Laman

new post

zzz

Minggu, 15 Februari 2015

G-I-03: Suci Kharismaya


METODE PENDIDIKAN DALAM RUMAH TANGGA
Mata Kuliah:   Hadis Tarbawi II



Disusun oleh:
Suci Kharismaya Putri    2021113167
Kelas : G

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR
      
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya selaku penulis  dapat menyelesaikan makalah tentang Hadis Tarbawi II dengan judul metode pendidikan dalam rumah tangga.  meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan saya juga  berterima kasih pada Bapak Ghufron Dimiyati selaku Dosen mata Hadis Tarbawi II
       Saya sebagai penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai dampak yang ditimbulkan dari sampah, dan juga bagaimana membuat sampah menjadi barang yang berguna. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini masih terdapat  kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
       Semoga makalah yang saya tulis secara sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya jika laporan dalam bentuk maupun isinya yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya dan orang lain sekiranya membaca makalah ini. Sebelumnya saya  mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya selaku penulis memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
                                                                                     
Pekalongan, 15 Februari 2015



                                                            BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Tujuan dari makalah ini dalam berkeluarga membentuk akidah, ukhuwah islamiyah sebagai pondasi rumah tangga yang mendasar sebagai wujud penghambaan kepada Allah.
Pendidikan karakter merupakan pendidikan sangat penting bagi masyarakat terutama anak-anak. Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga sehingga pendidikan yang banyak diterima anak dalam keluarga.
Dan dalam makalah ini akan dibahas mengenai metode pendidikan dalam rumah tangga dan penulis berharap supaya pembaca dapat mengetahui cara atau metode pembelajaran dalam keluarga yang bertujuan untuk membentuk karakter kepribadian yang baik agar terhindar dari hal-hal atau perbuatan tercela.



                  





                                                           BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Metode berasal dari dua perkataaan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Dengan demikian, metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan. Selain itu adapula yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tertentu.[1]
Keluarga adalah bagian dari tiga institusi pendidikan selain sekolah dan masyarakat. Di tengah keluarga orang- orang dewasa menjadi guru bagi anak-anak. Ayah, Ibu, kakak, bahkan pembantu rumah tangga adalah guru-guru yang mempengaruhi keadaan anak baik secara psikologis ataupun intelektual.[2]
Rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan islam. Yang di maksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam.[3]

B.    Teori Pendukung
Berdasarkan Al- Qur’an dan As-sunnah, kita dapat mengatakan bahwa tujuan terpenting dari pembentukan keluarga adalah hal- hal berikut.
Pertama, mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan rumah tangga.
Kedua, mewujudkan ketentraman dan ketenangan psikologis
Ketiga, mewujudkan Sunnah Rasulullah dengan melahirkan anak-anak shaleh sehingga umat manusia merasa bangga dengan kehadiran kita.
Keempat, memenuhi kebutuhan cinta- kasih anak-anak
Kelima, menjaga fitrah anak agar tidak melakukan penyimpangan- penyimpangan.[4]
Jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan karakter, dapat membawa arti metode sebagai jalan untuk menanamkan karakter pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang berkarakter. untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa digunakan, antara lain :
a.      Metode internalisasi
Metode ini merupakan upaya memasukkan pengetahuan ( knowing ) dan keterampilan melaksanakan pengetahuan ( doing ) ke dalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya ( being ) dalam kehidupan sehari- hari.
b.     Metode keteladanan
“Anak adalah peniru yang baik”. Ungkapan tersebut seharusnya disadari oleh para orang tua, Sehingga mereka bisa lebih menjaga sikap dan tindakannya ketika berada atau bergaul dengan anak-anaknya, Berbagai keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting.
c.      Metode pembiasaan
Metode lain yang cukup efektif dalam membina karakter anak adalah melalui pembiasaan.
d.     Metode bermain
Ungkapan yang menunjukkan bahwa metode bermain adalah mendidik karakter anak dalam keluarga.
e.      Metode cerita
Metode ini merupakan salah satu yang bisa digunakan dalam mendidik karakter anak. Sebagai suatu metode, bercerita mengundang perhatian anak terhadap pendidik sesuai dengan tujuan pendidik.
f.      Metode nasehat
Metode ini merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati disertai dengan keteladanan.
g.     Metode penghargaan dan hukuman
Metode yang terakhir dianggap dapat membantu dalam menanamkan karakter pada anak adalah metode dengan penghargaan ( reward ) dan hukuman ( Punishment ).[5]
C.    Materi Hadis
حدثنا إسحاق بن أبي إسرائيل قال حدثنا النضر بن علقمة أبو المغيرة عن داود بن علي عن أبيه عن بن عباس : { أن النبي صلى الله عليه و سلم أمر بتعليق السوط في البيت } (رواه البخارى فى الأدب المفرد, باب تعبيق السوط فى البيت : 1229 ) [ ص 422 ] قال الشيخ الألباني : صحيح


Terjemahan
Diceritakan kepada kami ishak ibn abi israil. Menceritakan kepada saya nadhor ibn al qomah bapaknya mughiroh dari abu daud ibn ali dari bapaknya Dari Ibnu Abbas ra, sesungguhnya Nabi Saw, menyuruh untuk menggantungkan cemeti (cambuk) di rumah (HR Bukhari).

Mufrodat
أمر = menyuruh
بتعليق = menggantung
السوط = cemeti
فى البيت = di dalam rumah

D.   Hadis Pendukung

عَلِّقُواالسَّوْطَ حَيْثُ يَرَاهُ اَهْلُ البَيتِ فَإِ نَّهُ اَدَ بُ لَهُمْ
Gantunglah cambuk di mana bisa dilihat oleh anggota keluarga, karena ia lebih mendidik mereka.
وَ الَّتِي تَخَا فُوْ نَ نُشُوْ زَ هُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَ اهْجُرُ وْ هُنَّ فِي الْمَضَا جِعِ وَ اضْرِ بُو هُنَّ
" Wanita- wanita yang kamu khawatirkan nusyuz ( meninggalkan kewajiban bersuami isteri ) nya maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka “ ( An- Nisa : 34 )
مُرُ وْا أَ وْ لَا دَ كٌمْ بِا الصَّلاَ ةِ وَ هُمْ أَ بْنَا ءُ سَبْعِ  سِنِيْنَ وَ اضْرِ بُوْ هُمْ عَلَيْهَا وَ هُمْ أَ بْنَا
 ءَ عَشْرٍ
“ Peliharalah anak-anakmu melakukan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah karena meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun”
Keterangan hadits :
Hadits tersebut menerangkan bahwa perintah Rasulullah kepada kita untuk menggantungkan cemeti di dalam rumah, hadits tersebut bukan bermaksud agar orang tua saling memukul anggota keluarganya akan tetapi maksudnya adalah sekedar untuk membuat rasa takut terhadap ancaman tersebut, sehingga mereka bisa atau mampu meninggalkan perbuatan-perbuatan yang bersifat buruk atau tercela.
            Selanjutnya dengan melihat alat untuk menghukum, menjadikan orang-orang yang berniat jahat takut melakukannya, karena merasa ngeri dengan bentuk hukuman yang bakal diterimanya, sehingga ia menjadi motivasi ( pendorong ) bagi mereka dalam beradab dan berakhlak mulia.
Memukul sama sekali bukan dasar dalam mendidik. Tidak bolehkan menggunakannya kecuali jika seluruh cara mendidik telah habis atau membebaninya untuk melakukan ketaatan yang diwajibkan.[6]
E.    Refleksi hadis dalam kehidupan
Di dalam rumah tangga, itu sangatlah penting terutama mengenai kebutuhan. Keharusan untuk menyiapkan kebutuhaan-kebutuhan keluarga adalah kepala rumah tangga itu sangat penting.  Sang suami sebagai kepala rumah tangga dalam kebutuhan keluarganya sepenuh hati bersyukur.
Dalam rumah tangga seorang kepala keluarga seharusnya mengajarkan keluarganya tentang kewajiban-kewajiban agama yang di bahas dalam kitab-kitab tentang hukum islam, etika islami, dan dalam risalah para ulama.

F.     ASPEK TARBAWI
1.     Kedua orang tua harus memiliki rasa tanggung jawab  dalam mendidik anaknya.
2.     Dapat menjadi contoh yang baik didalam keluarga
3.     Dalam mendidik anak memberikan nasehat yang baik kepada anaknya.
4.     Sebagai orang tua harus bijak dalam menghadapi permasalahan anaknya.
5.     Sebagai orang tua memberikan motivasi ( dorongan ) untuk berbuat baik.












BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Metode berasal dari dua perkataaan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara.
Keluarga adalah bagian dari tiga institusi pendidikan selain sekolah Rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan islam. Yang di maksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat islam.
Metode- metode dalam membentuk karakter antara lain internalisasi, keteladanan, pembiasaan,bermain,cerita, Nasihat, penghargaan dan Hukuman.
Hadis di atas menerangkan bahwa perintah Rasulullah kepada kita untuk menggantungkan cemeti di dalam rumah, hadits tersebut bukan bermaksud agar orang tua saling memukul anggota keluarganya.















DAFTAR PUSTAKA
Al Munajjid, Muhammad Shaleh. 1997. 40 Nasehat Memperbaiki Rumah Tangga. Jakarta: Darul Haq.
An-Nahlawi, Abdurrohman.  1995. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press.
Falah, Saiful. 2014. Parents Power. Jakarta: Republika.
Syarbini, Amirullah. 2014. Model Pendidikan Karakter dalam Keluarga. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.



















TENTANG PENULIS
Nama : Suci Kharismaya Putri
Ttl : Parepare, 17 juni 1995
Alamat : Perum. Pasekaran Griya Permai Blok I No 5 Batang
Motto hidup: Hidup ini teruslah berjalan jangan pernah pantang menyerah, dan tetap berusaha.




[1] Amirullah Syarbini, Model Pendidikan Karakter dalam Keluarga, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2014), hlm 59
[2] Saiful Falah, Parents Power, (Jakarta: Republika, 2014), hlm. 242
[3] Abdurrohman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hlm. 139
[4] Ibid., hlm. 139-144
[5] Op.cit., hlm. 59-73
[6] Muhammad Shaleh Al-Munajjid, 40 Nasehat Memperbaiki Rumah Tangga, (Jakarta: Darul Haq, 1997), hlm. 88-90

Tidak ada komentar:

Posting Komentar