Laman

Kamis, 05 Maret 2015

F-4-d : M. LU'LU'UM MAKNUN



“Dorongan untuk Memanfaatkan Pancaindra”
Mata Kuliah    : Hadits Tarbawi II

Disusun oleh :
        Mohammad Lu’lu Um Maknun        2021113277
 Kelas F

Jurusan Tarbiyah
Sekolah Tinggi Agama Islam  Negeri (STAIN)
PEKALONGAN
2015



Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Sholawat serta salam tercurahkan kepada Nabi akhir zaman Nabi Muhammad S.A.W.
          Makalah ini berisikan tentang dorongan untuk memanfaatkan panca indra dari hadits Abu Dawud kitab sholat bab tahiyat. Khusunya makalah ini membahas tentang pengertian, keterangan hadits, teori pendukung, dan aspek tarbawi.
.
           Diharapkan semoga makalah ini membantu pembaca menambah informasi, pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.
Saya  menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaanmakalah

            Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Pekalongan, 08 Maret, 2015

                               
                                Penyusun










BAB I
PENDAHLUAN

Pancaindra yakni anggota tubuh yang di anugerahkan  kepada manusia yang menyatu dalam  fungsi manusia yang utuh. Dan pada dasarnya pancaindra berfungsi sebagai sistematis komponen tubuh, sebab dari beberapa komponen membentuk seperangkat sistem.
Lantas untuk menstabilkan kegunaannya, ketajaman dan sensitifitas perlu ditingkatkan, dengan adanya dukungan pengetahuan, rasa ingin melatih yang akan sangat mudah mengoptimalkan kegunaan pancaindra. Sebab itu gunakanlah pancaindra anda sesuai kebutuhan dan manfaat anda, dengan tidak melanggar prinsip-prinsip dan nilai-nilai.
Dan sebaik-baik manusia apabila dapat menggunakan pancaindranya sesuai ajaran agama supaya tidak menyeleweng dari kaidah-kaidah tertentu, namun pada Era sekarang gak heran jika banyak dari kalangan anak muda yang menyeleweng dari kegunaan pancaindra dan tak menjaga apa kegunaan yang semestinya, sebab itu mari kita tegakkan bersama kegunaan pancaindra agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Manusia membutuhkan informasi berupa rangsangan dari lingkungan luar sekitar untuk dapat menjalani hidupnya dengan baik. Alat indra yaitu rangsangan yang berasal dari luar tubuh dapat ditangkap dibutuhkan alat-alat tubuh tertentu.[1]
Melalui indra, tanda-tanda dunia luar sampai kepada kita, tanda-tanda ini disebut stimulus yang bermaca,-macam sifatnya.  Melalui kelima indra tersebuut, informasi dari dunia luar dapat diterima.panca indra yang dimiliki oleh setiap manusia, yaitu :
1.      indra penglihatan           mata
2.      indra pendengaran           telinga
3.      indra peraba           kulit
4.      indra penciuman           hidung
5.      indra pengecap            mulut (lidah)[2]

·         Indra penglihatan (mata)
Dalam bahas puisi, mata adalah jendela hati. yang dilihat oleh mata adalah cahaya yang merupakan energi fisik menstimulasi mata. Penglihatan dimulai dengan cahaya yang meupakan gelombang radiasi elektromagnetik. Tentunya dengan demikian mata membutuhkan kemampuan dasar yang baik[3]
·         Indra pendengaran (telinga)
terdapat tiga bagian telinga, yakni telinga bagian luar, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam.  untuk bagian luar dimulai dari bunyi. organ  pertama yang bertemu dengan gelombang suara adalah gendang telinga. pada bagian  tengah telinga getaran ditransmisikan, kemudian gertaran alam, gertaran suara diubah agar bisa ditansmisikan ke otak.[4]
·         Indra peraba (kulit)
Pada bagian ini ada beberapa hal yang dirasakan yakni sentuhan, tekanan, suhu dan sakit yang berguna untuk kebertahanan hidup. manusia menjadi siaga untuk menghadapi bahaya yang ada di luar tubuh.[5]
·         Indra penciuman (hidung)
cara kerja penghidung dimulai ketika molukel-molukel dari sebuah substansi masuk dalam saluran hidung dan mengenai sel-sel olfaktori.[6]  Bentuk alatnya berupa concha (berbentuk bulu ayam) yang terdiri dari tulang yang ditutup atau dilapisi oleh selaput lendir yang penuh dengan pembuluh-pembuluh darah yang dapat membesr, gunanya untuk memanasi hawa (udara) yang masuk keparu-paru.[7]
·         Indra pengecap (lidah)
 perangsang pengindraan pengecap adalah benda-benda yang dapat larut (menjadi cair). sensasi pengecap yang pokaok ada empat, yakni rasa manis, rasa asin, rasa asam/masam dan rasa pahit.[8]

B.     Teori Pendukung
Manusia sebagai Makhluk Hidup sebelum kita bicarakan mengenai sifat-sifat manusia yang lain dari pada makhluk-makhluk lainnya itu. Bertentangan dengan eksistensinya, manusia adalah makhluk biologis yang sampai pada batas-batas tertentu terikat pada kodrat alam. Manusia membutuhkan udara udara untuk bernafas serta makanan dan minuman untuk mempertahankan hidupnya.[9]
Alat-alat indra amatlah membantu dalam kehidupan seseorag. Ia dapat memberi sensasi. Sensasi tersebut adalah stimulan dari dunia luar yang dibawa masuk ke dalam sistem syaraf. Hampir semua “hal” di dunia ini dibawa masuk oleh indra melalui sensasi.[10]
Pengamatan manusia dimungkinkan untuk mendapatkan gambaran secara langsung tentang dunia luar dan dirinya sendiri dengan mempergunakan alat-alat indranya. Manusia itu tahu apa yang terjadi, baik diluar maupun didalam dirinya sendiri. Oleh  karena itu, maka mengetahui mengamati ialah berarti aktif. Manusia harus tahu bagaimana seharusnya mempergunakan alat-alat indranya (mengamati, mengindra, observasi), bagaimana ia harus berfikir, merasai, mengamati dan bertindak, dan ia harus tahu apa itu semua syarat yang dikerjakan.[11]
Secara proses Psikologis dari gejala-gejala konasi atau kehendak dan kemauan, serta akta atau tindakan atau perbuatan. Keinginan dan abilitas jiwa yang terarah kepada sesuatu objek untuk dicapainya. Untuk dapat mencapai objek tadi harus ada kemauan dan perbuatan kongkret, sehingga dalam di dalam proses kemauan itu terdapatlah proses mental.[12]

C.    Materi Hadits
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: ﴿ وَكَانَ النَّبِىُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يَعَلِّمُنَاهُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ : اللَّهُمَّ أَلَّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَنَجَّنَا مِنْ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُشْنِيْنَ بِهَا قَابِلِيْهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا﴾   (رواه أبو داود فى السنن, كتاب الصلاة, باب التشهد)

Dari Abdullah berkata : Beliau (Rasulullah SAW) biasa mengajarkan kami beberapa kalimat, dan beliau tidak mengajarkannya kepada kami sebagaimana beliau mengajarkan tasyahhud :“ Wahai Allah, rukunkanlah hati-hati kami, damaikanlah diantara kami, tunjukilah kami kepada jalan kesejahteraan, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kebenaran, jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan keji yang terang dan yang samar, limpahkanlah berkah kepada kami, pada pendengaran, penglihatan, hati, isteri dan cucu kami, terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang dan jadikanlah kami orang-orang yang mensyukuri ni’mat Engkau berterima kasih lagi menerimanya, dan sempurnakanlah ni’mat itu atas kami”. (HR. Abu Dawud dalam As-Sunan)[13]

Keterangan hadist :
Dalam hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan beberapa kalimat selain tasyahud yaitu:
·         Agar mendamaikan hati kami, ada suatu pendapat bahwa mwndamaikan orang bertikai adalah memperbaiki kedaan diantara kamu sekalian sehingga menjadi rukun.
·         Agar dijauhkan dari perbuatan-perbutan keji seperti zina.
·         Agar dilimpahkan berkah pada pancaindra yang dimiiki.
·         Dan hal-hal tersebut dilakukan untuk mencapai kesempurnaan.[14]





D.    Refleksi Hadits dalam Kehidupan

Sampai di sini kita hanya disibukkan dengan cara mengikuti lingkugan kita. Hasilnya adalah mendapatkan pengertian mengenai dunia tempat kita hidup. Atas dasar pengertian inilah, kita bergaul dengan lingkungan sekitar kita. Karena pola kebutuhan, termasuk pengalaman lalu individu dan budaya tempat kita dibesarkan, berlainan antara individu unik dan khusus.
Sehubungan dengan adanya objek  lain, terjadilah suatu susunan tertentu di sekitar manusia. Susunan ini dipengaruhi oleh berbagai unsur dan mempunyai ciri relatif stabil. Ini penting karena individu tidak akan mampu berbuat tanpa itu. Keadaan relatif mengarahkan individu dalam mencari informasi sesuai dengan yang digambarkan, sedangkan informasi yang tidak sesuai akan dikesampingkan karena mempersulit perilaku dilingkungannya.
Konklusi tidak menyenangkan ini perlu ditempatkan pada beberapa batasan, antara lain sebagai berikut;
1.      Perubahan karena adanya pembaharuan tentang konklusi indra baru mempunyai sedikit pengaruh terhadap orientasi yang bertentangan.
2.      Sejauh mana individu dapat menstabilkan hubungan timbal balik agar dapat informasi yang kongkrit.[15]


E.     Aspek Tarbawi
Dari hadits di atas kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikur:
1.      Manusia harus memanfaatkan segala yang diberikan allah yaitu pancaindra dengan baik.
2.      Agar kita mensyukuri pentingnya pancaindra yang kita miliki.
3.      Janganlah  menyiakan-nyiakan kegunaan pancaindra yang kita miliki.















BAB III

PENUTUP

Dalam pengupayaan terhadap jasa-jasa indra sewajarnya kita menggunakan kegunaan sebaik-baiknya, supaya nantinya kita bisa merawat dan mensyukuri apa yang kita miliki.
Lantas apa yang sudah kita miliki janganlah kita sombong lalu berbesar kepala kemudian lalai kepada sang pencipta yang menjadikan kita sebagai hamba yang dilaknat.
Alangkah baiknya kita dapat menggunakan pancaindra dengan baik lalu dipergunakan dalam kegiatan-kegiataan sosial.
































DAFTAR PUSTAKA

Arifin,Bay. 1992. Tarjamah Sunan Abu Daud jilid 1.  Semarang: cv. Asy syifa’.
Fudyartanta, Ki. 2011. Psikologi Umum. Yogyakarta : pustaka pelajar.
Mar’ati , Samsunuwijati. 2010.  Perilaku manusia. Bandung : PT Refika Aditama.
Sarwono , Sarlito W. 2013. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta : Rajawali Pres.




[1] http://www.organisasi.org/1970/01/5-lima-alat-indra-manusia-mata-hidung-telinga-lidah-kulit-panca-indra.html
[2] Samsunuwijati Mar’ati, Perilaku manusia,(Bandung : PT Refika Aditama, 2010), hlm. 7-8
[3] Sarlito W. Sarwono, pengantar psikologi umum, (Jakarta : Rajawali Pres, 2013), hlm 91
[4] Ibid., hlm. 87
[5] Ibid., hlm. 91
[6]Ibid., hlm. 87-89
[7]Ki fudyartanta, Psikologi Umum, (Yogyakarta : pustaka pelajar 2011), hlm. 245
[8] Ibid., hlm. 247
[9] Sarlito w. Sarwono, Op.cit.,hlm. 42
[10] Ibid., hlm.93
[11] ki fudyartanta, Op.cit., hlm. 183-184
[12] Ibid.,hlm. 344
[13] Bey arifin,tarjamah sunan abu daud jilid 1, Semarang: cv. Asy syifa’, 1992,. hlm. 660-661
[14] http://lifsyifa.blogspot.com

[15]Samsunuwiyati Mar’at, Op.cit., hlm.12-13

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar