Laman

Minggu, 15 Februari 2015

H-I-03: Abdul Ghoni


"Metode Pendidik Dalam Keluarga"
Mata Kuliah: Hadits Tarbawi II



Di susun oleh:
Abdul Ghoni                                        2021113169
Kelas H

JURUSAN TARBIYAH / PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI  (STAIN) PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul “metode pendidik dalam rumah tangga ”  ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.
Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikan tentang salah salah satu metode pendidik dalam rumah tangga.  Dan dengan adanya makalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam memahami hadits, penjelasan hadits, serta aspek tarbawi yang dikaitkan dengan tema di atas. .Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak M. Hufron Dimyati, M.S.I. selaku dosen pembimbing Hadits Tarbawi II dan semua mahasisiwa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Hadits Tarbawi II. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.


Pekalongan, 14 Pebruari 2015


penulis



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Keluarga adalah bagian dari tiga institusi pendidikan selain sekolah dan masyarakat. Di dalam keluarga anak belajar banyak tentang norma dan nilai. Jika dibandingkan dengan sekolah dan masyarakat, kedudukan keluarga sebagai lembaga pendidikan lebih essensial. Hal ini didasari oleh keberadaan keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama yang mempengaruhi perkembangan pola pikir anak.
Betapa pentingnya peran keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama, untuk itu diperlukan metode-metode yang tepat dalam mendidik agar nantinya dapat mencetak generasi yang berkualitas baik secara agama maupun ilmu sosial masyarakat. Untuk itu penulis ingin mengkaji lebih dalam mengenai salah satu metode pendidikan dalam keluarga.
B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai acuan penyelesaian makalah ini:
1.     Apakah metode pendidikan keluarga itu?
2.     Bagaimana Hadits mengenai metode pendidikan itu?
3.     Bagaimana refleksi Hadits dalam kehidupan?
4.     Apa saja aspek tarbawi dari hadits tentang metode pendidikan itu?





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Metode Pendidikan Keluarga
Dari segi bahasa metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Dengan demikian metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tertentu.[1] Sedangkan keluarga atau rumah tangga yaitu bagian dari tiga institusi pendidikan selain sekolah dan masyarakat. Didalam keluarga anak belajar banyak tentang norma dan nilai. Jika dibandingkan dengan sekolah atau masyarakat, kedudukan keluarga sebagai lembaga pendidikan lebih essensial. Hal ini didasarkan pada keberadaan keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama yang bisa memempengaruhi anak.[2]
Metode pendidikan keluarga bisa diartikan sebagai suatu cara atau jalan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang dapat menciptakan pribadi yag berkarakter dan berakhlakul karimah dalam suatu keluarga.
Dalam mendidik terdapat berbagai metode yang bisa digunakan diantaranya yaitu:
1.     Metode Internalisasi
2.     Metode Keteladanan
3.     Metode Pembiasaan
4.     Metode Bermain
5.     Metode cerita
6.     Metode Nasihat
7.     Metode Penghargaan dan Hukuman[3]
Metode-metode lain yang dapat digunakan dalam pendidikan keluarga menurut agama islam yaitu:
a.      Metode dialog Qur’ani dan Nabawi
b.     Metode melalui kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi
c.      Metode melalui Ibrah dan Nasehat
d.     Metode melalui Targhib dan Tarhib[4]

B.    Hadits tentang  Metode Pendidikan Keluarga
1.     Hadits
عن بن عباس رضى الله عنهما قال:أن النبيى صلى الله عليه وسلم أمر بتعليق السوط فى البيت (رواه البخارى فى الأدب المفرد, باب تعليق السوط فى البيت)

2.     Terjemah Hadits
”Dari ibnu abbas r.a berkata: ” sesungguhnya nabi saw menyuruh untuk menggantung cemeti di dalam rumah.”
3.     Arti mufrodat
أمر                  = menyuruh
بتعليق              = menggantung
السوط              = cemeti
فى البيت           = di dalam rumah

4.     Penjelasan Hadits
Menampakkan dan memberi isyarat bentuk hukuman adalah salah satu metode pendidikan yang tinggi. Karena itu Rasulullah SAW menerangkan sebab mengapa seyogyanya digantungkan cambuk atau tongkat dirumah. Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk meletakkan cemeti di rumah bukan untuk saling pukul memukul di dalam keluarga. Melainkan hanya sebagai perigatan saja, dengan melihat alat untuk menghukum, menjadikan orang-orang yang berniat jahat menjadi takut untuk melakukannya, karena merasa ngeri dengan hukuman yang bakal di terimanya, sehingga ia menjadi motivasi (pendorong) bagi mereka dalam beradab dan berakhlak mulia.
Ibnu Al Anbari berkata: “tidak ada riwayat yang menyebutkan agar memukul dengan alat it, karena Rasulullah SAW tidak menyuruh hal tersebut kepada seorangpun, tetapi beliau ingin agar engkau tidak lepas memdidik mereka”.
 tidak boleh digunakan kecuali jika seluruh cara mendidik telah habis atau membebaninya untuk  melakukan ketaatan yang diwajibkan. Seperti firman Allah :
((والتي تخا فون نشوز هن فعظو هن واهجرو هن في المضا جع واضربو هن))
“ wanita- wanita yang kamu khawatirkan nusyuz (meninggalkan kewajibanbersuami isteri)nya maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka”. (An Nisa : 34)[5]
Dan juga hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud
مروا أبناء كم با الصلاة لسبع واضر بو هم عليها لعشر وفرقو ا بينهم فى المضا جع
 “suruhkanlah anak-anakmu sembahyang jika usianya sudah 7 tahun dan pukullah jika sembahyang itu ditinggalkan kalau usianya sudah 10 tahun dan pisahkanlah tempat-tempat tidur diantara mereka.[6]
Dari keterangan diatas metode hukuman bisa diterapkan dalam membentuk karakter. Meski demikian tetap saja metode hukuman adalah metode terakhir yag dapat digunakan apabila seluruh metode-metode lain telah digunakan. Sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Quthb “ bila teladan dan nasihat tidak mampu, maka pada waktu itu harus diadakan tindakan tegas yang dapat meletakkan persoalan di tempat yang benar. Tindakan tegas itu adalah Hukuman.”[7]
C.    Refleksi Hadits dalam Kehidupan
Seperti yang telah kita ketahui bahwa didalam keluarga peran kedua orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku ataupun karakter yang anak miliki. Didikan yang baik akan menghasilkan pribadi-pribadi yang baik  begitupun sebaliknya.
Pada anak teguran merupakan rem, yang bisa menghentikannya mengulangi kesalahan. Pemberian sangsi atau hukuman perlu diberikan untuk membuat jera dan tidak mengulagi kesalahan yang sama.
Akan tetapi Menghukum anak terus menerus dapat berdampak buruk. Anak yang sering dihukum dapat  menjadi pribadi yang tertekan.Muhammad Nashih Ulwan menukil pendapat Ibnu kholdun “siapa yang mendidik dengan keras dan memaksa terhadapsiapapun, niscaya paksaan itu hanya akan membuat anak didik tertekan jiwanya, lalu menghilangkan semangat hingga si anak malas, suka berdusta, dan bertindak keji, karena takut akan pekulan dan paksaan. Ia juga akan biasa menipu dan berkhianat, yang akan menjadi kebiasaan dan akhlaknya. Lalu rusaklah nilai-nilai kemanusiaannya.
Pemberian hukuman sebaiknya dengan menggunakan sanksi edukatif yang memiliki nilai pendidikan  dan tidak menciderai. Namun demikian tetap saja kalau hukuman dapat diterapkan apabila semua metode-metode lain telah digunakan.[8]


D.    Nilai Tarbawi dalam Hadits
Dari keterangan diatas dapat diambil aspek tarbawinya:
1.     Pendidikan hendaknya menggunakan metode yang tepat.
2.     Seorang pendidik harus tegas terhadap anak didiknya.
3.     Pendidik tidak boleh memberikan hukuman pada anak didik tanpa alasan.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Metode pendidikan keluarga bisa diartikan sebagai suatu cara atau jalan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang dapat menciptakan pribadi yang berkarakter dan berakhlakul karimah dalam suatu keluarga.
Menampakkan dan memberi isyarat bentuk hukuman adalah salah satu metode pendidikan yang tinggi. Karena itu Rasulullah SAW menerangkan sebab mengapa seyogyanya digantungkan cambuk atau tongkat dirumah. Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk meletakkan cemeti di rumah bukan untuk saling pukul memukul di dalam keluarga. Melainkan hanya sebagai perigatan saja, dengan melihat alat untuk menghukum, menjadikan orang-orang yang berniat jahat menjadi takut untuk melakukannya, karena merasa ngeri dengan hukuman yang bakal di terimanya, sehingga ia menjadi motivasi (pendorong) bagi mereka dalam beradab dan berakhlak mulia.
Pemberian hukuman sebaiknya dengan menggunakan sanksi edukatif yang memiliki nilai pendidikan  dan tidak menciderai. Namun demikian tetap saja kalau metode hukuman dapat diterapkan apabila semua metode-metode lain telah digunakan.







DAFTAR PUSTAKA

Amirullah Syarbini. Model Pendidikan Karakter dalam Keluarga.(Serang Banten: PT Elex Media Komputindo).
Saiful Falah. 2014. Parents Power.(Jakarta: Republika Penerbit).
Abdurrahman An-Nahlawi. 1995. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat.(Jakarta: Gema Insani Press).
Hamka. 2000.  Tafsir Al-Azhar Juz XXVIII. (Jakarta: Pustaka Panji  Mas).

















Biodata Penulis

Nama : Abdul Ghoni
Ttl       : Batang, 20 Agustus 1994
Alamat : Rt05/Rw02, Dk. Ngepung, Ds.Subah, Kec. Subah, Kab.Batang
Riwayat Pendidikan : RA Al-Iklas Bandung
MIS Bandung
MTs N Subah
MA Subhanah
STAIN Pekalongan (sekarang).



[1]Amirullah Syarbini, Model Pendidikan Karakter dalam Keluarga,(Serang Banten: PT Elex Media Komputindo), hal. 59.
[2]Saiful Falah, Parents Power,(Jakarta: Republika Penerbit, 2014), hal:242.
[3]Amirullah Syarbini, Op. Cit., hal. 59-72.
[4]Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hal. 204.
[5]Ainul Haris Bin Umar Arifin, 40 Nasehat  Memperbaiki Rumah Tangga,(Jakarta: Darul Haq, 1998), hal. 88-89.
[6]Hamka,  Tafsir Al-Azhar Juz XXVIII, (Jakarta: Pustaka Panji  Mas, 2000), hal.313
[7] Amirullah Syarbini, Op. Cit., hal. 72.
[8]Saiful Falah, Op. Cit., hal. 268.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar