Laman

Selasa, 08 Oktober 2013

SBM-B-6: Metode Inkonvensional



MAKALAH
“Pembelajaran Inkonvensional”
Di susun guna memenuhi tugas          :  Stategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu                                : Ghufron Dimyati, M.S.I

Di susun oleh:

Laela Prahesti              (2022 111 051)
Dial Arvio Dola          (2022 111 070)
Ahmad Zaedun           (2022 111 072)
Nurul Awaliyah          (2022 111 076)

PRODI PBA
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
 2013



BAB I
PENDAHULUAN


Seorang pendidik sangat berpengaruh penting terhadap proses belajar peserta didik karena seorang pendidik memegang tanggung jawab yang tidak ringan dalam arti bahwa pendidik dituntut untuk mengarahkan segenap kemampuan dan kepandaiannya dalam mengolah materi dan menyampaikan agar mudah diterima anak didiknya. Untuk itu pendidik dituntut juga menguasai materi dengan baik sekaligus mampu menyampaikan materi tersebut dengan menggunakan metode yang baik pula.
Implikasinya dalam proses belajar mengajar pendidik harus memberikan pengalaman yang bervariasi dengan metode yang efektif dan bervariasi. Penggunaan metode yang bervariasi berfungsi untuk saling melengkapi kelemahan-kelemahan metode satu dengan yang lainnya. Maka yang harus diperhatikan pendidik dalam menentukan metode yaitu apakah metode tersebut sesuai dengan materi yang akan disampaikan, dan yang paling penting apakah metode tersebut dapat diterima dengan baik sesuai dengan kemampuan peserta didik dan juga dapat merangsang motivasi dan kreativitas mereka.












BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Metode berasal dari bahasa  Greek-Yunani, yaitu metha yang berarti melalui atau melewati dan hodos yang berarti jalan atau cara. Dari asal makna kata tersebut dapat diambil pengertian secara sederhana metode adalah jalan atau cara yang ditempuh seorang guru dalam menyampaikan ilmu pengetahuan pada anak didiknya sehingga dapat mencapai tujuan tersebut.[1]
Metode mengajar inkonvensional adalah suatu metode mengajar yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, seperti: metode pengajaran modul, pengajaran berprogram, pengajaran unit, metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), metode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), dan metode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

B.     Macam-macam Metode Pengajaran Inkonvensional
1.    Metode Pengajaran Modul
Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaanya untuk para guru. Dalam formatnya modul meliputi: pendahuluan, tujuan pembelajaran, tes awal, pengalaman belajar, sumber belajar, dan tes akhir.
                   Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran disekolah, baik waktu, dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal.[2]
Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut.
a.    Setiap modul harus memberikan informasi dan memberikan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang peserta didik, bagaimana melakukannya, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.
b.    Modul merupakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik.
c.    Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran seefektif dan seefesien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar, tetapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran, simulasi, dan berdiskusi.
d.   Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat mengetahui kapan dia memulai dan kapan mengakhiri suatu modul, dan tidak menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang harus dilakukan, atau dipelajari.
e.    Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.
Pada umumnya modul terdiri atas beberapa komponen sebagai berikut.
1)        Lembar kegiatan peserta didik
2)        Lembar kerja
3)        Kunci lembar kerja
4)        Lembar soal
5)        Lembar jawaban, dan
6)        Kunci jawaban[3]
2.      Metode Pengajaran Berprogram
Metode pengajaran berprogram adalah metode pengajaran yang memungkinkan siswa untuk mempelajari materi tertentu, terbagi atas bagian-bagian kecil yang dirangkaikan secara berurutan untuk mencapai tujuan tertentu pula. Dalam pengajaran ini siswa mempelajari sendiri uraian tertulis, kemudian memberikan jawaban atas pertanyaan (yang biasanya tertulis pula), dan atas jawaban tersebut siswa segera mendapat umpan balik.
Sebagai contoh metode ini adalah pengajaran dengan menggunakan alat tape recorder, film, radio, komputer, internet dan lain-lain.
3.      Metode Pengajaran Unit
Metode ini juga disebut metode proyek yang memberi makna bahwa metode pengajaran unit adalah suatu sistem pengajaran yang berpusat pada suatu masalah dan dipecahkan secara keseluruhan sehingga mempunyai arti. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode ini mempunyai kriteria; adanya tujuan yang luas dan menyeluruh, perencanaan bersama, berpusat pada suatu masalah, dan berpusat pada siswa.
4.        Metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
Metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) adalah metode pengajaran yang menuntut keaktifan dan partisipasi subyek didik seoptimal mungkin sehingga siswa mampu mengubah tingksh lakunya secara lebih efektif dan efesien.[4]
Secara harfiah CBSA dapat diartikan sebagai sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara kognitif, afektif, dan psikomotor.[5]
Prinsip-prinsip CBSA yang terlihat pada dimensi peserta didik antara lain:
a.    Keberanian menyatakan pendapat, pikiran, perasaan, keinginan dan dorongan lainnya.
b.    Keinginan dan keberanian berpartisipasi.
c.    Adanya usaha dan kreativitas.
d.   Dorongan ingin tahu (curiousity)
e.    Rasa lapang dan bebas dalam melakukan sesuatu.[6]


5.        Metode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) adalah konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar performance tertentu (kompetensi), sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.
Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.    Menekannkan kepada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
b.    Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
c.    Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
d.   Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur educatif.
e.    Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan pencapaian suatu kompetensi.[7]
6.      Metode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan, terdiri dari guru, kepala sekolah, komite sekolah dan dewan pendidikan. Untuk merealisasikan KTSP ini tentu disesuaikan dengan satuan pendidikan, potensi sekolah atau daerah, karakteristik peserta didik. Adapun tujuan KTSP adalah meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah, meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat, meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.
C.    Beberapa Contoh Metode Inkonvensional
1.    Kartu Sortir (Card Sort)
Merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang, fakta tentang suatu objek atau mengulangi informasi. Gerakkan fisik yang diutamakan dapat membantu untuk memberikan energi kelas yang telah letih.
a.   Prosedur
1)        Berilah masing-masing peserta didik kartu indeks yang berisi informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih kategori.
2)        Mintalah peserta didik untuk berusaha mencari temannya di ruang kelas dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan kategori sama ( anda bisa mengumumkan kategori tesebut sebelumnya atau biarkan peserta didik mencarinya).
3)        Biarkan peserta didik dengan kartu kategori yang samamenyajikan sendiri kepada orang yang lain.
4)        Selain masing-masing kategori dipresentasikan, buatlah beberapa unit mengajar yang anda rasa penting.
b.   Variasi
1)        Mintalah masing-masing kelompok untuk membuat presentasi mengajar tentang kategori tersebut.
2)        Pada awal kegiatan, bentuklah tim. Berilah masing-masing tim satu set kartu lengkap. Pastikan kartu tersebut dikocok, sehingga kategori yang mereka sortir tidak jelas. Mintalah masing-masing tim untuk menyortir kartu kedalam kategori. Masing-masing tim bisa memperoleh nilai untuk nomor ksrtu yang disortir denagn benar.
2.    Tim Quiz (Team Quiz)
Meningkatkan kemampuan tanggungjawab peserta didik untuk apa yang mereka pelajari melalui cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
a.   Prosedur
1)        Pilihlah topik yang dapat dipresentasikan dalam tiga bagian.
2)        Bagilah peserta didik menjadi 3 tim
3)        Jelaskan bentuk sesinya dan mulailah presentasi
4)        Minta tim A menyiapkan kuis yang berjawaban singkat. Kuis ini tidak memakan waktu lebih dari 5 menit untuk persiapan. Tim B dn C memanfaatkan waktu untuk meninjau lagi catatan mereka.
5)        Tim A menguji anggota tim B. Jika tim B tidak bisa menjawab, tim C diberi kesempatan untuk menjawabnay.
6)        Tim A melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya kepada anggota tim C dan ulangi prosesnya.
7)        Ketika kuis selesai, lenjutkan dengan bagian kedua pelajaran anda, dan tunjuklah tim B sebagai pemimpin kuis.
8)        Setelah tim B menyelesaikan ujian tersebut, lanjutkan dengan bagian ketiga dan tentukan tim C sebagai pemimpin kuis.
b.   Variasi
1)        Biarkan tim ini menyiapkan pertanyaan kuis dari yang mereka seleksi ketika mereka menjadi pemimpin kuis.
2)        Lakukan satu pelajaran yang berkelanjutan. Bagilah peserta didik ke dalam dua tim. Di akhir pelajaran, biarkan kedua tim saling memberi kuis satu sama lain.
3.    Poin Kaunterpoin (Point-Counterpoint)
Merupakan sebuah teknik hebat untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagi isu kompleks. Mirip dengan sebuah perdebatan namun kurang formal dan berjalan dengan lebih cepat.
a.   Prosedur
1)        Pilihlah sebuah masalah yang mempunayi dua sisi atau lebih.
2)        Bagilah kelas ke dalam kelompok-kelompok menurut jumlah posisi yang telah ditetapkan, dan mintalah tiap kelompok mengungkapkan argumenya untuk mendukung bidangnya. Doronglah mereka bekerja dengan partner tempat duduk atau kelompok-kelompok inti yang kecil.
3)        Gabungkan kembali seluruh kelas, tetapi mintalah para anggota dari tiap kelompok untuk duduk bersama dengan jarak antara sub-sub kelompok itu.
4)        Jelaskan bahwa peserta didik mempunyai kesempatan sebauh argumen yang sesuai denagn posisi yang telah ditentukan. Teruskan diskusi tersebut, dengan bergerak secar tepat maju mundur atau diantara kelompok-kalompok itu.
5)        Simpulkan kegiatan tersebut dengan membandingkan isu-isu sebagaimana anda melihatnya. Berikan reaksi dan reaksi lanjutan.
b.   Variasi
1)        Sebagi ganti sebauh perdebatan kelompok dengan kelompok, pasangkan peserta didik dari kelompok-kelompok berbeda dan suruhlah mereka saling berargumen. Ini dapat dilakukan secara serentak, agar setiap peserta didik didorong dalam perdebatan itu pada saat yang sama.
2)        Aturlah kelompok-kelompok yang berlawanan agar mereka saling berhadap-hadapan. Ketika seorang menyimpulkan argumennya, suruhlah peserta didik itu melemparkan suatu benda (seperti sebuah bola atau tas kecil) kepada seoarng anggota drai kelompok yang berlawanan. Orang yang menangkap bemda tersebut harus menangkis argumen orang sebelumnya.

4.      Belajar Melalui Jigsaw (jigsaw Learning)
Merupakan sebuh teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok (group-to-group exchange) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.[8]
Langkah-langkah dari metode ini :
a.         Siswa dikelompokkan ke dalam empat Tim.
b.        Tiap orang dalam tim di beri bagian materi yang berbeda.
c.         Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
d.        Anggota dari tim yang berbeda, yang telah mempelajari bagian/subbab yang sama, bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli), untuk mendiskusikan subbab mereka.
e.         Setelah selesai berdiskusi, sebagai tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subbab yang mereka kuasai. Sementara, anggota lainya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
f.         Tiap tim ahli mempresentasikan hasildiskusi mereka.
g.        Guru memberi evaluasi kepada seluruh siswa, yang mencakup seluruh materi yang didiskusikan siswa.
h.        Guru menutup pembelajaran.[9]

5.      Peta Pikiran (Mind Maps)
Cara kreatif bagi peserta didik secara individual untuk menghasilkan ide-ide, mencatat pelajaran atau merencanakan penelitian baru.
Langkah-langkah dari metode ini :
a.         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b.        Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban.
c.         Membentuk kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan 2-3 orang.
d.        Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi.
e.         Tiap kelompok (diacak kelompok tertentu) membacakan hasil diskusinya. Sementara, guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru.
f.         Dari data-data di papan, siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru.[10]
BAB III
PENUTUP


Metode mengajar inkonvensional adalah suatu metode mengajar yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, seperti: metode pengajaran modul, pengajaran berprogram, pengajaran unit, metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), metode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), dan metode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).
 Macam-macam Metode Pengajaran Inkonvensional antara lain:
1.        Metode Pengajaran Modul
2.        Metode Pengajaran Berprogram
3.        Metode Pengajaran Unit
4.        Metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
5.        Metode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
6.        Metode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
Macam-macam Metode Inkonvensional antara lain:
1.        Kartu Sortir (Card Sord)
2.        Tim Quiz (Team Quiz)
3.        Poin Kaunterpoin (Point- Counterpoint)
4.        Belajar Melalui Jigso (Jigsaw Learning)
5.        Peta Pikiran (Mind Maps)







DAFTAR PUSTAKA

Asmani, Jamal Makmur. 2011. 7 Tips Aplikasi Pakem. Jogjakarta: Diva Perss.        
Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mustakim, Zaenal. 2011. Srategi dan Metode Pembelajaran. Pekalongan: Stain Press.
Nurdin, Syafruddin. 2002. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta:  Ciputat Pers.
Usman, Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.








[1] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran,(Pekalongan: Stain Pers, 2011), hlm. 112.
[2] Ibid. hlm. 134.
[3] E. Mulyasa, Kurikulum  Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 43-44.
[4] Zaenal Mustakim, Op.Cit, hlm. 135-136.
[5] Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2001), hlm. 22.
[6]Syafruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm 128-129.
[7] E. Mulyasa, Op.Cit, hlm. 42.
[8]  Zaenal Mustakim, Op.Cit, hlm. 137-142.
[9] Jamal Ma’mur Asmani, 7 Tips Aplikasi Pakem, (Jogjakarta: Diva Pers, 2011), hlm. 42-43.
[10] Ibid. hlm. 44-45.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar