelasan bahwa sunnatullah juga berlaku bagi para nabi dan rasul, sebagaimanan berlaku bagi semua makhluk-Nya.
Sedang penjelasan ini adalah sebagai petunjuk dan petuah yang khusus bagi orang-orang yang bertakwa, karena mereka orang yang mau mengambil petunjuk dengan kenyataan-kenyataan seperti ini. Mereka juga mau mengambilnya sebagai pelajaran dalam menghadapi kenyataan-kenyataan yang sedang mereka alami. Berkat petunjuk ini, mereka berjalan lurus sesuai dengan metode yang benar, menjauh dari hal-hal yang mengakibatkan kelalaian yang sudah tampak jelas akibatnya, yakni membahayakan diri mereka. Orang mukmin sejati ialah orang yang mau mengambil hidayah dari Al-Kitab dan mau menerima penyuluhan nasehat-nasehatnya, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firman-Nya :

“ kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah, 2:2).
Al-Qur’an telah memberikan petunjuk kepada kita tentang masalah-masalah strategi pertempuran menghadapi musuh, sampai bagaimana kita mempersiapkan diri. Dalam hal ini, kita dianjurkan mengetahui hakikat persiapan supaya kita melangkah dengan kewaspadaan dalam membela hak.
Dengan demikian, kita berjalan di atas sunnatullah dalam meraih nya dan memelihara kelestariannya. Hendaknya kita mengetahui kondisi musuh kita untuk dijadikan pertimbangan antara kekuatan kita dan kekuatan mereka. Apabila kita tidak menempuh jalan-jalan tersebut berarti kita tidak memakai jalan hidayah, dan kita termasuk orang-orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman.[5]




2.      Tafsir Al-Mishbah
Ayat 137-138
“Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu sunnah-sunnah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (pesan-pesan Allah). Ini adalah penerangan bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Ayat 137 perintah untuk memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang terdahulu dan kesudahan mereka. Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu sunnah-sunnah yakni hukum-hukum kemasyarakatan yang tidak mengalami perubahan. Sunnah tersebut antara lain adalah “ yang melanggar perintah-Nya dan perintah rasul-Nya akan binasa, dan yang mengikutinya berbahagia”, “ yang menegakkan disiplin akan sukses”, “hari-hari kekalahan dan kemenangan silih berganti”, dan lain-lain. Sunnah-sunnah itu ditetapkan Allah demi kemaslahatan manusia dan itu semua dapat terlihat dengan jelas dalam sejarah dan peninggalan umat umat yang lalu. Perhatikan dan camkanlah hal tersebut, kalau belum dapat memahami dan hayati melalui bacaan atau pelajaran sejarah, maka berjalanlah kamu di muka bumi untuk melihat bukti-buktinya dan perhatikanlah untuk mengambil pelajaran bagaimana kesudahan buruk yang dialami orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). Ini, yakni pesan-pesan yang dikandung oleh semua ayat-ayat yang lalu, atau al-Qur’an secara keseluruhan adalah penerangan yang memberi keterangan dan menghilangkan kesangsian serta keraguan bagi seluruh manusia, dan ia juga berfungsi sebagai petunjuk yang memberi bimbingan masa kini dan datang menuju ke arah yang benar serta peringatan yang halus dan berkesan menyangkut hal-hal yang tidak wajar bagi orang-orang yang bertakwa, yang antara lain mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari sunnatullah yang berlaku dalam masyarakat.
Demikian juga terlihat bahwa kitab suci al-Qur’an adalah kitab pertama yang mengungkap adanya hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. Kitab suci itu berfungsi mengubah masyarakat dan mengeluarkan anggotanya dari kegelapan menuju terang benderang, dari kehidupan negatif menuju kehidupan positif. Al- Qur’an memang penerangan bagi seluruh manusia, petunjuk, serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.
Pernyataan Allah ini adalah penjelasan buat manusia, juga mengandung makna bahwa Allah tidak menjatuhkan sanksi sebelum manusia mengetahui sanksi itu. Dia tidak menyiksa manusia secara mendadak, karena ini adalah penjelasan, petunjuk jalan, lagi peringatan.[6]
3.     Tafsir Al-Azhar
“ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (ayat 138).
Mempelajari sejarah ummat-ummat yang dahulu dan melihat bekasnya dengan melawat mengembara dengan sendirinya akan memperoleh penjelasan, petunjuk, dan pengajaran. Ilmu kita akan bertambah-tambah tentang perjuangan hidup manusia di dalam alam ini. Dalam ayat ini kita berjumpa dengan anjuran mengetahui dua tiga ilmu yang amat penting. Pertama, sejarah; kedua ilmu bekas peninggalan kuno; ketiga ilmu siasat perang; keempat ilmu siasat mengendalikan negara.
Maka ayat yang tengah kita tafsirkan ini berlaku menjadi pedoman untuk selamanya di dalam menilai kenaikan suatu ummat ataupun kejatuhannya bahwasanya kelobaan akan harta dan kemewahan adalah pintu-pintu bagi kekalahan.
Dengan memperhatikan orang memperoleh penjelasan, petunjuk dan pengajaran bagi orang yang bertakwa. Di sini kita dapat mengetahui lagi betapa luasnya arti takwa. Pokok arti, ialah memelihara(wiqayah). Maksud yang pertama, ialah takwa kepada Allah, memelihara hubungan dengan Allah dan takut kepadaNya. Tetapi dalam ayat ini ada arti yang lain, yaitu memelihara, menjaga, awas dan waspada. Maka dengan demikian takwa kepada Allah tidaklah cukup sekedar dengan ibadat shalat, berzakat, dan puasa saja. Tetapi termasuk lagi dalam rangka ketakwaan ialah kewaspadaan menjaga agama dari intaian musuh.[7]
4.     Tafsir Ibnu Katsir I
“Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (137). Ini adalah penerangan bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwa(138).”
Allah menghibur hamba-hamba-Nya yang beriman, setelah mereka mendapat musibah dalam Perang Uhud, yaitu terbunuhnya 70 orang muslim, dengan firman-Nya, “sesungguhnya sunnah-sunnah itu telah berlalu sebelum kamu.” Yakni, sunnah seperti ini telah berlaku pula atas para pengikut nabi sebelum kamu. Kemudian kesudahan yang baik bagi kamu dan yang buruk bagi kaum kafir. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, “maka berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. Ini merupakan penjelaan bagi manusia. “yakni, Al-Qur’an ini mengandung berita yang jelas ihwal orang-orang terdahulu dalam menghadapi musih-musuh nya. “merupakan petunjuk dan pelajaran.”Yakni, Al-Qur’an ini mengandung berita tentang peristiwa masa lalu, mengandung petunjuk bagi hatimu, dan mengandung pelajaran, yakni mengandung pencegahan dari berbagai perbuatan haram dan dosa. [8]
C.    Aplikasi dalam Kehidupan
Dengan adanya pembahasan makalah ini, dapat di petik nilai-nilai yang baik yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya ialah:
1.     Senantiasa membaca dan mengkajii makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an
2.     Beriman dan bertakwa kepada Allah
3.     Mencegah kebatilan dan mengutarakan kebenaran
4.     Mengamalkan isi ajaran Al-Qur’an
5.     Teguh, tenang dan mantap hatinya
D.    Aspek Tarbawi
1.     Kebahagiaan yang sebenarnya hanyalah dapat diperoleh dari petunjuk Al-Qur’an dan melaksanakan segala sesuatu yang dibawa olehnya.
2.     Penyakit Jiwa dan penyakit-penyakit kemasyarakatan hanya dapat disembuhkan melalui petunjuk Al-Qur’an.
3.     Petujuk tidak dapat ditangkap dan di cerna kecuali oleh hati yang beriman dan terbuka untuk menerima petunjuk. Hanya dapat di terima oleh hati yang bertakwa.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan makalah tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai pengertian Al-Qur’an sebagai petunjuk. Hal ini selaras dengan yang terdapat dalam Qs. Ali Imran:138. “ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (ayat 138).
Adanya teori yang mendukung tentang pembasan Qs. Ali-Imran mengenai  fungsi Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah petunjuk Sang Pencipta bagi kemaslahatan hamba-Nya dan merupakan syariat langit yang diturunkan bagi penghuni bumi yang berlaku umum dan kekal yang menjamin semua kebutuhan manusia. Berkeneaan dengan semua itu, Al-Qur’an memberikan petunjuk secara benar dan bijaksana.
Adapun penafsiran-penafsiran dari Qs. Ali-Imran :138 ini, dari beberapa kitab yang dicantumkan dalam makalah ini. Yaitu ada Tafsir Al-Maragi, Al-Mishbah, Al-zhar, dan Tafsir Ibnu Katsir. Terdapat pula di dalam makalah ini mengenai nilai-nilai yang dapat di terapkan dalam kehidupan, dan aspek-aspek tarbawi yang di petik dari Qs. Ali-Imran ayat 138 tersebut.






B.    Daftar Pustaka
Ar-Rifa’i,  Muhammad Nasib. 1999.  Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari             Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1. Jakarta: Gema Insani Press.
Hamka. 1983. Tafsir Al-Azhar juzu’4. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Musa,  M. Yusuf. 1998. Al-Qur’an dan Filsafat.  Jakarta: Bulan Bintang.
Muhammad , Syeikh. 2002. Studi Al-Qur’an Al-Karim. Bandung: Pustaka             Setia.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1993. Tafsir Al-Maraghi,. Semarang: Toha Putra.
Shihab,  M. Quraish. 2000.  Tafsir Al-Mishbah. Jakarta : Lentera Hati.

Quthb, Sayyid. 2001.Fi Zhilalil-Qur’an ( terjemahan oleh As’ad                                        Yasin,dkk) . Jakarta: Gema Insani Press.
.
.











LAMPIRAN
Profil  Penulis

Nama        : I’anatul Akhba
TTL          : Pekalongan, 27 Mei 1996
Alamat      : Ds. Babalan Lor, Kec. Bojong, Kab. Pekalongan
Riwayat Pendidikan:
1.     SDN 02 BABALAN LOR                  ( 2004-2010)
2.     SMP N 01 BOJONG                         (2010-2012)
3.     SMA N 01 BOJONG                         (2012-2014)
4.     SI -PAI di IAIN Pekalongan (2015-sekarang)


[1] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil-Qur’an ( terjemahanoleh As’ad Yasin,dkk) , (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 167
[2]Prof. Dr. M. Yusuf Musa, Al-Qur’an dan Filsafat, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1998), hlm.1
[3]Prof. Dr. Syeikh Muhammad, Studi Al-Qur’an Al-Karim, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hlm. 19-21
[4]Prof. Dr. M. Yusuf Musa, Op.Cit., hlm. 3
[5] Ahmad Mustafa, Tafsir Al-Maragi, (Semarang: Toha Putra, 1993), hlm. 132-133
[6]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2000), hlm. 210-212
[7]Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar juzu’4, ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 95-97
[8]Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 587-588

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar