Laman

Jumat, 14 Oktober 2011

MENYUBURKAN BENIH IMAN DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL


NAMA             : ELLY AGUSTINA
NIM                 : 202109049

MENYUBURKAN BENIH IMAN DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

            Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapakan dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus adaptif terhadap perubahan.
            Dalam konteks pembaharuan pendidikan ada tiga isu  utama yang perlu disoroti, yaitu pembaharua kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan efektifitas metode pembelajaran khususnya pembaharuan dibidang pendidikan agama islam.
            Pendidika agama islam adalah upaya sadar, terencana dalam menyiapkan anak didik untuk mengenal, memmahami, menghayati hingga mengiman, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama islam dari sumber utamanya yaitu alquran dan hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunan pengalaman.
            Fungsi pendidikan agama islam di sekolah adalah untuk pengembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah serta akhlak mulia, penanaman nilai ajaran islam sebagai pedoman mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akherat, penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosialmelalui pendidikan islam, perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan anak didik dalam keyakinan dan pengalaman ajaran agama islam dalam kehidupan sehari-hari, pencegahan dari hal-hal negatif budaya asing, penyaluran siwa untuk mendalami pendidikan agama ke jenjang yang lebih tinggi.
            Berdasarkan fungsi itu, maka tujuan pendidikan agama islam di sekolah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman peserta didik tentang ajaran agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan kepada Allah serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dapat melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.
            Oleh karena itu dengan asumsi, jika pendidikan agama dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakatpun akan lebih baik. Kenyataannya seolah-olah pendidikan agama dianggap kurang memberikan kontibusi kearah itu. kelemahan ini terfokus pada pengayaan kognitif, afektif dan psikomotorik.
            Di lain pihak pola pembinaan pendidikan agama islam harus dikembangkan dengan menekankan keterpaduan antara sekolah dan masyarakat. Untuk itu guru pendidikan agama islam perlu mendorong dan memantau kegiatan pendidikan agama islam yang dialami oleh siswanya di dua lingkungan lainnya (keluarga dan masyarakat), sehingga terwujud keselarasan dan kesesuainan sikap serta perilaku dalam pembinaannya.
            Banyak siswa yang mempunyai anggapan, bahwa pelajaran pendidikan agama adalah pelajaran refreshing, sampingan dan tidak membutuhkan energi khusus untuk mengkajinya. Pandangan ini pada gilirannya, dapat diduga akan melahirkan sejumlah konsekuensi negatif siswa dalam memposisikan pelajaran PAI.
            Berdasarkan jenis materinya, mata pelajaran pai termasuk mata pelajaran bersifat toritis praktis, dengan tekanan utama penyerapan siswa terhadap nilai-nilai mulia untuk diterapkan dalam sikap, ucap dan tindak sehari-hari. Oleh karena itu. Tekanan utama mata pelajaran ini lebih pada wilayah aplikasi atau penerapan nilai-nilai luhur dalam keseluruhan hidup dan kehidupan siswa.
            Pendekatan pembelajaran pai perlu disempurnakan atau diperbaharui. Pendekantan Pembelajaran  yang yang dipilih yaitu pembelajaran kontekstual (CTL) sebagai salah satu penyempurnaan tersebut, hal ini di sebabkan karena ada kecenderungan dalam pendidikan dewasa ini utuk kembali pada pemikiran bahwa anak didik akan balajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahui nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Oleh karena itulah pendekatan kontekstual (CTL) adalah harapan ini. Dan sekarang ini pembelajaran kontekstual menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya menghidupkan kelas secara maksimal. Kelas yang hidup diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah  yang demikian cepat.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar