Laman

Senin, 10 Oktober 2011


PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN URGENSI ETIKA (ILMU AKHLAK) SERTA POSISI ETIKA / ILMU AKHLAK SEBAGAI BAGIAN DARI FILSAFAT

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
Mata kuliah : Ilmu Akhlak
Dosen pengampu : Muhammad Ghufron Dimyati, M.Si
C:\Documents and Settings\Admin\My Documents\My Pictures\stain-pekalongan.gif









Disusun oleh:
1.      Atika Khoirun Nisa                  2021 111 330
2.      Alif Mega Wahyuni                  2021 111 331
3.      Amat Tuheni                            2021 111 332

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAMI NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2011/2012

BAB I
PENDAHULUAN
Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya masyarakat tergantung pada bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka sejahteralah lahir dan bathinnya, apabila akhlaknya rusak, maka rusaklah lahir dan bathinnya.
Kejayaan seseorang terletak pada akhlaknya yang baik, akhlak yang baik selalu membuat seseorang menjadi aman, tenang, dan tidak adanya perbuatan yang tercela. Seseorang yang berakhlak mulia selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya.
Seseoprang yang berakhlak buruk menjadi sorotan bagi sesamanya, contoh : melanggar norma-norma yang berlaku di kehidupan penuh dengan sifat-sifat tercela, tidak malaksanakan kewajiban yang seharusnya dikerjakan secara objektif, maka yang demikian ini menyebabkan kerusakan susunan system lingkungan.

BAB II
PEMBAHASAN
a.    Pengertian Ilmu Akhlak
Menurut bahan (etimologi) perkataan akhlaq ialah bentuk jamak dari khuluq (khulugun)yang berarti budi pekerti, adat kebiasaan atau prilaku manusia dalm kehidupan sehasi-hari. Dalm surat Al-Qalam ayat 4, menyebutkan perkataan akhlak yaitu :
عَظِيمٍ خُلُقٍ لَعَلى وَإِنَّكَ
Artinya : “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-bejnar berbudi pekerti yang agung”
Dalam bahasa yunani pengertian khuluq ini disamakan dengan kata ethic atau ethos, artinya adab kebiasaan, perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian berubah menjadi Etika.
Sedangkan dari segi istilah (terminologi) istilah akhlak adalah keadaaan jiwa seseorang yang mendorong timbulnya suatu perbuatan dengan mudah karena dibiasakan sehingga itu memerlukan pertimbangan dan pemikiran terlebih dahulu.
Jadi, yang dimaksud ilmu akhlak menurut para ahli yaitu ilmu yang membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan pengertian baik da buruk, macam-macam akhlak yang baik dan akhlak yang buruk, arti dan tujuan hidup manusia, hal-hal yang harus dikerjakan atau yang ditinggalkan oleh manusia agar ia dapat mencapai tujuan tersebut dan memiliki akhlak yang mulia serta terhindar dari akhlak tercela.
b.    Ruang Lingkup Ilmu Akhlak (Etika)
1.       Teori tentang tiongkah laku manusia
Adapun tingkah laku manusia yang dapat dihukum dengan ketentuan akhlak adalah semua perbuatan manusia yang dilakukan dengan ikhtiar dan sengaja ia sadar dengan segala apa yang diperbuatnya.
Demikian juga perbuatan yang dilakuakn dengan tidak sengaja / tidak ada kehendak, tetapi dapat di usahakan untuk menghindarinya sewaktu sadar.
2.       Faktor-faktor yang mempengaruhi dan mendorong lahirnya tingkah laku manusia ,seperti :
-          Insting (Naluri) ialah suatu sifat yang dapat menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berpikir bahwa kearah tujuan itu dan tidak dengan didahului latihan.
-          Adat Kebiasaan ialah suatu perbuatan bila diulang-ulang sehingga menjadi mudah dikerjakan. Kebanyakan pekerjaan manusia dari adat kebiasaan, seperti berjalan, berlari, cara berpakaian, berbicara, dtt,dsb.
Membentuk adat kebiasaan. Segala perbuatan, baik atau buruk, menjadi adat kebiasaan karena dua factor yaitu : Kesukaan hati pada suatu oekerjaan, dan menerima kesukaan itu dengan malahirkan suatu perbuatan dengan diulang-ulang
-          Kemauan ialah keinginan / kecenderungan yang dimenangkan / dipilih diantara kecenderungan yang banyak setelah bimbang.
-          Suara Hati ialah kekuatan memerintah dan melarang (dari hati / jiwa).
3.       Macam-macam Akhlak yang Baik
-          Al-Amanah ( sifat jujur dan dapat dipercaya )
-          Al-Alifah ( sifat yang disenangi )
-          Al-‘Afwu ( sifat pemaaf )
-          Anie satun ( sifat manis muka )
-          Al-Khairu ( kebaikan / berbuat baik )
-          Al-Khusyu’ ( tekjun bekerja sambil menundukan diri berdzikir kepada-Nya )]
Macam-macam Akhlak yang Tercela
-          Ananiyah ( sifat Egoistis )
-          Al-Baghyu ( suka obral diri pada lawan jenis yang tidak hak (melcur) )
-          Al-Bukhlu ( sifat bakhil, kikir, kedekut (terlalu cinta harta) )
-          Al-Kadzab (sifat pendusta / pembohong )
-          Al-Khamru (gemaf minum minuman yang mengandung Alkohol ) (Al-Khomar)
-          Al-Khiyanah ( sifat penghianat )
-          Azh-Zhulmun ( sifat aniaya )
-          Al-Zubnu ( sifat pengecut )
4.       Cara yang harus ditempun manusia agar dapat mamiliki budi pekerti yang mulia.
5.       Arah dan Tujuan Hidup Manusia
Adapun tingkah laku manusia yang dapat dihukumi dengan ketentuan akhlak adalah semua perbuatan manusia yang dilakukan dengan ikhtiar dan sengaja sehingga ia sadar dengan segala apa yang diperbuatnya.
Sedangkan perbuatan yang tidak dapat dihukumi dengan ketentuan akhlak adalah semua perbuatan yang dikerjakan pada waktu sadar tetapi diluar jangkauan kemampuan seseorang untuk mencegah atau menghindarinya.
c.  Urgensi Etika (Ilmu Akhlak)
Urgensi ilmu akhlak dalm kehidupan bermasyarakat dari masa dan dari berbagai lingkungan kehidupan sangat memegang peranan penting. Karena manusai sebagai makhluk satu sama lain baik sesame manusia, waktu maupun lngkungan alam sekitarnya yang tak lepas dari berbagai permasalahan sebagai akibat dari interaksi diantara mereka sesame manusia maupun situasi dan kondisi yang ada. Hal ini diperlukan sekali adanya norma yang disepakati dalam mengatur kehidupan sehari-hari. Norma tersebut baik yang secara formal maupun konfensional akan axis sebagai konsekuensi dan interaksi sesame makhluk yang memerlukan kehidupan teratur dan terpuji.
Sesuai dengan tujuan ilmu akhlak untuk mengetahui perbedaan manusia yang baik dan buruk, agar manusai dapat memeganng sebagai perangai yang baik dan menjauhkan diri dari  perangai yang jahat.
Sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat dimana tidak ada benci-membenci, curiga-mencurigai antara satu sama dengan yang lain, dimana tidak ada perkelahian, persengketaan dan tidak ada pukul-memukul antara sesame hamba Allah yang hidup dibumi Allah.
d.  Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Filsafat
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menyelidiki segala sesuatu yang ada dan mungkin ada dengan menggunakan akal fikiran secara komprehensif, sistematis dan mendalam, sehingga dapat menemukan hakekatnya.
Sebagai contoh kita, memperhatikan Rumah misal, kita perhatikan modelnya, ukurannya, penataannya dan sebagainya. Selanjutnya sungguh-sungguh kita fikirkan apa hakekat rumah itu. Melalui proses pemikiran yang sistematis dan mendalam akhirnya dapat ditemukan hakekat rumah adalah tempat tinggal.
Karena objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada atau kemungkinan ada, berarti filsafat juga mempelajari tentang manusia dan apa yang dilakukan oleh manusia. Objek ini sangat erat sekali hubungannya dengan ilmu akhlak, sebab ilmu akhlak juga mampelajari manusia dan perbuatannya.
Para filosof membicarakan setiap manusia dari berbagai dimensi.
Al-Ghozali ( w. 1111M ) misalnya, membagi manusia menjadi 3 kelompok, yaitu : Kelompok Awam, Kelompok Pilihan dan Kelompok Penengkar. Kelompok Awam terdiri dari orang-orang yang kemampuan akalnya sangat sederhana sehingga tidak mampu menangkap hakekat sesuatu. Sifat yang dimiliki oleh kelompok ini pada umumnya adalah cepat percaya dan penurut. Oleh karena itu kelompok ini harus diperlakukan dengan memberikan bimbingan, nasihat dan petunjuk yang mudah. Kelompok Pilihan terdiri dari orang-orang yang memiliki akal yang kuat, sehingga mampu mampu menangkap hakekat-hakekat dari sesuatu yang ada. Kelompok ini harus diberlakukan dengan menjelaskan hikmah-hikmah yang ada secara luas dan mendalam. Kelompok Penengkar terdiri dari orang-orang yang senang mendebat terhadap sagala penjelasan yang ada. Kelompok ini harus dihadapi dengan cara mematahkan semua argument-argumen yang dipakainya. 31
Pemikiran Al-Ghozali merupakan salah satu eratnya hubungan akhlak sebagai filsafat dengan berdasarkan pada pemikiran tersebut. Ilmu akhlak dapat merumuskan cara-cara yang harus ditempuh untuk membina dan mengarahkan seseorang agar dapat memiliki akhlak yang mulia.
Banyak ilmu yang pada mulanya merupakan bagian dari filsafat, akan tetapi karena ilmu tersebut semakin berkembang maju dan luas, maka ia melepaskan diri dari filsafat. Demikian juga dengan etika ( akhlak ), sekalipun masih diakui oleh filsafat, akan tetapi kini telah menjadi suatu ilmu yang memiliki udentitas sendiri. Walaupun demikian kajian ilmu akhlak ( etika ) sampai sekarang merupakan salah atu dari kajian filsafat, yang lebih dikenal dengan Filsafat Mora. Oleh karena itu huubungan ilmu akhlak dan filsafat sangat erat dan saling membutuhkan.
 

31Dalam hal ini lebih lanjut uraian Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1983, h. 45-46.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Ilmu akhlak sebagai salah satu ilmu yang bersifat normative yaitu ilmu yang mengajarkan nilai suatu perbuatan dan sebagaimana seharusnya masyarakat berbuat.
Etika tidak dapat menjadikan manusia baik, tetapi dapat membuka matanya untuk melihat baik dan buruk, maka etika tidak berguna bagi kita. Kalua kita tidak mempunyai kehendak untuk menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.

DAFTAR PUSTAKA
Djatmika, Prof. Dr. H Rachmat.1996. Sistem Etika Islam ( Akhlak Mulia ). Semarang : Pustaka Panjimas.
Fahry, Majid.1996.Etika dalam Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Amin, Prof. Dr. Ahmad.1995. Etika ( Ilmu Akhlak). Jakarta : PT Bulan Bintang.

RESUME MAKALAH
PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN URGENSI ETIKA (ILMU AKHLAK) SERTA POSISI ETIKA / ILMU AKHLAK SEBAGAI BAGIAN DARI FILSAFAT
a.     Pengertian Akhlak
Menurut bahasa (etimologi) : budi pekerti, kebiasaan, adati stiadat atau prilaku manusai. Sedangkan dari segi sitilah (testimologi) adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorong timbulnya suatu perbuatan dengan mudah karena dibiasakan. Sehingga itu memerlukan pertimbangan dan pemikiran terlebih dulu.
            Sebagian besar para ahli mendefinisikan ilmu yang membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan pengertian baik dan buruk, macam –macam akhlak yang baik, macam-macam akhlak yang buruk, arti dan tujuan manusia dan yang harus dikerjakan atau ditinggalkan oleh manusia agar ia dapat mencapai tujuan tersebut dan memiliki akhlak yang mulia serta terhindar dari akhlak tercela.
b.     Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak
Sebagai ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruknya tingkah laku manusia, maka persoalan yang masuk dalam ruang lingkup kajian akhlak antara lain adalah :
1.      Teori (aliran) tentang tingkah laku manusia
2.      Factor-faktor yang mempengaruhi dan mendorong lahirnya tingkah laku manusia, seperti : insting, kemauan, suara hati, lingkungan dan lain sebagainya.
3.      Macam-macam akhlak yang baik (Akhlaqul Karimah) dan akhlak yang buruk (Akhlaqul Madzmumah)
4.      Cara yang harus ditempuh manusia agar dapat memiliki budi pekerti yang mulia.
5.      Arah dan tujuan hidup manusia.
c.     Urgensi Etika (Ilmu Akhlak)
Urgensi ilmu akhlak dalm kehidupan bermasyarakat dari masa dan dari berbagai lingkungan kehidupan sangat pegang peranan penting. Sesuai dengan tujuan ilmu akhlak untuk mengetahui perbedaan manusia yang baik dan buruk. Agar manusia dapat memegang dengan perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai-perangai yang jahat.


d.     Hubungan Ilmu Akhlak dengan Filsafat
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menyelidiki segala sesuatu yang ada dan mungkin ada dengan menggunakan akal fikiran secara komprehensif, sistematis dan mendalam, sehingga dapat menemukan hakekatnya.
Karena obyek filsafat adalah segala sesuatu yang ada atau kemungkinan ada, berarti filsafat juga mempelajari manusia dan segala hal yang berhubungan dengan manusia, termasuk siapa sebenarnya manusia dan apa yang seharusnya dikerjakan oleh manusia. Obyek inilah yang erat sekali hubungannya dengan imu akhlak, sebab ilmu akhlak juga mempelajari manusia dan perbuatannya.
Ilmu akhlak (etika) sekalipun masih diakui sebagai bagian dari filsafat tetapi kini telah menjadi suatu ilmu yang memiliki identitas sendiri. Walaupun demikian kajian ilmu akhlak (etika) sampai sekarang masih merupakan salah satu dari kajian filsafat, yang lebih dikenal dengan istilah filsafat moral. Oleh karena itu hubungan ilmu akhlak dan filsafat sangat erat dan saling membutuhkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar