Laman

Jumat, 14 Oktober 2011

Psikologi Agama (4) Kelas B


Makalah
ANALISIS TERHADAP PSIKOLOGI AGAMA
Disusun untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliah: Psikologi Agama
Dosen Pengampu: Muhammad Ghufron Dimyati, M. SI.


Disusun Oleh:
1.      Muhammad ali sodik (2022110043)
2.      Miftahuddin               (2022110044)
3.      Qurratul ai’ina           (2022110045)


JURUSAN TARBIYAH PBA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
TAHUN  2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam hidup bergama kita sering menghadapi berbagai masalah baik itu menyangkut alam sekitar, orang lain maupun diri sendiri. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan kita terhadap faktor-faktor yang dapat menimbulkan permasalahan tersebut . maka dari itu kita harus mulai belajar menganalisis permasalahan melalui Psikologi Agama.

B.     Permasalahan
1.   Apa definisi terhadap psikologi agama ?
2.   Bagaimana tahap analisis terhadap psikologi agama ?
3.   Bagaimana perilaku penganut agama terhadap pengaruh-pengaruh dan ajaran agama ?

C.    Tujuan Penulisan
1.   Untuk mengetahui definisi terhadap Psikologi Agama.
2.   Untuk memehami tahap analisis terhadap Psikologi Agama.
3.   Untuk mengerti perilaku-perilaku penganut agama






BAB II
PEMBAHASAN
Analisis Terhadap Psikologi Agama
A.    Definisi
Analisis adalah penjabaran sesuatau yang sudah dikaji sebaik-baiknya.[1]
Psikologi agama adalah mempelajari kesadaran pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan-kelakuan tindak agama orang itu dalam hidupnya.[2]
Jadi Analisis psikologi agama adalahpenjabaran sesuatu yang sudah dikaji dalam psikologi agama sebaik-baiknya
2. Tahap Analisis Terhadap Psikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian ilmiah. Kajian yang  dilakukan  dengan mempelajari  fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara obyektif. Karena agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara seksama, terlepas dari pengaruh-pengaruh subyektivitas. Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu kenyakinan atau menentangnya maka diperlukan adanya sikap obyektif. Dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan antara lain :
a.       Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
b.      Memiliki kenyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris.
c.       Tidak mencampuradukan antara fakta dan angan-angan atau perkiraan khayali.
d.      Mengenal baik masalah-masalah psikologi dan metodenya.
e.       Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya.
f.       Menyadari tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama.
g.      Mampu menggunakan alat-alat mpenelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.
                  Dengan berpedoman kepada petunjuk-petunjuk seperti yang dikemukakan di atas, diharapkan para peneliti dalam mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data akan bersikap lebih objektif,karena dalam meneliti seorang peneliti harus memiliki sikap objektif yang baik. Dengan demikian, hasil yang diperoleh tidak akan menyimpang dari tujuan semula.   
                  Dalam meneliti  ilmu jiwa agama menggunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.   Dokumen Pribadi(Porsenal Document)
Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agamanya. Untuk memperoleh informasi mengenai hal tersebut maka cara yang akan ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi orang seorang. Dokumen tersebut mungkin berupa autobiografi, biografi , tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya.
Dalam penerapannya, metode pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Diantara yang banyak digunakan adalah :
a. Teknik Nomotatik
Nomotatik yang digunakan dalam study tentang kepribadian adalah mengukur perangkat sifat seperti kejujuran, ketekunan, dan kepasrahan sejumlah individu dalam suatu kelompok.
b. Teknik Analisis Nilai (Value Analisis)
Teknik ini digunakan dengan dukungan analisis statistik. Teknik statistik digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagamaan yang dapat dibahas dengan menggunakan bantuan ilmu eksakta, terutama dalam mencari hubungan antara sejumlah variabel.
c. Teknik Idiography
Teknik ini juga merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami sifat-sifat dasar (tabiat) manusia . Teknik ini banyak digunakan oleh Gordon Allort dalam menelitinya.
d. Teknik Penilaian terhadap sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti.[3]

2. Perilaku-Perilaku Pada Penganut Agama Terhadap Pengaruh Ajaran Agama
Sikap keberagaman orang dewasa memiliki perspektiif  yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu, sikap keberagamaan ini umumnya juga dilandasioleh pendalaman pengertian dan perluasan pemahaman tentang ajaran  agama yang dianutnya. Beragama, bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan.
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan orang dewasa antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Ø  Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
Ø  Cenderung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tlngkah laku.
Ø  Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-nrma agama,dan berusaha untuk mempellajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
Ø  Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
Ø  Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
Ø  Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran,juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
Ø  Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing.
Ø  Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial.[4]
                        Kehidupan keagamaan pada usia lanjut menurut hasil penelitian psikologi agama ternyata meningkat. M. Argyle mengutip sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Cavan yang mempelajari 1.200 orang sampel berusia antara 60-100 tahun. Temuan menunjukan secara jelas  kecenderungn untuk menerima pendapat keagamaan yang semakin meningkat pada umur-umur ini. Sedangkan, pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat baru muncul sampai 100 persen setelah usia 90 tahun (Robert H. Thouless,1992: 108).[5]
                              Menganalisis hasil penelitian M. Argyle dan Elie A. Cohen, Robert H. Thouless cenderung berkesimpulan bahwa yang menentukan  berbagai sikap keagamaan di umur tua diantaranya adalah depersonalisasi. Kecenderungan hilangnya identifikasi diri dengan tubuh dan juga cepatnya akan datang kematian merupakan salah satu faktor yang menentukan sebagai sikap keagamaan di usia lanjut (Robert H. Thouless, 1992:117).
                              Berbagai latar belakang yang menjadi penyebab kecenderungan sikap keagamaan pada manusia usia lanjut, seperti yang dikemukakan di atas bagaimanapun turut memberi gambaran tentang cici-ciri keberagamaan mereka. Secara garis besarnya ciri-ciri keberagamaan di usia lanjut adalah ;
1.   Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
2.   Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
3.      Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
4.   Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia, serta sifat-sifat luhur.
5.   Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.
6.   Perasaan takut kepada kematian yang berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaaan terhadap adanya kehidupan abadi.[6]         






BAB III
 PENUTUP

            Dari materi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa analisis psikologi agama merupakan penelitian yang meneliti dan mempelajari jiwa manusia yang berhubungan dengan perilaku-perilaku penganut agama terhadap ajaran agama.
            Dalam menganalisis psikologi agama dapat dilakukan dengan dokumen pribadi yang penerapannya dapat dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu teknik nomotatik, teknik analisis nilai, teknik ideography dan teknik penilain terhadap sikap.
            Demikianlah makalah yang kami buat, dan kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfat bagi kita semua. Terima kasih. 
















DAFTAR PUSTAKA

Carole wade dan Carol travis. Psikologi jilid 1. Jakarta: Erlangga. 2007.

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2003.

Jalaluddin, Psikologi agama edisi revisi, Jakarta: PT. Raja Grafindo                              Persada,2010.

http://kamusbahasaindonesia.org. diakses pada tanggal 13 Oktober 2011


[1] Pius A.Partanto dan Trisno Yuwono, Kamus Kecil Bahasa Indonesia, (Surabaya: ARKOLA. 1994) hlm. 20.

[2] Jalaludin, PSI, Agama, (JakartaRaja: PT. Raja Grafindo Persada, 2003) hlm. 17
[3] Jalaluddin, Psikologi Agama edisi revisi.( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.2010 ). Hlm.36-40
[4]  Ibid. Hlm.108-109
[5]  Ibid. Hlm. 111.
[6]  Ibid. Hlm. 113-114

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar