Laman

Senin, 10 Oktober 2011

inovasi pendidikan: kelompok kecil belajar


Suadil Fuadah
202109044
Inovasi pendidikan

Inovasi pendidikan bisa dibagi dalam beberapa bagian tertentu seperti manajemen kelas, kurikulum, pengajaran, dan sebagainya. Namun, berikut yang saya hendak jelaskan adalah tentang inovasi dalam bidang pengajaran. Inovai ini berdasarkan pengalaman dari salah seorang teman dalam mengajar beberapa pelajaran di tingkat SMP dan SMA.
Pada dasarnya, pengajaran atau pendidikan akan lebih efektif jika dilakukan dengan praktek. Sebenarnya, kurikulum KBK (kurikulum berbasis kompetensi) yang dulu pernah dikeluarkan oleh dinas pendidikan di Indonesia merupakan salah satu kurikulum yang paling tepat yang bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sayangnya, kurangnya kreatifitas dari pihak pengajar dan kurangnya keaktifan dari pihak siswa membuat kurikulum tersebut tidak bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Berikut adalah contoh teknik pengajaran yang patut untuk dikembangkan di sekolah-sekolah di Indonesia.
1.      Pendidikan bahasa asing
Semua mata pelajaran terkait dengan bahasa asing seperti bahasa Inggris, maupun bahasa Arab sangat diharapkan tercapainya kompetensi tertulis dan lisan. Sebagai salah satu cara untuk dapat mendapatkan kompetensi yang diinginkan adalah dengan mengajak para siswa untuk bersama-sama mempraktekkan bahasa yang dipelajari minimal di lingkungan sekolah.
Untuk kompetensi tertulis, pengajar dapat memberikan tugas rumah yang dikumpulkan setiap satu minggu sekali. Tugasnya adalah siswa wajib membuat cerita tentang kegiatan sehari-hari selama satu minggu terakhir menggunakan bahasa arab atau inggris atau bahasa asing lain yang sedang dipelajari. Setiap pertemuan dibahas antara beberapa hasil tugas individu tersebut dan dijelaskan mengenai teknik penulisan serta pemilihan kata yang tepat. Target pencapaian dari tugas ini adalah untuk mengasah kreatifitas siswa serta mengembangkan perbendaharaan kata siswa. Selain itu siswa juga dapat mengenali jenis-jenis tulisan yang ada melalui penjelasan pengajar.
Untuk kompetensi lisan, perlu diadakan semacam sesi belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa asing, namun di tempat yang khusus. Tidak perlu penggunaan lab bahasa atau sejenisnya. Justru akan lebih baik jika sesi tersebut dilaksanakan di tempat yang terbuka seperti pendopo atau lingkungan taman. Para siswa diminta untuk duduk melingkar kemudian pengajar memulai dengan pembukaan. Tema atau topik pembicaraan lebih baik menggunakan topik yang sedang ramai dibicarakan di media atau berita-berita yang terbaru dan ke arah pergaulan. Hal ini juga untuk memancing ketertarikan siswa, agar mereka mau mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, tanpa harus malu.


2.      Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi

Dalam pengajaran ilmu pengetahuan alam dan teknologi sangat diperlukan praktek secara langsung. Beberapa pelajaran yang termasuk di dalam bagian ini seperti Biologi, Fisika, Kimia, Geografi, dan Komputer. Untuk merangsang agar para siswa mau berpartisipasi dalam setiap praktek, pengajar sebaiknya menggunakan hal-hal yang biasa ditemui di dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan kelompok belajar kecil yang terdiri dari sekitar 5-8 orang sangat menunjang tercapainya kompetensi di dalam mata pelajaran ini.
Pengajar diharapkan tidak terlalu menggurui siswanya. Dalam hal ini, biarkan para siswa bereksplorasi dengan kreatifitas mereka, guru bertindak sebagai pengantar, pemberi saran, pembimbing, serta penilai dengan tidak secara sepenuhnya menyampaikan materi teori yang biasanya justru menjenuhkan siswa. Teori tanpa praktek juga akan sia-sia. Dengan sistem ini, para siswa juga dipacu untuk dapat melakukan penelitian berdasarkan bekal informasi yang mereka peroleh dari guru. Mereka juga akan terbiasa untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Hal ini dapat mengembangkan kemampuan otak mereka, serta diharapkan akan lebih merata pemahaman yang mereka dapatkan. Jika ada yang menonjol di antara salah satu siswa pada mata pelajaran tertentu, pengajar sebaiknya mendukung serta mendorongnya untuk dapat bereksplorasi secara lebih bebas.

3.      Pendidikan agama dan ibadah
Dalam hal ini, para pengajar dituntut untuk selalu mengawasi para siswanya terkait dengan materi yang diajarkan. Setiap pengetahuan harus diiringi dengan contoh atau praktek langsung diawasi oleh guru yang bersangkutan. Hal ini untuk menghindari terjadinya salah tafsir yang dapat mengakibatkan perpecahan pada masa mendatang saat para siswa mulai terjun di dalam kehidupan bermasyarakat.
Berkaitan dengan pendidikan ibadah, mata pelajaran Praktek Ibadah (PI) sangat dibutuhkan di lingkungan sekolah, terutama sekolah yang fokus terhadap pelajaran agama. Terkait dengan mata pelajaran agama lain seperti sejarah islam dan sebagainya yang tentu saja tidak bisa dipraktekan bisa dengan menggunakan film atau simulasi-simulasi melalui sebuah media audio visual.

Jadi, kesimpulannya ada beberapa faktor umum yang perlu dipenuhi dalam inovasi pengajaran ini. Pertama, dibentuknya sebuah kelompok belajar kecil di dalam kelas dengan tiap mata pelajaran masing-masing siswa mempunyai kelompok belajar yang berbeda. kedua, kreatifitas pengajar yang mampu memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari untuk kemudian dijadikan sebagai salah satu sarana pembelajaran yang menarik bagi para siswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar