Laman

Sabtu, 27 September 2014

SPI - F - 4 : PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH


MAKALAH
PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH
Disusun guna memenuhi tugas makalah:
Mata Kuliah            : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu    : Ghufron Dimyati,M.S.I

oleh:
Fitri Nur Maritsa                  2021113160
Miya arismaya                       2021113131
Iqbal Mayzun Al Ma’arif     2021113155

Kelas F

JURUSAN TARBIYAH (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN PEKALONGAN)
2014


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sepeninggal Rasulullah saw., kepemimpinan Islam dipegang oleh Khulafā’ al-Rāsyidīn. Pada masa ini Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan telah meluas  ke seluruh Wilayah Arab. Meskipun Islam telah berkembang pada masa ini,  namun juga banyak mendapat tantangan dari luar dan dalam Islam sendiri. Seperti pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib banyak terjadi pemberontakan di daerah hingga terjadi perang saudara. Salah satu perang dimasa Ali bin Abi Thalib ialah peperangan antara Muawiyah dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang menghasilkan abitrase, sehingga Muawiyah menggantikan posisi Ali bin Abi Thalib. Dampak yang ditimbulkan dari abitrase ini adalah pengikut  Ali bin Abi Thalib bersepakat untuk membunuh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah karena dianggap telah kafir dan halal dibunuh. Dalam rencana pembunuhan ini, hanya Ali bin Abi Thalib yang berhasil dibunuh.
Berakhirlah masa Khulafā’ al-Rāsyidīn dan digantikan oleh pemerintahan Dinasti Umayyah dibawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sofyan. Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, Islam semakin berkembang dalam segala aspek hingga perluasan daerah kekuasaan.
Setelah pemerintahan Dinasti Umayyah berakhir, maka pemerintahan Islam digantikan oleh pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan Umat Islam. Abbasiyah dinisbatkan kepada al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. Dinasti ini berdiri sebagai bentuk dukungan terhadap pandangan yang diserukan oleh Bani Hasyim setelah wafat  Rasulullah saw., yaitu menyandarkan khilāfah kepada keluarga Rasulullah dan kerabatnya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya penulis merumuskan beberapa masalah sebagai acuan untuk mengkaji makalah ini. Adapun rumusan masalah yaitu:
1)      Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah ?
2)      Siapa saja kholifah pada masa Dinasti Abbasiyah ?
3)      Apa saja kemajuan pada masa Dinasti Abbasiyah?
4)      siapa saja Dinasti yang memerdekakan diri dari Baghdad?
5)      Apasaja yang menyebabkan kemunduran Disnati Abbasiyah?
6)   Bagaimana akhir masa Dinasti Abbasiyah?

C.    Metode Pemecahan Masalah
     Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui metode kajian pustaka, menggunakan beberapa referensi lain yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan tema yang akandibahas, melakukan perumusan makalah, penentuan tujuan penulisan, serta perumusan masalah dengan mengkaji sumber-sumber yang ada.
D.    Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam3 bagian meliputi:
Bab I, pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah, perumusan masalah, dan sistematika penulisan makalah, Bab II, pembahasan, Bab III, bagian penutup.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah.
Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shafah dan sekaligus menjadi khalifah pertama. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang yaitu selama lima abad dari tahun 132-656 H (750-1258 M). Berdirinya pemerintahan ini di anggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani hasyim setelah meninggalnya rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak untuk berkuasa adalah keturunan rasullah dan anak-anaknya. Dari nama Al Abbas paman rasulullah inilah nama ini disandarkan pada tiga tempat pusat kegiatan yaitu Humaimah, Kufah dan Khurasan.
Propaganda Abbasiyah dilaksanakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia. Akan tetapi, Imam ibrahim pemimpin Abbasiyah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah, gerakanya di ketahui oleh  khalifah Umayah terakhir, Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan Dinasti Umayyah dan di penjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia tahu akan di bunuh dan memerintahkan untuk pindah ke kufah. Sedangkan pemimpin propaganda di bebankan kepada Abu Salamah. Segeralah Abu Abbas pindah dari Humaimah ke Kufah di iringi oleh para pembesar Abbasiyah yang lain seperti Abu Ja’far, Isa bin Musa, dan Abdullah bin Ali.[1]
Pada februari 750 M terjadi peperangan di Dzab II gerakan Abbasiah mencapai hasil dengan mengalahkan khalifah Marwan II yang melarikan diri ke Mesir. Tahun itu juga di masjid Kufah Abu Abbas Al Safah mendeklarasikan diri sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah. Pada januari 750 M/132 H, Marwan II di bunuh oleh pasukan Abbasiyah maka mulai saat itulah secara de facto berdiri dinasti baru yaitu Dinasti Abbasiah.  Setelah menjadi khalifah Abu Al Abbas bergelar  Al Saffah (penumpah darah /peminum darah) mengeluarkan dekrit kepada gubernur supaya tokoh-tokoh Umayah yang memiliki darah biru semuannya di bunuh. Ia sendiri juga membunuh banyak rival dari dinasti itu. Bukan hanya itu saja Saffah menggali kuburan para khalifah Umayah kecuali Umar II dan tulang-tulangnya pun di bakar. Oleh karena itu rakyat Damaskus, Harran, Hims, Kinnisirin, Jeruzalem dan daerah lainnya memberontak. Api pemberontakan itu di padamkan dengan tangan besi oleeh rezim Saffah.
Sebelum Saffah wafat (754 M) ia mengankat saudaranya Abu  Ja’far dengan gelar al-Mansur sebagai penggantinya. Semula ibu kota pemerintahan di pusatkan di Ambar dengan nama istana negaranya al Hasyimiah. Setelah Mansur memerintah ia memindahkan ibu kotanya  Baghdad, hal ini di karenakan Ambar terletak diantara Syam dan Kufah yang selalu dapat ancaman dari kaum Syiah, maka pusat pemerintahan di pusatkan di daerah yang lebih aman, Baghdad (762 M) dengan nama Dar al salam. Demi keamanan dari lawan politiknya sepperti orang Rawandiah, maka Mansur membangun sebuah kota yang indah dan aman di tepi sungai Tigris, kemudian dijadikan sebagai ibu kota baru Abbasiah  hingga akhir periode dinasti ini.[2]

B.     Para Khalifah Dinasti Abbasiyah.
Sebelum abu abbas Ash-shafah meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa penggantinya yakni saudaranya abu ja’far kemudian keponakannya isa bin musa. Sistem pengumuman putra mahkota itu mengikuti cara Dinasti Umayah. Dan satu hal baru lagi bagi khalifah Abbasiyah, yaitu pemakaian gelar. Abu ja’far misalnya memakai gelar Al-mansyur. Para khalifah bani abbasiyah berjumlah 37 khalifah, mereka adalah:
1.      Abul Abbas Ash-shafah. (pendiri)                              749-754 M
2.      Abu Ja’far Al-Manshur                                               754-775 M
3.      Abu Abdullah Muhammad Al Mahdi                                    775-785 M
4.      Abu Muhammad Musa Al-Hadi                                 785-786 M
5.      Abu Ja’far Harun Ar-Rasyid                                      786-809 M
6.      Abu Musa Muhammad Al-Amin                                809-813 M
7.      Abu Ja’far Abdullah Al-Makmun                               813-833 M
8.      Abu Ishaq Muhammad Al Mustashim                        833-842 M
9.      Abu Ja’far Harun Al Watsiq                                       842-847 M
10.  Abu Fadl Ja’far Al Mutawakil                                    847-861 M
11.  Abu Ja’far Muhammad Al Muntashir                         861-862 M
12.  Abul Abbas Ahmad Al Musta’in                                862-866 M
13.  Abu Abdullah Muhammad Al-Mu’taz                       866-869 M
14.  Abu Ishaq Muhammad Al-Muhtadi                           869-870 M
15.  Abu Abbas Ahmad Al-Mu’tamid                               870-892 M
16.  Abu Abbas Muhammad Al-Mu’tadid                                    892-902 M
17.  Abul Muhammad Ali Al-Muktafi                               902-905 M
18.  Abul Fadl Ja’far Al-Muqtadir                                     905-932 M
19.  Abu Mansur Muhammad Al-Qahir                             932-934 M
20.  Abul Abbas Ahmad Ar-Radi                                      934-940 M
21.  Abu Ishaq Ibrahim Al-Muttaqi                                   940-944 M
22.  Abul Qasim Abdullah Al-Mustaqfi                            944-946 M
23.  Abul Qasim Al Fadl Al-mu’ti                                     946-974 M
24.  Abul Fadl Abdul Karim At-Thai                                974-991 M
25.  Abul Abbas Ahmad Al-Qadir                                                991-1031 M
26.  Abul Ja’far Abdullah Al-Qa’im                                  1031-1075 M
27.  Abul Qasim Abdullah  Al Muqtadi                            1075-1094 M
28.  Abul Abbas Ahmad Al-Muztadzir                             1094-1118 M
29.  Abu Mansyur Al-Fadl Al-Mustarsyid                                    1118-1135  M
30.  Abul Ja’far Al Manshur Ar-Rasyid                            1135-1136 M
31.   Abu Abdullah Muhammad Al Muqtafi                     1136-1160 M
32.  Abul Mudzafar Al-Mustanjid                                     1160-1170 M
33.  Abu Muhammad Al Hasan Al Mustadi                      1170-1180 M
34.   Abu Al Abbas Ahmad An Nasir                               1180-1225 M
35.  Abu Nasr Muhammad Az Zahir                                 1225-1226 M
36.  Abu Ja’far Al Mansur Al Mustansir                           1226-1242 M
37.  Abu Ahmad Abdullah Al Mu’tashim Billah              1224-1258 M
Para khalifah Bani Abbasiyah yang ada di mesir adalah sebagai berikut:
1.      Al-Muntashir                     1261-1261 M
2.      Al-Hakim I                        1261-1302 M
3.      Al-Mustakfi                      1302-1340 M
4.      Al-Wasiq                           1340-1341 M
5.      Al-Hakim II                      1341-1352 M
6.      Al-Mutadid I                    1352-1362 M
7.      Al MutawakkilI                1362-1377 M
8.      Al-Mu’tashim                    1377-1377 M
9.      Al-Mutawakkil                  I377-1383 M
10.  Al-Watshiq II                    1383-1386 M
11.  Al-Mustashim                   1386-1389 M
12.  Al-Mutawakkil                  I389-1406 M
13.  Al-Musta’in                       1406-1414 M
14.  Al-Mu’tadid                      1414-1441 M
15.  Al-Mustakfi II                  1441-1451 M
16.  Al-Qaim                            1451-1455 M
17.  Al Mustanjid                     1455-1479 M
18.  Al-Mutawakkil II              1479-1497 M
19.  Al-Mustamsik                   1497-1508 M
20.  Al-Mutawakkil III                        1508-1516 M
21.  Al-Mustamsik                   1516-1517 M
22.  Al-Mutawakkil III                        1517-1517 M[3]

C.     Masa kemajuan Dinasti Abbasiyah.
Pada mulanya ibu kota negara adalah Al-Hasyimiyah Di dekat kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu Al Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru di bangunnya, Baghdad dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon pada tahun 762 M.
Sejak awal berdirinya kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam islam. Kota Baghdad sebagai pusat intelektual terdapat beberapa pusat aktivitas pengembangan ilmu, antara lain baitul hikmah yaitu lembaga ilmu pengetahua sebagai pusat pengkajian berbagai ilmu. Baghdad juga sebagai pusat penerjemah buku-buku dari berbagai cabang ilmu yang kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Arab.sebagai ibu kota baghdad mencapai puncaknya pada masa Harun Ar-rasyid walaupun kota tersebut belum lima puluh tahun di bangun.
Dengan demikian, Dinasti Abbasiyah dengan pusatnya di Baghdad sangat maju sebagai pusat kota peradaban dan pusat ilmu pengetahuan. Beberapa kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan dapat disebutkan sebagai berikut:
a.       Bidang agama.
Kemajuan di bidang agama antara lain dalam babarapa bidang ilmu yaitu: ulumul qur’an, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, bahasa dan fikih.
b.      bidang umum
Dalam bidang umum antara lain berkembang berbagai kajian dalam bidang filsafat,  logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geometri,, aljabar, aritmetika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran,kimia, sejarah dan sastra.[4]
c.       Administratif pemerintahan dengan biro-bironya
d.      Sistem organisasi militer
e.       Administari wilayah pemerintahan
f.       Pertanian, perdagangan dan industri
g.      Islamisasi pemerintahan
h.      Pendidikan, kesenian, arsitektur, meliputi pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi, perpustakaan dan toko buku, media tulis, seni rupa, seni musik dan arsitek.[5]

D.    Dinasti-Dinasti yang Memerdekakan Diri dari Baghdad.
Kekuasaan Dinasti Abasiyah  ini tidak pernah di akui oleh islam di wilayah Spanyol dan Afrika utara, kecuali Mesir. Bahkan dalam kenyataannya, banyak wilayah tidak dikuasai khalifah. Secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubenur-gubenur provinsi yang bersangkutan. Hubungannya dengan khalifah ditandai dengan pembayaran upeti.
Adapun dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khalifah Abbasiyah, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Thahiriyah di Khusaran, Persia (820-872 M)
2.      Safariyah di Fars, Persia   (868-901 M)
3.      Samaniyah di Transoxania (873-998 M)
4.      Sajiyyah di Azerbaijan (878-930 M)
5.      Buwaihiyyah, Persia (932-1055 M)
6.      Thuluniyah di Mesir (837-903 M)
7.      Ikhsidiyah di Turkistan (932-1163 M)
8.      Ghazwaniyah di Afghanistan (962-1189 M)
9.      Dinasti saljuk (1055-1157 M)
10.  Al-Barzuqani, Kurdi (959-1095 M)
11.  Abu Ali, Kurdi  (990-1095 M)
12.  Ayyubiyah, Kurdi (1167-1250 M)
13.  Idrisiyah di Maroko (788-985 M)
14.  Aghlabiyah di Tunisia (800-900 M)
15.  Dulafiyah di Kurdistian  (825-898 M)
16.  Alawiyah di Tabiristan (864-928 M)
17.  Hamdaniyah di Aleppo dan Musil (929-1002 M)
18.  Mazyadiyah di Hillah (1011-1150 M)
19.  Ukailiyah di Mausil  (996-1095 M)
20.  Mirdasiyah di Aleppo (1023-1079 M)
21.  Dinasti umayyah di spanyol.
22.  Dinasti fatimiyyah di mesir.
Dari latar belakang dinasti tersebut tampak jelas adanya persaingan antar bangsa terutama antara Arab, Persia, dan Turki. Disamping latar belakang kebangsaan Dinasti itu juga di latar belakangi paham keagamaan, ada yang belatar belakan Syiah dan ada pula yang Sunni.[6]

E.     Faktor yang Menyebabkan  Kemunduran Dinasti Abasiyah.
Faktor-faktor peyebab kemunduran dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut:
a.       Faktor intern
·         Kemewahan hidup dikalangan penguasa.
·         Perebutan kekuasaan antara keluarga bani Abbasiyah.
·         Konflik keagamaan.
b.      Faktor ekstern
·         Banyaknya pemberontakan.
·         Dominasi bangsa turki
·         Dominasi bangsa persia.[7]
     Sebab kehancuran Dinasti Abbasiyah antara lain:
1.      Faktor intern
ü  Lemahnya semangat patriotisme negara, menyebabkan jiwa jihad yang di ajarkan islam tidak berdaya lagi menahan segala amukan yang datang, baik dari dalam maupun dari luar.
ü  Hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, sehingga kerusakan moral dan kerendahann budi menghancurkan sifat-sifat baik yang mendukung negara selama ini.
ü  Tidak percaya dengan kekuatan sendiri dalam mengatasi berbagai pemberontakan, khalifah mengundang kekuataan asing. Akibatnya, kekuatan asing tersebut memanfaatkan khalifah.
ü  Fanatik madzhab persaingan dann perebutan yang tiada henti antara abbasiyah dan alawiyah menyebabkan kekuatan umat iislam menjadi lemah bahkan hancur berkeping-keping.
ü  Kemerosotan ekonomi.
2.      Faktor ekstern
Disentegrasi akibat kebijakan untuk lebih mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam dari pada politik, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai melepaskan dari genggaman penguasa bani abbasiyah. Mereka bukan sekedar memisahkan diri dari kekuasaan khalifah, tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan khalifah, tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan di baghdada. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak luar dan banyak mengorbankan umat, yang berarti juga menghancurkan sumber daya manusia(SDM).[8]

F.      Akhir kekuasaan Dinasti Abasiyah.
Sejak abad ke 7 M bangsa arab dengan cepat ekali menguasai satu persatu wilayah kemajuan dunia saat itu sampai mereka pernah menjadi penguasa yang sangat kuat dimana kekuatan peta kekuatan islam melebar sampai asia, afrika dan eropa barat daya. Kecepatan arus ekspansitersebut dengan kemunduran islam (11 MM) lebih cepat dari pada fase ekspansi. Tidak berdaya dengan kelahiran, kemajuan dan kehancuran yang di alami manusia juga terjadi terhadap dinasti abbasiyah.[9]
Akhir dari kekuasaan Dinasti Abbasiyah ialah ketika Baghdad dihancurkan oleh pasukan Mongol yang di pimpin oleh Hulagu Khan, 656 H/1258 M. Baghdad dibumi hanguskan dan diratakan dengan tanah. Khalifah Bani Abbasiyah yang terakhir dengan keluarganya, Al Mu’tashim Billah di bunuh, buku-buku yang terkumpul di baitul hikmah di bakar dan di buang kesungai tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut yang jernih bersih menjadi hitam kelam karena lunturan tinta yang ada pada buku-buku itu.
Dengan demikian, lenyaplah Dinasti Abbasiyah yang telah memainkan perang penting dalam pecaturan kebudayaan dan peradaban islam dengan gemilang. [10]


















BAB III
PENUTUP

Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shafah dan sekaligus menjadi khalifah pertama. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang yaitu selama lima abad dari tahun 132-656 H (750-1258 M). Para khalifah dinasti Abbasiyah berjumlah 37 khalifah dan 22 khalifah di mesir, kota baghdad merupakan ibukota sebagai pusat intelektual terdapat beberapa pusat aktivitas pengembangan ilmu. Walaupun baghdad punya sgala hal keindahan tentang perkembangan keilmuannya tetapi banyak para khalifah yang memerdekakan diri dari baghdad. Akhir dari kekuasaan dinati Abbasiyah ialah ketika baghdad dihancurkan oleh pasukan mongol yang dipimpin oleh hulagu khan 656 H/1258 M.



















DAFTAR PUSTAKA
Munir amin, samsul. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah
Supriyadi, dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia
Abdul karim, muhammad. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Bagaskara


[1] Munir amin, samsul; sejarah peradaban islam, (jakarta: AMZAH, 2009), hal. 139
[2] Abdul karim, muhammad; sejarah pemikiran dan peradaban islam, (Yogyakarta: BAGASKARA,  2011) hal. 144
[3] Munir amin, samsul; sejarah peradaban islam, hal.144
[4] Munir amin, samsul; sejarah peradaban islam,hal. 152
[5] Supriyadi, dedi; sejarah peradaban islam,(Bandung: CV Pustaka Setia, 2008) hal.130
[6] Munir amin, samsul; sejarah peradaban islam,hal.154
[7] Supriyadi, dedi; sejarah peradaban islam, hal. 139
[8] Ibid, hal. 141
[9] Abdul karim, muhammad; sejarah pemikiran dan peradaban islam, hal. 161
[10] Munir amin, samsul; sejarah peradaban islam,hal.157

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar