Laman

Sabtu, 22 November 2014

SBM - C - 10: PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA



PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA
MAKALAH
Guna memenuhi tugas
           Mata Kuliah         : Strategi Belajar Mengajar
      Dosen Pengampu              : Ghufron Dimyati, M.S.I


Di susun Oleh
Zaenal Casmadi                     2021112244
Ela Supriana                          2021112238
Azimatul Makarimah           2021112240
Kelas: C

Pendidikan Agama Islam (PAI)
Sekolah Tinggi  Agama Islam Negeri (STAIN)
PEKALONGAN
2014


BAB I
PENDAHULUAN

            Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan manusia menuju kedewasaan, baik kedewasaan intelektual, sosial maupun kedewasaan moral. Oleh karena itu proses pendidikan bukan hanya mengembangkan intelektual saja, tetapi mencakup seluruh potensi yang dimiliki anak didik. Dengan demikian, pendidikan yang berpusat pada siwa itu merupakan suatu hal yang harus dilakukan. Pembelajaran berpusat pada siswa bersifat strategis dan inovatif, strategis karena memfasilitasi siswa aktif dalam pembelajaran yang mengembangkan potensi dirinya, dan menempatkan siswa atau peserta didik sebagai subyek yang bertanggungjawab atas proses pembelajaran. Inovatif, karena siswa tidak terikat oleh kelas belajar, guru sebagai sumber dan penentu tujuan tetapi mewujudkan prinsip “manusia memproduksi dirinya sendiri dalam pengalaman realitas sosial” sehingga siswa mempunyai proses pengalaman untuk belajar bagaimana cara belajar yang akan menjadi pedoman belajar sepanjang hayat. Maka dengan perubahan paradigma pendidikan tersebut diharapkan proses pembelajaran akan efektif mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif dan menjunjung tinggi nilai-nilai HAM, nilai-nilai agama, nilai budaya dan kemajemukan bangsa.
           





BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pembelajaran Berpusat Pada Siswa
Pembelajaran berpusat pada peserta didik merupakan pembelajaran yang lebih berpusat pada kebutuhan, minat, bakat dan kemampuan peserta didik, sehingga pembelajaran akan menjadi sangat bermakna. Dengan pendekatan pembelajaran berpusat pada peserta didik menghasilkan peserta didik yang berkepribadian, pintar, cerdas, aktif, mandiri, tidak bergantung pada pengajar, melainkan mampu bersaing atau berkompetisi dan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.[1]Pelaksanaan pengajaran yang berpusat pada siswa diselenggarakan dalam tiga sistem organisasi, yakni sistem berbasis institusi, sistem lokal, dan sistem belajar jarak jauh.[2] Undang-undang Sisdiknas No. 20/2003 Bab I pasal 1 yang berbunyi “ yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya sendiri”. Inilah secara teoretis disebut pembelajaran berpusat pada siswa yang diadopsi kedalam sistem pendidkan nasional.[3]

B.       Konsep Dasar Pembelajaran Berpusat Pada Siswa
a.    Pembelajaran merupakan proses aktif peserta didik yang mengembangkan potensi dirinya. Peserta didik dilibatkan kedalam pengalaman yang difasilitasi oleh guru sehingga pelajar mengalir dalam pengalaman melibatkan pikiran, emosi, terjalin dalam kegiatan yang menyenangkan dan menantang serta mendorong prakarsa siswa. Model pembelajaran diskusi memecahkan masalah, mencari informasi dari sumber alam sekeliling atau sumber-sumber sekunder buku bacaan dan pengalaman berupa permainan. Dari proses pengalaman ini peserta memproduksi kesimpulan sebagai pengetahuan. Berbeda dengan pengajaran dimana siswa memperoleh teks untuk dihafal atau memproduksi.
b.    Pengalaman aktivitas siswa harus bersumber/ relevan dengan realitas sosial, masalah-masalah yang berkaitan dengan profesi seperti petani, pedagang, pengusaha, politikus berkaitan dengan masalah-masalah sosial seperti pelayanan umum, hak asasi manusia, gender, kemiskinan, keterbelakangan, dll. Pengalaman praktik itu berupa kegiatan berkomunikasi, bekerjasama, mengambil keputusan dan memecahkan masalah. Pengalaman praktik tersebut juga mengembangkan kecerdasan untuk menemukan masalah, memecahkan masalah, dan menghargai prestasi pemecahan masalah.
c.    Didalam proses pengalaman ini peserta didik memperoleh inspirasi dari pengalaman yang menantang dan termotivasi untuk bebas berprakarsa, kreatif dan mandiri.
d.   Pengalaman proses pebelajaran merupakan aktivitas mengingat, menyimpan, dan memproduksi informasi, gagasan-gagasan yang memperkaya kemampuan dan karakter peserta didik.

C.      Makna Pembelajaran Bagi Siswa
a.    Proses pembelajaran ini memerlukan refleksi mental sebagai proses kesadaran mental dan kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia. Pada hakikatnya proses pembelajaran merupakan aktivitas yang menghubungkan peserta didik dengan berbagai subyek dan berkaitan dengan dunia nyata. Proses interpretasi menghasilkan pemahaman dan perolehan hasil pendidikan yang bersifat individual.
b.    Peserta didik memproduksi pengetahuan sendiri secara lebih luas, lebih dalam, dan lebih maju dengan modifikasi pemahaman terhadap konsep awal pengetahuan (prior knowledge).[4]
Dalam standar proses pendidikan, pembelajaran didesain untuk membelajarkan siswa. Artinya, sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Dengan kata lain, pembelajaran ditekankan atau berorientasi pada aktivitas siswa.
            Ada beberapa asumsi perlunya pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa. Pertama, asumsi filosofis tentang pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar mengembangkan manusia menuju kedewasaan, baik kedewasaan intelektual, sosial maupun kedewasaan moral. Oleh karena itu, proses pendidikan bukan hanya mengembangkan intelektual saja, tetapi mencakup seluruh potensi yang dimiliki anak didik. Dengan demikian, hakikat pendidikan pada dasrnya adalah:  a). Interaksi manusia, b). Pembinaan dan pengembangan potensi manusia, c). Berlangsung sepanjang hayat, d). Kesesuaian dengan kemampuan dan tingkat perkembangan siswa, e). Keseimbangan antara kebebasan subyek didik dan kewibawaan guru, dan f). Peningkatan kualitas hidup manusia.[5]

D.       Model-Model Pembelajaran Interaktif yang Berpusat Pada Siswa
1.    Cooperative Learning
a.    Ruang Lingkup Pembelajaran Cooperative Learning
1.         Landasan Pemikiran
Cooperative Learning muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Kelompok itu terdiri dari 4-6 orang siswa tetapi heterogen kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras dan satu sama lain saling membantu.
2.         Tujuan Cooperative Learning
Cooperative Learning disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisispasi siswa, memfasilitasi siswa dalam pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan kelompok dan untuk berinteraksi belajar bersama-bersama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi coopereative learning siswa berperan ganda, yaitu sebagai siswa dan sebagai guru.
3.         Efek-Efek Cooperative Learning
Cooperative learning mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keragaman ras, budaya dan agama, sastra, sosial, kemampuan dan ketidakmampuan.
Ada tiga macam hasil yang dicapai model pembelajaran ini:
Ø  Efeknya pada perilaku kooperatif
Ø  Efeknya pada toleransi terhadap keanekaragaman
Ø  Efeknya pada prestasi akademik
4.         Langkah-Langkah Pemebelajaran Kooperatif
Ø  Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Ø  Menyajikan informasi
Ø  Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif
Ø  Membimbing kelompok kerja dan belajar
Ø  Evaluasi
Ø  Memberikan penghargaan[6]
b.        Beberapa Variasi dalam Model Cooperative Learning
ada empat pendekatan dalam cooperative learning:
1.      Student Teams Achievement Division (STAD)
Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut. Pada tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
Langkah-langkah pemelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari 6 langkah atau fase:
Ø Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Ø Menyajikan/menyampaikan informasi
Ø ngorganisasikan siswa dalam kelompok be;ajar
Ø Memimbing kelompok bekerja dan belajar
Ø Evaluasi
Ø Memerikan penghargaan
2.        Tim Ahli (Jigsaw)
a.     Gambaran umum Jigsaw
Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aroson dan teman-teman dari Universitas Texas, dan diadopsi oleh Salvin dan teman-teman di Universitas John Hopkins.
b.      Langkah-langkah pembelajaran (Jigsaw)
Ø Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5-6 orang)
Ø Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub-bab
Ø Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya
Ø Anggota dari kelompok lain yang telah memelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya
Ø Setiap anggota kelompok ahli ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya
Ø Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenal tagihan berupa kuis individu.
3.      Investigasi Kelompok
Langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6 fase:
a.    Memilih topik
b.    Perencanaan kooperatif
c.    Implementasi
d.   Analisis dan sintesis
e.    Presentasi hasil final
f.     Evaluasi
4.      Think Pair Share (TPS)
Strategi TPS atau berfikir berpasangan berbagi adalah jenis pemelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa.
Guru memilih menggunakan TPS untuk membandingkan tanya jawab kelompok keseluruhan. Dan guru menggunakan langkah-langkah (fase) berikut:
a.         Langkah 1: Berfikir (thinking)
Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah.
b.        Langkah 2: Berpasangan (pairing)
Guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban suatu pertanyaan yang diajukan dan menyatukan gagasan suatu masalah.
c.          Langkah 3: Berbagi (sharing)   
Guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan.
5.      Number Head Together (NHT)
Adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat fase dalam model NHT:
a.         Penomoran
Guru membagi siswa ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.
b.        Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan dapat bervariasi berupa spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya kepada siswa.
c.         Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.
d.        Menjawab
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.[7]
c.     Karakteristik dan Prinsip-Prinsip SPK (Strategi Pembelajaran Kooperatif)
1.      Karakteristik SPK (Strategi Pembelajaran Kooperatif)
Ø Pembelajaran secara tim
Ø Didasarkan pada manajemen kooperatif
Ø Kemauan untuk bekerjasama
Ø Keterampilan bekerjasama
2.      Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Ø Prinsip ketergantungan positif (Positive interdependence)
Ø Tanggungjawab perseorangan (individual accountability)
Ø Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction)
Ø Partisipasi dan komunikasi (participation communication)
3.      Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Ø Penjelasan materi
Ø Belajar dalam kelompok
Ø Penilaian
Ø Pengakuan tim
4.      Keunggulan dan kelemahan SPK (Strategi Pembelajaran Kooperatif)
a.      Keunggulan SPK
Ø Siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
Ø Dapat mengembangkan kemampuan mengungkap ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
Ø Dapat membantu anak untuk respek kepada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
Ø Dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggungjawab dalam belajar.
Ø Suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemapuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain.
Ø Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik.
Ø Dapat meningkatkan  kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil)
Ø Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir.
b.      Keterbatasan SPK
Ø Untuk memahami dan mengerti filosofis SPK memang butuh waktu
Ø Apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
Ø Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok.
Ø Keberhasilan SPK dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang. Dan hal ini tidak mengkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sesekali penerapan strategi ini.[8]  

2.    Problem-Based Learning
a.    Ruang Lingkup Problem Based Learning
1.      Masalah Pembelajaran
Pada cara guru mengajar terlalu menekankan pada penguasaan informasi atau konsep pada subjek didik yang kurang bermanfaat karena hal tersebut dikomunikasikan oleh guru satu arah. Konsep memang penting tetapi bukan terletak pada konsep itu sendiri. Akan tetapi terletak bagaiamana konsep itu dipahami oleh subjek didik.
2.      Tujuan PBL
Pengajaran berdasarakan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks. Dalam pengajaran menggunakan pendekatan pembelajaran ini dimana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
3.      Manfaat PBL
Menurut Sudjana, manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada disekitarnya.
4.      Langkah-Langkah PBL
Ø  Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada siswa
Ø  Mengorganisasikan siswa untuk meneliti
Ø  Membantu investigasi mandiri dan kelompok
Ø  Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit
Ø  Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah.[9]
b.      Beberapa Variasi Dalam Model pelaksanaan PBL
1.      Tugas-tugas perencanaan
a.       Penetapan tujuan
PBL dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan seperti keterampilan meyelidiki, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa menjadi pembelajara yang mandiri.
b.      Merancang situasi masalah
Situasi masalah yang baik seharusnya otentik, mengandung teka-teki, dan tidak didefinisikan secara ketat, kemungkinan kerja sama, bermakna bagi siswa dan konsisten dengan tujuan kurikulum.
c.       Organisasi sumber daya dan rencana logistik
Tugas mengorganisasikan sumber daya dan merencanakan kebutuhan untuk investigasi siswa haruslah menjadi tugas perencanaan yang utama bagi guru yang menerapkan pemelajaran berdasarkan pemecahan masalah.
2.      Tugas Interaktif
Ø  Orientasi siswa pada masalah
Ø  Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Ø  Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Ø  Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
3.      Lingkungan Belajar dan Tugas-tugas Manajemen
Guru harus menyampaikan aturan, tata krama, dan sopan santun yang jelas untuk mengendalikan tingkah laku siswa ketika mereka melakukan penyelidikan di luar kelas termasuk di dalamnya ketika melakukan investigasi di masyarakat.
4.      Assesmen dan Evaluasi
Assesmen kerja dapat berupa asesmen melakukan pengamatan, asesmen merumuskan pertanyaan, dan asesmen merumuskan sebuah hipotesa.
c.       Tahapan-tahapan SPBM (Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah)
1.      Merumuskan masalah
2.      Menganalisis masalah
3.      Merumuskan hipotesis
4.      Mengumpulkan data
5.      Pengujian hipotesis
6.      Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah.[10]
d.      Keunggulan dan kelemahan SPBM
1.      Keunggulan dari pemecahan masalah (problem solving):
a.       merupakan teknik yang bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b.      Dapat menantang kemampuan siswa serta memerikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c.       Dapat meningkatkan aktivitas pemelajaran siswa
d.      Dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata
e.       Dapat membantu siwa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan
f.       Bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran
g.      Dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
h.      Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru
i.        Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j.        Dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
2.      Kelemahan dari pemecahan masalah (problem solving)
a.       Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
b.      Keberhasilan strategi pembelajaran mulalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c.       Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.[11]















BAB III
PENUTUP

Pembelajaran yang berpusat pada siswa memang memusatkan perhatian dalam pembelajaran hanya kepada siswa. Guru sebagai pendamping dalam model pembelajaran ini. Dan model pembelajaran yang berpusat pada siswa ini memiliki dua jenis model, yaitu :
a.         Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning )
Cooperative learning merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Cooperative learning disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dalam pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi, dalam cooperative learning siswa berperan ganda, yaitu sebagai siswa atau sebagai guru.
b.        Pengajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction)
Adapun Ciri Khusus Pengajaran Berdasarkan Masalah:
v  Pengajuan pertanyaan atau masalah
v  Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
v   Penyelidikan autentik
v  Menghasilkan produk dan memamerkannya
v  Kolaborasi







DAFTAR PUSTAKA


Dananjaya, Utomo. Media Pembelajaran Aktif. 2012. Bandung: Nuansa.

Hamalik, Oemar.  Proses Belajar Mengajar. 2013. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Munir. Kurikulum Berbasis TIK. 2008.  Bandung: Alfabeta.

Mustakim, Zaenal. Strategi dan Metode Pembelajaran. 2013. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. 2007. Jakarta: Kencana.






[1] Munir, Kurikulum Berbasis TIK (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 80-81.
[2] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013) hlm. 201.
[3] Utomo Dananjaya, Media Pembelajaran Aktif, Cet. Ke. III (Bandung: Nuansa, 2012), hlm. 25.
[4]Ibid, hlm. 27-28.
[5] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, cet. ke II (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 135.
[6] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2013), hlm. 277-280.
[7] Ibid, hlm. 280-287.
[8] Ibid, hlm. 287-292.
[9] Ibid, hlm. 293-295.
[10] Ibid, hlm. 295-297.
[11] Ibid, hlm. 298-299.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar