Laman

Rabu, 05 Oktober 2016

TT1 D 5c “CARI RIDHA ALLAH” (QS. AL-BAYYINAH AYAT 8)

TUJUAN PENDIDIKAN "UMUM”
“CARI RIDHA ALLAH” (QS. AL-BAYYINAH AYAT 8)

 Ama Maemunah (2021115122)
 Kelas D

JURUSAN TARBIYAH / PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR

               Dengan memanjatkan puji syukur atas kehadirat Allah swt Yang Maha Kuasa dan berkat Rahman dan Rahim-Nya penulis dapat membuat makalah ini dengan tema “Tujuan Pendidikan Umum” yang berjudul “Cari Ridha Allah (Qs. Al-Bayyinah: 8)” . Shalawat serta salam penulis haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw, semoga kelak mendapat syafaat di yaumul qiyamah.
            Kami menyadari sepenuhnya bahwa di dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangundemi kesempurnaan penulisan makalah ini.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini, khususnya kepada dosen pengampu mata kuliah yang bersangkutan. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menambah wawasan kita dalam mempelajarinya serta dapat digunakan sebagaimana mestinya.







                                                                                                                        Pekalongan, 29 september 2016
                                                                                                            Penulis,

                                                                                                            Ama Maemunah
NIM. 2021115122
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Salah satu unsur penting dalam mencari Ridha Allah adalah dengan niat yang ikhlas tanpa pamrih. Kehidupan dunia akhirat sangatlah penting jika seimbang dengan apa yang kita perbuat. Syurga adalah tempat orang-orang yang mematuhi perintah-Nya. Dan neraka adalah tempat orang-orang yang melanggar perintah-Nya. Sebaik-sebaik manusia adalah dia yang tahu mana yang baik dan yang buruk. Sebab, kehidupan di akhirat adalah yang kekal. Maka segala sesuatu yang diperbuat harus dengan niat yang mulia agar memperoleh balasan berupa pahala.

B.    Judul dan nash Qs. Al-bayyinah ayat 8
a.      Tujuan pendidikan umum “Cari Ridha Allah”
b.     Nash Qs. Al-Bayyinah ayat 8
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Allah.”
C.    Arti penting dikaji
Ayat ini penting untuk dikaji karena agar kita tahu gambaran syurga yang dijanjikan Allah untuk orang-orang yang mematuhi perintah-Nya. Selain itu, agar tumbuh rasa takutnya kepada Tuhan. Maka rasa sayang dan rasa cinta kepada Tuhan, ridha meridhai dan kasih mengasihi tidaklah sampai menghilangkan wibawa, kekuasaan, bahkan keangkuhan Tuhan di dalam sifat keagungan dan ketinggian-Nya. Dan agar orang-orang sangat mengharapkan dimasukkan ke dalam syurga, dan takut akan azab Tuhan dan dimasukkan ke dalam neraka.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    TEORI
a.      Pengertian Ridha
Kata Al-Junaid, arti Ridha meninggalkan usaha (tarkiktiari) sedangkan Dzu-al-Nun al-Mishri mengatakan, Ridha itu ialah menerima tawakkal dengan kerelaan hati. Menurut Al-Nun, tanda-tanda orang yang sudah Ridha ada 3 yakni: mempercayakan hasil usaha sebelum terjadi kerentuan, lenyapnya resah gelisah sesudah terjadi ketentuan, dan cinta yang bergelora dikala turunnya malapetaka. Nampaknya pengertian Ridha yang demikian merupaka perpaduan antara sabar dan tawakkal sehingga melahirkan sikap mental yang merasa tenang dan senang. Menerima segala situasi dan kondisi. Setiap yang terjadi disambut dengan hati yang terbuka, bahkan dengan rasa nikmat dan bahagia walau yang datang itu berupa bencana. Suka dan duka diterima dengan gembira, sebab apapun yang datang itu adalah ketentuan Allah yang maha kuasa. Sikap mental seperti ini, akan dapat tumbuh melalui usaha demi usaha, perjuangan demi perjuangan, Mengikis habis segala perasaan gundahdan benci sehingga yang tinggal dalam hatinya hanya perasaan senang dan bahagia. Apapun yang datang dan pergi, ia tetap bahagia. [1]
 Para ulama mendifinisikan Ridha dengan definisi yang bermacam-macam. Setiap orang berbicaa sesuai dengan kapasitas dan kedudukannya. Adapun definisi yang paling penting adalah apa yang dikatakan oleh sayyid, “Ridha adalah sikap lapangnya hati ketika menerima pahitnya ketetapan Allah.”
Ibnu ujaibah berkata, “Ridha adalah menrima kehancuran dengan wajah tersenyum, atau bahagianya hati ketika ketetapan terjadi, atau tidak memilih-milih apa yang telah diatur dan di tetapkan oleh Allah, atau lapang dada dan tidak mengingkari apa-apa yang datang dari Allah.”
Al-Barkawi berkata, “Ridha Adalah jiwa yang bersih terhadap apa-apa yang menimpanya dan apa-apa yang hilang, tanpa ada perubahan.”
Ibnu Athaillah As-syakandari berkata, “Ridha adalah pandangan hati terhadap pilihan Allah yang kekal untuk hamba-Nya. Yaitu, menjauhkan diri dari kemarahan.”[2]

b.     Keutamaan Ridha
Ridha merupakan maqam yang lebih mulia dan lebih tinggi daripada sabar. Sebab, ridha merupakan kepasrahan jiwa yang akan membawa seorang ahli makhrifat untuk mencintai segala sesuatu yang di Ridhai oleh Allah, sekalipun itu adalah musibah. Dia melihat semua itu sebagai kebaikan dan rahmat. Dan dia akan menerimanya dengan rela, sebagai karunia dan berkah.
            Ketika sahabat Bilal sedang menghadapi sakaratul maut, dia berkata, “aku sangat bahagia! Besok aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku cintai yaitu Muhammad dan para sahabatnya.”
            Rasulullah saw. Telah menjelaskan bahwa orang yang Ridha terhadap ketetapan Allah adalah orang yang paling kaya. Sebab, dia adalah orang yang paling merasakan kebahagiaan dan ketentraman, serta paling jauh dari kesedihan, kemarahan dan kegelisahan. Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta akan tetapi, kekayaan adalah kayanya hati dengan iman dan Ridha.
B.    Tafsir dari buku
a.      Tafsir Al-Azhar
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga-syurga tempat menetap.” Itulah perhentian dan penetapan terakhir, tempat istirahat menerima hasil dan ganjaran dari kepayahan berjuang pada hidup yang pertama di dunia: “Yang mengalir padanya sungai-sungai,” sebagai lambang kiasan dari kesuburan dan kesejukan, tepung tawar untuk ketenteraman (muthmainnah), kesuburan yang tiada pernah kering: “Kekal mereka padanya selama-lamanya,” nikmat yang tiada pernah kering rahmat yang tiada pernah terhenti, tidak akan keluar lagi dari dalam nikmat itu dan tidak lagi akan merasakan mati.
Sebab mati itu hanya sekali yang dahulu saja. Dan yang menjadi puncak dan puncak dari nikmat itu ialah: “Allah ridha kepada mereka,” Allah senang, Allah menerima mereka dengan tangan terbuka dan penuh Rahman, sebab tatkala di dunia mereka taat dan setia: “Dan mereka pun ridha kepada-Nya,” Ridha yang seimbang, balas membalas, kontak mengontak, bukan laksana bertepuk sebelah tangan. Karena Iman dan keyakinan jualah yang mendorong mereka memikul beban perintah Allah seketika mereka hidup dahulu, tidak ada yang dirasa berat dan tidak pernah merasa bosan. “Yang demikian itulah untuk orang yang takut kepada Tuhannya.” (ujung ayat 8).
Dengan ujung ayat ini diperkuatlah kembali tujuan hidup seorang Muslim, Tuhan meridhai mereka, dan mereka pun meridhai Tuhan. Tetapi betapa pun akrab hubungannya dengan Tuhan, namun rasa takutnya kepada Tuhan tetap ada. Oleh sebab itu maka rasa sayang dan rasa cinta kepada Tuhan, ridha meridhai dan kasih mengasihi tidaklah sampai menghilangkan wibawa, kekuasaan, bahkan keangkuhan Tuhan di dalam sifat keagungan dan ketinggian-Nya. Sebab itulah maka si Muslim mengerjakan suruh dan menghentikan tegah. Dia sangat mengharapkan dimasukkan ke dalam syurga, namun di samping itu dia pun takut akan diazab Tuhan dan dimasukkan ke dalam neraka.[3]
b.     Tafsir Juz ‘Amma
      Kalimat جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُbalasan bagi mereka ialah surga-surga,tempat bunian yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.....” Kata  jannat berarti kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon yang rindang dan segar. ‘Adn bermakna hunian. Dan ‘anbar, kata jamak dari nahr yang berarti sungai besar. Yang dimaksud disini adalah tempat hunian penuh kenikmatan dalam kehidupan akhirat. Hal ini merupakan salah satu akidah  yang wajib kita imani. Kenikmatan didalamnya lebih besar dan lebih sempurna dari segala mcam kenikmatan dunia. Ia juga adalah tempat tinggal yang kekal. Siapa saja yang masuk ke dalamnya, tidak akan keluar untuk selama-lamanya. Itulah makna kalimat selanjutnya, خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Namun kita tidak dibenarkan menyelidiki tentang hakikat surga-surga ini; dimana letaknya dan bagaimana bentuk kenikmatan didalamnya? Semua itu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah swt.
      Kalimat رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ Allah Ridha terhadap mereka, karena mereka tidak melanggar batas-batas syariat-Nya dan tidak mengabaikan pengamalan sunnah (hukum dan aturan)-Nya. Adapun ridha Allah adalah limpahan karunia dan kebaikan-Nya.
      Kalimat وَرَضُوا عَنْه dan mereka pun ridha kepadan-Nya. Karena mereka senantiasa memuji dan berterima kasih kepada-Nya, atas segala karunia-Nya, yang berupa kebahagiaan dunia akhirat. Disamping itu, dengan adanya keyakinan yang kuat kepada-Nya, maka dengan penuh kepuasan dan kesenangan hati mereka mematuhi segala perintah-Nya di dunia. Sehingga mereka benar-benar merasa Ridha kepada-Nya. Dan kelak, ketika berada dalam kenikmatan alam akhirat, mereka akan mendapati karunia Allah yang sedemikian besarnya, sehingga tak ada tempat sedikitpun untuk menyesal atau kecewa. Dalam setiap keadaan apapun, mereka senantiasa ridha kepada Allah swt.
kalimat ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ  yang demikian itu (balasan) bagi orang yang takut kepada tuhan-Nya. Balasan amat baik ini, dan keridhaan seperti ini, hanyalah bagi orang yang  jiwanya penuh  perasaan khasyab, (diliputi cemas dan harap) kepada tuhan-Nya.[4]
c.      Tafsir Al-Lubab
Ayat 8 menegaskan bahwa: balasan mereka disisi Tuhan pemelihara dan pembimbing mereka ialah surga-surga ‘Adn yang senantiasa mengalir di bawah pepohonan dan istana-istananya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah swt. Ridha terhadap mereka yakni menerima amal dan pengabdian mereka serta memberinya ganjaran yang memuaskan dan mereka pun ridha kepada-Nya yakni dalam kehidupan dunia ini. Hatinya tidak merasa keruh menerima ketetapan Allah swt. Apa pun bentuknya, serta selalu berada di tempat dan situasi yang dikehendaki Allah swt., sedangkan di akhirat nanti mereka memperoleh ganjaran yang melebihi dambaan mereka. Yang demikian itu yakni ganjaran surga dan ridha-Nya adalah ganjaran bagi orang yang takut lagi kagum kepada Tuhan Pemeliharanya.[5]

C.    Aplikasi dalam kehidupan
1.     Hendaknya Kita harus mengerjakan segala perintah Allah dengan ikhlas
2.     Takut akan adzab Allah sehingga kita harus memperbanyak amalan-amalan yang dikerjakan
3.     Memperbaiki diri agar selalu di Ridhai Allah swt
4.     Penuh harap akan keridhaan Allah agar senantiasa di rahmati oleh-Nya

D.    Aspek tarbawi
1.      Agama yang lurus dan diridhai oleh Allah  adalah agama yang berdiri di atas tauhid serta mengajarkan shalat, zakat serta meninggalkan agama-agama selain Islam.
2.      Balasan bagi orang yang tidak masuk Islam (setelah Rasulullah saw. datang) adalah seburuk-buruk pembalasan.
3.     Orang yang beriman dan masuk Islam serta melaksanakan ajarannya, (pada hari kiamat nanti) akan mendapatkan sebaik-baik balasan yaitu keridhaan Allah dan kekal di surga.
4.     Keutamaan Khasy-yah (takut kepada Allah) membawa seseorang untuk ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan baik berupa keyakinan, perkataan maupun perbuatan.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa syurga yang didalamnya kenikmatan-kenikmatan yang sangat banyak, yang tiada pernah kering rahmat yang tiada pernah terhenti, tidak akan keluar lagi dari dalam nikmat itu dan tidak lagi akan merasakan mati. Syurga adalah tempat bagi orang-orang yang senantiasa menjalankan perintah Allah dengan penuh ikhlas dan keridhaannya. Orang-orang yang hanya mengharapkan pahala dari Allah swt. Namun sebaliknya, neraka adalah tempat orang-orang yang selalu mengingkari perintah-Nya.














DAFTAR PUSTAKA
Siregar, A Rivay, 2002, Tasawuf, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada.

Isa, Abdul Qadir, 2005, Hakikat Tasawuf, Jakarta, Qisthi Press.
Hamka, 1982, Tafsir Al-Azhar, Jakarta, Pustaka Panjimas.
Abduh, Muhammad, 1999, Tafsir Juz ‘Amma, Bandung, Mizan.
Shihab, M. Quraish, 2012, Al-Lubab, Jakarta, Lentera Hati.




Biodata Penulis,
Nama              : Ama Maemunah
TTL                : Pemalang, 02 Juli 1997
Alamat                        : Taman Asri Blok A5 no.6 Pemalang
Riwayat pendidikan :            1. SD Negeri 01 Wanarejan Pemalang
                                                2. MTsN Pemalang
                                                3. Madrasah Aliyah Negeri Pemalang




[1] A.Rivay siregar, Tasawuf, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,2002), hlm.122
[2] Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf,( Jakarta: Qisthi Press, 2005), hlm.260
[3]Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta:Pustaka Panjimas, 1982), hlm.236
[4] Muhammad Abduh, Tafsir Juz ‘Amma, (Bandung:Mizan, 1999), hlm 278-279
[5] M. Quraish shihab, Al-Lubab, (Jakarta:Lentera Hati, 2012), hlm.707

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar