Laman

Jumat, 25 Oktober 2013

FPI-N-7: ALIRAN esensialisme - rekonstruksionisme



BAB I
PENDAHULUAN

Tiap-tiap aliran filsafat bukanlah merupakan usaha mengakhiri perbedaan-perbedaan prinsipil dari suatu ajaran. Tetapi justru di dalam kebebasan memilih dan mengembangkan ide-ide filsafat itu, asas filosofis yang menghormati martabat kemanusiaan setiap orang tidak hanya teroritis adanya, melainkan praktis, dilaksanakan. Inilah satu bukti dan jaminan konkrit kebenaran-kebenaran filsafat yang asasi.
Jadi mengingkari kebebasan subyek, meniadakan eclecticisme bertentangan dengan asas-asas utama di dalam filsafat yang ideal. Dan ini perlahan-lahan tetapi pasti, membunuh perkembangan filsafat itu sendiri. Bahkan tidak adanya eclecticisme itu bertentangan dengan kodrat asasi pribadi manusia yang mengandung sifat-sifat individualitas dan sifat kepribadian yang unik.
Klasifikasi aliran-aliran filsafat pendidikan berdasarkan perbedaan-perbedaan teori dan praktek pendidikan yang menjadi ide pokok masing-masing filsafat tersebut. Demikian pula klasifikasi itu sendiri akan berbeda-beda menurut cara dan dasar yang menjadi kriteria dalam menetapkan klasifikasi itu. Misalnya ada yang membuat klasifikasi aliran filsafat pendidikan berdasarkan asas dichotomi yakni antara aliran progressive dan aliran conservative. Tetapi klasifikasi yang demikian sukar untuk menampung adanya kenyataan bahwa masing-masing aliran yang relatif banyak itu mempunyai pula segi-segi yang overlapping. Karena itu tak akan ada sifat yang murni bagi suatu aliran untuk digolongkan sebagai konservatif semata-mata, jika kita cukup jujur untuk melihat adanya unsur-unsur progressif di dalamnya. Itulah sebabnya, perlu kita sadari bahwa klasifikasi aliran-aliran filsafat itu harus didasarkan atas penelitian yang mendalam dan sangat hati-hati.


BAB II
PEMBAHASAN
”ALIRAN PERENIALISME DAN ALIRAN REKONTRUKSIONISME”

A. Aliran Perenialisme
Perenialisme diambil dari kata perennial, yang diartikan sebagai continuing throughout the whole year  atau lasting for a very long time, yang bermakna abadi atau kekeal. Dari makna tersebut mempunyai maksud bahwa Perenialisme mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal dan abadi.
Aliran Perenialisme menganggap bahwa zaman modern adalah zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan sehingga banyak menimbulkan krisis di segala bidang kehidupan manusia. Untuk menghadapi situasi krisis itu, perenialisme memberikan pemecahan dengan jalan regressiv road to culture, yaitu jalan kembali atau mundur kepada kebudayaan lama (masa lampau), kebudayaan yang dianggap ideal dan telah teruji ketangguhannya. Disinilah pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam rangka mengembalikan keadaan manusia modern kepada kebudayaan masa lampau yang ideal tersebut (Zuhairini,1995: 27-28).[1]
Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles, kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Thomas Aquines yang menjadi pembaru utama di abad ke-13 (Ali, 1993:154). Aristoteles dan Thomas Aquines meletakkan dasar bagi filsafat ini, hingga pada pokoknya ajaran filsafat ini tidak berubah semenjak abad pertengahan. Kendati banyak bermunculan dan berjatuhan rival-rival filsafat ini, namun ia tetap berlajut dari generasi kegenerasi, dari tahun ketahun, bahkan ratusan tahun, dan tetap tumbuh dan berkembang.[2]
1)      Latar Belakang munculnya Aliran Perenialisme
Di Zaman modern ini, banyak bermunculan krisi di berbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan krisis ini, perenialisme memberikan jalan keluar yaitu dengan mengebalikan pada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal danteruji ketangguhannya. Untuk itu, pendidikan harus lebih banyak mengarah perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.[3]
Pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Karena itu. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal dimaksud, “Education as cultural regression.” Perenialisme tak melihat jalan yang meyakinkan selain kembali kepada prinsip-prinsip yang telah sedemikian mebentuk sikap kebiasaan, bahkan kepribadian manusiaselain kebudayaan dulu dan kebudayaan abad pertengahan.[4]
2)      Pandangan Ontologi Perenialisme
Ontologi perenialisme terdiri dari pengertian-pengertianseperti benda individual, esensi, aksiden dan subtansi. Secara ontologis, perenialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya. Benda individual di sini adalah benda sebagaimana yang tampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indra seperti batu, lembu, rumput, orang dalam bentuk, ukuran, warna dan aktivitas tertentu. Esensi dari suatu kualitas menjadikan benda itu lebih intrinsik dari pada fisiknya, seperti manusia yang ditinjau dari esensinya adalah makhluk berfikir. Sedangkan aksiden adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan yang esensial. Dengan demikian, segala yang ada di alam semesta ini, seperti manusia, batu, bangunan dasar, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, merupakan hal yang logis dalam karakternya.
3)      Pandangan Epistimologi Perenialisme
Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian anatara pikiran dengan benda-benda. Benda-benda di sini adalah hal-hal yang keberadaannya bersendikan prinsip-prinsip keabadian. Ini berarti, bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. Jelaslah bahwa pengetahuan itu merupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran konsekuen.[5]
4)      Pandangan Aksiologi Perenialisme
Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan asas-asas supernatural, yakni menerima universal yang abadi. Dengan asas seperti itu, ontologi dan epistimologi tidak hanya didasarkan pada prinsip teologi dan supernatural, tetapi juga aksiologi. Khusus dalam tingkah laku manusia, manusia sebagai subjek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai kodratnya, disamping kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan yang tidak baik (Muhammad Noor Syam, 1986: 319).
Masalah nilai merupakan hal yang utama dalam prerenialisme, karena ia berdasarkan pada asas-asas supernatural yaitu menerima universal yang abadi, khususnya tingkah laku manusia. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama pada jiwanya. Oleh karena itu, hakikat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya, dan persoalan nialai adalah persoalan spiritual. Dalam aksiologi, prinsip pikiran demikian bertahan dan tetap berlaku. Secara etika, tindkan itulah yang bersesuaian dengan sifat rasional manusia, karena manusia itu secara alamiah condong pada kebaikan.
Jadi, manusia sebagai subjek dalam tingkah laku telah memiliki potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya,  di samping kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik. Tindakan yang baik adalah yang bersesuaian dengan sifat rasional manusia.[6]
5)      Pandangan Perenialisme tentang Belajar
Tuntutan tertinggi dalam belajar menurut perenialisme, adalah latiahan dan displin mental. Maka, teori dan praktik pendidikan haruslah mengarah kepada tuntutan tersebut. Teori dasar dalam belajar menurut Perenialisme terutama:
a.       Mental diciplin sebagai mental
b.      Rasionalitas dan asas Kemerdekaan
c.       Learning to Reason (Belajar untuk berfikir)
d.      Belajar sebagai persiapan hidup
e.       Learning through teaching (Belajar melalui pengajaran)
6)      Pandangan Perenialisme mengenai Pendidikan
Sebagai filsafat pendidikan umumnya, filsafat pendidikan perensialisme juga mempengaruhi sekolahan-sekolahan modern sekarang, pandangan-pandangan kuikulumnya mempengaruhi pratik pendidikan.
a.       Pendidikan Dasar dan (Sekolah) Menegah
1.      Pendidikan sebagai persiapan
2.      Kurikulum sekolah menengah
b.      Pendidikan Tinggi dan Adult Education
1.      Kurikulum Universitas
2.      Kurikulum Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education)


B. Aliran Rekontruksionisme
Pendidikan merupakan suatu proses pemindahan ilmu dari satu generasi ke generasi selanjutnya dalam rangka pelestarian kebudayaan. Oleh karena itu, sebuah pendidikan harus selalu dinamis dalam mencapai tujuannya. Seiring dengan itu, maka dalam menerapkan suatu sisitem dalam pendidikan harus selalu sejalan dengan dinamika manusia dan masyarakatnya. Sejak dahulu sampai sekarang sering kita rasakan perkembangan dari pendidikan dengan adanya perubahan kurikulum yang dilaksanakan dalam sebuah sekolah. Hal ini memang diperlukan agar pendidikan dapat sesuai dengan perkembangan sosial budayadan ilmu pengetahuan dan teknologi.[7]
Kata rekontruksionisme berasal dari bahasa Inggris rekonstuct, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan,aliran rekontruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dengan membangun tata susuna hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekontruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan alira perensialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern.[8]
1.      Latar Belakang
Kehadiran aliran rekontruksionisme ini dalam pendidikan didorong oleh adanya suatu tuntutan yang menghendaki agar sekolah berperan mengambil bagian dalam membangun masyarakat masa depan. Hal ini dikarenakan masyarakat mengalami kebimbangan, ketakutan dan kebingungan dalam menghadapi perkembangan zaman. Rekontruksionisme ini berusaha membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia. Dan rekontruksionisme ini pertama kali dikemukakan oleh Brameld dan Brubacher yang menkajiide pokok rekontruksionisme.

2.      Ontologi Aliran Rekontruksionisme
Rekontruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha mencari kesepakatan tentang tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tata susunan baru seluruh lingkungannya, dengan kata lain rekontruksionisme ingin merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru melalui lembaga dan proses pendidikan.
Tujuan ini hanya mungkin diujudkan melalui usaha kerjasama dari semua bangsa-bangsa. Penganut aliran ini yakin bahwa telah tumbuh kesadaran dan konsensus seperti dimaksud di seluruh dunia. Mereka telah percaya bahwa telah ada hasrat yangsama dari bangsa-bangsa tentang cita-cita nyang tersimpul dalam ide rekontruksionalisme. Yang dimaksud disini adalah suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh suatu golongan (Mohammad Noor Syam, 1988: 314).[9]
3.      Epistimologi Ailran Rekontruksionisme
Kajian epistimologi aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme (progressive) dan perenialisme. Menurut aliran ini, untuk memahami realitas memerlukan suatu asas tahu. Maksudnya, kita tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalama dan hubungan dengan realita terlebih dahulum melalui penemuan ilmu pengetahuan. Karenanya, baik indra maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahuan, dan akal dibawa oleh panca indra menjadi pengetahuan yang sesungguhnya.
Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self-evidence, yakni bukti yang ada pada diri sendiri,realita, dan eksistensinya. Dengan kata lain, pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan ilmu itu sendiri.


4.      Aksiologi Aliran Rekontruksionisme
Dalam proses interaksi sesama manusia, diperlukan nilai-nilai. Begitu juga dalam hubungan manusia dengan alam semesta, prosesnya tidak mungkin dilakukan dengan sikap netral. Dalam halini, manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian, yang merupakan kecenderungan manusia. Tetapi, secara umum ruang lingkup pengertian “nilai” ini tidak terbatas.
Menurut Barnadib (1992: 69), aliran ini memandang masalah nilai berdasarkan asas-asas supernatural, yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi, berdasarkan prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah emanasi potensial yang berasal dari Tuhan. Atas dasar  pandangan inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahui.[10]
5.      Pandangan Aliran Rekontruksionisme tentang Belajar
Pandangan aliran ini terhadap belajar juga dapat dilihat dari beberapa aspek pendidikan, yaitu:
a)      Pelajar
b)      Pengajar
c)      Pengajaran
d)     Belajar[11]
6.      Pandangan Aliran Rekontruksionisme tentang Pendidikan
Pandangan aliran rekontruksionisme tentang pendidikan ini dapat dilihat dari beberapa, aspek, yaitu:
a)      Teori Pendidikan Aliran Rekontruksionisme
Ø  Tujuan pendidikan
Ø  Metode pendidikan
Ø  Kurikulum[12]


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Aliran Perenialisme dianggap sebagai “ regressive road to culture” yakni jalan kembali ke kebudayaan masa lampau. Pandangan perenialisme mengenai belajar dengan mendasarkan pada teori belajar; Mental discipline sebagai teori dasar, rasionalitas dan asas kemerdekaan, belajar untuk berfikir serta belajar sebagai persiapan hidup. Perenialisme juga memiliki formula mengenai jenjang pendidikan beserta kurikulum, yaitu pendidikan dasar dan (sekolah) menengah, pendidikan tinggi dan adult education.  
Munculnya aliran rekontruksionisme ini didorong oleh adanya suatu tuntunan yang menghendaki agar sekolah berperan mengambil bagian dalam membangun masyarakat masa depan. Rekontruksionisme adalah suatu aliran dalam filsafat pendidikan yang berusaha mencari kesepakatan tetang tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam tata susunan baru seluruh lingkungannya, dengan kata lain rekontruksionisme ingin merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru melalui lembaga dan proses pendidikan.


[1] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, (Pekalongan: STAIN Press, 2007), hlm. 62
[2] H. Jalaluddin, Abdullah Ida, Filsafat Pendidikan, (jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2012), cet. IV, hlm. 110
[3] H. Jalaluddin, Abdullah Ida, Filsafat Pendidikan, Loc.it,.. hlm. 110
[4] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, (Pekalongan: STAIN Press, 2007), hlm. 63
[5] H. Jalaluddin, Abdullah Ida, Filsafat Pendidikan, Loc.it,.. hlm. 112-113
[6] Ibid,..hal. 116-117
[7] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, Loc. It.,. hlm. 66-70
[8] H. Jalaluddin, Abdullah Ida, Filsafat Pendidikan, Loc.it,.. hlm. 118-119
[9] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, Loc. It.,. hlm. 70-71
[10] H. Jalaluddin, Abdullah Ida, Filsafat Pendidikan, Loc.it,.. hlm. 121-122
[11] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, Loc. It.,. hlm. 79-80
[12] Ibid, Loc, it,. 78

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar