Laman

Senin, 03 Oktober 2011

SBM (2) kelas A


MAKALAH
GURU: ANTARA PENGAJAR, PENDIDIK DAN PEMBELAJAR
Mata Kuliah: Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu: Muhammad Hufron Dimyati, M.Si

Disusun Oleh:
Kelompok 2
  1. Fitriyah                        202109043
  2. Suadil Fuadah              202109044
  3. Endang Susilowati        202109045
  4. Imam Turyuti                202109046
 Kelas A

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALOGAN
 2011-2012

BAB I
PENDAHULUAN

Sosok guru adalah orang yang identik dengan pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab membentuk karakter generasi bangsa. Ditangan para gurulah tunas-tunas bangsa ini tebentuk sikap dan moralitasnya sehingga mampu memberikan yang terbaik untuk anak negeri ini dimasa mendatang.
Guru yang bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan ditambah tidak berpengalaman mengajar, akan banyak menemukan masalah dikelas. Terjun menjadi guru mungkin dengan tidak membawa bekal berupa teori-teori pendidikan dan keguruan. Seperti kebanyakan guru pemula, jiwanya juga labil, emosinya mudah terangsang dalam bentuk keluhan dan berbagai bentuk sikap lainnya, tetapi dengan semangat dan penuh ide untuk suatu tugas.
Guru berjuang baik dengan fisik maupun nonfisik. Di dalam perang kemerdekaan guru pun sudah berperan dan memiliki andil besar dalam mempertahankan Republik ini, berjuang tanpa pamrih bahkan tidak sedikit pula para guru sebagai gugur kusuma bangsa. Untuk nonfisik, perjuangan guru terlihat dalam memberikan ilmu pengetahuannya kepada anak didiknya, sehingga anak didiknya menjadi pintar, pandai dan sudah berapa banyak anak didiknya menjadi orang besar.
Dunia pendidikan adalah dunia guru, rumah rehabilitasi peserta didik. Dengan sengaja guru mengerahkan tenaga dan pikiran untuk mengeluarkan peserta didik dari terali kebodohan. Dengan keilmuan  yang dimilikinya, dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.
Oleh sebab itu, tepatlah dikatakan orang bahwa karena guru kita pintar, karena gurulah kita pandai, karena gurulah kita cemerlang, karena gurulah kita gemilang, dan karena gurulah kita terbilang. Maka, naif rasanya kalau kita melupakan jasa dan pengorbanan para guru, telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ISTILAH MENGAJAR DAN MENDIDIK
Makna “mangajar” dan “mendidik” dilatari oleh bahas arab Ta’allama (mengajar) yang diambilkan dari kata ‘Alima (megetahui), ‘Ilmun (pengetahuan). Sedangkan pendidikan diambil dari kata Addaba (beradab) yang berarti mendidik seorang anak untuk mempunyai adab, sopan santun.
Tugas guru dalam mendidik dan mengajar murid-muridnya adalah membimbing memberikan petunjuk, teladan, bantuan, latihan, penerangan, pengetahuan, pengertian dsb.Secara praktis mengajar dan mendidik adalah kegiatan bersama guru dan peserta didik dalam interaksi pembelajaran, baik dalam kelas maupun luar kelas. Sedangkan secara teoritis mengajar lebih bersifat penyampaian pengetahuan dan medidik lebih beraksentuasi pada penamaan nilai.[1]
Mendidik adalah membentuk kepribadian sedangkan mengajar hanya sekedar transfer sesuatu tanpa membentuk  ranah kognitif,afektif dan psikomotorik.
Sukses tidaknya mengajar itu dapat diketahui dari adanya perubahan pada tingkah laku anak menuju kesempurnaan. Pengajaran dikatakan sukses apabila :
1.      Ilmunya dapat digunakan oleh pelajar dalam hidupnya.
2.      Hasilnya meresap dalam pribadi anak, dipahami benar, mengandung arti dalam hidup anak.
Boleh dikatakan mengajar dengan sukses pada hakikatnya mengusahakan agar isi mata pelajaran itu meaningfull, usefull, dan mengembangkan seluruh aspek pribadi anak.[2]



B.   MAKNA DAN HAKIKAT GURU     
  1. Makna guru
Makna guru (pendidik) sebagai mana dalam UUSPN  No. 20 Tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 6 adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi senagi guru, konselor, pamong belajar, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kesuksesannya, sera berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.[3]
Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Daratjat dkk menjadi guru tidaknsembarangan tetapi harus mememnuhi beberapa persyaratan sbb:
a.       Taqwa kepada Allah
b.      Berilmu
c.       Sehat  jasmani
d.      Berkelakuan baik
Dengan demikian guru senantiasa dihadapkan pada peningkatan kualitas pribadi dan sosialnya. Jika hal itu dapat dipenuhi maka keberhasilan lebih cepat diperoleh.
  1. Hakikat Guru
Rasanya tidak berlebihan  manakala kita sepakat dengan pendapat Nugroho Notosusanto, yaitu di dunia ini hanya ada dua jabatan, pertama jabatan guru dan kedua jabatan non guru. Mengajar merupakan langkah seorang guru untuk memandaikan bangsa dengan tanpa memikirkan efek untung dan ruginya secara material personal, melainkan memikirkan bagaimana nistanya jika generasi selanjutnya tidak lebih berkualitas dari generasi sebelumnya.
Yang terpenting bagi seorang guru adalah memegang teguh komitmen ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa dan tutwuri handayani. Tiga prinsip ini apabila dikaitkan dengan model pendidikan berbasis mutu,maka semua komponen yang terkait dalam pendidikan hendaknya merupakan konsep tanggung jawab bersama dan pemberdayaan.
Dengan demikian dapat ditemukan bahwa hakikat guuru adalah
a.          Orang yang memiliki minat
b.          Orang yang berbakat
c.          Orang  yang bertanggung jawab
d.         Orang  yang mempunyai panggilan jiwa
e.          Orang  yang mempunyai idealisme

C.  TUGAS DAN FUNGSI GURU
  1. Tugas guru
Guru adalah figur seorang pemimpin . guru adalah sosok  arsitekstur yang dapat membentuk jiwa dan watak peserta didik. Bila dipahami maka tugas guru tidak hanya sebatas dinding sekolah tetapi juga sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat.[4] Menurut Roestiah N.K., bahwa guru dalam mendidik peserta didik bertugas untuk :
a.       Menyerahkan  kebudayaan kepada peserta didik berupa kepandaian , kecapaian dan pengalaman .
b.      Membentuk kepribadian anak yang harmonis ,sesuai cita-cita dan dasar negara kita pancasila.
c.       Meyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai undang-undang pendidikan yang merupakan keputusan MPR No.11 Tahun 1983.
d.      Sebagai perantara dalam belajar.
e.       Sebagai pemimpin (guidance worker).
f.       Sebagai sponsor,dll
  1. Fungsi Guru
a.       Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mecakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Sebagai seorang  pendidik, guru senantiasa dituntut untuk mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif serta dapat memotifasi siswa dalam belajar menagajar yang akan berdampak positif dalam pencapaian prestasi hasil belajar secara optimal.[5]
b.      Guru Sebagai pengajar
Sejak adanya kehidupan, sejak itu pula guru telah melaksanakan pembelajaran, dan memang hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawabnya yang pertama dan utama. Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi , dan memahami materi standar yang dipelajari.
Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi, hubungan peserta didik dengan guru, dan lain-lain. Jika faktor-faktor di atas dipenuhi,maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Oleh sebab itu sebagai seorang guru yang harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan berusaha lebih terampil dalam memecahkan masalah, untuk itu ada beberapa hal yang harus dilakukan guru  dalam pembelajaran, seabgai berikut :
1.      Membuat ilustrasi : pada dasarnya ilustrasi mneghubungkan sesuatu yang sedang dipelajari peserta didik dengan sesuatu dengan sesuatu yang telah diketahuinya, dan pada waktu yang sama memberikan tambahan pengalaman pada mereka.
2.      Mendefinisikan : meletakan sesuatu yang dipelajari secara jelas dan sederhana, dengan menggunakan latihan dan penglaman serta pengertian yang dimiliki pserta dididk .
3.      Menganalisis : membahas masalah yang telah dipelajari bagian demi bagian .
4.      Mensintesis : mengembalikan bagian-bagian yang telah dibahas ke dalam suatu konsep yang utuh sehingga memiliki arti , hubungan antara satu dengan yang lain nampak jelas , dan setiap masalah itu tetap berhubungan dengan keseluruhan yang lebih besar .
5.      Bertanya : mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti agar apa yang dipelajari menjadi lebih jelas.
6.      Merespon : menanggapi pertanyaan peserta didik .
7.      Mendengarkan : memahami peserta didik, dan berusaha menyederhanakan setiap masalah.
8.      Menciptakan kepercayaan : peserta didik akan memberikan kepercayaan terhadap keberhasilan guru dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi dasar.
9.      Memberikan pandangan yang bervariasi : melihat bahan yang dipelajari dari berbagai sudut pandang, dan melihat masalah dalam kombinasi yang bervariasi.
10.  Menyesuaikan metode pembelajaran : menyeusaikan metode pembelajaran dengan kemampuan dan tingkat perkembangan peserta didik serta menghubungkan materi baru sesutu yang telah dioelajari.
c.       Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab akan kelancaran  perjalanan itu.[6] Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
Sebagai pembimbing, guru memiliki berbagai hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakan.
d.      Guru Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan ketrampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih.
Pelatihan yang dilakukan, di samping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi, juga harus memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal, dan tidak setiap hal sempurna. Meskipun demikian tidak mustahil kalau suatu ketika menghadapi kenyataan bahwa guru tidak tahu sesutu yang seharusnya tahu.
e.        Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua meskipun guru tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak berharap untuk menasehati orang. Padahal menjadi guru tingkat manapun berarti menjadi  orang kepercayaan, proses pembelajaran pun meletakan pada posisi tersebut.
 Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan, dan dalam prosesnya akan lari kepada guru. Makin efektif guru menangani setiap permasalahan, makin banyak kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan  nasehat dan kepercayaan diri.
Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan, dan penasehat secara lebih mendalam harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.[7]
f.       Guru sebagai Pembaharu (innovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu kedalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik.[8] 
g.      Guru Sebagai Pribadi
Sebagai individu yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang  mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibanding profesi lainnya. Ujian berat bagi guru dalam hal kepribadian ini adalah rangsangan yang memancing emosinya.[9]
 Kestabilan emosi amat diperlukan, namun tidak semua orang mampu menahan emosi  terhadap rangsangan yang menyingggung perasaan dan memang diakui bahwab tiap orang mempunyai tempramen yang berbeda dengan orang lain. Sebagai pribadi yang hidup di tengah-tengah masyarakat, guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olahraga, keagamaan dan kepemudaan.
h.      Guru Sebagai Model dan Teladan
Sebagai teladan tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya sebagai guru. Sehubungan itu, beberapa hal di bawah ini perlu mendapat perhatian dan didiskusikan oleh para guru :
1.      Sikap dasar : postur psikologis yang akan nampak dalam masalah-masalah penting, seperti keberhasilan, kegagalan, hubungan antar manusia, agama, dll.
2.      Bicara dengan gaya bicara : penggunaan bahasa sebagai alat berpikir.
3.      Kebiasaan bekerja : gaya yang dipakai oleh seseorang dalam bekerja yang ikut mewarnai kehidupannya.
4.      Sikap melalui pengalaman dan kesalahan : pengertian hubungan antara luasnya pengalaman dan nilai serta tidak mungkinnya  mengelak dari kesalahan.
5.      Pakaian : merupakan perlengkkapan pribadi yang amat penting dan menampakan ekspresin seluruh kepribadian.
6.      Hubungan antar manusia : diwujudkan dalam semua pergaulan manusia, intlektual, moral, keindahan, terutama bagaimana berparilaku.
7.      Proses berpikir : cara yang digunakan oleh pikiran dalam menghadapi dan memecahkan masalah.[10]
8.      Perilaku neorotis : suatu pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri dan bisa juga untuk menyakiti orang lain.
9.      Selera : pilihan yang secara jelas merefleksikan nilai-nilai yang dimiliki oleh pribadi yang bersangkutan.
10.  Gaya hidup secara umum: apa yang dipercaya oleh seseorang tentang setiap aspek kehiudpan dantindakan untuk mewujudkan kepercayaan ini.
i.        Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas
Kreatifatas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukan proses kreatifitas tersebut.[11]
Sebagai orang yang kreatif, guru menyadari bahwa kreatifitas merupakan yang universal dan oleh karenanya semua kegiatannya ditopang, dibimbing dan dibangkitkan oleh kesadaran itu. Ia adalah seorang kreator dan moitvator yang berada di pusat proses pendidikan. Guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik.
j.        Guru Sebagai Pekerjaan Rutin
Guru bekerja dengan ketrampilan dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang amat diperlukan dan seringkali memberatkan. Jika kegiatan teresbut tidak dikerjakan dengan baik, maka bisa mengurangi atau merusak keefektifan guru pada semua peranannya.[12] Di sampang itu ,jika kegiatan rutin tersebut tidak disukai, bisa merusak dan mengibah sikap umumnya terhadap pembelajaran.
Beberapa kegiatan rutin yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran  disetiap tingkat, antara lain :
1.      Bekerja tepat waktu baik awal maupun akhir pembelajaran.
2.      Membuat laporan dan sesuai dengan standar kinerja, ketetapan dan jadwal waktu.
3.      Membaca, mengevaluasi dan mengembalikan hasil kerja peserta didik.
4.      Mengatur kehadiran peserta didik dengan penuh tanggung jawab.
5.      Menasehati peserta didik, dll. .
k.      Guru Sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena banyak melibatkan banyak latar belakang dan hubungan serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembalajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses mentapkan kualitas hasil belajar,atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran oleh peserta didik.
Sebagai salah satu proses, penilaian dilaksanakan dengan teknik yang sesuai. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilaksanakan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu : persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.
Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar , guru hendaknya terus-menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu.[13]
l.        Guru Sebagai Pengawet
Untuk dapat mengawetkan pengetahuan sebagai salah satu komponen kebudayaan, guru harus mempunyai sikap positif terhadap apa yang diawetkan.
Sebagai pengawet guru harus berusaha mengawetkan pengetahuan yang telah dimiliki dalam pribadinya dalam arti guru harus berusaha menguasai materi standar yang akan disajikan kepada peserta didik. Oleh karena itu, setiap guru dibekali pengetahuan sesuai dengan bidangnya.
m.    Guru Sebagai Pembawa Cerita
Guru dengan menggunakan suaranya, guru berusaha mencari cerita untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.
n.      Guru Sebagai Aktor
Sebagai seorang aktor, guru harus melakukan apa yang ada dalam naskah yang telah disusun dengan mempertimbangkan pesan yang akan disampaikan kepada penonton. Penampilan yang bagus dari seorang aktor akan mengakibatkan para penonton mengikuti dengan sungguh-sungguh. Kemampuan berkomunikasi merupakan suatu seni atau ketrampilan dalam  mengajar.

D.  GAYA-GAYA MENGAJAR GURU
1.    Makna Gaya Mengajar
Menurut Abi Ahmadi, gaya mengajar adalah tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam melaksanakan proses pengajaran.
Gaya mengajar adalah bentuk penampilan guru saat mengajar, baik yang bersifat kurikuler maupun psikologis.[14]
  1. Macam-macam Gaya Mengajar
a.       Gaya Mengajar Klasik
Guru mendominasi kelas dengan tanpa memberi kesempatan siswa untuk kreatif.
b.      Gaya Mengajar Teknologis
Gaya mengajar teknologis ini mensyaratkan guru untuk berpegang pada media yang tersedia.
c.       Gaya Mengajar Personalisasi
Guru mengajar bukan untuk memandaikan siswa semata akan tetapi memandaikan dirinya sendiri.
d.      Gaya Mengajar Personalisasi
Guru dan siswa atau siswa dan siswa saling ketergantungan artinya mereka sama-sama menjadi subjek pengajaran.
  1. Pendekatan Gaya Mengajar
a.       Pendekatan Filosofis
Dalam pendekatan ini gaya mengajar guru hendaknya berdasarkan pada nilai kebenaran.
b.      Pendekatan Induksi
Merupakan pendekatan gaya mengajar dalam bentuk penganalisaan secara ilmiah yaitu penentuan kaidah umum berdasarkan kaidah khusus.
c.       Pendekatan Deduksi
Merupakan pendekatan gaya mengajar dala bentuk penganalisaan secara ilmiah, yaitu penentuan kaidah khusus berdasarkan kaidah umum.
d.      Pendekatan Sosio Kultural
Guru menanamkan rasa kebersamaan dan siswa  dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan sosialnya.
e.       Pendekatan Fungsional
Guru memanfaatkan materi ajar bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari
f.       Pendekatan Emosional
Guru menggugah perasaan dan emosi siswa agar mampu mengetahui, memahami, dan menerapkan materi pelajaran yang diperolehnya.

E.     PRINSIP-PRINSIP MENGAJAR
1.      Prinsip Aktivitas
Peserta didik memperoleh pengalaman jika dengan keaktifannya sendiri bereaksi terhdap lingkungannya. Dengan demikian belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis.
2.      Prinsip Motivasi
Motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif para peserta didik yang menunjang ke arah tujuan-tujuan belajar.
3.      Prinsip Individualitas
Kekhususan jiwa  yang menyebabkan individu yang satu berbeda dengan undividu yang lain.[15]
4.      Prinsip Lingkungan
Menggunakan lingkungan sebagai sumber pengajaran.
5.      Prisip Konsentrasi
Memusatkan perhatian pada sesuatu stimulus.
6.      Prinsip Kebebasan
Guru memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam proses belajar.
7.      Prisip Peragaan
Peragaan meliputi semua pekerjaan panca indra yang bertujuan untuk memberikan pemahaman suatu hal.
8.      Prinsip Kerja Sama dan Persaingan.
9.      Prinsip apersepsi
Suatu penafsiran buah pikiran yait menyatu padukan suatu pengalaman yang telah dimiliki.
10.  Prinsip Korelasi
Guru berusaha menghubungkan pengajaran dari mata pelajaran yang sedang diajarkan/dipelajari peserta didikdari bahan pengajaran yang lain.
11.  Prinsip Efisiensi dan Efektifitas
Pengajaran yang baik adalah proses pengajaran dengan waktu yang cukup serta dapat membuahkan hasil.
12.  Prinsip Globalitas
Peserta didik selalu mengamati keseluruhan lebih dahulu baru kemmudian bagian-bagianya.
13.  Permainan dan Hiburan
Kelas pengajaran yang penuh konsentrasi menjadikan peserta didik kelelahan bosan.









BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ø  Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik
Ø  Mendidik adalah membentuk kepribadian sedangkan mengajar hanya sekedar transfer sesuatu tanpa membentuk nilai sebagai basis kepribadian seorang individu.
Ø  Mengajar  berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ø  sebagai pembimbing, guru memiliki berbagai hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakan.
Ø  Sebagai pengawet guru harus berusaha mengawetkan pengetahuan yang telah dimiliki dalam pribadinya dalam arti guru harus berusaha menguasai materi standar yang akan disajikan kepada peserta didik.
Ø  Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar , guru hendaknya terus-menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu.
Ø  Individualisasi pembelajaran dimaksudkan sebagai bentuk pembelajaran yang dapat melayani perbedaan peserta didik, dan sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakat peserta didik.








DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Saiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar (Edisi Revisi). Jakarta : PT Rineka Cipta.
Ismail. 2008. strategi Pembelajaran PAI Berbasis PAIKEM. Semarang : Rasail Media Group.
Kasijan, Z. 1984. Psikologi Pendidikan (Terjemahan). Surabaya : PT Bina Ilmu.
Majid, Abdul. 2005. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.
Makmum, Abin Syamsudin. 2005. Psikologi Kependidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.
Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru yang Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.
Mustakim, Zaenal. 2009. Strategi dan Metode Pembelajaran. Yogyakarta : Gama Media Yogykarta
Nasution. 1988. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Sabri, Ahmad. 2005. Strategi Belajar Mengejar dan micro Teaching. Jakarta: PT. Ciputat Press.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Panitia Sertifikasi Guru LPTK Rayon 6 IAIN Walisongo Semarang. 2010. Penddidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) .Semarang.


             



[1]  Umar Tirta rahardja-La Sula, Pengantar Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), hlm. 83
[2]  Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran, (Yogyakarta : Gama Media Yogyakarta, 2009), hlm. 4.
[3] Ismail, Strategi Pembelajaran PAI Berbasis PAIKEM ( Semarang: Rasai Media Group, 2008 ), hlm. 48
[4]  Zainal Mustakim, Op. Cit., hlm. 13.
[5]  Ismail, Op. Cit., hlm. 50.
[6]  Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset, 2005), hlm. 16.
[7] Z. Kasijan, psikologi pendidikan (terjamahan), (surabaya : PT Bina Ilmu, 1984), hlm. 31.
[8] Ismail, Op. Cit., hlm. 46.
[9] Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, (jakarta : Bumi Aksara, 1988), hlm.121.
[10] Panitia Sertifikasi Guru LPTK Rayon 6 IAIN Walisongo Semarang, Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, (Semarang : 2010), hlm. 46.
[11] Panitia Sertifikasi Guru LPTK Rayon 6 IAIN Walisongo Semarang, Op. Cit., hlm.41
[12]Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, (Jakarta: PT Ciputat Press, 2005), hlm.70.

[13]Ahmad Sabri, Op. Cit., hlm.75.
[14] Thoifuri, Menjadi Guru Inisiator, (Semarang: Rosail Maha Group, 2007), hlm. 80
[15] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : PT Remaja Rodakarya, 2005), hlm. 132.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar