Laman

Selasa, 22 November 2011

ilmu akhlak (9) Kelas G

PROBLEM PROBLEM MORALITAS DAN PEMECAHANNYA DENGAN ETIKA NORMATIF
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah                                    : Ilmu Akhlak
Dosen Pengampu                            : Ghufron Dimyati, M.S.I
Kelas                                              : G
 
E:\Image\LOGO-LOGO\KAMPUS\STAIN.JPG
 
Disusun oleh
 
1.      Agus Syafrudin                                                 2021111315
2.      Muhammad Azizin                                            2021111316
3.      Lisanto                                                             2021111317
4.      Feri Febianto                                                    2021111318
5.      Gynae Lintang H                                               2021111327
 
 
                                              
 
 
 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN ) PEKALONGAN 2011
 

BAB I
Pendahuluan
Istilah moral berasal dari kata Latin “mos” (Moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/niali-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Tetapi seiring kemajuan zaman, kemajuan teknologi, seolah-olah menyertai perubahan tingkat moralitas tiap manusia. Hampir kita tidak bisa menghitung seberapa banyak masalah/problem moralitas yang melanda tiap individu. Etika (ilmu akhlak) merupakan suatu hal yang diperlukan saat ini untuk memacahkan problem-problem moralitas. Tidak hanya etika deskriptif, pendekatan etika normative pun akan sangat bermanfaat untuk memberikan penilaian baik dan buruknya suatu moral, sehingga kita sebagai manusia mampu memecahkan berbagai persoalan moralitas yang terjadi di lingkungan sekitar kita.

BAB II
PEMBAHASAN
PROBLEM-PROBLEM MORALITAS DAN PEMECAHANNYA DENGAN ETIKA NORMATIF
 
1.      Etika Normatif
Etika dipandang sebagai suatu ilmu yang mengadakan ukuran atau norma yang dapat dipakai untuk menanggapi atau menilai perbuatan. Menerangkan tentang apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harus dilakukan, dan memungkinkan kita untuk mengukur dengan apa yang seharusnya terjadi.
Etika normatif bersangkutan dengan penyelesaian ukuran kesusilaan yang benar[1].
2.      Problem moralitas di kalangan remaja
Problem problem moralitas yang terjadi saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan pada masa masa sebelumnya. Merebaknya isu isu moralitas di kalangan remaja seperti meningkatnya pemberontakan remaja atau dekadensi etika atau sopan santun pelajar, meningkatnya ketidakjujuran seperti suka membolos, menyontek, tawuran sekolah dan suka mencuri, berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru dan figur figur yang berwenang serta  kebanyakan gaya pacaran remaja sekarang yang sudah tidak memandang etika lagi. Kali ini akan dibahas problem moralitas mengenai remaja, cinta, dan pacaran.
A.     Definisi Remaja
            Masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya masalah hak[2].
            Mengenai umur masa remaja, para psikolog tidak sepakat, namun yang umum digunakan adalah pendapat Luella Cole, seoarang ahli psikologi, yaitu 13 – 15 tahun (masa remaja awal) , 15 – 18 tahun (masa remaja pertengahan) , 18 – 21 tahun ( masa remaja akhir).
B.     Ciri – Ciri Masa Remaja
            Ciri masa remaja menurut psikologi modern :
1)      Masa remaja adalah periode yang penting
2)      Masa remaja sebagai periode peralihan
3)      Masa remaja sebagai periode perubahan
4)      Masa remaja sebagai usia bermasalah
5)      Masa remaja sebagai masa mencari identitas
6)      Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
7)      Masa remaja sebagai ambang masa dewasa
C.     Klasifikasi Tipe Remaja
Klasifikasi Tipe Remaja berdasarkan Akhlaqnya
a.       Remaja berakhlaq Islami, mereka rajin ibadah, hanif dan relatif cepat menerima kebaikan
b.      Remaja berakhlaq asasi, mereka tidak taat agama, tapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiat karena masih menghormati harga dirinya
c.       Remaja berakhlaq jahiliyah, mereka tidak peduli dengan harga dirinya dan agamanya  cenderung seenaknya

3.      Pandangan Islam Tentang Cinta

   Cinta adalah keindahan sejati yang terletak pada keserasian spiritual. Cinta berarti memberi bukan menerima. Cinta jauh dari saling memaksakan kehendak[3]. Cinta tidak menuntut tapi menegaskan dan menghargai. Cinta belum pernah akan tercipta selagi kita belum bisa memahami perbedaan. Cinta adalah pengorbanan, pengorbanan adalah bukti ketulusan cinta. Cinta adalah karunia suci yang diberikan Allah Robb Penguasa Alam Semesta. Maha suci Allah yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan dan menciptakan rasa cinta dan sayang sebagai fondasi keberlangsungan kehidupan menuju keluarga yang tentram dan bahagia.
Firman Allah :Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang- binatang ternak dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga) “(QS Ali Imron 14)
Islam banyak berbicara mengenai cinta, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an lebih dari 100 (seratus) kali, dalam berbagai bentuknya baik fiil, fail masdar dan sebagainya. Itu artinya masalah cinta bukan sekedar masalah remaja, dan istilah cinta dalam Islam tidak serta merta identik dengan pacaran, percumbuan, bermesraan dan aktifitas yang banyak di praktekkan kalangan remaja kini. Cinta adalah sesuatu yang suci (fitri) dan senantiasa sesuai dengan naluri kemanusiaan. Tanpa cinta hidup ini akan terasa hampa, dan karena cinta keberlangsungan kehidupan di jagad raya ini menjadi tetap berjalan mesra.

4.      Remaja, Cinta dan Pacaran

            Ada kamus yang berlaku dikalangan remaja kita, bahwa remaja identik dengan bercinta yang dalam istilah kita adalah berpacaran. Sehingga belum sempurna jati diri seorang remaja jika belum punya pacar. Dan belum dikatakan berpacaran jika belum mampu bercinta dengan baik dengan segala bumbu-bumbunya. Ini adalah sebuah persepsi yang salah !!.
Sebagai seorang remaja yang sebentar lagi menginjak usia dewasa tentu sudah pernah merasakan getaran-getaran cinta. Suatu perasaan suka kepada lawan jenis yang diekspresikan melalui berbagai macam cara[4]. Suatu perasaaan yang bergejolak di dalam hati terhadap seseorang yang menimbulkan rasa ingin memperhatikan dan diperhatikan, rasa ingin tahu lebih, rasa malu, rasa cemburu, rasa curiga dsb semua rasa bercampur menjadi satu kadang suka, kadang sedih, kadang berani, kadang takut untuk melakukan sesuatu hal yang berhubungan denganya. Rasa ini yang bisa mengubah seseorang baik dari segi perspektif, tingkah laku, tutur kata, gaya berbusana dll bergantung pada dengan siapa dan bagaimana orang disekitarnya mempengaruhi untuk berlaku apa yang semestinya dia lakukan menurut pandangan mereka.
Tidak ada masa yang paling bergejolak kecuali masa remaja. Masa ketika remaja mulai mengenal minatnya untuk berhubungan dengan lawan jenis yang ditandai dengan perhatiannya terhadap penampilan fisik dalam berhias dan berpakaiaan, saat mereka sedang mencari jati diri menjadi manusia seutuhnya.
Ketertarikan pada lawan jenis itu membuktikan bahwa di dada mereka ada rasa cinta, sebagaimana dijelaskan Allah pada ayat di atas. Namun karena kondisi hati yang kotor, cinta yang suci tersebut banyak terinfiltrasi oleh nafsu syahwat dan bisikan jahat syetan laknatullah. Remaja hanyut dalam cinta, namun yang terjadi adalah jatuhnya mereka pada kubangan seks (syahwat), karena cinta yang suci tersebut telah terkotori dan di selubungi oleh keinginan-keinginan nafsu syahwati. Akibatnya, penyimpangan seks terjadi dikalangan remaja dengan mengatasnakamakan cinta yang lebih karena dorongan nafsu belaka mereka mengumbar dorongan cinta.
            Islam memandang remaja sebagai sebuah potensi masa depan yang cemerlang, dan menganggap cinta sebagai sesuatu yang suci. Rasulullah bersabda bahwa di akhirat nanti akan ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan di padang mahsar di saat matahari hanya sehasta di atas kepala manusia, yakni seorang remaja yang tumbuh dan berkembang menjadi baik (shalih) sejak masih remaja.
            Islam memandang Cinta dengan penilaian yang sangat tinggi dan suci, bahkan kecintaan seseorang kepada sesama menjadi bukti kualitas keimanannya, sebagaimana di tegaskan oleh Allah bahwa “ Tidak beriman seseorang  diantara kamu sebelum ia mampu mencintai saudaranya sebagaimana Ia mencintai dirinya sendiri “. Dan masih banyak lagi ayat maupun hadis yang membahas akan hal ini.
            Persepsi mengenai bercinta adalah identik dengan pacaran atau perilaku amoral lainnya adalah sebuah persepsi syahwati yang akan mengotori cinta. pergaulan bebas, penyimpangan seksual, dekadensi moral adalah bukti sebuah cinta yang telah ternoda dan tidak dilandasi dengan hati yang suci.
Cinta, lima kata itu, memang kadang membuat dilema, betapa tidak karena cinta itulah akhirnya ABG atau siapa saja mulai siap memasuki dunia pacaran. Yang jelas datangnya bukan dari sawah turun ke kali.[5] Ide pacaran bisa diemban siapa saja, mulai dari ABG sampai kepada orang tua pun bisa mengusungnya, meskipun bentuk dan implementasinya beda satu sama lain. Pacaran atau bahasa kerennya free sex, atau seks haram tidak dikehendaki oleh Islam. Namun kalau kita melihat ada sebagian yang masih menjujung tinggi nilai-nilai pacaran (baca : mengagumi), sebenarnya mereka salah dalam pengimplementasian cinta. Cinta itu sendiri adanya pada diri manusia adalah natural/alamiah, merupakan pemberian dari Allah sebagai potensi kehidupan bagi manusia, yang merupakan perwujudan dari naluri manusia berupa naluri untuk meneruskan keturunan ( gharizatul nau ). Adanya cinta pada diri manusia tidak akan dihizab, sebab itu adalah qadha' (keputusan) Allah, orang ingin bercinta itu wajar / normal, sebab dalam dirinya memang ada naluri itu. Tapi yang akan dihizab oleh Allah adalah kemana si empunya naluri menggerakkan naluri dan kepada siapa diberikan cinta itu. Oleh sebab itu Islam sendiri sebagai dien yang fitrah bagi manusia, tidak melarang orang yang mempunyai cinta, tapi perwujudan dari cintanya itu yang akan diatur oleh Islam, dan aturan Islam oleh Allah, sendiri memang sudah pas untuk "porsi" manusia, sehingga syara' menetapkan aturan tertentu dalam mewujudkannya sehingga perbuatan seorang muslim diharapkan tidak menyimpang dari aturan syara. Jadi Islam tidak melarang cinta itu sendiri tapi perwujudan dari cinta itu yang diatur (dilarang dan dianjurkan).
Yang dialami oleh para pengusung ide pacaran itu adalah kesalahan dalam mewujudkan cinta itu. Dimana sebenarnya cinta yang merupakan alamiah pemberian dari Allah oleh pacarawan dan pacarawati diselewengkan, artinya pada orang yang pacaran itu ada unsur tidak wajar terjadi disitu, yaitu unsur paksaan, memaksakan cinta yang sebenarnya fitrah itu kepada seseorang yang dianggap dicintanya, meski sesungguhnya orang yang katanya dicintainya itu tidak dicintainya, akhirnya karena ada paksaan dari dirinya atau dari luar dirinya akhirnya cinta itu jadi ada tapi berupa paksaan, seperti pepatah jawa " tresno jalaran saka kulino " ( cinta itu datang karena keseringan / paksaan )
Ketidakwajaran yang lain dari cintawan dan cintawati yang mewujudkan cintanya lewat pacaran adalah menjadikan orang yang dicintainya sebagai tujuan, sehingga apa saja yang terjadi dengan cinta adalah pacaran jawabannya. Orang yang sedang merasakan falling in love ditambah lagi first love cenderung mengindahkan sesuatu yang sebenarnya tidak indah, mengenakkan sesuatu yang kadang tidak enak, sehingga bisa saja taek kucing rasa coklat. Orang yang bercinta dan berwujud dalam pacaran akan cenderung buta " love is blind " ungkapan semacam itu sering muncul, apa yang terjadi selanjutnya adalah ATLANTA ( aku terlanjut cinta ), sehingga karena ATLANTA itulah, akhirnya rela diapa-apakan sama si pacarnya, buktinya? banyak sekali buktinya. Yang terjadi sekarang adalah orang cenderung menyalahkan cinta itu sendiri, tapi pacaran itu sendiri masih mengalami kerancuan dalam definisi bahkan dilegemetasi seperti sinetron " PD " dan sinetron lainnya agar terasa pacaran itu diperoblehkan dalam Islam.
5.      Sebab Terjadinya Kemerosotan Moral Remaja
Muara permasalahan kemerosotan moral remaja ini dikarenakan dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal adalah faktor dari dalam diri sendiri yang menyebabkan hasrat penyimpangan, antara lain:
1.      Kurangnya pemahaman agama
Agama telah mengajarkan bagaimana akhlak dengan orang lain, baik terhadap yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Demikian pula akhlak terhadap wanita dan  tata pergaulan dengan teman sebaya. Juga mengajarkan mana yang boleh dilaksanakan dan mana yang tidak boleh.
2.      Pola asuh orang tua yang salah
Pola asuh adalah pola pendidikan yang diberikan orang tua pada anak-anaknya. Bila orang tua mendidik dengan terlalu mengekang ataupun sebaliknya terlalu permisif (serba boleh) akan menghasilkan anak yang  berperilaku menyimpang.  Misalnya menjadi anak yang tidak peka terhadap masalah sosial, suka mengganggu, atau cengeng, tidak mandiri. Ditambah lagi sekarang banyak orangtua yang sibuk (kedua orang tua bekerja) sehingga perhatian kepada anaknya sangat kurang
Termasuk pola asuh adalah mendidik agama pada anak-anak sejak dini.
 
3.      Kepribadian yang labil
 Kepriibadian yang utuh dan sehat merupakan salah satu modal utama untuk mencapai cita-cita. Sebaliknya kepribadian yang indekuat memunculkan sikap impulsif, agresif atau cenderung dekstruktif.
Sedangkan faktor eksternal adalah adanya proses transformasi budaya. Indonesia yang pernah melaksanakan  strategi kebijakan “open door policy” di bidang kebudayaan  tampaknya amat merugikan kualitas sumber daya manusia Indonesia . Dengan adanya transformasi budaya dari luar inilah yang menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat yang tidak sehat dimana masyarakat kita mempunyai anggapan supaya dikatakan modern maka harus mengikuti gaya hidup barat . Padahal kalau kita perhatikan   budaya dari negara Barat itu substansi dasarnya adalah :
a.       Budaya materialistik (orientasi keduniaan), yakni orang dipacu mencari materi dan menikmati materi.
b.      Budaya permisivesness ( orientasi serba boleh ), terutama masalah hubungan seks bebas dan pornografi
6.      Pemecahannya dengan Etika Normatif
Melihat faktor-faktor penyebab diatas maka tidak ada jalan lain terapinya adalah kembali berpegang teguh pada tali Allah, yaitu  Agama Islam, karena keyakinan akan benarnya ajaran agama akan mendidik manusia untuk berakhlak mulia dan mematuhi tuntunan hidup sosial dari Maha Pencipta dalam semua segi kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama harus dipandang sebagai teknologi pembangunan bangsa, mengandung banyak kebijakan sosial yang harus diterapkan dalam upaya membangun bangsa, bukan diperlakukan hanya sekedar masalah akherat, ritual dan pribadi.
Berdasarkan pengamatan empiris , penilitian ilmiah, serta tuntunan Alqur’an dan Sunnah, dalam hal memerangi penyimpangan moral remaja (penyalahgunaan NAZA, AIDS dan penyimpangan sexual) Islam lebih menekankan pada aspek pencegahan antara lain :
1.      Penanaman pendidikan agama sejak dini.
Hasil penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa remaja yang komitmen agamanya lemah mempunyai resiko lebih tinggi (4 kali) untuk terlibat penyalahgunaan NAZA bila dibandingkan dengan remaja yang komitmen agamanya kuat.
2.      Kehidupan beragama di rumah tangga perlu diciptakan dengan suasana rasa kasih sayang antara ayah-ibu-anak.
Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa  anak/remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak religius, resiko anak untuk terlibat penyalahgunaan NAZA (kemerosotan moral) jauh lebih besar dari pada anak yang dibesarkan dalam keluarga religius.
3.      Peran dan tanggung jawab orang tua sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan pencegahan kemerosotan moral, yaitu :
a.      Orang tua di rumah (ayah dan ibu), ciptakan suasana rumah tangga yang harmonis (sakinah), tersedia waktu dan komunikasi dengan anak, hindari pola hidup konsumtif, beri suri teladan yang baik sesuai dengan tuntunan agama.
b.      Orang tua di sekolah (bapak dan ibu guru), ciptakan suasana / kondisi proses belajar mengajar yang kondusif bagi anak didik agar menjadi manusia yang berilmu dan beriman.
c.      Orang tua di masyarakat (tokoh masyarakat, ulama, pejabat, pengusaha, aparat), ciptakan kondisi lingkungan sosial yang sehat bagi perkembangan anak / remaja. Hindari sarana dan peluang agar anak dan remaja tidak terjerumus / terjebak dalam kemerosotan moral.
4.      “ Political will ” dan “ Political action “ Pemerintah perlu dukungan kita semua  dengan diberlakukannya Undang Undang, dan peraturan-peraturan disertai tindakan nyata dalam upaya melaksanakan “ amar ma’ruf nahi munkar ” demi keselamatan anak / remaja generasi penerus dan pewaris bangsa
 
7.      Memberikan Pendidikan Seks ala Islam di Keluarga kepada anak
Sekedar tahu aja. Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip dasar tentang pendidikan seks, pertama melalui institusi keluarga. Meski tidak secara langsung dan vulgar tentunya. Misalnya, anak laki dan anak perempuan kalau tidur sudah mulai dipisahkan tempatnya. Sejak kecil pula dibiasakan untuk mengenali batasan auratnya.
Misalnya, bila bidadari kecil kalau mau diajak keluar  rumah, pastikan disediakan busana muslimah untuknya. Itu akan sangat membekas. Kalau ibunya sudah menyiapkan baju itu, maka pasti ia akan diajak keluar rumah. Hal itu dilakukan terus menerus.
 Nah, waktu sudah sedikit dewasa, yakni ketika sudah bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, ortu harus memasukkan konsep-konsep tentang aurat. Supaya lebih mantap. Firman Allah Swt.:Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. (QS An-Nûr 31)
Kedekatan ibu dengan anak perempuannya juga akan menolong anak-anak mengerti tentang dirinya. Sebab, ketika anak mulai beranjak remaja, maka ibu harus benar-benar telaten memperhatikan perkembangannya. Dalam acara curhat antar mereka bisa saja sang ibu memberikan pengalamannya sebagai wanita. Bahwa wanita itu bisa mengalami haid, hamil, melahirkan, bahkan menyusui anak. Pola hubungan sebab-akibat yang terjadi di antara fase-fase itu juga bisa disampaikan, meski tetap dengan bahasa yang sopan. Anak laki juga demikian. Ayahnya berperan juga. Selain bacaan tentang masalahkhusus tersebut, juga disampaikan pandangan Islam terhadapnya. Insya Allah, hal ini akan bisa menolong remaja dari kebingungan tentang masalah seks.
Nah, setelah mereka matang di dalam keluarga. Jangan dibiarkan remaja bergaul sendiri di lingkungannya. Dia perlu teman, dan teman sejati yang pantas buat remaja adalah tsaqofah Islam (pengetahuan Islam). Hanya berteman dengan Islam saja. Remaja jadi selamat dunia akhirat. Salah satunya, biasakan hidup terpisah satu sama lain. Tidak campur-baur dan bebas bergaul dengan lawan jenis.

KESIMPULAN
1.      Masa-masa remaja adalah masa yang paling indah, namun penuh dengan pergolakan dan problematika hidup. Remaja juga dipandang sebagai salah satu masa proses pencarian identitas diri. Remaja merupakan suatu fase pertumbuhan dan perkembangan yang akan dihadapi oleh setiap manusia, sebagai ciptaan Allah. Dikatakan remaja, karena ia telah melewati usia anak-anak dan akan memasuki usia dewasa
2.      Problem moralitas remaja sekarang ini adalah meningkatnya pemberontakan remaja atau dekadensi etika atau sopan santun pelajar, meningkatnya ketidakjujuran seperti suka membolos, menyontek, tawuran sekolah dan suka mencuri, berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru dan figur figur yang berwenang serta  kebanyakan gaya pacaran remaja sekarang yang sudah tidak memandang etika lagi.
3.      Sebab sebab kemerosotan moral remaja antara lain :
a.       Kurangnya pemahaman agama
b.      Pola asuh orangtua yang salah
c.       Kepribadian yang labil
4.      Klasifikasi tipe remaja berdasarkan akhlaknya :
a.       Remaja berakhlak islami
b.      Remaja berakhlak asasi
c.       Remaja berakhlak jahiliyah
5.      Pemecahan problem moralitas dikalangan remaja dengan etika normatif :
a.       Penanaman pendidikan agama sejak dini
b.      Kehidupan beragama di rumah tangga perlu diciptakan dengan suasana rasa kasih sayang antara ayah-ibu-anak.
c.       Peran dan tanggung jawab orang tua sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan pencegahan kemerosotan moral
d.      Political will dan Political action
e.       Memberikan Pendidikan Seks ala Islam di Keluarga kepada anak

DAFTAR PUSTAKA
 
Zubair, Ahmad Charis. 1995. Kuliah Etika. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Bertens, K. 1999. Etika. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Remajadanpermasalahannya.blogspot.com/2009/02/01/remaja-dan-cinta
S-pkn-0606126-chapter1.pdf/2008/03/08/masalah-masalah-moral­


[1] Zubair, Ahmad Charis. 1995. Kuliah Etika. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
 
[2] Remajadanpermasalahannya.blogspot.com/2009/02/01/remaja-dan-cinta
 
[3] S-pkn-0606126-chapter1.pdf/2008/03/08/masalah-masalah-moral­
 
[4] S-pkn-0606126-chapter1.pdf/2008/03/08/masalah-masalah-moral­
 
[5] Remajadanpermasalahannya.blogspot.com/2009/02/01/remaja-dan-cinta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar