Laman

new post

zzz

Senin, 02 September 2013

FPI-Kelas.N-01: Ruang Lingkup



PENGERTIAN, RUANG LINGKUP DAN KEGUNAAN 
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Disusun guna memenuhi tugas:
                                    Mata Kuliah                : Filsafat Pendidikan Islam
                                    Dosen Pengampu        : Ghufron Dimyati,

Disusun oleh:

                                                Eny Sudarwati            (2021211085)
                                                Finis Watim                 (2021211091)
                                                Rofrofatul Jazilah       (2021211093)
                                                Fauziyah                      (2021211101)

KELAS N (RE) 

JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
                                                             2013


           
BAB I
PENDAHULUAN

            Setiap orang memiliki filsafat, walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang Tuhan, kematian, sejarah, arti kehidupan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya. Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok.
            Hal tersebut merupakan falsafi, usaha untuk mendapatakna jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran. Oleh karena itu, filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang mendasar, maka kita perlukan untuk meneliti bagaiman afilsafat itu menjawabnya.










BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
1.    Pengertian Filsafat
                        Secara harfiah filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta, dan sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta ilmu atau hikmah.[1] Dan menurut istilah filsafat memiliki beberapa definisi yang didasarkan para pemikiran para ahli filsafat. Menurut Perwantana filsafat adalah berfikir secara mendalam dan bersungguh-sungguh. Herbert mengatakan filsafat adalah suatu pekerjaan yang timbul dari pemikiran. Sedangkan menurut Sidi Gazalba filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.[2]
                        Dengan demikian suatu pemikiran dapat dikategorikan kedalam filsafat apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Ä  Adanya unsur berfikir yang dalam hal ini menggunakan akal
Ä  Adanya unsur tujuan yang ingin dicapai melalui berpikir tersebut
Ä  Adanya unsur atau ciri dalam berpikir tersebut, yakni: mendalam, sistematik (logik), radikal, universal dan obyektif.
2.    Pengertian Pendidikan dan Pendidikan Islam
                        Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh terpisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak yang kita didik sesuai dengan dunianya dan dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[3]
                        Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut Islam.[4]
                        Menurut hasil konggres II tahun 1980 tentang pendidikan Islam. Pendidikan Islam ditujukan untuk mencapai keseimbanagn pertumbuhan dari pribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal dan pikiran, kecerdasan, perasan dan pancaindra. Oleh sebab itu pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniyah, keilmiahan, bahasa, baik secara individual maupun kelompok agar tercapai kebaikan dan kesempurnaan hidup.[5]
3.    Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
                        Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa filsafat pendidikan Islam merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai berbagai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadits sebagi sumber primer dan pendapat para ahli, khususnya para filosof muslim, sebagai sumber sekunder. Secara singkat dapat dikatakan filsafat pendidikan Islam adalah filsafat pendidikan Islam yang didasarkan pada ajaran Islam atau filsafat yang dijiwai oleh Islam.[6]

B.       Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
     Ada dua dimensi dalam kajian filsafat Islam, yaitu dimensi makro dan dimensi mikro.
1)        Dimensi Makro
          Pokok-pokok pembahasan filsafat pendidikan Islam yang berdimensi makro diantaranya yaitu:
a)        Ontologi
Ontologi merupakan bidang kajian filsafat pendidikan Islam yang membahas hakikat realita atau kenyataan, baik yang berupa materi atau rohani, membahas bagaimana hakikatnya dan hubungan realita kejadiannya.
b)        Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membahas masalah yang berhubungan dengan pengetahuan.
c)        Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang esensi nilai.
2)        Dimensi mikro
          Pokok-pokok pembahasan filsfat pendidikan Islam yang berdimensi mikro adalah yang menyangkut proses pendidikan yang meliputi 5 faktor, yaitu:
a)      Tujuan pendidikan
b)      Pendidik
c)      Peserta didik
d)     Alat-alat pendidikan
e)      Lingkungan pendidikan.[7]

C.      Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
a.         Menurut Omar Moh. Al-Toumy al-Shaibany, filsafat pendidikan Islam berguna untuk:
§  Menolong para perancang pendidikan dan orang-orang yang melaksanakannya dalam suatu negara untuk membentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan.
§  Dapat dijadikan sebagai asas penilaian yang terbaik dalam penilaian pendidikan secara menyeluruh.
§  Dapat dijadikan pedoman pelaksanaan pendidikan pada umumnya.[8]
b.         Menurut M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam berfungsi sebagai berikut:
§  Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanaan pendidikaan yang berdasarkan ajaran Islam.
§  Melakukan kritik terhadap pelaksanaan pendidikan Islam.
§  Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan Islam.
c.         Menurut Ahmad D. Marimba, Filsafat pendidikan Islam dapat dijadikan pegangan dalam pelaksanaan pendidikan yang menghasilkan generasi berkepribadian muslim.[9]























BAB III
PENUTUP

            Pada dasarnya filsafat pendidikan Islam merupakan sistem berfikir filsafah yang diaplikasikan dalam memecahkan problema-problema pendidikan, sebagai hasil dari produk pemikiran yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi pelaksanaan pendidikan pada umumnya. Dan pada dasarnya juga sama denagn filsafat pendidikan lainnya, perbedaannya terletak pada titik tolaknya. Filsafat pendidikan Islam bertolak dari ajaran dan nilai-nilai Islam.
            Dan ruang lingkup filsafat pendidikan Islam adalah pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, logis dan universal mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan pendidikan atas dasar ajaran Islam.
            Dengan filsafat pendidikan Islam harus dapat memberikan pedoman kepada para perencana pendidikan, dan orang-orang yang bekerja dalam bidang pendidikan. Dan pemahaman terhadap filsafat pendidikan Islam secara utuh akan memberikan pengaruh terhadap perbuatan yang tanpa rencana dan mencoba-coba dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan Islam.














DAFTAR PUSTAKA

          Ihsan, Hamdani dan Fuad Ihsan. 1998. Filsafat Pendidiakn Islam. Bandung: CV PUSTAKA SETIA.
          Khobir, Abdul. 2007. Filsafat Pendidikan Islam. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.
          Nata, Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.


[1] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2007), hlm. 1
[2] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 3
[3] Abdul Khobir, Op.cit., hlm. 3
[4] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidiakn Islam, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 1998), hlm. 15
[5] Abdul Khobir, Op.cit., hlm. 3-4
[6] Abuddin Nata, Op.cit, hlm. 15
[7] Abdul Khobir, Op.cit., hlm. 6-7
[8] Abuddin Nata, Op.cit, hlm. 17
[9] Abdul Khobir, Op.cit., hlm. 8-10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar