Laman

Selasa, 15 November 2016

sbm H 10 MODEL PEMBELAJARAN : STUDENT CENTER

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
MODEL PEMBELAJARAN : STUDENT CENTER
 M. Zaenal A.     Riska D.

Kelas: PAI (H)

JURUSAN TARBIYAH PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, makalah yang berjudul Model Pembelajaran : Student Center” ini dapat terselesaikan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi Agung Muhammad saw, keluarganya, dan sahabatnya.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi sebagian tugas mata kuliah Strategi Belajar Mengajar, yang diampu oleh Bapak Muhammad Hufron, M.S.I
Dalam menyelesaikan makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama karena kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun dengan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, makalah ini dapat terselesaikan. Untuk itu kami ucapkan terimakasih terutama kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah Strategi Belajar Mengajar yang senantiasa memberi arahan, saran serta bimbingannya kepada kami.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak didapati kesalahan dan kekurangan yang mendasar, baik dalam pengetikan maupun isinya. Namun kami telah berupaya menyajikan makalah ini degan sebaik-baiknya. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca guna penyempurnaan penulisan berikutnya. Harapan kami, semoga makalah yang kami buat ini bisa menambah khasanah keilmuan dan bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan pembaca pada umumnya.






Pekalongan, November 2016


Penulis
DAFTAR ISI


Kata Pengantar................................................................................................ i
Daftar Isi........................................................................................................ ii
BAB Ι PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah.................................................................... 1
B.    Rumusan Masalah.............................................................................. 2
C.    Metode Pemecahan Masalah............................................................. 2
D.    Sistematika Pemecahan Masalah...................................................... 2
BAB ΙΙ PEMBAHASAN
A.    Pengertian Model Pembelajaran: Student Center............................. 3
B.    Karakteristik Model Pembelajaran Yang Berpusat Pada Siswa....... 3
C.    Proses Pembelajaran Yang Berpusat Pada Siswa.............................. 4
D.    Model-Model Pembelajaran Interaktif Yang Berpusat Pada Siswa. 5
BAB ΙΙΙ PENUTUP
A.    Kesimpulan...................................................................................... 12
B.    Saran-Saran...................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 13










BAB Ι
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia masih menggunakan paradigma lama, yaitu didominasi oleh peran dan kegiatan guru. Pembelajaran di kelas masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berintekrasi langsung mengemukakan pendapatnya. Proses belajar mengajar yang dilakukan juga adalah satu arah, dimana guru yang lebih aktif dalam mengajar daripada peserta didiknya. Peserta didik hanya mendengarkan penjelasan yang guru sampaikan dengan ceramah. Model pembelajaran tersebut dianggap kurang mengeksplorasi wawasan dan pengetahuan siswa.
Perubahan paradigma dalam proses yang tadinya berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.
Saat ini terdapat beragam inovasi baru di dalam dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Salah satu inovasi tersebut adalah konstruktivisme. Pemilihan pendekatan ini lebih dikarenakan agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya. Maka dari permasalahan tersebut penulis melatar belakangi penulis untuk membahas tentang konsep pembelajaran yang berpusat pada siswa.



B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian masalah ini. Adapun rumusan masalah sebagai berikut :
1.     Apa pengertian model pembelajaran berpusat pada siswa/student center?
2.     Apa saja karakteristik pembelajaran yang berpusat pada siswa?
3.     Bagaimana proses pembelajaran yang berpusat pada siswa?
4.     Bagaimana model-model pembelajaran interaktif yang berpusat pada siswa?
C. Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang kami lakukan menggunakan metode kajian pustaka yaitu menggunakan beberapa referensi buku atau referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang kita bahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber. Dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban dari masalah yang dibahas.
D.    Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis menjadi 3 bagian, meliputi: Bab Ι, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan masalah; Bab ΙΙ, adalah pembahasan; Bab ΙΙΙ, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.





 BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Model Pembelajaran: Student Center/Berpusat pada Siswa
Pembelajaran berpusat pada siswa adalah suatu model pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses pembelajaran, sehingga peserta didik diharapkan mampu berperan sebagai peserta aktif dan mandiri dalam proses belajarnya, yang bertanggung jawab dan berinisiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya.
a)     Aktif : Memungkinkan keterlibatan semua peserta didik karena proses belajar yang menarik dan bermakna.
b)     Konstruktif :   Memungkinkan peserta didik menggabungkan ide-ide baru ke dalam pengetahuan yang dimilikinya untuk memahami makna atau menjawab keingintahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
c)     Kolaboratif : Memungkinkan peserta didik dalam suatu kelompok bekerja sama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasihati dan memberi masukan bagi sesama anggota kelompoknya.
d)     Antusiastik : Memungkinkan peserta didik secara aktif dan antusias berusaha mencapai tujuan yang diinginkan.
e)     Dialogis : Memungkinkan proses belajar sebagai suatu proses sosial dan dialogis dimana peserta didik memperoleh manfaat dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
f)      Kontekstual : Memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang lebih bermakna melaului pendekatan problem-based atau case-based learning.
g)     Reflektif : Memungkinkan peserta didik menyadari apa yang telah ia pelajari serta menerangkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri.[1]
C.    Proses Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa
 




























Proses Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa[2]
D.    Model-Model Pembelajaran Interaktif Berpusat Pada Siswa
1.      Cooperative Learning
a.      Pengertian Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif  adalah sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur.[3] Pembelajaran kooperatif  (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja  dalam kelompok-kelompok kecil  secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.[4]
b.     Beberapa Variasi dalam Model Cooperative Learning
1.     Student Teams Achievement Division (STAD)
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan  pada adanya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai potensi yang maksimal.
Langkah-langkah Pembelajaran STAD
a)     Penyampaian Tujuan dan Motivasi Siswa
Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembela­jaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
b)     Menyajikan/menyampaikan informasi
Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan.
c)     Pengorganisasian siswa dalam kelompok belajar
Menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
d)     Membimbing kelompok belajar dan bekerja
Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
e)     Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok.
f)      Memberikan Penghargaan
Mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu/kelompok.[5]
2.     Tim Ahli (Jigsaw)
Medel pembelajaran kooperatif model Jigsaw merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan betanggung jawab secara mandiri.
Langkah-langkah pembelajaran Jigsaw:
1)     Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang;
2)     Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda;
3)     Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama mem­bentuk kelompok Baru (kelompok ahli);
4)     Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kemba'li ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang subbab yang mereka kuasai;
5) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi;
6) Pembahasan;
7) Penutup.[6]
3.     Investigasi Kelompok
Dalam implementasi tipe investigasi kelompok, guru membagi kelas menjadi 5-6 orang yang heterogen. Kelompok disini dapat dibentuk dengan memertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih. Selanjutnya ia menyampaikan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
4.     Think Pair Share (TPS)
Strategi pembelajaran Think Pair Share (TPS) adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Langkah-langkah pembelajaran think pair share antara lain:
a)       Langkah 1: Berfikir (thinking)
Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah.
b)     Langkah 2: Berpasangan (pairing)
Guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban suatu pertanyaan yang diajukan dan menyatukan gagasan suatu masalah.
c)     Langkah 3: Berbagi (sharing)   
Guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan.
5.     Number Heads Together (NHT)
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.
Langkah-langkah pembelajaran Number Heads Together (NHT):
Fase 1: Penomeran
Guru membagi siswake dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomer 1-5
Fase 2: Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan dapat bervariasi berupa sepesifik dan dalam bentuk kalimat tanya kepada siswa
Fase 3: berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnay terhadap jawaban pertanyaan dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim
Fase 4: menjawab
Guru memanggil suatu nomer tertentu, kemudian siswa yang nomernya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.[7]
c.      Keunggulan Pembelajaran Kooperatif
1.     Siswa dapat mandiri dalam berfikir dan menemukan informasi.
2.     Siswa dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan pendapat, ide, gagasan.
3.     Menumbuhkan sikap respek dan toleransi.
4.     Membantu memberdayakan siswa untuk bertanggung jawab dalam belajar.
5.     Membantu meningkatkan prestasi akademik, klehidupan sosial, tenggang rasa, harga diri, hubungan interpersonal, ketrampilan manajemen waktu.
6.     Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
7.     Siswa dapat meningkatkan penggunaan informasi dan pengaplikasian pada kenyataan.
8.     Meningkatkan motivasi dan stimulus untuk berfikir.
d.     Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
1.     Dalam memahami dan mengerti SPK dibutuhkan waktu yang panjang.
2.     Harus ada timbal balik dalam pembelajaran kooperatif
3.     Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok
4.     Dalam membangun kesadaran kelompok dibutuhkan waktu yang panjang.[8]
2.      Problem-Based Learning
a.      Pengertian Problem-Based Learning
Problem-Based Learning atau pengajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
b.     Variasi dalam Model Pembelajaran Problem-Based Learning
1)     Tugas-tugas perencanaan
·       Penetapan tujuan, seperti ketrampilan menyelidiki, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa menjadi pembelajar yang mendiri.
·       Merancang situasi masalah. Situasi masalah yang baik seharusnya otentik, megandung teka-teki, dan tidak mendefinisikan secara ketat, memungkinkan kerjasama, bermakna bagi siswa, dan konsisten dengan tujuan kurikulum.
·       Organisasi sumber daya dan rencana logistik. Tugas mengorganisasikan sumber daya dan merencanakan kebutuhan untuk investigasi haruslah menjadi tugas perencanaan yang utama bagi guru yang menerapkan PBL.

2)     Tugas interaktif
·       Orientasi siswa pada masalah
·       Mengorganisasikan siswa untuk belajar
·        Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
·        Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
3)     Lingkungan belajar dan tugas-tugas menajemen
Untuk efektifitas kerja guru, maka guru harus memiliki aturan prosedur yag jelas dalam pengelolaan, penyimpanan dan pendistribusian bahan. Selain itu, guru harus menyampaikan aturan, tata krama dan sopan santun yang jelas untuk mengendalikan tingkah laku siswa ketika mereka melakukan penyelidikan di luar kelas termasuk di dalamnya ketika melakukan investigasi di masyarakat.
4)     Assesmen dan evaluasi
Misalnya, dengan assesmen kinerja dan peragaan hasil. Assesmen kerja dapat berupa assesmen melakukan pengamatan, merumuskan pertanyaan dan merumuskan sebuah hipotesa.[9]
c.      Keunggulan Problem-Based Learning
1.     Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran. 
2.     Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
3.     Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
4.     Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana menstansfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata. 
5.     Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. 
6.     Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan  cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja. 
7.     Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
8.     Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
9.     Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa yang mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
10.  Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
d.     Kekurangan Problem Based Learning (PBL)
1.      Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2.      Keberhasilan strategi pembelajaran malalui Problem Based Learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3.      Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.[10]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pembelajaran berpusat pada siswa adalah suatu model pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses pembelajaran, sehingga peserta didik diharapkan mampu berperan sebagai peserta aktif dan mandiri dalam proses belajarnya, yang bertanggung jawab dan berinisiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya. Karakteristik pembelajaran berpusat pada siswa diantaranya: aktif, konstruktif, kolaboratif, antusiastik, dialogis, kontekstual dan reflektif.
Model-model pembelajaran interaktif berpusat pada siswa diantaranya:
1.     Cooperative Learning yakni  sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Variasi dari model cooperative learning antara lain: 1) Student Teams Achievement Division (STAD); 2) Tim Ahli (Jigsaw); 3) Investigasi Kelompok; 4) Think Pair Share (TPS); 5) Numbered Head Together (NHT).
2.     Problem-Based Learning atau pengajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Varisi dalam Model Pembelajaran Problem-Based Learning, diantarnya: 1) Tugas-tugas perencanaan; 2) Tugas interaktif; 3) Lingkungan belajar dan tugas-tugas menajemen; dan 4) Assesmen dan evaluasi.
B.    Saran
Diharapkan kepada para pembaca agar memberikan kritikan dan saran terhadap makalah yang dibaca demi perbaikan selanjutnya. Diharapkan pula kepada para pembaca khususnya guru bisa menjadikan model pembelajaran ini (Student Centered Learning) sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Harsanto, Radno. 2007. Paradigma Baru Pembelajaran Menuju Kompetensi Siswa. Yogyakarta: Kanisius.
Mustakim, Zaenal. 2015. Strategi dan Metode Pembelajaran. Yogyakarta: Matagraf.
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Taniredja, Tukiran, Efi Miftah Faridli, dan Sri Harmianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Bandung: Alfabeta.
Wahid, Fathul dan Teduh Dirgahayu. 2012. Pembelajaran Teknologi Informasi di Perguruan Tinggi Perspektif dan Pengalaman. Yogyakarta: Graha Ilmu.



















PROFIL PENULIS











Nama                          : M. Zaenal Abidin
NIM                            : 2021114323
Jurusan/Prodi              : Tarbiyah/PAI
Alamat                                    : Pajomblangan Kedungwuni Pekalongan
Riwayat Pendidikan   : MI Walisongo Pajomblangan
  SMP NU Pajomblangan
  SMK 1 Kedungwuni




Nama                          : Riska Defita
NIM                            : 2021114327
Jurusan/Prodi              : Tarbiyah/PAI
Alamat                        : Jl. Amarta, Desa Klegen, RT. 05 / RW. 01,   Comal
  Pemalang
Riwayat Pendidikan   : SD Negeri 02 Klegen
  SMP Negeri 03  Comal
SMA Negeri 01 Comal





[1] Fathul Wahid dan Teduh Dirgahayu, Pembelajaran Teknologi Informasi di Perguruan Tinggi Perspektif dan Pengalaman (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), hlm.40-41.
[2] Radno Harsanto, Paradigma Baru Pembelajaran Menuju Kompetensi Siswa (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 17.
[3] Tukiran Taniredja, Efi Miftah Faridli, dan Sri Harmianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 55.
[4] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran (Yogyakarta: Matagraf, 2015), hlm. 277.
[5] Ibid., hlm. 281-283.
[6] Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 217-218.
[7] Zaenal Mustakim, Op. cit., hlm. 284-287.
[8] Ibid., hlm. 291-292.
[9] Ibid., hlm. 293-297.
[10] Ibid., hlm. 298-299.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar