Laman

Kamis, 24 November 2011

psikologi agama (10) Kelas A


MAKALAH
PSIKOLOGI AGAMA DAN TANTANGAN PROBLEMATIKA MORAL DALAM ERA GLOBALISASI
Disusun Guna Memenuhi Tugas :
Mata Kuliah
Dosen Pengampu
:
:
Psikologi Agama
Ghufron Dimyati, M.S.I








Disusun Oleh Kelompok J :

  1. Nur Shobahul Karimah             2022110028
  2. Murtadho                                 2022110029
  3. Nurul Hafsah                            2022110030
Kelas A

JURUSAN TARBIYAH PBA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011
BAB I
PENDAHULUAN

 Pada dasarnya kehidupan moral tidak dapat dipisahkan dari keyakinan beragama, karena nilai-nilai moral bersifat tegas, pasti dan tetap, tidak berubah karena keadaan, tempat dan waktu adalah nilai yang bersumber kepada agama. Karena dalam pembinaan generasi muda, perlu kehidupan moral dan agama sejalan dan mendapat perhatian yang serius.
Dalam pembinaan generasi muda mulai dari sejak anak lahir, bahkan sejak kandungan. Di samping itu perlu kita sadari bahwa pembinaan pribadi dan moral itu terjadi melalui semua segi dari pengalaman hidup, baik melalui penglihatan, pendengaran dan pengalaman/perlakuan yang diterimanya. Atau melalui pendidikan dalam arti luas. Maka semakin kecil umur anak semakin banyak menyerap pengalaman yang akan ikut membina pribadinya.
Masalah pokok yang sangat menonjol dewasa ini adalah hilangnya nilai-nilai di mata generasi muda. Mereka dihadapkan kepada berbagai kontradiksi dan aneka ragam pengalaman moral, yang menyebabkan  mereka bingung untuk memilih mana yang baik untuk mereka.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Globalisasi dan Dampaknya
Pada hakekatnya globalisasi merupakan sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia. Keterkaitan dan ketergantungan itu dapat melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas antara satu Negara dengan Negara lain sudah tidak lagi menjadi penghalang untuk saling berhubungan.[1]
Kemajuan teknologi, membuat manusia antar Negara semakin mudah berhubungan baik melalui kunjungan secara fisik yang di dukung media transportasi yang canggih, sehingga manusia mudah melewati ke berbagai tempat di seantero bumi ini. Selain itu, juga karena kemajuan dalam dunia komunikasi baik media cetak maupun elektronik yang memberikan informasi di dunia ini yang sedang terjadi.
Fenomena global yang sedang terjadi saat ini tentunya membawa pengaruh kepada hamper semua elemen dan aspek kehidupan masyarakat. Secara umum ada masyarakat  yang dapat menerima adanya globalisasi, seperti generasi muda, penduduk dengan status sisial tinggi dan masyarakat kota. Namun disisi lain, ada pula yang sulit menerima, bahkan menolak adanya globalisasi, seperti masyarakat daerah terpencil, generasi tua dan masyarakat yang belum siap baik secara fisik maupun mental.[2]
Secara umum dampak globalisasi dapat di kategorikan menjadi dua macam yaitu:[3]
Dampak Positif
Dampak Negatif        
1.      Berkembangnya IPTEK
1.      Pola hidup konsumtif
2.      Perubahan tata nilai dan sikap
2.     Sikap individualistik
3.      Tingkat kehidupan yang lebih baik
3.     Gaya hidup kebarat-baratan

4.      Kesenjangan sosial

B.     Problematika Moral
Moralitas dapat didefinisakan sebagai kapasitas untuk membedakan yang benar dan yang salah, bertindak atas perbedaan tersebut, dan mendapatkan penghargaan diri ketika melakukan yang benar dan merasa bersalah atau malu melanggar standar tersebut.[4]
The turning point, analisis tentang krisis global yang ditulis oleh Fritjof Capra yang menyatakan, “ Pada awal dua dasawarsa terakhir abad ke-20, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks multidimensial yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan, kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan, dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan politik”. Krisis ini terjadi dalam dimensi intelektual, moral dan spiritual, suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dan catatan sejarah umat manusia.[5]
Berbagai tindakan yang menyangkut moral manusia bermunculan. Tindakan-tindakan inilah yang menjadikan pertanyaan besar akan bagaimana keadaan moral manusia disaat sekarang ini. Sebagai jawabanya sudah dapat terlihat dengan sendirinya, yang terjadi sekarang ini adalah berbagai kerusuhan, tindakan anarkisme, tindak korupsi dan nepotisme bahkan sampai kenakalan remaja. Berbagai catatan hukum dan kepolisian, mungkin yang terbanyak adalah menyangkut tindakan amoralitas. Kita ingat akan peristiwa kenakalan remaja, seperti geng nero, geng motor. “Neko-neko dikeroyok” (NERO) adalah salah satu geng remaja putri di Jawa Tengah yang cukup popular. Anggota geng nero sering melakukan penganiayaan terhadap remaja putri SMP dengan alasan, mereka tidak suka kalau ada perempuan lain yang menyaingi dan melebihi apa yang mereka miliki. [6]
Contoh diatas dapat dijadikan sebuah acuan akan kaburnya nilai-nilai moralitas dimata generasi muda. Mereka dihadapkan kepada berbagai kontradiksi dari aneka ragam pengalaman moral, yang menyebabkan mereka bingung untuk memilih mana yang baik untuk mereka. Mereka mencoba mengembangkan diri kearah kehidupan yang disangka maju dan modern, dimana berkecamuk aneka ragam kebudayaan asing yang masuk seolah tanpa saringan. Akan tetapi disinilah mereka sering tersesat daan terjebak kearah yang bertentangan dengan nilai dan moral.[7]
Kaburnya nilai-nilai moral dimata generasi muda dan umumnya pada semua elemen masyarakat, akan menyebabkan terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap nilai-nilai moral itu sendiri, bahkan terhadap nilai dan norma agama. Pelanggaran ini disebut sebagai perilaku penyimpangan atau tindakan amoral.
Menurut Yasrif Amir Piliang, tindakan perilaku penyimpangan itu mengarah pada permainan moral (moral games) yang di dalamnya batas baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas, dibuat menjadi samar. Yasrif membaginya dalam dua indikator, pertama (amorality) berupa tindakan melanggar atau melawan moral, seperti aneka tindakan kejahatan, kedua (immorality) berupa memutarbalikkan atau mempermainkan batas moral antara baik-buruk, benar-salah atau pantas-tidak pantas.[8]
Begitulah kompleknya problem-problem yang bermunculan, khususnya problematika moral. Sungguh tragis rupanya, namun inilah realitanya yang terjadi di era globalisasi sekarang ini.


C.    Peran dan Tantangan Psikologi Agama
Dalam pandangan psikologi agama, ajaran agama memuat norma-norma yang dijadikan pedoman oleh pemeluknya dalam bersikap dan bertingkah laku. Norma-norma tersebut mengacu kepada pencapaian nilai-nilai luhur yang mengacu kepada pembentukan kepribadian dan keserasian hubungan sosial dalam upaya memenuhi ketaatan kepada Dzat Yang Supernatural. Dengan demikian, sikap keagamaan merupakan kecenderungan untuk memenuhi tuntutan yang dimaksud.[9]
Ajaran agama mengandung nilai-nilai moral yang bersifat  tetap, tidak berubah-ubah oleh waktu dan tempat, dan absolut.  Misalnya dalam agama islam, berzina dan mendekati zina itu tetap terlarang, apakah dia di Indonesia, di Arab atau di Amerika, namun perbuatan tersebut tetap tetap tercela dan dilarang keras melakukannya. Karena itu, agama mempunyai peranan penting dalam pengendalian moral seseorang. Tapi harus ingat bahwa pengertian tentang agama, tidak otomatis sama dengan bermoral. Betapa banyak orang yang mengerti agama, akan tetapi moralnya merosot. Dan tidak sedikit pula orang yang tidak mengerti agama sama sekali, moralnya cukup baik. [10]
Nilai-nilai yang seperti inilah yang seharusnya ditanamkan dan diajarkan kepada generasi sekarang. Nilai-nilai tersebut lebih lanjut untuk dijadikan filter dalam menghadapi fenomena global yang sedang terjadi saat ini. Sehingga sebebas apapun kita mengikuti arus globalisasi, kita tetap mempunyai sebuah keyakinan akan pilihan yang harus kita tentukan. Kita dapat lebih arif dalam memilih mana yang baik atau buruk, benar atau salah, dan yang pantas atau tidak pantas. Itulah peran penting agama dilihat dari pandangan psikologi agama. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana agar peran penting agama tersebut dapat ditanamkan dan diajarkan kepada seluruh generasi sekarang ini untuk menghadapi kuatnya arus globalisasi. Hali inilah yang disebut tantangan psikologi agama.
Seandainya permasalahan-permasalahan moralitas itu dibiarkan berjalan dan berkembang luas, maka pembangunan bangsa kita akan terganggu. Karena pembangunan yang dibutuhkan tidak hanya pembangunan fisik, akan tetapi pembangunan manusia. Manusia yang bermoral tidak kalah pentingnya. Jika pembangunannya saja terganggu maka bagaimanakah tujuan pembangunan tersebut, yaitu dalam rangka mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup yang seimbang antara lahiriyah dan bathiniyah.
Disamping itu, problematika moral juga akan kembali dirasakan oleh generasi muda sendiri yang merasa hari depannyakabur atau suram. Karena sebenarnya mereka tahu bahwa apa yang terjadi pada diri mereka itu adalah yang merugikan, tetapi mereka tidak mampu melawan arus global. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang memilih alternatif yang salah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.[11]
Pendek kata, dari manapun juga kita melihat bahaya yang mungkin terjadi dan meluas apabila kehidupan moral dan agama dalam masyarakat dibiarkan saja menjalar dan mempengaruhi generasi muda.
D.    Pembinaan Moral
Kuatnya arus globalisasi yang melanda dunia, memberikan tantangan tersendiri terhadap pengokohan dan pembinaan moral dalam kehidupan. Para pakar memberikan jawaban, mereka meyakini bahwa keluarga adalah lingkungan pertama dimana jiwa dan raga anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Untuk itulah keluarga memainkan peran yang amat mendasar dalam menciptakan kesehatan kepribadian anak dan remaja.
Pentingnya peran keluarga dan orang tua juga telah dinyatakan dalam sebuah hadits, yang berarti : “Dari abu hurairah r.a Ia berkata ; Rasulullah SAW bersabda ; Bantulah anak-anakmu untuk bisa berbuat kebaikan, tidak menyusahkan, dan berlaku adillah dalam memberikan sesuatu kepada mereka. Kalau mau, orang dapat membuat anaknyaselalu berbakti kepadanya. ( HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath)”.[12]
Pembinaan moral terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan kebiasaan-kebiasaan  yang ditanamkan sejak kecil oleh orang tua. Dimulai dengan pembiasaan hidup sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama. Moralitas tidak dapat terwujud apabila hanya melalui pengertian-pengertian tanpa latihan-latihan, pembiasaan dan contoh-contoh yang diperoleh sejak kecil. Kebiasaan itu tertanam dengan berangsur-angsur sesuai dengan pertumbuhan kecerdasanya, setelah itu barulah si anak atau remaja diberikan pengertian-pengertian tentang moral.[13]
Secara umum, ruang lingkup pembinaan moral adalah penanaman dan pengembangan nilai, sikap dan perilaku sesuai nilai-nilai budi pekerti luhur. Diantaranya adalah sopan santun, berdisiplin,berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertaqwa, manusiawi dan lain sebagainya. Nilai-nilai tersebut semuanya terangkum dalam nilai-nilai agama. Jika seseorang telah memiliki karakter dengan seperangkat nilai budi pekerti tersebut, diyakini dia telah menjadi manusia yang bermoral baik.








BAB III
PENUTUP

Globalisasi memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia.
Terjadinya perubahan-perubahan kepercayaan dan keyakinan kadang masih terjadi. Keadaan dan kejadian itu sangat menarik perhatian ahli agama, sehingga mereka berusaha terus menerus mengajak orang untuk beriman kepada Allah SWT.
Perubahan keyakinan atau perubahan jiwa agama pada orang dewasa bukanlah suatu hal yang terjadi secara kebetulan saja, dan bukan merupakan pertumbuhan yang wajar, akan tetapi adalah suatu kejadian yang didahului oleh berbagai proses dan kondisi yang diteliti dan dipelajari oleh seseorang.






DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiyah. 1996. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : Bulan Bintang.
Hasan, Aliah B. Purwakania. 2006. Psikologi Perkembangan Islami.    Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Jalaluddin. 2000. Psikologi Agama. Jakarta : Raja Grafindo Persada
http://Cahyadi-takariawan.web.id/?p=1020, diakses pada hari Jum’at 11 November 2011.
                                                                        



[1] http://gema permana80.Blogspot.Com//2010/09globalisasi-dan-dampaknya.html diakses pada hari jumat 11 nopember 2011
[2] Ibid
[3] http://afand. Abatasa. Com/post/details/2761/dampak-positif-dan-dampak-negatif-globalisasi-dan modernisasi., di akses pada hari ahad 20 nopember 2011.
[4] Aliah B. Purwakania Hasan. Psikologi Perkembangan Islami. ( Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2006 ) halm.261
[5] http://cahyadi-takariawan.web. Id / ?p=1020// diakses pada jum’at 11 nopember 2011. 10.00 wib
[6] Ibid
[7] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : PT Bulan Bintang,1996),halm.132
[8] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta : Rajawali Press, 2010),halm.275                    
[9] Ibid, halm.272
[10] Zakiah Darajat, Op.Cit.,halm.84
[11] Ibid, halm.133
[12] Aliah B. Purwakania Hasan, Op.Cit,halm.263                                                           

[13] Zakiah Darajat, Op.Cit, halm.83

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar