new post

zzz

Jumat, 30 Maret 2012

C7-41 Intan Lis Aryana


MAKALAH
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN DIRINYA

Ditulis guna memenuhi tugas
Mata Kuliah                : Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu        :  Muhammad Hufron, M.S.I


Disusun Oleh :

 INTAN LIS ARYANA
2021110120
KELAS C


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )
PEKALONGAN
2012

PENDAHULUAN

Memuliakan tamu merupakan akhlak yang baik dan perilaku yang baik. Ia merupakan akhlaknya para Nabi dan orang-orang yang beriman. Apalagi jika dalam memuliakan tamu di dorong oleh niat yang ikhlas hanya ingin mendapat ridho dan pahala dari Allah.
Jadi, muliakanlah tamu dengan apa yang mudah. Suguhkanlah tamu dengan apa yang ada. Muliakanlah tanpa berlebihan dan memeri tanpa kemubadziran. Dan iringilah setiap kebaikan dengan keindahan akhlak dan keceriaan di wajah anda. Ucapkanlah kata-kata yang berpengaruh secara positif bagi mereka dan menyenangkan hati mereka.
 Banyak kisah (atsar) yang berbicara masalah ini. Ada yang shahih ada juga yang tidak shahih. Nabi kita s.a.w. sangat memuliakan tamu, baik ketika beliau belum menjadi Nabi ataupun sesudahnya[1]. Oleh karena itu, muliakanlah tamu sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rosulullah.
















A.    Hadits
عَنْ عَائشة : ان النبى صلى الله  عليه وسلم بعث الى عثمان بن مظعون فجاءه فقال يا عثمان ارغبت عن سنتيي قال لا والله  يا رسول الله ولكن سنتك اطلب قال فاني انام واصلي واصوم وافطر وانكح النساء فاتق الله يا عثمان  فان لاهلك عليك حقا وان لضيفك عليك حقا وان لنفسك عليك حقا فصم وافطر وصل ونم.
  (رواه ابي داوود في السننى, كتاب الصلاة, باب ما يؤمر به من القصد فى الصلاة)
B.     Terjemah Hadits

Dari Aisyah r.a: “ Bahwa Nabi pernah mengutus seorang kepada usman bin madz’un melalui utusan itu beliau bertanya: “Hai usman, apakah engkau tidak menyukai sunnahku?” jawabnya: “tidak, Demi Allah hai Rosulullah, sunnah engkaulah yang saya cari”. Sabda beliau: “sesungguhnya aku tidur, aku shalat, aku berpuasa, aku berbuka dan aku menikahi wanita”. Bertakwalah kepada Allah hai usman, karena kamu punya kewajiban terhadap keluargamu, tamumu, dan punya kewajiban terhadap dirimu. Sebab itu berpuasalah dan berbukalah, shalatlah dan tidurlah”

C.    Mufrodat

ارغبت    =  tidak menyukai
اطلب      =  mencari
وافطر     =  dan berbukalah
وانكح      =  dan menikahi
لاهلك      =  keluargamu
لضيفك     =  tamumu
لنفسك      =  dirimu sendiri
                                  


D.    Biografi perawi
       Aisyah adalah putri Abdullah bin Quhafah bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Marrah bin Ka’ab bin Luay yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar As-shidiq ra.dan berasal dari suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah. Ayahnya adalah As shidiq dan orang pertama yang mempercayai Rosulullah ketika terjadi isra mi’raj, saat orang-orang tidak mempercayainya.
Aisyah dilahirkan empat tahun sesusdah Nabi diutus menjadi Rosulullah. Di hati Rosulullah, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan itu tidak dialami oleh istri-istri yang lain. Didalam hadits di riwayatkan oleh Annas bin Malik di katakan: “Cinta pertama yang terjadi di dalam islam adalah cintanya Rosulullah kepada Aisyah”.
        Aisyah memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai masalah-masalah ilmu keagamaan, baik dikaji dalam Al-Qur’an, Hadits-hadits Nabi,  maupun ilmu fiqih. Tentang masalah ilmu-ilmu yang dimiliki Aisyah ini, di dalam Al-Mustadrok, Al-Hakim mengatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syari’at dinukil dari Aisyah. Aisyah termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadits-hadits Nabi saw, sehingga para ahli hadits menempatkan dia pada urutan kelima dari para penghafal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Annas bin Malik dan Ibnu Abbas. Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh siapapun, yaitu meriwayatkan hadits yang langsung dia peroleh dari Nabi dan menghafalkannya di rumah.
Aisyah dikenal sebagai perawi hadits yang mengistinbatkan hukum sendiri ketika kejelasan hukumnya tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan hadits lain. Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 tahun, bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun ke-58 hijriah, dan di maqomkan di baqi’.

E.     Keterangan Hadits
Dalam kitab syarah sunan Abi Daud “ ‘Aunul Ma’bud” dijelaskan bahwa diriwayatkan oleh sayyidatina Aisyah. Bahwasanya Nabi mengutus seorang kepada usman bin madz’un. Usman bin madz’un adalah seorang yang rajin dalam menjalankan ibadah dan sunnah-sunnah Nabi akan tetapi beliau lalai akan kewajibannya terhadap keluarga. Imam khuthobi berkata:” usman itu berusaha bersungguh-sungguh terhadap dirinya sendiri, sehingga ia sampai tidak mampu untuk menunaikan atau melaksanakan haknya kepada keluarganya”.
Dalam hadits di atas tersebut menjelaskan apabila ada orang yang bertamu yang datang kepada kita, sedang kita dalam keadaan berpuasa sunnah maka sebaiknya untuk membatalkan puasanya, berbuka dan ikut makan bersama tamunya dengan tujuan untuk menyenangkan hati si tamu. Dan itu merupakan salah satu cara kita untuk memuliakan tamu. Sebagaimana Nabi bersabda:
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه                                                               
“ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamu”.
Dan hadits itu menjelaskan shalatlah pada sebagian malam dan tidurlah di sebagiannya.  Hadits ini telah di setujui oleh Al-Mundzir.

F.     Aspek Tarbawi
Dari penjelasan hadits tersebut dapat di ambil nilai-nilai aspek pendidikannya, antara lain:
1.      Hendaknya ketika kita beribadah harus mengenal waktu.
2.      Kita tidak boleh meninggalkan kewajiban kita terhadap keluarga, terhadap tamu ataupun diri sendiri.
3.      Di anjurkan untuk memuliakan tamu.
Rosulullah mengajarkan kepada umatnya untuk memuliakan tamu. Sebagaimana beliau sangat memuliakan tamu, baik sebelum menjadi Nabi atau sesudahnya.
Dalam menerima tamu manusia dibagi menjadi 2 golongan[2]:
·      Golongan manusia yang senang menerima tamu dan nampak kegembiraan di wajah dan ucapannya dalam melayani mereka.
Menghadapi manusia yang seperti ini, tentunya para tamu harus membrikan penghormatan atas kebaikan mereka, walau hanya dengan ucapan,”semoga Allah membalas kebaikanmu”.
·      Golongan manusia yang susah jika ada tamu yang datang kepada mereka. Mereka tidak menghormati tamu dengan suguhan yang selayaknya. Wajahnya akan tampak cemberut dalam memnghadapi tamu. Namun, perlu di ingat bahwa Allah berfirman,” Hendaknya orang yang kaya mendermakan dari kekayaannya. Dan orang yang rezkinya telah ditentukan, maka dermalah dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah tidak memaksakan seseorang, kecuali sesuai dengan apa yang telah ia berikan kepadanya. Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan”. (QS. Ath-Thalaq:7).
Sebagaimana kita ketahui seorang tuan rumah, jika menghidangkan makanan kepada tamunya dan tamunya tidak menyantap hidangan itu, maka ia pasti akan kecewa. Oleh karena itu, jika tidak akan menyebabkan kekecewaan tuan rumah, seorang tamu boleh memberitahukan makanan yang ia sukai. Ini sama sekali tidak dilarang selama seorang tamu tidak memberatkan tuan rumah dengan permintaanya. Rosulullah s.a.w pernah bersabda kepada seorang anshar akan menyembelih hewan ternak untuk Rosulullah dan shahabat lainnya., “jangan menyembelih hewan perahan”.(HR. MUSLIM)[3]











PENUTUP

      Dari pemaparan hadits tersebut dapat di tarik kesimpulan:
1.      Aisyah merupakan wanita yang paling banyak menghafal hadits-hadits Nabi saw, dia memiliki keistimewaan, yaitu meriwayatkan hadits langsung dia peroleh dari Rosulullah. Sehingga dikenal sebagai perawi yang mengistinbathkan hukum sendiri ketika kejelasan hukumnya tidak di temukan dalam alqur’an maupun hadits.
2.      Memuliakan tamu adalah kewajiban kita sebagai seorang muslim. Sehingga ketika ada tamu yang datang harus kita hormati dan muliakan, sebagaimana seperti apa yang di ajarkan Rosulullah dalam hadits tersebut.
3.      Selain kita rajin beribadah kepada Allah dan menjalankan sunnah-sunnah nabi, kita juga tidak boleh lalai akan kewajiban kita terhadap sesama. Baik itu menyangkut kewajiban terhadap diri sendiri, keluarga ataupun tamu.
4.      Seorang harus bisa membagi waktunya dengan sebaik mungkin. Adakalanya untuk beribadah, belajar, bekerja dan istirahat. Sehingga semuanya akan berjalan seimbang.













DAFTAR PUSTAKA

Yusuf, amru. Dzaujatu ar-Rasulullah. Riyadh: Daru as-Sa’abu

Utsman, Abdur Rahman Muhammad. Auni al-Ma’bud syarh sunan abi daud. Daru al-Fikr

Al ‘adawy, musthafa. 2005. Fiqih AkhlSak. Jakarta: Muhammad Arifianto


[1] Musthafa Al ‘adawy, Fiqih Akhlak, ( jakarta: Muhammad Arifianto, 2005), hlm.493.
[2] Ibid, hlm 495
[3] Ibid, hlm 501

20 komentar:

  1. zakirotunnikmah
    2021110112
    c

    judul makalah anda berjudul "Hubungan Manusia dengan Dirinya", sebenarnya konsep hubungan tersebut yan dimaksud dalam hadits anda itu bagaimana/

    BalasHapus
  2. anisah
    2021110123
    bagaimana dengan kehidupan sufi terhadap hubungan manusia? bagaimana jika menghindari keramian untuk menghindari kemaksiatan manusia, seperti yg dilakukam Rosul saat menyepi di Gua Hira.
    bagaimana sikap anda, apakah anda harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan, atau demi agama anda bisa diasingkan.

    BalasHapus
  3. anita handayani
    202109210
    kelas C

    Dalam makalah dijelaskan kita sebagai tuan rumah harus memuliakan tamu dan wajib memberi suguhan yang tamu sukai..
    lalu bagaimana jika tamu tersubut meminta sesuatu yang memberatkan tuan rumah?
    apa yang harus dilakukan oleh tuan rumah tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jawabannya...
      tamu itu adalah Raja, jadi seberat apapun permintaan dari tamu, kita misalnya sebagai tuan rumah harus dpt mengabulkan keinginannya...dan kita sebagai tuan rumah harus merasa bersyukur, dan jgn berat hati dlm menyuguhkan untuk tamu. karena apa? faedahnya: adanya tamu yg datang kerumah itu, membawa malaikat rohmat yang mana mendoakan tuan rumah agar diampuni dosanya oleh Allah swt.ini ada haditsnya tapi saya lupa.
      dan dlm menyuguhkan untuk tamu kalau bisa harus bersikap dermawan sehingga itung2 shodaqoh untuk tamu.

      Hapus
  4. nurul khikmah
    2021110122
    kelas C

    dalam makalah ini, anda menjelaskan tentang membagi waktu yang baik akan menghasilkan pekerjaan yang seimbang. namun, pada kenyataannya, yang namanya memenej waktu tu tidak semudahnya membalikkan telapak tangan. pasti, seringkali slah satu yang bisa dilaksanakan sebaik mungkin. pertanyaan saya, pemakalah sendiri, sudah mampukah memenej waktu dg baik? jika sudah, tolong bagikan kiat-kiatnya?
    heehe
    :)

    BalasHapus
  5. nurul islakhah
    2021110139

    Memuliakan tamu adalah kewajiban kita sebagai seorang muslim..tapi jika tamunya datang hampir larut malam dan yg dibicarakan bukan hal yg penting, apakah boleh kita mengusirnya?

    BalasHapus
  6. Dzikriati Solikhah
    2021110113
    C

    Menurut pemakalah sendiri adakah hubungannya antara memuliakan diri sendiri dengan membanggakan diri sendiri...???

    BalasHapus
  7. JAWABAN HADITS tarbawi.
    zakirotunni'mah
    untuk mb zaki,konsep hubungan manusia dari makalah hadits yang saya buat itu maksudnya konsep kepedulian kita terhadap sesama manusia. yang dlm hadits tersebut isinya dicontohkan memuliakan tamu. sebenarnya kita sbg umat muslim peduli ga sih sama org lain yg mertamu kpd kita? bahkan disitu dlm hadits Nabi dijelaskan ketika dlm keadaan berpuasa sunnah pun dianjurkan untuk berbuka dan ikut makan bersama tamunya.
    maksudnya hadits tsb mnrt pndpt saya, rasa sosialisasi kita kpd sesama manusia.


    Annisah
    yg nama'nya hidup itu kan dmn pun kita berada kita harus bisa menyesuaikan diri dg lingkungan sekitarnya. boleh, kita beribadah mengasingkan diri untuk menghindari maksiat. akan ttp, kita jg tdk boleh lupa akan kwjbn kita kpd suami,anak(jika sdh menikah),keluwarga, dan kalau dlm contoh hdits tsb tamu.
    dlm makalah diatas tsb kn sdh dijelaskan, bahwasanya ketika kita beribadah harus mengenal wktu. dlm hdits tsb dijelaskan bahwasanya Nabi jg tidur, shalat, berpuasa, berbuka dan menikahi wanita. maksudnya Nabi pun ketika beribadah bisa mengkondisikan waktu.
    Nabi menyepi di Gua hiro, ttp beliau tdk meninggalkan kwjbn'y thdp istri-istri beliau, dan keluwarga beliau. jd kesimpulannya: kalau menurut saya, selagi kita masih bs berkumpul dg lingkungan kita, maka kita hrs bisa menyesuaikan diri dg lingkungan tsb.

    Nurul Khikmah
    gini mb noe, mksud dari makalah tsb itu hrs bsa mmbgi wktu dlm hal beribadah. ketika waktunya untuk shlat, maka shalatlah, ketika berpuasa maka berbukalah, dan ketika wktunya istirahat pun jg hrs istrht. jd tdk sepenuhnya wktu itu digunakan hanya untuk beribadah saja sdg kwjbn yang lainnya kita lalaikan, itu kn tdk baik. misalnya, mb berpuasa kemudian berpuasa terus sampai tdk berbuka itu kn menyiksa diri sendiri, shg tdk mampu untuk menunaikan kwjbn lainnya.
    maaf mb, jujur saja saya sendiri jg blm bs membagi wktu dg baik. bagi saya, yg penting wktu itu digunakan untuk sebaik mungkin..heeeeeheee

    Nurul islakhah
    seharusnya yg mjd tamu itu tahu diri, apalagi membicarakan hal yg tdk penting. gunakanlah tata krama kita dlm bertamu.
    sbg tuan rumah, bicaralah baik-baik, sambutlah dg wajah yg menyenagkan wlwpun dlm hati kita bongko (kalau kita pengin masuk dlm katagori Golongan1 dlm menerima tamu) dan gunakanlah bahasa yg santun untuk menyuruhnya pulang dan minta diundur waktunya jgn malam2. jd boleh mengusirnya, akan ttp tutur katanya yg santun.

    Dzikriati solikhah
    memuliakan diri sendiri itu dengan cara kita berbuat baik kpd org lain. memuliakan diri itu dlm hal kebaikan kita kpd org lain. kalau membanggakan diri sendiri berarti itu kn sama saja sombong atau takabur. Takabur itu kan hal yg tdk disukai Allah. bahkan dlm Alqur'an dijelaskan org yg sombong sebiji "dzarroh" pun tdk akan masuk surga. jd menurut saya tidak ada hubungannya.
    intinya jgn sampai kita salah konsep antara keduanya.

    BalasHapus
  8. 202109113
    seharusnya dalam makalah ini anda menerangkan tentang hubungan mnusia dengan dirinya dalam ilmu pendidikan, tapi kenapa dalam pemaparannya anda lebih condong ke bertamu...sedangkan dalam hadis masih ada tugas yang lainnya spt : kpd keluarganya dan dirinya.....coba jelaskan..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jwbn..
      terimakasih atas pertanyaanya Mas chamid.
      di dalam hadits tersebut kn yg di contohkan adalah sahabat usman bin ma'dzum yg di situ beliau krn sangking cintanya kpd Nabi, shg beliau lalai akan kwjbnnya kpd klwrga, dirinya dan tamunya. saya lebih menekankan pemaparannya pd yg bertamu saja krn justru dr situ yg byk mngndung aspek pendidikannya. Bagaimana sikap kita dlm melayani tamu, tata krama kita dlm melayani tamu, dlm menyuguhkan untuk tamu, kemudian cara kita memuliakan tamu. bukankah itu jg sebuah pendidikan ??? krn byk sekali scr realitanya org itu sgt meremehkan tamu, apalagi kalau misalnya yg bertamu itu tetangga sendiri psti tdk di suguhi. itu kn jg tdk bgus. bahkan dlm hadits terbut Rasulullah sgt menganjurkan ketika sdg berpuasa pun kemudian ada org yg dtg bertamu ke rumah kita, sbg sft kita untuk memuliakan tamu Rasulullah menganjurkan untuk berbuka. dan mengapa saya lebih condong pemaparannya bertamu? krn saya melihat dr kitab syarahnya itu lebih condong menerangkan tentang etika kita ketika melayani tamu. jd saya di sini tdk hanya mengrang tp saya jg berpegang pd kitab syarah Mas,bahkan di situ jg sdh di jelaskan haditsnya. Sebagaimana dlm hadits Nabi bersabda: " Barang siapa yg beriman kpd Allah dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamu"

      Hapus
  9. Ayu Hidayah
    2021110342

    Ada sebuah ayat yang menyatakan bahwa manusia yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhan-Nya,bagaimana pemakalah menanggapi hal tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasanya yg spt itu ada tingkatannya untuk dpt mengenali tuhan. kalau kita ingin dpt mengenali diri kita sendiri kita harus bisa muhasabatunnafsi( mengoreksi diri kita sendiri) . mengenai dosa yg kita perbuat, sgl kemaksiatan yg kita perbuat dsb, ketika kita menyadari hal yg demikian kemudian bertaubatlah. dan dr hal ini kita berarti melakukan tazkiyatun nufus (membersihkan diri ) dr sgl perbuatan maksiat, atau pun dosa lainnya. dan ketika seorang dpt melaksanakan yg demikian shg akan mudah dlm memperoleh derajat ma'rifat kpd Allah. seorang yg bisa ma'rifat kpd Allah SWT maka dia selain mengenali dirinya sendiri sbg hamba Allah dia jg bisa mengenal Allah, krn apa? seorang yg sdh ma'rifat, mahabbah kpd Allah dia hanya menyerahkan sgl hdupnya hanya untuk Allah dg ikhlas. spt para waliyullah. terimakasih..

      Hapus
  10. dwi arum sari 2021110108
    mb intaaann,, mau tanya y
    mhon di jelaskan lgi mengenai aspek tarbawi bahwa hendaknya kita beribadah harus mengenal waktu???,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cherum..
      maksudnya begini mb, jd yg namanya beribadah pun kita jg harus bisa mengkondisikan waktu, dlm artian tdk semua wktu kita gunakan untuk beribada saja. sdgkn kita jg sbg hamba Allah yg lemah kn jg butuh waktu untuk istirahat dsb. jd jfgn di gunakan untuk beribaadah teruuus, itu kn berati "ishraf", sdgkn Allah SWT tdk menyukai hambanya yg ishraf.
      Nabi saja yg sdh jelas kekasih Allah, beliau tdk beribadah terus, akan ttp beliau jg istrhat,memberi nafkah, tidur, makan, membagi wktu bersama istri2nya. jd harus bisa di seimbangnkan antara Duniawi dan Ukhrawinya.. bahkan di situ pun di anjurkan ketika kita tidur tengah malam, wktu tengah malam itu bukan kita gunakan untuk tidur sepenuhnya, akan tetapi sebagian mlm untuk tidur dsn sebagiannya untuk shalat malam. itu saja yg dpt saya jelaskan.

      Hapus
  11. dewi listiyaningsih
    2021110106


    di makalah anda disebutkan tentang kewajiban terhadap diri sendiri, keluarga dan tamu. bagaimnana kewajiban terhadap diri sendiri, keluarga dan tamu itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksih mb dewi,,,
      kewajiban kita thd diri sendiri itu kaitannya sama seperti kewjiban kita mjd hamba Allah. spt beribadah, shalat, istirahat , makan , minum dan kalau dlm hal ini di contohkan kwjbn dlm menjalankan sunnah2 Rasul. kemudian kwjbn tdh keluwarga ya spt kepatuhan kita kpd suami(kalau sdh punya), membantu org tua, berbakti kpd ke2 org tua dfsb..
      kalau kwjbn kita kpd tamu, yg spt cara kita dlm memuliakan tamu, menyuguhi tamu, bisa menyenangkan hati tamu..

      Hapus
  12. titin nur indah sari
    2021110315
    kelas C
    Dalam konsep pendidikan bermasyarakat,mementingkan kepentingan umum itu lebih utama dari pada mementingankan diri kita pribadi. apakah dalam islam juga demikian? lalu sejauh mana seseorang diperbolehkan mengutamakan kepentingan pribadi drpada kepentingan umum.jzkl

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut pendapat saya, dlm islam sdh di terapkan. bahkan konsep yg spt itu muncul kn dari ilmu akhlak, kita sdh mempelajari bahwa mementingkan kepentingan umum itu lebih di dahulukan dr pd kepntngan pribdi.,akan ttp hal tsb tergantung pd org yg menanggapinya.
      mmg terkadang seseorang itu sftnya Usdek, cuek hanya mementingkan diri sendiri. boleh hal itu di terapkan, ketika seorang itu tdk mampu untuk memnuhi kwjbnnya sendiri, apalagi kwjbn org lain. Contoh: dlm menunaikan zakat bg org fakir.
      zakat mmg termasuk dr rukun islam, akan ttp zakat itu di tunaikan bagi org yg mampu. yang mana zakat itu akan di bagikan kpd 8 golongan org yg menerima zakat. itu semua kembali untuk kepentingan umum.
      seorang yg fakir itu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja susah, apalagi untuk membantu bersedekah kpd org lain. sdgkan dirinya sja masih butuh. shg Allah tdk mewajibkan zakat bg org yg fakir. bahkan Allah mewajibkan untuk memberinya zakat atau sedekah lainnya. adapun fakir zakat, akan tetapi caranya berbeda, zakat tsb hanya di berikan kpd anaknya kemudian kmbali lg untuk dirinya sendiri. akan tetapi dlm hikayat yg pernah saya baca, bahwa ada seorang yg yg hanya mempunyai sepiring nasi kemudian ada pengemis yg dtg kpnya dan dia rela tdk makan, dan memberi sepiring Nasi itu kpd pengemis.
      jd kesimpulannya menurut saya,boleh mementingkan kepentingan sendiri selagi tdk melanggar hukum syri'at dan tdk merugikan org lain.

      Hapus
  13. nama romadlon
    2021110114

    kadang saya sendiri tidak paham siapa diri kita sebenarnya ,,apakah sudah benar2 mnjd hakikat manusia atau blum,,menyikapi hal tersebut bagaimanakah kaitanya apabila kita blum mngenal diri kita sendiri,,apalagi melakukan hubungan dengan diri kita sendiri..trimakasih....

    BalasHapus
  14. menurut endapat saya..
    kaitannya ya kita harus bisa MUHASABATUN NAFSI, dan Tafzkiyatun Nufuz. kalau ke 2 konsep tersebut sdh kita terapkan insya Allah kita akan lebih mengenali diri kita sendiri.

    BalasHapus