Laman

Minggu, 18 Maret 2012

E6-29 Rijalul Fikri ...


 MAKHLUK METAFISIK

Disusun guna memenuhi tugas :
                        Mata kuliah                  : Hadits Tarbawi II
                       Dosen pengampu                   : M. Ghufron Dimyati, M.S.I

logo Stain 2.jpg

Disusun oleh:
Rijalul Fikri                                       2021110215

JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2012
BAB I
PENDAHULUAN
Adalah suatu kenyataan yang dapat kita lihat dan rasakan akhir-akhir ini, betapa pengaruh paham rasionalisme yang berlebihan dan materialisme yang radikal terhadap kehidupan sosial keagamaan masyarakat saat ini. Pengaruh itu tampak jelas pada tergesernya nilai-nilai religius dan realitas-realitas metafisik ke pinggiran kesadaran manusia modern yang telah menimbulkan krisis spiritual manusia modern. Rasio atau akal telah dijadikan ukuran jitu untuk mengukur kebenaran.
Kenyataan inilah yang mengilhami pemakalah mengangkat masalah zikir untuk dijadikan sebagai objek kajian dengan harapan bahwa hasil telaahan ini dapat memberikan kontribusi pemikiran untuk mengatasi krisis spiritual yang terjadi pada sebahagian masyasaat kita sekarang ini. Dan dominasi pandangan rasional materialistik dapat bergulir kepada pandangan yang lebih integral, di mana unsur-unsur rasional materialistik dapat berjalin mesra dan bersinergik dengan pandangan mistik yang sangat spiritualistik. Islam menghendaki adanya sinergitas pada diri manusia antara fikir dan zikir. Karena hanya dengan pola ini (fikir dan zikir) manusia dapat menjalankan fungsi kekhalifahannya secara sempurna sebagai amanah dari Allah SWT.
Banyak sekali kita temukan dalam Al-Qur'an memerintahkan kepada manusia untuk memperbanyak zikir kepada-Nya dalam berbagai waktu dan kondisi. Antara lain firman Allah SWT:
ياأيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا (41) وسبحوه بكرة وأصيلا (42)[1]
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, Zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbilah kepadaNya diwaktu pagi dan petang.
Zikir yang dilakukan oleh manusia secara kontinyu dan ikhlas akan membentuk sikap dan prilaku serta cara pandang manusia yang penuh dengan nilai-nilai keilahian, nilai-nilai kemanusiaan. Hilangnya nilai-nilai seperti ini pada diri seseorang akan menunjukkan bahwa kehilangan akhlakul karimah bagi dirinya sendiri. Dan kehilangan akhlakul karimah berarti kehilangan identitas diri.
Antara zikir dengan akhlakul karimah mempunyai korelasi yang positif. Bernilai kualitasnya penampilan sikap dan prilaku seseorang dalam berhubungan dengan Allah swt, dengan sesama manusia bahkan dengan makhluk lain sangat dipengaruhi oleh bagaimana tingkat zikirya kepada Allah swt. Tolak ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Demikian  rumus yang diberikan oleh kebanyakan ulama. Perlu ditambahkan bahwa apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya bahwa apa yang dinilai buruk oleh Allah, pastilah buruk esensinya.
Disisi lain Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia memiliki segala sifat yang terpuji. Allah SWT berfirman:
الله لا إله إلا هو له الأسماء الحسني.[2]
Artinya:
(Dialah) Allah, Tiada Tuhan selain Dia. Dia mempunyai sifat-sifat yang  terpuji.
Kita dapat memahami perintah Allah swt dibalik pernyataannya pada ayat tersebut agar kiranya umat manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk Allah agar berusaha sekuat kemampuan untuk meneladani dan memiliki sifat-sifat terpuji tersebut. Usaha ini hanya dapat berhasil bila ia ditopang oleh nilai-nilai zikir yang mengkristal dalam diri seseorang.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hadits
عن أبي هريرة عن النبي صلي الله عليه وسلم قال: إن الله تبارك وتعالي ملائكة سيارة فضلا يتبعون مجالس الذكر فإذا وجدوا مجلسا فيه ذكر قعدوا معهم وحف بعضهم بعضا بأجنحتهم حتي يملؤوا ما بينهم وبين السماء الدنيا فإذا تفرقوا عرجوا وصعدوا إلي السماء قال فيسألهم الله عز وجل وهو أعلم بهم من أين جئتم فيقولون جئنا من عند عبادك في الأرض يسبحونك ويكبرونك ويهللونك ويحمدونك ويسألونك قال وماذا يسألوني قالوا يسألونك جنتك قال وهل رأوا جنتي قالوا لا أي رب قال فكيف لو رأوا جنتي قالوا ويستجيرونك قال ومم يستجيروني قالوا من نارك يا رب قال وهل رأو ناري قالوا لا قال فكيف لو رأوا ناري قالوا يستغفرونك قال فيقول قد غفرت لهم فأعطيتهم ما سألوا وأجرتهم مما ستجاروا قال فيقولون يا رب فيهم فلان عبد خطاء إنما مر فجلس معهم فيقول وله غفرت هم القوم لا يشقي بهم جليسم (مسلم)[3]
B.     Terjemahannya:
Dalam riwayat Muslim dikatakan, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw., beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat- malaikat mulia yang selalu berjalan mencari majlis dzikir, apabila mereka mendapatkan suatu majlis yang dipergunakan untuk berdzikir maka mereka duduk di situ dan masing-masing malaikat membentangkan sayapnya sehingga memenuhi ruangan yang berada di antara ahli dzikir dan langit dunia. Apabila ahli dzikir itu telah kembali ke rumah masing-masing maka para malaikat itu naik ke langit dan kemudian ditanya oleh Allah 'azzawajalla padahal Allah telah mengetahui “Darimana kalian datang?”
Para malaikat menjawab “Kami baru saja mendatangi hamba-hambaMu di bumi yang membaca tasbih untukMu, membaca takbir untukMu, membaca tahlil untukMu, membaca tahmid untukMu dan bermohon kepadaMu”
Allah bertanya “Apakah yang mereka mohon?”
Malaikat menjawab “Mereka memohon surgaMu”
Allah bertanya “Apakah mereka pernah melihat surgaKu?”
Para malaikat menjawab “Belum pernah wahai Tuhan”
Allah bertanya “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surgaKu?”
Para malaikat berkata “Mereka juga mohon diselamatkan”
Allah bertanya “Mereka mohon diselamatkan dari apa?”
Para malaikat menjawab “Dari nerakaMu wahai Tuhan”
Allah bertanya “Apakah mereka pernah melihat nerakaKu?”
Para malaikat menjawab “Belum pernah”
Tuhan bertanya “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat nerakaKu?”
Para malaikat berkata “Mereka juga memohon ampun kepadaMu”
Allah berfirman “Aku telah memberi ampun kepada mereka, maka Aku akan memenuhi apa yang mereka mohon dan akan menjauhkan mereka dari apa yang mereka mohon untuk diselamatkan”
Para malaikat berkata “Wahai Tuhan, di dalam majlis itu ada si Fulan seorang hamba yang banyak berdosa, ia hanya lewat kemudian ikut duduk bersama mereka”
Allah berfirman “Kepada Fulanpun Aku mengampuninya. Mereka semua adalah termasuk ahli dzikir, di mana tidak ada seorang yang duduk di situ akan mendapatkan kecelakaan siksaan”(Muslim).

C.    Mufrodat
Berkeliling
سيارتا
Mencari
يبتغون
Menaungi
حق
Memohon perlindungan
يستجر
Hamba
عبد
Penuh dosa
خط
Lewat
مر
Telah mengampuni
غفر
Lebih mengetahui
اعلم
Sayap-sayap mereka
اجنحتهم
Tidak akan ada yang celaka
لايشقى

D.    Biografi Perawi
Abu Hurairah ketika masih dalam masa Jahiliyah bernama Abdu Al-Syam bin Shahr. Setelah memeluk Islam, namanya diganti oleh Rasulullah SAW dengan Abdu Al-Rahman dia berasal dari qabilah Daus, salah satu qabilah yang populer di negeri Yaman.
Semula dia bekerja sebagai penggembala domba. Dan dalam setiap menggembalakan domba-dombanya, dia selalu ditemani seekor kucing kecilnya. Dia sangat menyayangi kucingnya itu, sehinggga siang dan malam selalu dijadikan temannya.
Ketika dia menggembalakan domba-dombanya, kucing kecil itu diletakkan di atas pohon. Dan oleh karena sangat sayangnya terhadap kucing itu, kemudian orang-orang menyebutnya Abu Hurairah (Bapa Kucing kecil).
Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun ketujuh hijriyah, saat terjadi perang Khaibar dan ikut bersama Rasulullah pada saat itu. Kemudian dia selalu menyertai Rasulullah sepenuhnya. Ketika itu dia berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Dia adalah sahabat yang sangat dicintai dan sahabat yang paling menjaga berkah doa Nabi SAW ketika dia mendoakannya. Nabi memberi kesaksiannya atas semangatnya dalam mencari ilmu dan hadis. Hadis-hadis yang diriwayatkan darinya terdapat dalam kitab-kitab adalah sebanyak 5374 hadis.
Dia adalah seorang alim, ahli ibadah, ahli tasawwuf dan yang selalu mengikuti perang  di medan pertempuran, demi mengagungkan kalimat Allah. Dia mengikuti perang Tabuk pada masa Nabi SAW, dan setelah wafat Nabi, dia pun ikut berperang melawan orang-orang murtad bersama Abu Bakar Al-Shiddiq.
Abu Hurairah meninggal dunia dalam usia 78 tahun di Madinah pada tahun 57H. Dia telah menghabiskan masa hidupnya untuk mengabdi pada hadis Rasulullah SAW.[4]
E.     Keterangan Hadits
Malaikat adalah makhluk Allah yang badannya terbuat dari cahaya, badan cahaya itu lantas diberi Ruh oleh Allah, maka jadilah malaikat.[5]
Karena badannya terbuat dari cahaya, maka badan malaikat itu memiliki berbagai keunggulan, jauh di atas manusia atau makhluk Allah lainnya, bobotnya sangat ringan, karena itu kecepatannya sangat tinggi, bahkan tertinggi di alam semesta.
Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik. Karena itu, malaikat juga bisa bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi itu. Jika mau, malaikat bisa bergerak mengelilingi Bumi sebanyak 8 kali hanya dalam waktu 1 detik.
Dengan kecepatan setinggi itu, malaikat lantas memiliki berbagai kelebihan. Di antaranya, malaikat memiliki waktu yang sangat panjang dibandingkan dengan waktu manusia. Terjadilah relatifitas waktu, sebagaimana diinformasikan Allah dalam ayat berikut ini:

تعرج الملآئكة و الروح إليه في يوم كان مقداره خمسين ألف سنة[6]

“Naik malaikat dan ruh kepadaNya dalam waktu sehari yang kadarnya 50.000 tahun.”
Secara eksplisit Allah menginformasikan kepada kita bahwa sehari bagi malaikat adalah seperti 50.000 tahun bagi manusia. Kenapa bisa demikian? Karena malaikat memiliki kecepatan yang sangat tinggi. Ilmu Fisika Modern menjelaskan, bahwa bagi makhluk yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan bergerak lamban baginya.
Kecepatan malaikat yang demikian tinggi itu bukan hanya berpengaruh pada cepatnya gerakan saja, melainkan juga berpengaruh pada panjang pendeknya waktu, sehingga terjadilah relatifitas waktu.
Sehingga peradaban manusia modern yang diperkirakan berusia 50.000 tahun sejak penciptaan Adam itu, bagi malaikat baru terjadi sehari yang lalu, alias kemarin. Atau, katakanlah usia alam semesta yang diperkirakan 12 miliar tahun ini, bagi malaikat baru berusia 240.000 hari alias sekitar 660 tahun saja.
Maka jangan heran jika di Al Qur’an terdapat banyak informasi tentang relatifitas waktu itu, misalnya Allah mengatakan bahwa sehari pada hari kiamat memiliki kadar 1000 tahun, seperti firman berikut ini:

ويستعجلونك بالعذاب و لن يخلف الله وعده و إنّ يوما عند ربّك كألف سنة ممّا تعدّون[7]
“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji Nya Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.
Disebutkan dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi keempat bahwa pengertian zikir adalah: (1). Puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang, (2). Doa atau puji-pujian berlagu (dilakukan pada perayaan Maulid Nabi), (3). Perbuatan mengucapkan zikir. Zikir amali zikir yang dilisankan (dinyaringkan), zikir kalbu zikir di hati. Ber-zikir artinya mengucapkan zikir, mengingat dan menyebut berulang-ulang nama dan keagungan Allah.[8]
Sedangkan dalam kamus bahasa Arab Al-Munjid, الذكر : الصلاة لله تعالى و الدعاء yaitu ibadah ataupun sholat dan do’a yang di tujukan kepada Allah SWT.[9]
Zikir yang dilakukan dengan lisan (lidah) tanpa kehadiran hati disebut zikir biasa. Zikir yang dilakukan dengan lisan disertai dengan kehadiran hati disebut zikir ibadah. Dan zikir yang dilakukan dengan seluruh anggota tubuh secara totalitas disebut zikir Mahabbah (kecintaan kepada Allah) dan zikir Makrifah. Dan pahalanya tidak mampu lagi diukur dan tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Allah.
Zikir atau mengingat Allah adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja zakara, yaitu sesuatu yang mengalir pada lisan dan hati, yakni zikir Allah , mengingat Allah dan menyebut-Nya. Menurut Fakhr al Razi, zikir ada tiga bentuk, pertama zikir dengan lisan yaitu mengucapkan lafaz-lafaz yang menunjukkan atas pensucian, pemujian, dan pengagungan Allah SWT, kedua zikir dalam hati, ketiga adalah zikir dengan anggota badan (al- jawarih).[10]
Dapat kita menangkap bahwa semangat dan ruh zikir dari pengertian dan penjelasan tersebut adalah serangkaian aktifitas manusia untuk lebih mendekatkan diri dan merasakan kedekatan itu kepada Allah swt dalam melaksanakan ibadah kepada Allah baik ibadah mahdhah maupun ibadah bukan mahdhah. Adalah suatu keberuntungan yang tak terhingga bagi seseorang yang mampu memposisikan zikir itu dalam dirinya sebagai semangat dan ruh dari seluruh aktifitas yang dilakukannya, karena hal itu akan menjadi ibadah baginya kepada Allah SWT. Dialah yang mampu menjalankan fungsi kekhalifahannya, sebagai citra Allah yang merupakan amanah dari Allah SWT. Dan disebutkan dalam kitab النفحات الإلهية karya Muhammad bin Abdil Karim al-Quraisyi al-Sammaniy bahwa sesungguhnya Allah swt menjadikan bagi seluruh ibadah waktu tertentu, kecuali zikir yang tak dibatasi bahkan diperintahkan untuk lebih diperbanyak.[11] Zikir sebagai rangkaian aktifitas ibadah memiliki keistimewaan yang dapat mengantar manusia untuk berinteraksi langsung dengan Allah SWT tanpa perantara. Hal ini dapat kita lihat pada struktur penempatan kata zikir dan fikir dalam Al-Qur'an (surah Ali Imran ayat 191). Objek langsung dari pada zikir adalah Allah sementara objek langsung daripada kata fikir adalah penciptaan langit dan bumi beserta isinya.


F.     Aspek Tarbawi
1)      Zikir dapat mengasah aqidah
Zikir seseorang terhadap khaliknya tidak terlepas dari dorongan aqidah ketauhidan yang mengesakan Allah SWT. Zikir akan menambah takarrub seorang hamba kepada khaliknya, tentu hal ini pada akhirnya akan menumbuhkan aqidah yang murni, karena dengan hal itu seorang hamba mengakui kesucian Allah SWT. Dengan zikir, seseorang menyatakan kebesaran Allah dan menyatakan pujian kepada Allah semata dan hanya Dialah yang pantas mendapat pujian. Dengan zikir pula seseorang menyatakan kelemahannya, tidak ada kekuatan pada dirinya melainkan hanya kepada Allah semata.
Di dalam zikir seseorang hamba menyatakan keesaan Allah SWT dan mensucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupainya. Allah menyatakan dengan tegas dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: ليس كمثله شيئ  yang berarti tiada sesuatupun yang menyerupainya.[12]  Zikir dalam konteks ketauhidan adalah mengakui wujud abadi Allah SWT semata. Inilah pernyataan ketauhidan yang utama dan asasi sehingga kalimat " لا إله إلا الله " menjadi syahadat pertama sebagai pertanda Islamnya seseorang. Dijelaskan oleh Imam An-Nawawiy dalam syarahnya pada kitab Shahih Muslim bahwa zikir yang paling utama adalah zikir tahlil berdasarkan dengan hadis Nabi saw :
[13] أفضل ما قلته أنا والنبيون قبلي " لا إله إلا الله "
Artinya:
Semulia-mulia perkataan yang aku ucapkan dan Nabi-nabi sebelumku adalah
" لا إله إلا الله "
2)      Zikir dapat mengasah moral.
Salah satu buah daripada zikir adalah kemampuan merasakan kehadiran dan kebersamaannya dengan Allah, kapan dan dimanapun saja. Zikir pula dapat membawa kesadaran bagi seseorang akan ketidaksempurnaannya dihadapan Allah SWT, kesadaran seperti ini akan menuntun seseorang dalam bersikap dan berprilaku yang akan melahirkan nilai-nilai akhlak yang Islami.
3)      Zikir sebagai terapi kejiwaan.
Agaknya dapat kita katakan bahwa pandangan Islam tentang penyakit mental mencakup banyak hal, yang boleh jadi tidak dijangkau oleh pandangan ilmu kesehatan modern. Allah SWT berkali-kali menyebut penyakit mental ini di dalam Al-Qur’an   dengan istilah في قلوبهم مرض  (di dalam hati mereka ada penyakit). Ibnu Paris mendefinisikan kata tersebut sebagai segala sesuatu yang mengakibatkan manusia melampaui batas keseimbangan/kewajaran dan mengantar kepada terganggunya fisik, mental, bahkan kepada tidak sempurnanya amal seseorang.
Penyakit kejiwaan beraneka ragam dan bertingkat-tingkat, sikap angkuh, benci, dendam, fanatisme buta, dan kikir yang antara lain disebabkan karena bentuk keberlebihan seseorang. Sedangkan rasa takut, cemas, pesimisme, rendah diri dan lain-lain adalah karena kekurangannya. Dan jika sekiranya hal ini terjadi pada seseorang maka fungsi hati sebagai alat utama untuk mengetahui, berhikmah, makrifah, mahabbah, merasakan nikmat zikir dll, maka akan terganggu dan tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik.
Itulah sebabnya Islam mendorong manusia untuk memiliki qalbu yang sehat dari segala macam penyakit , jiwa yang tenang, dengan jalan memperbanyak zikir kepada Allah SWT. Allah berfirman :
ألا بذكر الله تطمئن القلوب.[14]
Artinya :
Ingatlah, Seseungguhnya dengan mengingat Allah jiwa akan memperoleh ketenangan.
4)      Zikir membangun Intelektualitas.
Zikir yang dapat membangun Intelektualitas adalah zikir yang mampu menyadarkan seseorang akan kewajibannya dalam beragama. Dan mampu memanfaatkan seluruuh fasilitas dalam dirinya sesuai dengan potensinya. Ada tiga potensi dalam diri manusia yang merupakan jembatan intelektualitas dalam diri manusia yang merupakan jembatan intelektual seseorang yaitu : auditik, visual, dan qalb.
Mereka yang mampu untuk memanfaatkan secara maksimal ketiga potensi tersebut sesuai dengan peruntukannya akan menjadi pakar yang pintar berzikir dan pezikir yang memiliki intelektualitas yang cemerlang. Kelompok ini disebut dalam al-Qur’an sebagai Ulul Al-bab. Allah swt memberikan kepadanya pola pandang dalam meniti kehidupan ini, yaitu kearifan yang tinggi dalam menatap, menafsirkan dan mengkaji persoalan-persoalan yang bersifat sosial.[15]






BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Antara lain kesimpulan yang dapat diketengahkan pada penghujung tulisan ini adalah :
1.      Bahwa zikir sebagai upaya mencapai suasana keilahiyan untuk mendapatkan ridha dan hidayah-Nya dalam seluruh aktifitas, dapat dilakukan dengan ucapan dan ungkapan (zikir bi al-lisan), dan hati (bi al-qalbi) dan zikir dengan seluruh anggota badan. Perintah melaksanakan zikir tidak terikat oleh waktu tertentu, kondisi tertentu, maupun tempat tertentu, dan sesungguhnya ia merupakan ruh dari seluruh ibadah, kualitas suatu ibadah sangat tergantung pada kualitas zikir yang dilakukan. Zikir dalam pendekatan aqidah adalah proses pensucian hati dalam mengEsakan AlIah SWT, dan dalam pendekatan moral sesunguhnya ia merupakan pembentuk akhlaqul karimah.
2.      Mendirikan dan menghidupkan ataupun menghadiri majelis atau halqah zikir ditengah-tengah masyarakat adalah merupakan kegiatan yang sangat mulia. Halqah atau majelis zikir telah ada sejak masa Rasulullah saw, dan diteruskan pada masa-masa berikutnya sampai sekarang.
3.      Zikir bila dilihat dari segi lafal yang digunakan, maka ada beberapa kategori yaitu:
a.       Tahlil, yang menggunakan lafal "لا إله إلا الله". Dan inilah lafal zikir yang paling mulia sesuai dengan sabda Rasulullah saw (tersebut pada hadis sebelumnya).
b.      Tasbih, yang menggunakan lafal   "سبحان الله"
c.       Tahmid, yang menggunakan lafal "الحمد لله"
d.      Dan lain-lain sesuai dengan yang disyariatkan oleh Rasulullah saw.

DAFTAR PUSTAKA

Daar Al-Masyriq. 2003. Al-Munjid fi Al-Lughah wa Al-A’lam. Beirut Lebanon: Al-Maktabah Asy-Syarqiyah.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi keempat). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Djamaludin, Syinqity, dkk. 2004 Ringkasan Shahih Muslim, Bandung : Mizan.
Ali nashif, Syekh mansur. 1996. Mahkota pokok-pokok Hadits Rasulullah saw. Bandung: Sinar Baru Algensindo.


[1] Al-Qur’an, Surat Al-Ahzab: 41-12
[2] ibid, Surat Thaha: 8
[3] Shahih Muslim. Doa, Taubat dan Istighfar (bab Keutamaan  Majlis Dzikir ) jilid 9.
[4] http://www.google.com/search/biografi+abu+hurairah
[5] http://metafisis.wordpress.com/2011/03/03/21-perbedaan-malaikat-dengan-jin-setan
[6] ibid, Surat Al-Ma’arij: 4
[7] Ibid, Surat Al-Haj: 47
[8] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi keempat), 1571
[9] Daar Al-Masyriq, Al-Munjid fi Al-Lughah wa Al-A’lam, 236
[10] http://www.google.com/search/dzikir+menurut+kitab+subulussalam
[11] http://www.google.com/search/dzikir+menurut+kitab+subulussalam
[12] Surat Asy-Syuraa:11
[13] Ibid, dzikir+menurut+kitab+subulussalam

[14] Ibid, Surat Ar-Ra’d: 28
[15] Ibid, zikir+menurut+kitab+subulussalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar