Laman

Sabtu, 03 Maret 2012

Kelas A, Nailu Zulfa Khusna, 4: Penggunaan Panca Indera akan Dinilai dan Dimintai Pertanggung Jawaban


MAKALAH
Penggunaan Panca Indera akan Dinilai dan Dimintai
Pertanggung Jawaban

Disusun guna memenuhi tugas        :
Mata Kuliah               : Hadits Tarbawi 2
Dosen Pengampu      : Muhammad Hufron, M.S.I


    Disusun      :
Nailu Zulfa Chusna      (2021110017)
    Kelas           : A

TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012
PENDAHULUAN
Allah memberikan banyak kenikmatannya kepada manusia dengan tujuan agar senantiasa manusia itu selalu bersyukur terhadap-Nya.
Tubuh dan segala bentuk pendukungnya merupakan titipan Allah yang wajib dijaga. Penglihatan, pendengaran dan harta yang kita miliki itu semata-mata amanah-Nya. Dimana semuanya itu akan mendapat pertanggung jawa\ban di hari akhir.
Berikut merupakan pemaparan mengenai hadits nabi tentang penggunaan panca indera akan dinilai dan dimintai pertanggung jawaban.














A.      HADITS
 عن ابي هريرت وعن ابي سعيد قالا قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : يؤتي بالعبد يوم القيما مت فيقول الله له الم اجعل لك سمعا وبصرا ومالا وولدا وسخرت لك الانعام والحرث وتركتك تراس وتربع فكنت تظن انك ملاقي يومك هذاقال فيقول لا فيقول له اليوم انساك كما نسيتني : قال ابو عيسي هذا حديث صحيح غريب ومعني قوله اليوم انساك يقول اليوم اتركك في العذاب هكذا فسروه قال ابو عيسي وقد فسر بعض اهل العلم هذه الايت فاليوم ننساهم قالوا انما معناه اليوم نتركهم في العذاب                                    (رواه الترمذي في الجامعو, كتاب صفه القيامت والرقائق والورع عن رسول الله)                                                          
B.       TERJEMAH
Berikut adalah terjemahan hadits tentang Penggunaan Panca Indera akan Dinilai dan Dimintai Pertanggung Jawabannya :
Dari Abu Hurairah dan dari abu Sa’id berkata: Rasulullah SAW barsabdah: Seseorang hamba dihadapkan pada hari kiamat lalu Allah berfirman kepadanya: “Bukankah Aku berikan kepadamu pendengaran, penglihatan, harta benda dan anak dan menyerahkan kepadamu hewan ternak dan pertanian dan aku biarkan kamu memimpin dan menunggu maka apakah kamu menyangka bahwa kamu akan menjumpaiKu pada hari ini? ‘ lupakan kamu seperti kamu telah melupakanKu’. Ini hadist shohih ghorib. Adapun arti kata: ‘ Hari ini aku melupakanmu seperti kamu melupakanku adalah pada hari ini aku biarkan kamu dalam siksa, dan demikian pula sebagian ahli tafsir menafsiri ayat (maka pada hari ini Kami melupakan mereka) (Al-A’raf:5). Mereka berkata: ‘Aartinya hari ini kami membiarkanmu dalam siksa”.[1]

C.      BIOGRAFI ROWI
1.    Abu Hurairah ra.
Menurut pendapat mayoritas, nama beliau adalah 'Abdurrahman bin Shakhr ad Dausi. Pada masa jahiliyyah, beliau bernama Abdu Syams, dan ada pula yang berpendapat lain. Kunyah-nya Abu Hurairah (inilah yang masyhur) atau Abu Hir, karena memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari atau saat menggembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kerabatnya, dan beliau simpan di atas pohon pada malam harinya. Tersebut dalam Shahihul Bukhari, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memanggilnya, “Wahai, Abu Hir”.
Ahli hadits telah sepakat, beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan bahwa, dalam Musnad Baqiy bin Makhlad terdapat lebih dari 5300 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
Selain meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Radhiyallahu 'anhu juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, al Fadhl bin al Abbas, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Bushrah al Ghifari, dan Ka’ab al Ahbar Radhiyallahu 'anhum. Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dan beliau Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Namun, bukan berarti beliau yang paling utama di antara para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Imam asy Syafi’i berkata,"Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa sahabat).”
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu masuk Islam antara setelah perjanjian Hudaibiyyah dan sebelum perang Khaibar. Beliau Radhiyallahu 'anhu datang ke Madinah sebagai muhajir dan tinggal di Shuffah.
Amr bin Ali al Fallas mengatakan, Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu datang ke Madinah pada tahun terjadinya perang Khaibar pada bulan Muharram tahun ke-7 H.
Humaid al Himyari berkata,"Aku menemani seorang sahabat yang pernah menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana halnya Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.”
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendo’akan ibu Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, agar Allah memberinya hidayah untuk masuk Islam, dan do’a tersebut dikabulkan. Beliau Radhiyallahu 'anhu wafat pada tahun 57 H menurut pendapat yang terkuat.[2]

2.    Abu Sa’id
Abu Sa’id Al-Khudri adalah orang ke tujuh yang banyak meriwayatkan hadist dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Telah meriwayatkan 1.170 hadits. Orang orang pernah memintanya agar mengizinkan mereka menulis hadits hadits yang mereka dengar darinya. Ia menjawab “ Jangan sekali kali kalian menulisnya dan jangan kalian menjadikan sebagai bacaan, tetapi hapalkan sebagaimana aku menghapalnya”.
Abi Sa’id lebih dikenal dengan nama aslinya adalah Sa’ad bin Malik bin Sinan. Ayahnya Malik bin Sinan syahid dalam peperangan Uhud, Ia seorang Khudri nasabnya bersambung dengan Khudrah bin Auf al-Harits bin al-Khazraj yang terkenal dengan julukan “Abjar”.
Ketika perang Uhud pecah ayahnya (malik) membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan meminta agar anaknya diikutkan dalam peperangan. Pada waktu itu Jabir masih berusia 13 tahun, namun ayahnya menyanjung kekuatan tubuh anaknya:” Dia bertulang besar ya Rasulullah” tetapi, Rasulullah tetap menganggapnya masih kecil dan menyuruh membawanya pulang.
Abu Sa’id al-Khudri adalah salah seorang diantara para sahabat yang melakukan bai’at kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mereka berikrar tidak akan tergoyahkan oleh cercaan orang dalam memperjuangkan agama Allah Subhanahu wa ta’ala, mereka tergabung dalam kelompok Abu Dzarr al-Ghifari, Sahl bin Sa’ad, Ubaidah bin ash Shamit dan Muhammad bin Muslimah.
Abu Sa’id al-Khudri bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dalam perang Bani Musthaliq, perang Khandaq dan perang perang sesudahnya, secara keseluruhan ia mengikuti 12 kali peperangan.
Riwayatnya dari para sahabat lain banyak sekali namun sumber yang paling terkenal adalah bapaknya sendiri Malik bin Sinan, saudaranya seibu Qatadah bin an-Nu’man, Abu Bakan, Umar, Utsman, Ali, Abu Musa al-Asy’ari, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Salam.
Sedangkan orang orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah anaknya sendiri Aburahman, istrinya Zainab bin Ka’ab bin Ajrad, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Thufail, Nafi’ dan Ikramah.
Abu sa’id membawa putranya Abdurahman ke tanah pemakaman Baqi, dan berpesan agar ia nanti dimakamkan di bagian jauh dari tempat itu. Katanya: “ Wahai anakku, apabila aku meninggal dunia kelak, kuburkanlah aku disana, Jangan engkau buat tenda untuk, jangan engkau mengiringi Jenazahku dengan membawa api, Jangan engkau tangisi aku dengan meratap-ratap, dan jangan memberitahukan seorangpun tentang diriku”.
Kemudian ia beliau wafat pada tahun 74 H.[3]

D.      MUFRODAT (Kata-kata penting)
Kata
Arti
1.      العبد
Seorang Hamba
2.      القيما مت
Hari Kiamat
3.      فيقول
Berkata
4.      اجعل
Memberikan
5.      سمعا
Pendengaran
6.      بصرا
Penglihatan
7.      ولدا
Anak
8.      مالا
Harta Benda
9.      سخرت
Menyerahkan
10.  الانعام
Hewan Ternak
11.  الحرث
Pertanian
12.  انساك
Lupakan Kamu
13.  نسيتني
Melupakanku[4]

E.        KETERANGAN HADITS
Memelihara lisan dari perkataan-perkataan yang buruk merupakan fardhu ‘ain bagi setiap orang karena sesungguhnya bahaya lisan itu besar sekali.
Sebagian ulama’ mengatakan bahwa lisan adalah ular yang tempatnya di mulut. Ibnu Mas’ud mengatakan pula, ‘Tidak ada sesuatupun yang lebih perlu untuk ditahan dalam waktu yang lebih lama kecuali lisan’.
Didalam sebuah pepatah dikatakan bahwa diam adalahselamat dan berbicara mengakibatkan penyesalan. Didalam sebuah hadits disebutkan bahwa barang siapa yang diam (menjaga mulutnya) maka ia selamat.
ما يتبين ما في ها, yang tidak ia pikirkan lagi akibat dari ucapannya itu.[5]
Ada yang mengatakan bahwa pengendalian akal itu ada dua, yaitu:
1.    “Berbahagialah orang yang dapat menjadikan akalnya sebagai raja, sedangkan nafsunya sebagai tawanan”.
2.    “Celakalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai raja, sedangkan akalnya dijadikan tawanan”.
Dan dua kesempurnaan akal itu adalah mengukuti keridhaan Allah SWT dan menjauhi segala yang dimurkai Allah.[6]
Ada sepuluh golongan dari umatku yang akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah memisahkan mereka dari jama’ah kaum muslim dan akan menampakkan bentuk rupa mereka (sesuai dengan amaliahnya di dunia). Diantara mereka:
1.         Ada yang berwajah Kera (orang-orang yang ketika di dunianya suka mengadu domba di antara manusia).
2.         Ada yang berwujud Babi (mereka yang ketika di dunianya gemar memakan barang haram dan bekerja dengan cara yang haram, seperti cukai dan uang suap).
3.         Ada yang berjalan berjungkir balik dengan muka terseret-seret (mereka yang ketiak di dunianya gemar memakan riba).
4.         Ada yang buta kedua matanya (orang-orang yang ketika di dunianya suka berbaut zalim dalam memutuskan hukum).
5.         Ada yang tuli, bisu, lagi tidak tahu apa-apa (orang-orang yang ketika di dunianya suka ujub/ membanggakan diri dengan amalnya).
6.         Ada yang memamah lidahnya sendiriyang menjulur sampai kedada dan mengalir nanah dari mulutnya sehingga jamaah kaum muslimin merasa amat jijik terhadapnya (ulama dan pemberi fatwa yang ucapannya bertolak belakang dengan amaliahnya).
7.         Ada yang tangan dan kakinya dalam keadaan terpotong (orang-orang yang ketika di dunianya suka menyakiti tetangganya).
8.         Ada yang disalib di atas batangan besi panas (orang yang suka mengaduakan orang lain kepada penguasa dengan pengaduan batil dan palsu).
9.         Ada yang aroma tubuhnya lebih busuk dari pada bangkai (orang yang suka bersenang-senang dengan menuruti nafsu syahwat dan kemauan mereka tanpa mau menuanaikan hak Allah yang ada pada harta mereka), dan
10.     Ada yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih (orang yang suka takabbur/ berlaku sombong dan membanggaka diri).[7]




F.       ASPEK TARBAWI (Kependidikan)
Dari penjelasan hadits di atas dapat diambil nilai pendidikan yang dapat kita pelajari, di antaranya:
a.         Menjaga segala bentuk kenikmatan yang Allah berikan melalui selalu bersyukur.
b.         Menggunakan penglihatan, pendengaran, dan harta benda yang telah di titipkan sesuai dengan amanah.
c.         Allah senantiasa akan memberikan balasan yang setimpal atas perilaku manusia semasa hidupnya, apabila menggunakannya dengan amanah maka akan mendapat pahala akan tetapi jika melanggarnya maka siksa yang akan diperoleh.
d.        Manusia harus berani mempertanggung jawabkan perbuatan semasa hidupnya di dunia.












PENUTUP
     Setiap bentuk perbuatan itu akan dimintai pertanggung jawaban. Seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya uutuk rakyat.
Begitu pula dengan titipan Allah berupa panca indera, yang harus digunakan pada tempatnya. Balasan Allah juga akan menyertainya di hari kiamat nanti.
Untuk itu menjaga pemberian Allah itu sangat penting karena sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap-Nya.














DAFTAR PUSTAKA
v   Surah at-Tirmidzi, Muhammad Isa. 1992. Terjemah Sunan At-Tirmidzi Juz IV. Semarang: CV. Asy-Syifa.
v   Sya’bi, Akhmad. 1997. Kamus Al-Qalam. Surabaya: Halim.
v  Abu Bakar, Bahrun. 1996. Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah SAW jilid 5. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
v  Nawawi al-Bantani, Imam. 2005. Nashaibul Ibad. Bandung: Irsyat Baitus Salam.









 


[1] Muhammad Isa bin Surah at-Tirmidzi,Terjemah Sunan At-Tirmidzi Juz IV,(CV. Asy-Syifa:Semarang.1992), hlm:71-72.
[4] Akhmad Sya’bi,Kamus Al-Qalam,(Halim:Surabaya,1997),hlm:-
[5] Bahrun Abu Bakar, Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah SAW jilid 5,(sinar baru algensindo:Bandung,1996), hlm.551.
[6] Imam Nawawi al-Bantani, Nashaibul Ibad,(Irsyat Baitus Salam:Bandung,2005), hlm.35-36.
[7] Ibid, hlm.265-266.

17 komentar:

  1. Nadlifatul Ulya
    2021110003
    Bagaimana korelasi antara Panca indera dengan ilmu pengetahuan,lalu bagaimana panca indera itu memperoleh pengetahuan?

    BalasHapus
  2. Nurul Fauziyah 2021110023
    kelas A

    bagaimana agar panca indera kita selalu terjaga dari kemaksiatan?

    BalasHapus
  3. bgaimana dg seseorang yang dberi khdupan namun tak ada satupun panca indra yang dmilikinya dapat berfungsi,apkah klak ORANG TSB AKAN DMINTAI PERTANGGUNG JAWABAN???MHON PENJELASAN

    BalasHapus
  4. KHAYYUN NAFI 202110028 KELAS A

    Bagaimana cara mengaplikasikan indra kita sebagai bentuk rasa syukur kita kepada sang khalik...???

    BalasHapus
  5. apakah seorang yang mempunyai kekurangan cacat mental akan lebih ringan dalam pertanggung jawabannya kelak di akherat dibandingkan dengan orang yang mempunyai kesempurnaan dalam panca indranya??

    Nurul Maulidah_2021110039_A

    BalasHapus
  6. nur islamiyah 2021110034
    kelas A
    apa bentuk pertanggung jawaban dalam kehidupan sekarang jika seseorang menyalahgunakan panca indra??

    BalasHapus
  7. Kelas A:

    Bagaimana cara menjaga/memelihara lisan kita agar tidak mudah mengatakan sesuatu yang tidak baik bahkan menyakitkan orang lain?

    BalasHapus
  8. Widiawati
    2021110041
    Kelas A

    Kapan panca indera akan dinilai dan dimintai pertanggung jawaban?

    BalasHapus
  9. Wakhid rohmansyah (232107241) kelas ASelasa, 06 Maret 2012 20.59.00 WIB

    di dalam aspek tarbawi di sebutkan "Menggunakan penglihatan, pendengaran, dan harta benda yang telah di titipkan sesuai dengan amanah."
    bisa di jelaskan, amanah seperti apa yang di maksudkan ??

    BalasHapus
  10. Ikrimah 2021110045_A

    jika saya terlanjur melakukan kesalahan dan sudah meminta maaf apakah masih dimintai pertanggung jawabannya juga atau tidak...???

    BalasHapus
  11. berbohong untuk kebaikan, bagaimana pendapat pemakalah mengenai hal tersebut,apakah akan dimintai pertanggung jawabannya juga atau tidak,,,?

    BalasHapus
  12. Erlin novi F
    2021110016
    A

    Bagaimana kedudukan orang gila, apakah akan di mintai pertanggung jawabannya?

    BalasHapus
  13. subariroh
    2021110009
    A

    apakah orang yang jahat saja yang akan dimintai pertanggungjawaban saja, dan bagimana dengan orang yang baik apakah akan langsung masuk surga?

    BalasHapus
  14. Irma Hardika Saputri (2021110010)

    Sekarang sudah jamannya maju, dimana teknologi-pun semakin berkembang, komunikasi tidak harus secara langsung, namun sudah ada hp ataupun internet, Bagaimana pendapat anda tentang perbuatan seumpama melalui via sms atau facebook terdapat kata yang tidak mengenakkan, apakah akan dimintai pertanggung jawaban ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak untuk robNyA melainkan untuk sesama,.. pasti akan di pertanggung jawabkan
      di lihat dari unsur kemanusiaan

      Hapus
  15. bagaimana ketika kita dalam keadaan salah satu panca indera sakit maka ada panca indera yang lain juga ikut sakit?
    bagaimana mengekspresikan rasa syukur kita kepada Allah atas panca indera yang kita miliki?

    BalasHapus