Laman

Minggu, 22 Februari 2015

L-2-05: Atik Oktavianing U.



MENINGKATKAN FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT ILMU

Disusun oleh :
Atik Oktavianing Utami         ( 2021213001)
Kelas   : L (Reguler Sore)

JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2015


BAB I
PENDAHULUAN

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “meningkatkan fungsi masjid sebagai pusat ilmu” yang saya sajikan berdasarkan referensi dari berbagai sumber.
Masjid adalah tempat suci, bersuasana damai dan tenang, dalam mana kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan iradat. Masjid digunakan umat Islam untuk beribadah (shalat,zikir dan ibadah lainnya), masjid juga biasa digunakan untuk lembaga pendidikan, tempat belajar mengajar.
Masjid adalah tempat dimana diajarkan, dibentuk, ditumbuhkan dan dikembangkan dunia fikir dan dunia rasa Islam. Pada zaman Rasulullah saw dapat dijabarkan fungsi dan peranan masjid selain untuk tempat beribadah. Oleh karena itu, kita harus bisa mengoptimalkan fungsi masjid. Tidak hanya untuk tempat beribadah saja, tetapi bisa digunakan untuk pusat ilmu pengetahuan.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Masjid menurut bahasa (etimologis), masjid berarti tempat beribadah. Akar dari kata masjid adalah sajada dimana sajada berarti sujud atau tunduk. Kata masjid sendiri berasal dari bahasa Arab. Diketahui pula bahwa, kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke-5 sebelum yang berarti “tiang suci” atau “tempat sesembahan”. Dalam bahas inggris, kata masjid dalam disebut mosque yang berasal dari kata mezquita dalam bahasa spanyol.
            Masjid secara istilah  (terminologis) berdasarkan akar katanya mengandung arti tunduk dan patuh. Maka hakikat dari masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah semata. Oleh karena itu, masjid dapat diartikan lebih jauh, bukan hanya tempat shalat dan bertayamum (berwudlu), namun juga melaksanakan segala aktivitas kaum muslimin berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah swt.[1]
            Masjid adalah tempat pengajaran, membicarakan, menyimpulkan semua pokok kehidupan Islam. Jadi urusan yang dilakukan dalam masjid tidak boleh kalau hanya menyangkut kepentingan pribadi.
Masjid dibangun untuk memenuhi keperluan ibadah umat Islam, fungsi dan perannya ditentukan oleh lingkungan, tempat dan jamaah dimana masjid didirikan.[2]


B.     TEORI PENDUKUNG
Fungsi dan peranan masjid diantaranya sebagai tempat ibadah (shalat,zikir), konsultasi dan komunikasi berbagai masalah termasuk ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, santunan sosial.
Bahkan lebih jauh lagi al-Quran menyebutkan fungsi masjid dalam firman-Nya (Q.S an-Nur [24] : 36-37), artinya :
“Bertasbilah kepada Allah d[3]i masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut-sebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-oramg yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli, atau aktivitas apapun dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayar zakat, mereka takut pada suatu hari yang di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang”.[4]
Fungsi yang utama sudah tentu meurut arti kata masjid itu sendiri, yaitu tempat sujud. Sembahyang lima waktu sehari semalam menjadikan masjid tempat berkumpulnya muslim sekitar masjid lima kali sehari, dan sembahyang jumat.
Tempat mengumumkan hal-hal penting yang menyangkut hidup masyarakat muslim. Suka dan duka dari peristiwa-peristiwa yang langsung berhubungan  dengan kesatuan sosial di sekitar masjid, diumumkan dengan saluran masjid. Mengajar dan belajar.
Menyelesaikan perkara dan pertikaian dalam masjid (Buchari 8 : 44 ; 93 : 18). Dengan menjadikan masjid tempat menyidangkan soal-soal hukum dan peradilan.
Sebagai tempat sosial, masjid juga berfungsi semacam tempat penginapan bagi musafir yang tengah dalam perjalan.[5]

C.     MATERI HADIS
a.    Teks Hadis
حدثنا بشر بن هلال الصواف . حدثنا داود بن الزبرقان عن بكر بن خنيس عن عبد الرحمنبن زياد عن عبد الله بن يزيد عن عبد الله بن عمرو : قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم من بعض حجره . فدخل المسجد . فإذا هو بحلقتين . إحداهما يقرأون القرآن ويدعون الله والأخرى يتعلمون ويعلمون . فقال النبي صلى الله عليه و سلم :  { كل على خير . هؤلاء يقرأون القرآن ويدعون الله فإن شاء أعطاهم وإن شاء منعهم . وهؤلاء يتعلمون ويعلمون . وإنما بعثت معلما } فجلس معهم ) . (رواه ابن ماجه فى السنن,
كتاب المقدمة, باب فضل العلماء و الحث على طلب العلم : 229)



Artinya :
Telah menceritakan kepada kami Bisy bin Hilal Ash Sawwafi berkata telah menceritakan kepada kami Dawud bin Az Zibirqan dari Bakr bin Khunais dari Abdurrahman bin Ziyad dari Abdullah bin Yazid dari Abdullah bin Amr, ia berkata : pada suatu hari Rasulullah keluar dari salah satu kamarnya dan masuk kedalam masjid lalu beliau menjumpai dua halaqah, salah satunya sedang membaca al Qur’an dan berdoa kepada Allah, sedang yang lainnya melakukan proses belajar mengajar, maka bersabda Rasulullah : masing-masing berada diatas kebaikan, mereka membaca al Qur’an dan berdoa kepada Allah, jika Allah menghendaki maka akan memberinya dan jika tidak menghendaki maka tidak akan memberinya. Dan mereka sedang belajar, sementara diriku diutus sebagai pengajar “lalu beliau duduk bersama mereka”. (HR. Ibnu Majah, kitab Muqodimah, Bab keutamaanulama dalam mencari ilmu).[6]

b.                       Pokok Hadis
Hadis di atas menerangkan bahwa masjid bukan hanya dijadikan tempat ibadah saja, melainkan bisa berfungsi sebagai tempat pembelajaran dan pengembangan ilmu. Teks hadis diatas menerangkan juga bahwa Nabi Muhammad saw keluar dari rumahnya dan pergi ke masjid, lalu didalam masjid Nabi Muhammad saw melihat dua orang halaqah sedang melakukan kegiatan.
Dari dua orang halaqah salah satunya sedang membaca al Qur’an dan berdoa kepada Allah, dan satunya sedang melakukan proses belajar mengajar. Dan Nabi Muhammad saw berkata bahwa masing-masing halaqah berada diatas kebaikan. Mereka membaca al Qur’an dan berdoa kepada Allah. Maka sesungguhnya jika Allah menghendaki akan memberi, tetapi tidak memberi sesuai keinginan hambanya tapi bisa saja dalam bentuk lain.

c.                        Biografi Perowi
Abdullah bin Amr bin Ash, ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Al Ash. Beliau adalah sosok mujahid yang tangguh, tinggi, gemuk dan berwajah kemerah-merahan putih rambut dan jenggotnya. Ketika usianya telah  lanjut kedua mata beliau buta.
Abdullah bin Amr adalah orang yang alim, shalih, kuat dan bersemangat dalam beribadah. Beliayu adalah sahabat Rasulullah, demikian pula bapaknya, bahkan beliau lebih dulu masuk Islam daripada bapaknya.
Beliau dikenal sangat rajin membaca al Qur’an, tiada punya rasa bosan.
Abdullah ini semenjak masuk Islam pertama-tama yang menjadi pusat perhatiannya adalah al Qur’an yang diturunkan secara berangsur-angsur. Setiap turunnya ayat maka dihafalkan dan diusahakan untuk memahaminya hingga telah semuanya selesai dan sempurna beliau pun telah hafal keseluruhannya. Dan beliau menghafalkn itu bukanlah hanya sekedar mengingatkan tetapi dihafalkan dengan tujuan dapat dipergunakan untuk memupuk jiwanya, dan kemudian menjadi hamba Allah yang taat.
Diantara keistimewaan beliau adalah bahwa beliau sebaik-baiknya ahlu bait.
Beliau wafat pada malam hari di usianya yang ke 72 tahun bertepatan dengan tshun 65 atau 63 hijriah. Beliau dimakamkan dirumahnya beliau sendiri, karena terjadinya kerusuhan waktu itu.[7]

d.                  Refleksi Hadis dalam Kehidupan
Menghadapi keadaan yang serba sulit yang sudah terkait masalah politik ini tentu akan terjadi pula tarik-menarik oleh berbagai kelompok masyarakat, bahkan organisasi politik untuk bekerja sama dengan mereka guna mengambil keuntungan politik tertentu. Dalam membawa ajaran agama Allah di bumi Indonesia ini kita agar membawakannya secara arif dan bijak. Masjid di seluruh Indonesia ini hendaknya dapat dijadikan posko pelayanan sosial untuk mengantisipasi bulan-bulan mendatang bila keadaan ekonomi terpuruk. Masjid-masjid ini hendaknya dijdikan tempat untuk memberikan bantuan kepada mereka yang punya kebutuhan, agar di masjid ada kegiatan tolong menolong. Jika disekitar masjid ada kegiatan tolong menolong hendaknya diorganisir dengan pengurus takmir. Apabila ada yang surplus beras dan bahan pokok lainnya agar digunakan membantu meringankan beban kaum dhuafa dalam memasuki bulan-bulan di masa mendatang.[8]


e.                   Aspek Tarbawi
Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah (shalat, zikir), tetapi juga sebagai :
1.         Tempat pendidikan
2.         Mengumumkan hal-hal penting yang menyangkut hidup mati masyarakat muslim
3.         Tempat sosial
4.         Tempat melangsungkan akad nikah
5.         Tempat penyelesaian persoalan-persoalan masyarakat
6.         Pusat pelatihan perang














BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Masjid adalah tempat pengajaran, membicarakan, menyimpulkan semua pokok kehidupan Islam. Jadi urusan yang dilakukan dalam masjid tidak boleh kalau hanya menyangkut kepentingan pribadi.
Masjid dibangun untuk memenuhi keperluan ibadah umat Islam, fungsi dan perannya ditentukan oleh lingkungan, tempat dan jamaah dimana masjid didirikan.
Fungsi dan peranan masjid diantaranya sebagai tempat ibadah (shalat,zikir), konsultasi dan komunikasi berbagai masalah termasuk ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, santunan sosial.
Fungsi yang utama sudah tentu meurut arti kata masjid itu sendiri, yaitu tempat sujud. Sembahyang lima waktu sehari semalam menjadikan masjid tempat berkumpulnya muslim sekitar masjid lima kali sehari, dan sembahyang jumat.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan  yang lebih luas kepada pembaca.






DAFTAR PUSTAKA


Handryant N. Aisyah. 2010. Masjid sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat. Malang: UIN MALIKI Press.
Gazalba Sidi. 1994. Mesjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Radar Jaya Offset.
Rais Amien. 1998. Mengatasi Krisis dari Serambi Masjid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Arabyislam.blogspot.in/2010/09/biografi-abdullah-bin-amr-bin-ash.html
      
 http//id.lidwa.com/app. sunan ibnu majah



















TENTANG PENULIS
Nama   : Atik Oktavianing Utami
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, tanggal lahir : Pemalang, 25 Oktober 1995
Alamat : Pemalang

Moto Hidup :  Semangat adalah sebetulnya kepingan kepingan bara kemauan yang kita sisipkan pada setiap celah dalam kerja keras kita untuk mencegah masuknya kemalasan dan penundaan
Riwayat Pendidikan :
TK : Dharma Bakti
Sd : SD N 04 Beji
Smp : SMP Al-Irsyad Taman Pemalang
SMA : SMA N 3 Pemalang
Perguruan Tinggi : STAIN Pekalongan


[1]        Aisyah N. Handryant, Masjid sebagai Pusat Pembangunan Masyarakat, (UIN Maliki Press, 2010), hlm. 51-52
[2]        Sidi Gazalba, Mesjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, (Jakarta : Pustaka Al-Husna), hlm. 134

[4]        Aisyah N. Handryant, Masjid sebagai Pusat Pembangunan Masyarakat, (UIN Maliki Press, 2010), hlm. 53
[5]        Sidi Gazalba, Mesjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, (Jakarta : Pustaka Al-Husna,1994), hlm. 126-130
[6]        http//id.lidwa.com/app. sunan ibnu majah
[7]        Arabyislam.blogspot.in/2010/09/biografi-abdullah-bin-amr-bin-ash.html
[8]        M. Amien Rais, Mengatasi Krisis dari Serambi Masjid, (yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset,1998), hlm. 86-88

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar