Laman

Selasa, 22 November 2016

TT1 A 12b METODE AMTSAL (QS. Ibrahim ayat 24-25)



METODE PENDIDIKAN “KHUSUS”
METODE AMTSAL
(QS. Ibrahim ayat 24-25)


M. SYAFIQUR RAHMAN (202 111 5357)
 Kelas : A

TARBIYAH/ PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016
 


 KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT., atas nikmat dan rihdon-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugasnya dalam pembuatan makalah tentang “Metode Amtsal”. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW., kepada keluarganya, para sahabatnya, beserta para pengikutnya yang tetap setia dalam keimanan hingga akhir zaman  yang telah membawa manusia dari zaman jahiliyah menuju alam yang berilmu sekarang ini.
Dalam penulisan makalah ini, tentunya dapat tersususun bukan hanya dari usaha keras penulis semata, melainkan berkat do’a dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak, antara lain :
1. Kepada Bapak dan Ibu yang telah mendidik sejak kecil sampai sekarang.
2. Kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi I.
3. Kepada teman-teman Tafsir Tarbawi I kelas A, yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah mengarahkan penulis dalam menjalani studi.
Tiada gading yang tak retak, karena bukan gading kalau tak retak. Itulah peribahasa yang dapat mewakili berbagai kelemahan dan kekurangan dalam penulisan makalah ini. Hal ini karena  penulis menyadari  masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, mengingat keterbatasan kemampuan penulis sebagai seorang makhluk, dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Untuk itu diharapkan dengan adanya kritik dan saran dapat menjadi bahan evaluasi bagi kebaikan penulis kedepannya. Semoga makalah yang berjudul Metode Pendidikan “Khusus”; “Metode Amtsal” dapat memberi manfaat, baik bagi pembaca maupun penulis pribadi.


Pekalongan, 11 November 2016



M. Syafiqur Rahman
(2021115357)

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR   i
DAFTAR ISI   ii
BAB I   PENDAHULUAN
A. Latar Belakang  1
B. Judul Makalah  1
C. Nash dan Terjemahan  2
D. Arti Penting Pengkajian Makalah  3
BAB II   PEMBAHASAN
A. Teori  4
B. Tafsir QS. Ibrahim Ayat 24 – 25   5
C. Aplikasi Dalam Kehidupan Sehari-hari  8
D. Aspek Tarbawi  8
BAB III   PENUTUP
Simpulan  10
Kritik 10
DAFTAR PUSTAKA   11
PROFIL PENULIS   12


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber ajaran Islam, dimana sesuatu mengenai hidup dan kehidupan telah diatur didalamnya.Didalam menyampaikan ajaran-Nya Al-Qur’an menggunakan berbagai metode, karena metode mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk mencapai tujuan, dan metode dapat menjelaskan berbagai inti yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits, agar dapat dipahami oleh manusia. Salah satu metode yang di gunakan adalah Metode Amtsal atau perumpamaan.Dari sekian banyak perumpamaan yang Allah buat di antaranya terdapat pada QS. Ibrahim ayat 24-25, tentang perumpamaan pohon.Penelitian ini mencoba mengungkapkan perumpamaan sifat pohon dalam pembentukan akhlak mukmin yang sesuai dengan QS.Ibrahim ayat 24-25.
Perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an dikategorikan kedalam kelompok kisah yang bersifat kesusastraan murni, sebab perumpamaan merupakan salah satu cara yang baik untuk menyatakan suatu pikiran dalam bentuk kesusastraan Arab. Oleh karenanya, dalam  pengungkapan suatu pikiran, baik dalam bentuk berita, perintah, dan larangan maupun dalam bentuk nasehat-nasehat, Al-Qur’an menempuh berbagai cara dalam mengantar manusia  kepada kesempurnaan kemanusiaannya. Antara lain dengan mengemukakan perumpamaan-perumpamaan.
Perumpamaan merupakan contoh-contoh hikmah bagi yang tidak terjangkau oleh pendengaran dan penglihatan untuk memberikan hidayah pada jiwa-jiwa dengan apa yang diketahuinya.

B.      Judul Makalah
Dalam kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang “Metode Amtsal” yang termaktub dalam Qur’an surat Ibrahim ayat 25-26. Menyesuaikan dengan tugas yang telah penulis terima.




C.     Nash Dan Terjemah
1.    Nash QS. Ibrahim ayat 24-25

أَلَم تَرَ كَيفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصلُها ثابِتٌ وَفَرعُها فِى السَّماءِ ۞ تُؤتى أُكُلَها كُلَّ حينٍ بِإِذنِ رَبِّها ۗ وَيَضرِبُ اللَّهُ الأَمثالَ لِلنّاسِ لَعَلَّهُم يَتَذَكَّرونَ ۞
Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.(Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”(Ibrahim:24-25)

2.    Arti Mufrodat

أَلَم تَر                                 =  ( tidakkah KamuPerhatikan)memperhatikan
كَيفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا             =   (bagaimana Allah telah membuat perumpamaan)
كَلِمَةً طَيِّبَةً                           =   (kalimat yang baik)yakni kalimat Laa Ilaaha Illallaah
كَشَجَرَةٍ طَيِّبَة                       =   (seperti pohon yang baik) yaitu pohon kurma
أَصلُها ثابِتٌ                         =   (akarnya teguh) menancap dalam di bumi
وَفَرعُها                              =   (dan cabangnya) ranting-rantingnya
فِى السَّماءِ                           =   (menjulang ke langit)
تُؤتى                                 =   (pohon itu memberikan) membuahkan
أُكُلَها                                  =   (buahnya) buah-buahannya
كُلَّ حينٍ بِإِذنِ رَبِّها                =   (pada setiap musim dengan seizing Rabb-nya) dengan kehendak-Nya demikian pula kalimat iman tertanam di dalam kalbu orang mukmin, sedangkan amalnya naik ke langit, kemudian memperoleh berkah dan pahala amalannya itu setiap saat.
وَيَضرِبُ                            =   (dibuatkan) dijelaskan
اللَّهُ الأَمثالَ لِلنّاسِ لَعَلَّهُم يَتَذَكَّرونَ    =      (oleh Allah perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat) mau mengambil pelajaran dari padanya kemudian mereka mau beriman karenanya.[1]

D.    Arti Penting
Penggunaan metode amtsal pada ayat ini tidak hanya mengajarkan manusia agar paham tentang kalimat baik dan kalimat buruk yang diumpamakan dengan pohon, tetapi yang paling penting adalah menarik jiwa peserta didik agar mencintai hal-hal yang baik dan mencontoh sifat-sifat yang ada pada pohon yang diperumpamakan pada ayat tersebut, serta menjauhi hal-hal yang buruk dan mempelopori untuk berbuat kebaikan.











BAB II
PEMBAHASAN

A.     Teori
a.       Pengertian Metode Amtsal
Amstal jamak dari matsal. Matsal dimaknakan dengan keadaan, kisah dan sifat yang menarik perhatian, menakjubkan, seperti firman Allah swt dalam surat Ar-ra’du ayat 35 yang artinya: “Yakni kisah surga dan sifatnya yang menakjubkan yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa
Di dalam ilmu Adab (sastra), matsal diartikan dengan suatu perkataan yang dihikayatkan dan sudah berkembang yang dimaksudkan dari menyerupakan keadaan orang yang dihikayatkan padanya dengan keadaan orang yang matsal itu dibicarakan.[2]
Dengan Amtsal, Allah mengumpamakan perkara maknawi dengan perkara indrawi, agar kesannya lebih menyentuh jiwa dan lebih sempurna bagi orang yang berakal. Bagi orang-orang Arab, kata Amtsal atau perumpamaan adalah gaya pengungkapan perasaan yang biasa digunakan untuk memperjelas makna-makna yang dikehendaki terpaku kokoh didalam hati para pendengar. Demikian Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiah, menggunakan kata-kata tersebut. Sering masalah-masalah penting disusul dengan perumpamaannya, agar kesannya menyentuh jiwa.[3]

b.      Macam-macam amsal (perumpamaan) dalam al-qur’an :
1.        Amtsal yang tegas (Musyarrahah)
Amtsal yang tegas ialah amtsal yang ditegaskan didalam lafadz masal yang menunjukkan kepada tasbih. Diantara perumpamaan yang Allah berikan terhadap orang-orang munafik dalam surat Al-Baqarah. Pertama, perumpamaan yang berhubungan dengan api. Dan yang kedua perumpamaan yang berhubungan dengan air. Dan Allah membuat dua perumpamaan pula, perumpamaan yang berhubungan dengan air dan perumpamaan yang berhubungan dengan api dalam surat Ar-Ra’du.
2.        Amtsal yang tersembunyi (kaminah)
Amtsal yang tersembunyi ialah amtsal yang tidak ditegaskan lafadz tamsil. Tetapi dia menunjuk kepada beberapa makna yang mempunyai tekanan apabia ia dipindahkan kepada yang menyerupainya.
3.        Amtsal yang terlepas(mursalah)
Amtsal yang terlepas ialah kalimat-kalimat yang disebut secara terlepas tanpa ditegaskan lafadz tasbih. Tetapi dapat dipergunakan untuk tasbih.[4]

B.     Tafsir QS. Ibrahim Ayat 24-25
1.      Tafsir Al-Maraghi
Allah mengumpamakan kalimat yang baik itu dengan pohon yang baik, berbuah, indah dipandang, harum baunya, tertancap kokoh didalam tanah, yang karenanya tidak mudah tumbang dan cabang-cabangnya menjulang tinggi ke udara. Keadaan ini menunjukkan kepada kokohnya pokok, kuatnya akar, dan jauhnya pohon dari benda-benda busuk yang ada di dalam tanah serta kotoran bangunan. Maka pohon itu mendatangkan buahnya yang bersih dari segala kotoran, dan berbuah pada setiap musim dengan perintah serta izin penciptanya. Jika seluruh sifat tersebut dimiliki oleh pohon ini, maka akan banyak manusia yang menyukainya.
Allah mengumpamakan kalimat iman dengan sebuah pohon yang akarnya tetap kokoh di dalam tanah dan cabang-cabangnya menjulang tinggi ke udara, sedang pohon itu berbuah pada setiap musim. Hal ini disebabkan apabila hidayah telah bersemayam didalam qalbu, seakan sebuah pohon yang berbuah pada setiap musim, karena buahnya tidak pernah terputus. Setiap qalbu menerima dari qalbu serupa dan mengambil dengan cepat, lebih cepat daripada kobaran api pada kayu bakar yang kering.
Orang-orang yang berjiwa luhur dan para pemikir besar adalah orang-orang yang memiliki kalimat yang baik, ilmu mereka memberikan nikmat dan rezeki kepada umat mereka didunia. Ilmu mereka tetap kokoh didalam hati mereka, sedang cabang-cabangnya menjalar ke alam-alam tertinggi atau alam terendah, dan pada setiap masa memberikan buahnya kepada putra-putra bangsa mereka  atau putra bangsa lain. Orang-orang mukmin menggunakannya sebagai penunjuk jalan. Sungguh perumpamaan mereka seperti pohon kurma yang tetap tertanam, sedang cabang-cabangnya menjulang tinggi, disamping ia selalu berbuah dan manusia memakannya dimusim panas atau musin dingin.[5]

2.      Tafsir Al-Mishbah
Ayat ini mengajak siapa pun yang dapat melihat, yakni merenung dan memperhatikan, dengan masyarakat: tidakkah kamu melihat, yakni memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik?. Kalimat itu seperti pohon yang baik, akarnya teguh menghunjam ke bawah sehingga tidak dapat di robohkan oleh angin dan cabangnya tinggi menjulang ke langit, yakni ke atas. Ia memberikan buahnya pada setiap waktu, yakni musim dengan seizin Tuhannya sehingga tidak ada satu kekuatan yang dapat menghalangi pertumbuhan dan hasilnya yang memuaskan. Demikian Allah membuat perumpamaan-perumpamaan, yakni memberi contoh dan perumpamaan untuk manusia supaya dengan demikian makna-makna abstrak dapat ditangkap melalui hal-hal konkret sehingga mereka selalu ingat.
Sementara ulama membahas pohon apakah yang dimaksud sebagai perumpamaan kalimat yang baik itu. Ada yang berpendapat bahwa ia adalah pohon kurma. Berdasarkan satu riwayat yang menyatakan (Abdullah) putra Umar ra. Berkata bahwa suatu ketika kami berada di sekeliling Rasul SAW. Lalu beliau bersabda: ”Beritahulah aku tentang sebuah pohon yang serupa dengan orang muslim!” Putra Umar berkata: “Terlintas dalam benakku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tetapi aku lihat Abu Bakar dan Umar tidak berbicara, maka aku segan berbicara.” Dan seketika Rasul SAW. Tidak mendengar jawaban dari hadirin, beliau bersabda: ”Pohon itu adalah pohon kurma.” Setelah selesai pertemuan dengan Rasul SAW. Itu aku berkata kepada (ayahku) Umar: “ Wahai Ayahku! Demi Allah telah terlintas dalam benakku bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma.” Beliau berkata: “Mengapa engkau tidak menyampaikannya?” Aku menjawab: “Aku tidak melihat seorang pun berbicara, maka aku pun segan berbicara.” Umar ra. berkata: “Seandainya engkau menyampaikannya maka sungguh itu lebih kusukai dari ini dan itu” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan lain-lain).
Ulama juga berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kalimat yang baik, ada yang berpendapat bahwa ia adalah kalimat Tauhid, atau iman, bahkan ada memahaminya menunjuk kepada pribadi seorang mukmin. Iman terhunjam kedalam hatinya, seperti terhunjamnya akar pohon, cabangnya menjulang ke atas, yakni amal-amalnya di terima oleh Allah, buahnya, yakni ganjaran Ilahi pun bertambah setiap saat. Thahit Ibn Asyur memahaminya dalam arti Al-Qur’an dan petunjuk-petunjuknya. Thaba thaba’i memahaminya dalam arti kepercayaan yang haq. Makna-makna di atas semuanya dapat bertemu. Agaknya secara sigkat kita dapat menyatakan bahwa ia adalah Kalimat Tauhid.
Kalimat Tauhid adalah pusat yang berkeliling di sekitarnya kesatuan-kesatuan yang tidak boleh di lepaskan dari pusat itu, seperti planet-planet tata surya yang berkeliling di sekitar tata surya. Kesatuan-kesatuan itu antara lain, kesatuan alam raya, kesatuan dunia dan akhirat, kesatuan natural dan supra natural, kesatuan ilmu, kesatuan sumber agama-agama samawi, kesatuan kamanusiaan, kesatuan umat, kesatuan kepribadian manusia dan lain-lain.[6]

3.      Tafsir Ibnu Katsier
Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan kalimat yang baik ialah ucapan “Lailaha Illallah”. Dan bahwa orang mukmin diumpamakan sebagai pohon yang baik, yang selalu tidak terputus-putus amalnya, pada waktu pagi, sore, atau malam bahkan pada tiap saat ada amal sholehnya yang naik keatas. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Umar yang bercerita; bahwa Rasulullah pada suatu ketika bertanya kepada kita yang berada disekelilingnya “Beritahulah aku tentang sebuah pohon yang sifat-sifatnya menyerupai keadaan orang-orang muslim, yang tidak rontok daun-daunnya pada musim panas maupun musim dingin dan memberikan (menghasilkan) buahnya tiap waktu seizin tuhannya”. “itulah pohon kurma”, Rasulullah menjawab sendiri pertanyaannya.[7]

C.    Aplikasi dalam kehidupan

Metode perumpamaan dapat di terapkan sebagai metode dalam kependidikan. Objek-objek perumpamaan yang nyata dipergunakan untuk memudahkan memahami konsep berdasarkan perhatian yang diberikan. Dalam surat Al-Ankabut : 41, orang yang menyekutukan Allah (syirik) itu di umpamakan seperti sarang laba-laba, yang demikian lemah dan tidak berdaya. Perumpamaan tersebut dipergunakan untuk memperlihatkan ayat-ayat Allah dan meniadakan sesembahan kepada makhluk lain selain Allah yang pantas disembah. Fungsi kedua digunakannya perumpamaan ini adalah agar orang-orang mukmin melakukan perbuatan-perbuatan baik, sementara orang-orang kafir senantiasa melakukan perbuaatn-perbuatan keji dan menjijikan.
Penjelasan konsep-konsep abstrak dengan makna-makna kongkrit di atas memberi gambaran adanya hubungan akrab dengan konsepsi qur’ani tentang persepsi manusia, dimana indera-indera manusia itu diberi peran yang menonjol. Fakta ini mempunyai aplikasi yang langsung dikelas dalam proses belajar mengajar. Apapun yang ada di lingkungan sekitar akan membantu pemahaman, konsep-konsep berdasarkan penelitian dan observasi yang amat berguna bagi proses mengetahui manusia. Abstraksi itu hanya dimungkinkan setelah pelajaran tersedia dengan data nyata yang dapat dikonseptualisasikan.[8]

D.     Aspek Tarbawi

·      Allah akan meneguhkan iman orang-orang yang beriman pada masa hidupnya. Kemudian Allah jugaakan meneguhkan iman mereka sesudah mati, yaitu didalam kubur yang merupakan tempat persinggahan pertama di akhirat.
·      Mendekatkan makna pada pemahaman.
·      Merangsang kesan dan pesan yang berkaitan dengan makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut, yang menggugah dan menumbuhkan berbagai perasaan ketuhanan.
·      Mendidik akal supaya berpikir logis dan menggunakan qiyas (silogisme) yang logis dan sehat.
·      Perumpamaan merupakan motif yang menggerakkan perasaan menghidupkan naluri, yang selanjutnya menggugah kehendak dan mendorong seseorang untuk melakukan amal yang baik dan menjauhi segala kemungkaran.[9]


























BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan

Al-Quran sebagai kitab suci dalam menyampaikan pesan-pesan Ilahi menggunakan Amtsal untuk menggambarkan sesuatu yang abstrak secara konkret, agar yang abstrak itu mudah dipahami dan berpengaruh bagi jiwa manusia. Dalam makalah ini dijelaskan bahwa metode Amtsal adalah suatu metode yang dengan cara menggunakan perumpamaan-perumpamaan dari sesuatu hal. Disini juga pengajar bisa menggunakan metode ini dalam penyampaian materi pembelajarannya.

B.     Kritik dan Saran
Dalam makalah ini tentunya penulis masih banyak kekurangan, untuk itu diharapkan dengan adanya kritik dan saran dapat menjadi bahan evaluasi bagi kebaikan penulis kedepannya agar bisa menjadikan makalah ini mendekati sempurna.
















DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, Abdurraman saleh. 1994. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Al-Mahalliy, Imam Jalalud-din dan Imam Jalalud-din As-Suyuthi. 1990. Terjemahan TafsirJalalain Berikut Asbaabun Nuzul. Bandung: Sinar Baru.

Al-Maraghi,Ahmad Musthafa.Tafsir Al-Maraghi juz14.Semarang: Toha Putra.

Ash-Shiddieqy, Teungku M. Hasby. 2010.Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Ulum Al-Qur’an),Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.

Bahreisy, H. Salim dan H. Said Bahreisy. 1988. Terjmahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid 4. Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset.

Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an,Jakarta: Lentera Hati.











PROFIL PENULIS



NAMA                                     :    Muhammad Syafiqur Rahman
NAMA ORANG TUA
-BAPAK                              :    Alwi
-IBU                                     :    Zuhrotun Nisak
Tempat, Tanggal Lahir             :    Batang, 11 November 1997
ALAMAT                                :    Masin Gg.2 Rt.4 Rw.2 Warungasem Batang
RIWAYAT PENDIDIKAN
-TK                                       :    RA Tholabuddin Masin
-SD                                       :    MI Tholabuddin Masin 01
-SMP                                    :    MTs Tholabuddin Masin
-SMA                                   :    MA Tholabuddin Masin
-S1                                        :    IAIN PEKALONGAN (Semester 3)


[1]Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti,Terjemahan TafsirJalalain Berikut Asbabun Nuzul,(Bandung: Sinar Baru, 1990), hlm.,1031.

[2]M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Quran (Ulum Al-Quran) cet. Ke3, (Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra, 2010), hal.165.
[3]Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi juz 13, (Semarang: CV. Thoha Putra, 1994), hlm.277.
[4]M. Hasbi Ash-Shiddieqy,Op.Cit., hlm.167-168.
[5] Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Op.Cit.,hlm.278-281.
[6]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm.,51-53.

[7]Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, (Surabaya: Bina Ilmu, 1988), hlm.486-487.
[8]Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an cet. Ke2, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994), hlm.218-219.
[9]Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), hlm.264-265.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar