Laman

Kamis, 06 Oktober 2011

Psikologi Agama (2) Kelas B

MAKALAH
PERKEMBANGAN AGAMA PADA ANAK-ANAK

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah     :     Psikologi Agama
Dosen Pengampu    :    Muh. Hufron, M.Si











Disusun Oleh :

1.    Ita Hidayatul Baiti     (2022110037)
2.    Fatkhu Sani    (2022110038)
3.    Khafidhotul Khasanah     (2022110039)




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011
PENDAHULUAN


Agama sangat penting bagi proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Dan pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya dulu. Untuk itu pendidikan agama harus ditanamkan sejak masa dini. Sehingga agama (apa yang terkandung didalamnya) akan mudah terserap dan melekat dalam pikiran dan hati mereka. Dan tanpa mereka sadari di alam bawah sadar mereka telah melekat agama yang kuat. Dan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Bagaimana si anak mengenal Tuhan?, mereka merasakan pentingnya hubungan dengan orang tua, dan bagaimana mereka mengetahui kelahiran dan kematian, dan lain-lain. Mereka akan mengetahui itu semua jika pendidikan agama diterapkan sejak dini.


PEMBAHASAN


A.    Teori Tentang Sumber Kejiwaan Agama
Dr. Zakiah Daradjat berpendapat bahwa pada diri manusia itu terdapat kebutuhan pokok. Beliau mengemukakan, bahwa selain dari kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani manusia pun mempunyai suatu kebutuhan akan adanya kebutuhan akan keseimbangan dalam kehidupan jiwanya agar tidak mengalami tekanan.
Unsur-unsur kebutuhan dikemukakan yaitu :
1.    Kebutuhan akan rasa kasih sayang; kebutuhan yang menyebabkan manusia mendambakan rasa kasih. Sebagai pernyataan tersebut dalam bentuk negatifnya dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya : mengeluh, mengadu, menjilat kepada atasan, mengkambinghitamkan orang dan lain sebagainya.
Akibat dari tidak terpenuhinya kebutuhan ini maka akan timbul gejala psiko-somatis, misalnya : hilang nafsu makan, pesimis, keras kepala, kurang tidur, dan lain-lain.
2.    Kebutuhan akan rasa aman; kebutuhan yang mendorong manusia mengharapkan adanya perlindungan. Kehilangan rasa aman ini akan mengakibatkan manusia sering curiga, nakal, mengganggu, membela diri, menggunakan jimat-jimat dan lain-lain. Kenyataan dalam kehidupan ialah adanya kecenderungan manusia mencari perlindungan dari kemungkinan gangguan terhadap dirinya, misalnya : sistem perdukunan, pertapaan dan lain-lain.
3.    Kebutuhan akan rasa harga diri; kebutuhan yang bersifat individual yang mendorong manusia agar dirinya dihormati dan diakui oleh orang lain. Dalam kenyataan terlihat misalnya sikap sombong, ngambek, sifat sok tahu dan lain-lain. Kehilangan rasa harga diri ini akan mengakibatkan tekanan batin, misalnya sakit jiwa, delusi, dan illusi.
4.    Kebutuhan akan rasa bebas; kebutuhan yang menyebabkan seseorang bertindak secara bebas, untuk mencapai kondisi dan situasi rasa lega.
Kebebasan dapat dalam bentuk tindakan ataupun pernyataan verbal. Kebutuhan akan rasa bebas ini terlihat dari pernyataan kebebasan untuk menyatakan keinginan sesuai dengan pertimbangan batinnya, misalnya : melakukan sesuatu dan menyatakan sesuatu.
5.    Kebutuhan akan rasa sukses; kebutuhan manusia yang menyebabkan ia mendambakan rasa keinginan untuk dibina dalam bentuk penghargaan terhadap hasil karyanya. Jika kebutuhan akan rasa sukses ini ditekan, maka seseorang yang mengalami hal tersebut akan kehilangan harga dirinya.
6.    Kebutuhan akan rasa ingin tahu (mengenal); kebutuhan yang menyebabkan manusia selalu meneliti dan menyelidiki sesuatu. Jika kebutuhan ini diabaikan akan mengakibatkan tekanan batin, oleh karena itu kebutuhan ini harus disalurkan untuk memenuhi pemuasan pembinaan pribadinya.  
Menurut Dr. Zakiah Daradjat selanjutnya gabungan dari keenam macam kebutuhan tersebut menyebabkan orang memerlukan agama. Melalui agama kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat disalurkan. Dengan melaksanakan ajaran agama secara baik, maka kebutuhan akan rasa kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, rasa sukes, dan rasa ingin tahu akan terpenuhi.

B.    Pertumbuhan Agama Pada Anak-anak
Pada umumnya, agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya dulu. Seorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan didikan agama, maka pada masa dewasanya nanti, ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya.
1.    Bagaimana si anak mengenal Tuhan ?
Anak-anak mulai mengenal Tuhan, melalui bahasa. Dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada permulaannya diterimanya secara acuh tak acuh saja. Akan tetapi setelah ia melihat orang-orang dewasa menunjukkan rasa kagum dan takut terhadap Tuhan, maka mulailah ia merasa sedikit gelisah dan ragu tentang sesuatu yang ghaib yang tidak dapat dilihatnya itu. Mungkin ia akan ikut membaca dan mengulang kata-kata yang diucapkan oleh orang tuanya.
2.    Pentingnya hubungan anak dengan orang tua
Karena orang tua adalah pusat kehidupan rohani si anak dan sebagai penyebab berkenalannya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi anak dan pemikirannya dikemudian hari, terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang tuanya di permulaan hidupnya dulu.
Kepercayaan anak-anak bertumbuh melalui latihan-latihan dan didikan yang diterimanya dalam lingkungannya.
Perkembangan pengertian anak-anak tentang agama sejalan dengan pertumbuhan kecerdasan yang dilaluinya.
Berhubung karena anak-anak cenderung kepada memandang segala sesuatu dalam lingkungannya itu hidup seperti manusia, demikianlah Tuhan bagi mereka hidup sebagai kehidupan manusia biasa. Dia memahami sesuatu yang diajarkan kepadanya sesuai dengan kemampuannya untuk mengerti dalam batas pengalamannya.
3.    Kelahiran dan kematian
Pengertian si anak tentang masalah mati membawa suatu prinsip pikiran yang baru, yaitu prinsip sebab-musabab, hal ini membawa kepada sikap yang baru, yang terlihat bekasnya dalam segala segi, demikian juga terhadap gambaran si anak tentang Tuhan. Sebelum umur 7 tahun, belum ada dalam pikiran si anak tentang Tuhan sebagai sebab.
Setelah anak-anak sibuk dengan alam luar, ia melihat adanya peristiwa-peristiwa yang tidak tergantung pada kemauan seseorang, maka dicarinyalah alasan-alasan lain dari alam ini juga. Akan tetapi setelah ia tidak mampu mencari sebab musabab itu, ia kembali kepada Tuhan.
Gambaran si anak tentang kedudukan Tuhan terhadap alam ini belum sampai kepada pikiran menjadikan. Apabila anak yang berumur 7 tahun sibuk menanyakan bagaimana dilahirkan atau diciptakan manusia pertama, ini berarti ada kemajuan, karena anak tidak lagi memikirkan kejadian dirinya, atau orang lain, bahkan kejadian seluruh umat manusia.
Setelah si anak sampai kepada pemikiran tentang kejadian dan kelahiran, dapatlah ia sesudah itu berpikir tentang Tuhan tanpa memikirkan hubungannya dengan manusia, artinya bahwa hubungan Tuhan dengan kemanusiaan seluruhnya adalah satu langkah pendahuluan ke arah pikiran tentang hubungan Tuhan dengan alam semesta, hal ini tidak terjadi sebelum umur 8 atau 9 tahun.
Sesungguhnya kepercayaan anak akan keadaan Allah sebagai spirit takkan melampaui batas kepercayaan. Tidak dapatnya zat Allah dilihat, dan menjauhkan-Nya dari sifat-sifat jasmaniah, adalah karena dianggapnya Tuhan perlu bersembunyi, karena kesempurnaannya.
4.    Tuhan sebagai keharusan moral bagi anak
Sesungguhnya pertumbuhan kesadaran moral pada anak, menyebabkan agama anak-anak mendapatkan lapangan baru (moral), maka bertambah pula perhatiannya terhadap nasihat-nasihat agama, dan kitab suci baginya tidak lagi merupakan kumpulan undang-undang yang adil, yang dengan itu Allah menghukum dan mengatur dunia guna menunjuki kita kepada kebaikan.
Pada akhir masa anak-anak terlihat perhatiannya yang sangat kepada Allah (Tuhan), karena ia penolong yang baik, memberikan kompensasi terhadap kekurangan yang dideritanya, dan Dia menolong orang yang lemah dan membalas orang yang aniaya. Gambaran anak tentang Allah yang seperti ini sangat menolongnya untuk menerima kesusahan-kesusahan dan penderitaan-penderitaan yang kadang-kadang meminta pengorbanan.
Apabila agama telah mencapai sifat-sifat moral ini, maka kebaikan tertinggi adalah perintah Allah. Nilai-nilai agama meningkat bersama-sama nilai-nilai keluarga, atau berarti bahwa moral keluarga mengikuti moral agama.  

C.    Perkembangan Agama Pada Anak-anak
Menurut penelitian Ernest Harms, perkembangan agama anak-anak itu melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development of Religious on Children ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan, yaitu :
1.    The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3 – 6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.
2.    The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga sampai ke usia (masa usia) adolesense. Pada masa ini ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realis). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya.
3.    The Individual Stage (tingkat individu)
Pada tingkat ini akan telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi atas tiga gologan, yaitu :
a.    Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar.
b.    Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan).
c.    Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama.   

PENUTUP


KESIMPULAN
Pada diri manusia terdapat kebutuhan pokok selain dari kebutuhan jasmani dan rohani. Manusia pun memiliki (mempunyai) suatu kebutuhan akan adanya kebutuhan akan keseimbangan dalam kehidupan jiwanya agar tidak mengalami tekanan.
Unsur-unsur kebutuhan :
1.    Rasa kasih sayang
2.    Rasa aman
3.    Rasa harga diri
4.    Rasa bebas
5.    Rasa sukses
6.    Rasa ingin tahu 
Menurut Ernest Harms perkembangan agama pada anak-anak melalui 3 (tiga) fase, yaitu :
1.    The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
2.    The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
3.    The Individual Stage (tingkat individu)



DAFTAR PUSTAKA


Daradjat, Zakiah. 2003. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : PT. Bulan Bintang
Jalaludin. 1998. Psikologi Agama. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar