Laman

Kamis, 05 Maret 2015

M-4-a : KHOZINATUL ASROR



MEMANFAATKAN MEDIA PUBLIK
UNTUK MENYEBARKAN ILMU KE KALANGAN EKSTERNAL
Mata Kuliah  : Hadits Tarbawi II


 Disusun Oleh :
Khozinatul Asror        2021 210 185
 Kelas M


JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2015



A.    Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang fenomenal dalam kehidupan manusia, baik dalam ekonomi, budaya maupun pendidikan. Perlu adanya penyesuaian dalam dunia pendidikan agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor pengajaran di sekolah. Salah satu faktor tersebut adalah media pembelajaran. Selain itu dengan semakin berkembangnya media publik khususnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat menjadi lebih mudah dalam mengakses informasi.
Perkembangan tersebut sukses menyedot perhatian masyarakat untuk menggali informasi dari media publik dan masyarakat selalu update informasi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi melalui media publik. Saya membahas tentang memanfaatkan media publik untuk menyebarkan ilmu ke kalangan eksternal karena media publik merupakan sarana yang efisiien dan dapat diterima oleh masyarakat luas.

B.     Pembahasan
1.      Pengertian
Media dalam komunikasi berasal dari kata "mediasi" karena mereka hadir di antara pemirsa dan lingkungan atau juga bisa diartikan sarana. Istilah ini sering digunakan untuk menyebutkan media massa. Sedangkan publik adalah mengenai orang atau masyarakat, dimiliki masyarakat, serta berhubungan dengan, atau memengaruhi suatu bangsa, negara, atau komunitas. Publik biasanya dilawankan dengan swasta atau pribadi, seperti pada perusahaan publik, atau suatu jalan. Publik juga kadang didefinisikan sebagai masyarakat suatu bangsa yang tidak berafiliasi dengan pemerintahan bangsa tersebut. Dalam bahasa Indonesia, penggunaan kata “publik” sering diganti dengan “umum”, misalnya perusahaan umum dan perusahaan publik.[1] Sehingga dapat disimpulka media publik adalah sarana penyampaian informasi yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas.



2.      Materi hadits
عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُ عَنْهُمَا قَالَ (لَمَّا نَزَلَتْ: وَأَنْذِرْ عَشِيْرَ تَكَ اْلاَقْرَبِيْنَ وَرَهْطَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ خَرَجَ رَسُوْلُ الله ِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى صَعِدَ الصَّفَا فَهَتَفَ بَاصَبَاحَاهْ فَقَالُوْا مَنْ هَذَا فَاجْتَمَعُوْ إِلَيْهِ فَقَالَ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخْبَرْ تُكُمْ أَنَّ خَيِلاً تَخْرُجُ مِنْ سَفْحِ هَذَا الْجَبَلِ َاكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ قَالُوا مَاجَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبً قَالَ فَإِنِّي نَذِيْرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيْدٍ قَالَ أَبُوْلَهَبٍ تَبَّالَكَ مَاجَمِعْتَنَا إِلاَّ لِهَذَا ثُمَّ قَامَ فَنَزَ لَتْ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَتَبَّ, وَقَدْ تَبَّ)
(رواه البخارى فى الصحيح, كتاب تفسير القرآن الكريم, باب تباب خسران تتبيب تدمير)

Artinya :
      Dari Abu Abbad r.a. berkata: “Ketika turun firman-Nya, dan berilah peringatan kerabat-kerabatmu yang terdekat dan golonganmu diantara mereka yang ikhlas. Rasulullah Saw keluar kemudian naik ke bukit shafa dan berseru “waspadalah”, maka mereka berkata siapa ini, maka berkumpullah kemari. Beliau bersabda: bagaimana pendapatmu jika aku mengabarkan bahwa pasukan berkuda akan keluar dari balik gunung ini, apakah kalian mempercayaiku? Mereka berkata: Kami tidak pernah melihat engkau berdusta, beliau bersabda: Sesungguhnya aku pemberi peringatan bagi kalian di hadapan adzab yang pedih. Abu Lahab berkata; Celakalah engkau, apakah engkau mengumpulkan kami kecuali untuk ini? Kemudian Rasulullah Saw pergi, maka turunlah ayat, binasalah kedua tangan Abu lahab, dan sungguh ia binasa. (HR. Imam Bukhori)[2]

3.      Aspek tarbawi
Berdasarkan hadits di atas, dalam menyampaikan informasi ke kalangan eksternal Rasulullah SAW menggunakan metode dakwah yaitu dengan memberikan pengajaran atau peringatan secara langsung kepada seluruh umat, tidak memandang perbedaan suku, ras ataupun agama karena pendidikan itu sifatnya universal.  Walaupun media atau metode pengajaran Rasulullah SAW masih sangat sederhana atau tradisional, tetapi media atau metode yang diterapkan oleh Rasulullah SAW dapat dijadikan petunjuk atau pedoman dalam sistem pembelajaran pada masa sekarang.
Penyampaian informasi pada masa sekarang lebih efisien menggunakan media publik seperti televisi, radio bahkan lebih informatif dikalangan anak muda ketika informasi itu melalui facebook, twitter, blackberry messenger, instagram dan media lain yang menjadi trend mereka.
Dari hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk sarana pendidikan agar lebih mengikuti perkembangan dan lebih dapat bersaing di dunia yang serba modern dan penuh kecanggihan.[3]

4.      Refleksi hadits dalam kehidupan sehari – hari
Dalam kehidupan manusia sebagai suatu bangsa yang tidak ingin terbelakang dan ketinggalan oleh perkembangan zaman maka manusia membutuhkan suatu informasi.
Sehingga teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu bidang yang harus dipenuhi. Mengingat begitu pentingnya komunikasi maka dalam pasal 28 f UUD 1945 yang diamandemen disebutkan "Setiap orang berhak untuk berkomunikasi memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia".[4]
Media publik menjadi kebutuhan yang sangat penting karena berfungsi sebagai sarana informasi dengan kata lain sebagai sumber ilmu pengetahuan dan beberapa fungsi lain seperti sebagai sarana hiburan dan sosialisasi. Dengan mengkonsumsi informasi dari media publik kita menjadi orang yang selalu belajar dan secara tidak langsung kita terlibat dalam kegiatan – kegiatan yang ada di masyarakat.


C.    Penutup
Dari uraian makalah dapat disimpulkan bahwa :
1.      Media publik adalah sarana pendidikan yang memberikan kita informasi dan ilmu pengetahuan lebih
2.      Sebagai sarana informasi media publik member pengetahuan tentang kejadian disekitar kita
3.      Media publik juga bisa menjadi sarana hiburan dan sarana sosialisasi.


DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/media/publik
Ibnu hajar, 1998. Syarah Shoheh Bukhori, Jakarta:Pustaka Azzam
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Yustisia, Tim Redaksi.2014.Naskah Resmi UUD 1945 (Amandemen Lengkap), Pustaka Yustisia


Tentang Penulis :
Khozinatul Asror, lahir di Pekalongan tepatnya di Desa Rowolaku Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan pada tanggal 25 Desember 1992. Lahir di keluarga yang sederhana, dia anak pertama dari tiga bersaudara. Mulai mengenyam pendidikan dari kecil yang pertama di RA Muslimat NU Rowolaku kemudian ke MINU Rowolaku. Setelah lulus melanjutkan ke MTs S dan MAS Simbang Kulon. Dan sampai sekarang masih kuliah di STAIN Pekalongan. Hobi bermusik dan olahraga, termasuk pemuda yang aktif berorganisasi. Organisasi yang di ikuti antara lain IPNU (ketua 2 PAC IPNU Kajen & Bendahara 4 PC IPNU Kab. Pekalongan), juga mengikuti organisasi intra kampus yaitu UKM Seni Musik El Fata (dewan pelatih paduan suara). Prestasi antara lain : Juara harapan 2 Festival lagu daerah se-Jateng, Juara 1 Lomba Paduan Suara Se-Jateng (Green Camp IPNU-IPPNU di Wonosobo 2013).


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/media/publik
[2] Ibnu hajar, 1998. Syarah Shoheh Bukhori, Jakarta:Pustaka Azzam
[3] Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
[4] Yustisia, Tim Redaksi.2014.Naskah Resmi UUD 1945 (Amandemen Lengkap), Pustaka Yustisia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar