Laman

Rabu, 05 Oktober 2016

TT1 D 5d “IBADAH KEPADA ALLAH” Q.S HUD : 61

TUJUAN PENDIDIKAN "UMUM"
IBADAH KEPADA ALLAH
Q.S HUD : 61
Reni Pretiani (2021115120)
 Kelas D

JURUSAN TARBIYAH / PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “TUJUAN PENDIDIKAN UMUM (IBADAH KEPADA ALLAH) DALAM Q.S HUD : 61”. Sholawat beserta salam tak lupa pula saya haturkan kepada junjungan kita Nabi agung  Muhammad saw yang telah membawa kita semua dari alam kejahilan ke alam yang terang benderang yang di sinari oleh ilmu pengetahuan, iman dan islam, semoga kita semua mendapatkan syafa’atnya di Yaumul Akhir nanti. Tujuan dibuatnya makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi.
  Tak lupa pula saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan makalah ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah yang berjudul TUJUAN PENDIDIKAN UMUM (IBADAH KEPADA ALLAH) DALAM Q.S HUD : 61” ” ini.
Saya  menyadari dalam penyususunan makalah ini banyak sekali kesalahan dan kekhilapan, oleh karena itu saya mengharapkan saran dan krtik yang membangun dari para pembaca demi perbaikan makalah saya selanjutnya.



Pekalongan, 02 Oktober 2016

Reni Pretiani

2021115120


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ibadah adalah tindakan untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan tuhan (Allah) dengan kata lain ibadah ialah suatu orientasi dari kehidupan dan orientasi tersebut hanya tertuju kepada tuhan (Allah) saja.
Tujuan penciptaan manusia, jin dan makhluk lainnya tiada lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Penciptaan itu bukan sekedar main-main atau hal yang percuma. Di balik penciptaan itu Allah mempunyai rencana yang sungguh-sungguh. Setiap makhluk diberi kesempatan berkembang maju ke arah suatu tujuan itu, yaitu keridhaan-Nya. Allah adalah sumber dan pusat segala kekuasaan dan kesempurnaan. Kemajuan yang kita capai tergantung kepada cara kita menempatkan diri sesuai dengan kehendak-Nya. Inilah sebaik-baik ibadah kita kepada-Nya.

B.    Judul

TUJUAN PENDIDIKAN UMUM “IBADAH KEPADA ALLAH”

C.    Nash
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيب
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)".



D.    Arti Penting untuk Dikaji
Ayat ini penting dikaji karena ibadah merupakan kewajiban utama dan pertama yang diperintahkan Allah kepada setiap hamba-Nya. Perintah ibadah kepada Tuhan dengan tujuan memperoleh takwa. Takwa dalam ajaran islam merupakan satu-satunya ukuran nilai kemuliaan manusia di hadapan Allah. Bagi manusia ibadah merupakan kodrat pembawaan jiwa manusia yang rindu kepada kemuliaan. Kemuliaan manusia di hadapan Allah diukur dengan kuat-lemahnya takwa kepada Allah, sedangkan takwa dapat diperoleh dan diperkuat dengan melaksanakan ibadah. Takwa merupakan bekal hiup kejiwaan yang mutlak bagi manusia untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di didunia dan diakhirat kelak.
            Jiwa yang bertakwa akan senantiasa menyesuaikan hidupnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai diri pribadi, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alamnya, dengan berpedoman yang di berikan Allah













BAB 11
PEMBAHASAN

A.    Teori
1.     Pengertian Ibadah
Kata ibadah menurut bahasa berarti taat, tunduk, merendahkan diri dan menghambakan diri. Adapun kata ibadah menurut istilah berarti penghambaan diri yang sepenuh-penuhnya untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat.
Dalam hal ini Ibnu Taimiyah merumuskan bahwa ibadah menurut syara’ itu tunduk dan cinta, artinya tunduk mutlak kepada Allah yang disertai cinta sepenuhnya kepada-Nya.[1]
Ibadah ialah penghambaan diri kepada  Allah dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah. Dan inilah hakikat agama islam, karena islam maknanya ialah menyerahkan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.
Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai Allah Allah. Dan suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila diniati ikhlas, semata-mata karena Allah dan mengkuti tuntunan Rasulullah.[2]
2.     Ruang Lingkup Ibadah
Ruang lingkup ibadah pada dasarnya digolongkan menjadi dua, yaitu:
a.      Ibadah Umum
Artinya, ibadah yang mencakup segala aspek kehidupan dalam rangka mencari keridhaan Allah. Unsur terpenting agar dalam melaksanakan segala aktivitas kehidupan di dunia ini agar benar-benar bernilai ibadah adalah “niat” yang ikhlas untuk memenuhi tuntunan agama dengan menempuh jalan yang halal dan menjauhi jalan yang haram.

b.     Ibadah Khusus
Artinya, yang macam dan cara pelaksanaannya ditentukan dalam syara’ (ditentukan oleh Allah dan Nabi Muhammad SAW). Ibadah khusus ini bersifat tetap dan mutlak, manusia tinggal melaksanakan sesuai dengan peraturan dan tuntunan yang ada, tidak boleh mengubah, menambah, dan mengurangi seperti tuntunan bersuci (wudlu), salat, puasa ramadhan, ketentuan nizab zakat.[3]

3.     Hikmah Ibadah
Allah menetapkan atas para hamba beberapa fardhu yang wajib ditunaikan, persis sebagai yang Allah perintahkan; karena Allah sangat mengetahui kemaslahatan-kemaslahatan manusia dan kemanfaatan-kemanfaatan mereka.
Dasar-dasar hikmah Allah menetapkan pokok-pokok fardhu dan dosa-dosa besar, telah ditandaskan oleh atsar yang dibawah ini:
Allah memfadhukan iman untuk membersihkan hati dari syirik, memfadhukan sembahyang untuk mensucikan diri dari takabbur, memfadhukan zakat  untuk menjadi sebab hasil rezeki dari manusia, memfadhukan puasa untuk menguji keikhlasan manusia, memfardhukan haji utuk mendekatkan umat islam antara satu dengan lainnya, memfardhukan jihad untuk kebenaran islam, memfardhukan amar makruf untuk kemaslahatan orang awam, memfardhukan nahyu ‘anil munkar untuk menghardik orang-orang yang kurang akal, memfardhukan silaturahmi untuk menambah bilangan, memfardhukan qishah untuk memelihara darah, menegakkan hukum-hukum pidana untuk membuktikan besarnya keburukan barang-barang yang diharamkan itu, memfardhukan kita menjauhkan diri dari minuman yang memabukkan untuk memelihara akal, memfardhukan kita menjauhkan diri dari pencurian untuk mewujudkan pemeliharaan diri, memfardhukan kita menjauhi zina untuk memelihara keturunan, memfardhukan kita menjuhi dusta untuk memuliakan kebenaran, dan memfardhukan perdamaian untuk memelihara manusia dari ketakutan dan memfardhukan kita memelihara amanah untuk menjaga keseragaman hidup dan memfardhukan taat untuk memberi nilai yang tinggi kepada pemimpin negara.[4]

B.    Tafsir dari QS. Hud ayat 61
1.     Tafsir Ibnu Katsier
Allah berfirman, “Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud seorang Rasul, ialah saudara mereka sendiri shaleh, yang berseru kepada mereka agar hanya menyembah kepada Allah yang telah menciptakan mereka dari tanah (bumi) dan menjadikan mereka berkuasa diatasnya, mengelolanya untuk kepentingan hidup dan kemakmuran mereka. Karenanya, sebagai imbalan, Shaleh berkata kepada mereka, “ Beristighfarlah (mohon ampun) kamu dari dosa-sosa kamu yang lalu, kemudian bertobatlah dari melkukan dosa yang akan datang. Sesungguhnya Tuhanku adalah dekat yang mendengar doa-doa hamba-hamba-Nya serta memperkenankannya. Kaum Tsamud tersebut adalah penduduk “al-Hujir” sebuah kota terletak antara Tabuk dan Madinah.[5]
2.     Tafsir Al-Maragi

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ
Dan kepada Tsamud, kami utus saudara mereka, shalih. Shalih berkata; “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.
Kata-kata ini, seperti halnya kata-kata semisalnya yang telah kita baca, yaitu mengenai penyampaian dakwah yang dilakukan oleh Nabi Hud as. هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْض Allah lah yang telah memulai penciptaan kaian dari tanah. Yaitu, pertama yang daripadanya Allah menciptakan Adam, nenek moyang umat manusia, kemudian menciptkan kalian dari sari pati yang berasal dari tanah. Juga melewati bemacam-macam perantara karena sperma (nutfah) yang berubah menjadi sesuatu yang melekat pada uterus (‘Alaqah), kemudian menjadi kerangka tulang yang dibalut dengan daging. Asal semuanya adalah darah, sedang darah yang itu berasal dari makanan. Makanan itu, kadang terdiri dari tumbuhan yang hidup diatas tanah, kadang terdiri dari daging yang berasal dari tetumbuhan setelah melewati satu tahapan atau lebih.  وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَاDan Allah menjadikan kalian orang-orang yang memakmurkan tanah itu. Artinya, bahwa kaum Nabi Shalih itu ada yang menjadi petani, pengrajin dan ada pula tukang batu.
            Kesimpulannya : sesungguhnya Allah-lah yang telah menciptakan bentuk kejadian kalian, dan menganugerahkan kepadamu sarana-sarana kemakmuran dan kenikmatan diatas bumi. Maka tidaklah takut kamu menyembah Allah, karena allah-lah yang berjasa dan memberi anugerah kepada kalian. Oleh karena itu, bersyukur kepada-Nya adalah kewajibanmu dengan cara beribadah kepada-Nya semata-mata dengan ikhlas. فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ Maka, mohonlah kepada Allah supaya mengampuni kalian atas dosa-dosamu yang lalu karena kemusyrikanmu dengan mempersekutukan Allah kepada yang lain, juga atas kejahatan-kejahatan yang telah kamu lakukan. Kemudian, kembalillah kalian kepada-Nya dengan memohon taubat tiap kali kamu terlanjur melakukan suatu dosa, semoga Dia mengampuni kalian. إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيب Sesungguhnya, Tuhanku Maha Dekat kepada hamba-hamba-Nya, tidak samar bagi-Nya permohonan ampun mereke maupun dorongan yang membangkitkan untuk melakukan permohonan ampun. Allah juga Maha Pengampun dan mengabulkan do’a bagi siapa pun yang berdo’a kepada-Nya dan memohon, apabila dia seorang Mu’min yang ikhlas.[6]
3.     Tafsir Al-Lubab
Ayat 61 menguraikan kisah Nabi Shaleh as. bersama kaumnya Tsamud. Beliau pun, sebagaiman nabi-nabi sebelumnya, mengajak kaaumnya untuk menyembah Allah swt. Karena tidak ada Tuhan yang wajar dan berhak disembah selain-Nya. Beliau juga mengingatkan bahwa Allah swt yang menciptakan mereka dari tanah/bahan bumi ini dan menugaskan mereka memakmurkannya, lalu karena setiap orang berpotensi melakukan kesalahan dan dosa, maka nabi mulia itu memerintahkan agar memohon ampun kepada Allah, kemudian bertaubat dengan meninggalkan dosa dan pelanggaran mereka. Pesan ayat 61 ini ditutup olrh Nabi Shaleh as dengan menyatakan bahwa: “Sesungguhnya Tuhan Pemeliharaku amat dekat rahmat-Nya, sehingga seseorang tidak harus berpayah-payah pergi jauh guna meraihnya. Dia juga Maha Memperkenankan doa siapa yang berdoa dengan tulus.”[7]
4.     Tafsir Al-Azhar
“Dan kepada Tsamud.” (pangkal ayat 61). Telah diutus pula “saudara mereka Shalih.” Artinya, bahwa Nabi Shalih diutus Tuhan menjadi Rasul kepada kaum Tsamud itu, bukanlah ia orang yang didatangkan dari luar, melainkan putera dari Kabilah Tsamud itu sendiri. Sebab itu maka yang didatanginya ialah saudaranya sendiri. Sebgaimana juga sekalian Nabi yang diutus Tuhan, maka seruan yang disampaikan Shalih kepada kaumnya itu, sama juga dengan yang disampaikan oleh Nabi-Nabi yang lain.
“Dian berkata: “Hai kaumku! Sembahlah olehmu akan Allah, tidaklah ada bagi kamu Tuhan selain Dia.” Hanya Allah sajalah yang patut kamu sembah, karena selain dari Dia tidak ada Tuhan. “Dialah yang menciptaka kamu dari bumi.” Bukanlah berhala, atau patung atau makhluk yang lain itu yang menciptakan kamu dari tidak ada menjadi ada, melainkan Allah itulah yang menciptakan kamu dari bumi.
      Lalu selanjutnya Nabi Shalih berkata: “Dan (Dia) meramaikan kamu didalamnya. “Subur makmur muka bumi ini, dengan serba lengkap serba cukup bahan makanan, dan ramailah manusia menjadi penghuninya. Inilah yang diperingatkan oleh Nabi Shalih kepada kaumnya, agar mereka mensyukuri nikmat kemakmuran yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Pintu syukur yang pertama adalah sadar kembali bahwasanya mempersekutukan yang lain dengan Allah adalah satu dosa yang paling besar. Sebab itu berkatalah Shalih selanjutnya: “Maka mohonkanlah ampun kepada-Nya”. Allah yang menganugerahi kemakmuran, lalu yang lain yang disembah: “Kemudian itu taubatlah kepadanya.
Taubat artinya kembali. Yaitu kembali kepada jalan yang benar. Apabila telah memohon ampun dan bertaubat, besar harapan bahwa Allah melimpah-kurniakan ampu dan kasih: “Sesungguhnya Tuhanku itu adalah sangat dekat.” Oleh sebab Allah itu sangat dekat daripada hambanya, maka didengarNyalah segala permohonan ampun dan permohonan taubat daripada hambaNya: “Lagi memperkenankan.” (ujung ayat 61). Artinya, karena dia dekat dari hambaNya dan didengarNya segala permohonan mereka itu, maka segala permohonan yang timbul dari pada hati yang tulus-ikhlas dan insaf akan kelalaian dan keaalpaan diri, niscaya permohonan itu akan Dia kabulkan.[8]
C.    Aplikasi dalam Kehidupan
1.     Manusia harus menyembah Allah SWT semata-mata. Kita jangan pernah mensekutukanNya.
2.     Membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.
3.     Tugas manusia di bumi ini sebagai pemakmur yaitu untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan umat manusia sendiri lebih-lebih lingkungan-nya.
4.     Mendidik mental dan menjadikan manusia ingat akan kewajibannya.
5.     Memelihara keseimbangan antara unsur rohani dan jasmani.
D.    Aspek Tarbawi
1.     Hanya Allah sajalah yang patut kita sembah, karena tidak ada Tuhan selain Allah.
2.     Mengingatkan bahwa Allah swt yang menciptakan manusia dari tanah/bahan bumi ini dan menugaskan manusia memakmurkannya.
3.     Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridhai dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri kepada Allah.
4.     Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
5.     Jihad dijalan Allah (berusaha sekuat tenaga untuk meraih segala sesuatu yang dicintai Allah).





BAB III
PENUTUP
1.     Kesimpulan
Isi dari QS. Hud ayat 61 adalah sebuah perintah bagi seluruh manusia untuk menyembah kepada Allah swt. Karena Dialah yang telah menciptakan manusia. Baik  manusia terdahulu ataupun manusia yang akan datang. Perintah menyembah atau beribadah dalam ayat ini memiliki makna yang luas, tidak hanya penyembahan dalam arti ibadah mahdhah saja, melainkan ibadah dalam arti luas. Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dengan tujuan dari diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk beribadah kepada-Nya saja.
Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk beribadah kepadaNya saja. Karena Allah adalah Pencipta yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan menciptakan manusia dari ketiadaan, Dia juga telah menciptakan umat-umat sebelum kita. Nikmat yang diberikannya berupa nikmat yang nyata dan nikmat yang tidak nampak. Dan menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat berketurunan, bercocok tanam, berkebun, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lainnya serta manfaat bumi lainnya.


[1] Sidik Tono, dkk, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, (Yogyakarta: Badan Penerbit Universitas Islam Indonesia (UII press, 1998), hlm. 2
[2] Syekh Muhammad, At-Tamimi, Kitab Tauhid, (Jakarta: Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta, 2003), hlm. 11
[3] Sidik Tono, dkk, op.cit.,hlm.6-7
[4] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Kuliah Ibadah, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2000), hlm 13-15
[5]Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Katsier Jilid 4, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1988), hlm 308-309
[6] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1988), hlm 97-99
[7] M. Quraish Shihab, Al-Lubab, (Tangerang: Lentera Hati, 2012), hlm 688
[8] Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XII, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hlm 81-83





DAFTAR PUSTAKA
Bahreisy, Salim dan Said Bahreisy. 1988. Terjemah Singkat Tafsir Katsier Jilid 4. Surabaya: PT. Bina Ilmu
Hamka, Tafsir Al Azhar Juz XII. 1984. Jakarta: Pustaka Panjimas
Muhammad At-Tamimi, Syekh. 2003.  Kitab Tauhid.  Jakarta: Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta
Muhammad Hasbi Teungku, Ash Shiddieqy. 2000. Kuliah Ibadah. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra
Mustafa Al-Maragi, Ahmad. 1988. Tafsir Al-Maragi. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang
Quraish Shihab, M. 1984.  Al-Lubab. Tangerang: Lentera Hati
Tono Sidik, dkk. 1998. Ibadah dan Akhlak dalam Islam. Yogyakarta: Badan Penerbit Universitas Islam Indonesia (UII press)



 BIODATA DIRI


Nama                          : Reni Pretiani
TTL                             : Pemalang, 25 November 1996
Alamat                        : Desa Karangasem RT 06/RW 01 Kec. Petarukan Kab. Pemalang
Riwayat Pendidikan   :
a.      SDN 03 Karangasem
b.     SMP N 3 Petarukan
c.      SMK Satya Praja 1 Petarukan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar